Cornelius Quill tiba di Cedar Gulch dengan kereta pos pada suatu sore berdebu, dan Elias yang menontonnya turun langsung memahami mengapa orang ini begitu berbahaya. Quill tidak terlihat berbahaya sama sekali.
Ia pria ramping berusia empat puluhan, berpakaian rapi dalam jas hitam yang terlalu bagus untuk kota tambang, dengan jari-jari panjang yang bersih dan tata krama lembut seorang juru tulis yang tak pernah mengangkat benda lebih berat daripada pena. Ia membawa kotak berkas berlapis kulit yang ia kunci dan jaga seperti orang lain menjaga emas. Ia menginap di satu-satunya penginapan layak di kota, dan mulai keesokan paginya, orang-orang yang punya urusan berkas dengan Vance mulai berdatangan menemuinya.
Elias memutuskan untuk menjadi salah satu dari mereka.
Sebagai Amos Teller, ia datang ke penginapan dengan topi di tangan dan tampang seorang pendulang yang lelah berjudi melawan sungai dan kini ingin sesuatu yang 'pasti'. Ia mengetuk pintu kamar Quill dan, dengan suara memohon, menyampaikan keinginannya: ia ingin membeli sebuah klaim yang sudah teruji kadarnya, lewat pembiayaan Tuan Vance, agar tak perlu lagi menebak-nebak di sungai. Ia tahu Tuan Vance kadang menawarkan tanah seperti itu. Apakah Tuan Quill bisa membantu mengurus berkasnya?
Quill menatapnya dengan senyum tipis yang tak sampai ke mata, menilai pakaiannya, sepatunya, lumpur di celananya — menghitung, persis seperti Vance menghitung — dan memutuskan bahwa Amos Teller adalah persis jenis lalat yang berguna untuk jaring. "Tentu, Tuan Teller," katanya, suaranya halus seperti kertas mahal. "Tuan Vance memang dermawan pada orang yang gigih. Mari kita siapkan berkasnya."
Dan di sanalah, duduk di kursi seberang meja Quill, Elias menyaksikan dengan matanya sendiri bagaimana kebohongan dijahit menjadi hukum.
Quill mengeluarkan berkas-berkas dari kotaknya — surat klaim, surat pembiayaan, surat kuasa — dan mengisinya dengan tangan yang cepat dan terlatih. Lalu, pada satu titik, ia membutuhkan tanda tangan dari pihak penjual klaim sebelumnya, seseorang bernama dalam berkas yang Elias yakin sudah tak ada di kota, mungkin sudah mati atau terusir. Quill tidak ragu sedetik pun. Ia membuka sebuah laci kecil di kotaknya, mengeluarkan sebuah bantalan tinta dan selembar kertas berisi contoh cap jempol, dan dengan ketenangan seseorang yang telah melakukannya seratus kali, ia menekan cap jempolnya sendiri ke tinta, lalu ke kertas, membentuk sebuah cap yang ia bandingkan sekilas dengan contoh, mengangguk puas, dan menuliskan nama si penjual di sampingnya dengan tulisan tangan yang berbeda dari tulisan tangannya yang biasa.
Ia memalsukan persetujuan seorang manusia di hadapan Elias tanpa berkedip, tanpa bersembunyi, seakan itu sama biasanya dengan menstempel surat.
Elias menjaga wajahnya tetap lugu dan kagum, seperti pendulang bodoh yang terkesan oleh kecepatan seorang ahli. Tapi di dalam, ia merasakan dingin yang baru. Ia telah mengira penipuan ini terkurung di Cedar Gulch, di brankas Vance, di timbangan kuningan itu. Sekarang ia melihat kebenaran yang lebih besar dan lebih menakutkan: tangan yang barusan memalsukan cap jempol ini bisa membawa kotak berkasnya ke kota berikutnya, ke pengadilan berikutnya, dan melakukan hal yang sama di sana. Mesin Vance bukan mesin lokal. Ia punya tangan hukum yang berjalan, yang bisa membuat orang mati memiliki tanah dan orang hidup kehilangan tanahnya, di mana pun kotak berkas itu dibuka.
Dan tangan itu, Elias menyadari saat ia menandatangani kontrak umpannya sendiri dengan senyum bodoh, baru saja mengikatnya ke dalam jaring — persis seperti yang ia inginkan.