Setiap mesin punya bagian yang paling lelah, bagian yang paling cepat aus, dan Elias telah lama tahu bagian mana itu di mesin Vance. Bukan brankas besi yang dingin. Bukan Deglan yang keras. Bukan Quill yang jauh. Melainkan seorang kasir muda berkacamata yang setiap malam memikul beban dua buku, dan yang nuraninya, Elias menduga, sudah retak jauh sebelum brankas itu dibuka.
Ia mulai mengamati Lyle Ferro bukan sebagai sasaran, melainkan sebagai manusia.
Setiap sore, ketika kantor penaksir tutup, Lyle berjalan pulang ke kamar sewanya di atas kantor pos dengan langkah seseorang yang membawa sesuatu yang lebih berat daripada tubuhnya. Ia tidak ke saloon. Ia tidak punya teman. Ia makan sendirian di warung paling sepi, menunduk, dan kadang Elias melihatnya berhenti di tengah jalan, menatap kosong ke arah sungai, sebelum melanjutkan dengan napas yang berat.
Lalu, pada suatu malam, Elias melihat sesuatu yang meyakinkannya bahwa retakan itu nyata dan dalam.
Ia sedang berjalan pulang lewat gang di belakang warung ketika ia mendengar suara orang muntah. Ia berhenti di bayangan dan melihat Lyle Ferro berlutut di lumpur gang, kacamata terlepas, tubuhnya berguncang, memuntahkan makan malamnya ke tanah. Bukan mabuk — Elias tahu rupa orang mabuk, dan ini bukan itu. Ini tubuh yang menolak menelan apa yang harus ditelan pikirannya. Setelah selesai, Lyle duduk bersandar di dinding, menutupi wajahnya dengan kedua tangan, dan bahunya berguncang dalam tangis yang ia tahan agar tak bersuara.
Elias berdiri di kegelapan dan tidak mendekat. Belum. Mendekat malam ini, di saat orang itu paling rapuh, akan terasa seperti perangkap, dan perangkap akan membuat Lyle menutup diri seperti kerang. Ia menyimpan apa yang ia lihat dan pergi tanpa suara.
Pada hari-hari berikutnya, Elias mulai menanam benih, perlahan, dengan kesabaran yang sama yang ia pakai membuka brankas. Sebagai Amos Teller, pendulang yang gigih meski selalu rugi, ia mulai menyapa Lyle di kantor dengan kebaikan kecil yang tak diharapkan — bukan keluhan, bukan tuduhan, melainkan pengertian. Saat Lyle mencap kadarnya rendah lagi, Amos tidak marah; ia hanya menatap kasir muda itu dengan mata yang lelah dan berkata pelan, "Berat sekali pekerjaanmu ya, Nak. Memberi tahu orang setiap hari bahwa kerja keras mereka tak berharga. Aku tak iri padamu."
Lyle membeku saat mendengar itu. Tangannya, yang sedang menulis, berhenti. Ia menatap Amos sekilas — sebuah tatapan cepat, ketakutan, hampir seperti orang yang dipergoki — lalu cepat menunduk kembali ke bukunya. Tapi Elias melihatnya. Ia melihat bahwa kata-katanya telah menyentuh sesuatu yang sudah luka.
Ia tidak mendorong lebih jauh hari itu. Ia hanya mengambil recehannya dan pergi. Tapi di kepalanya ia menyusun perhitungan yang lain, perhitungan tentang manusia alih-alih emas: berapa lama lagi seorang muda yang muntah karena rasa bersalah dan menangis di gang sanggup memegang dua buku, satu palsu dan satu asli, dan menulis dengan tangannya sendiri kebohongan yang membunuh orang seperti adik Pearl? Setiap orang punya batas berat yang bisa ia pikul sebelum porosnya patah. Lyle Ferro, Elias yakin, sudah mendekati batasnya. Dan ketika seseorang sudah hampir patah, kadang yang ia butuhkan bukanlah ancaman, melainkan seseorang yang menawarkan jalan keluar dari beban itu — jalan keluar yang tidak berakhir di liang kubur seperti adik Pearl, melainkan di tempat ia bisa, akhirnya, berhenti berbohong.