Kebakaran menunda lelang klaim Hu, tapi tidak membatalkannya. Mesin Vance, Elias belajar, tidak butuh pesta dan musik untuk berjalan; ia hanya butuh kertas, dan kertas tetap mengalir bahkan saat arang masih basah.
Dua minggu setelah malam kebakaran, lelang itu digelar ulang, kali ini di siang hari di depan kantor sheriff, tanpa minuman gratis dan tanpa kerumunan. Hanya beberapa pejabat, beberapa penonton, dan seorang pria asing yang tak dikenal siapa pun yang menawar atas nama Cedar Ridge Holdings dan menang dengan harga yang sudah ditentukan sebelum palu diketuk. Klaim Hu — tanah di lereng Coyote tempat istrinya dikubur — secara hukum, dengan tanda tangan sheriff dan palu hakim, berpindah tangan ke perusahaan milik seorang mati.
Hu berdiri di tepi kerumunan kecil itu, menyaksikan tanahnya dilelang seakan ia menyaksikan kuburan istrinya digali, dan ketika sheriff membacakan keputusan, sesuatu di dalam orang tua itu pecah.
Elias melihatnya sebelum orang lain. Ia melihat tangan Hu bergerak ke dalam mantel, ke arah senapan tua yang ia tahu disimpan orang itu, dan ia melihat di wajah Hu sebuah ketenangan yang justru lebih menakutkan daripada amarah — ketenangan seseorang yang telah memutuskan bahwa hidup tanpa tanah istrinya tidak lagi sepadan untuk dipertahankan dengan hati-hati.
Elias bergerak.
Ia menyibak di antara penonton, mencapai Hu dalam tiga langkah, dan menangkap pergelangan orang tua itu dari dalam mantelnya, menahannya dengan cengkeraman keras tapi tubuhnya menutupi gerakan itu dari pandangan sheriff. "Jangan," bisiknya, mulutnya dekat ke telinga Hu. "Itu yang mereka inginkan. Satu tembakan dan kau jadi pembunuh, dan mereka jadi korban, dan seluruh kota akan mengangguk saat mereka menggantungmu. Vance tidak takut senapanmu, Hu. Dia menginginkannya."
Hu bergetar di bawah cengkeramannya, otot tua menegang melawan, mata berkilat dengan air mata kemarahan. "Itu tanahnya," suaranya parau. "Aku menjanjikan padanya tak akan kuserahkan."
"Dan kau belum menyerahkannya," kata Elias, masih berbisik, masih menahan. "Mereka mencurinya. Itu berbeda. Tanah yang dicuri masih bisa dikembalikan. Tapi tidak kalau kau mati dengan tali di lehermu. Tetap hidup, dan biar aku yang menimbang ulang ini sampai timbangannya jujur."
Sesuatu dalam kata terakhir itu — menimbang — menembus amarah Hu. Orang tua itu menatapnya, dan untuk pertama kalinya pertanyaan yang sudah lama menggantung di antara mereka muncul terang di matanya: siapa kau sebenarnya, pendulang yang tahu cara menimbang dan cara menahan tangan orang dari membunuh. Tapi sheriff sudah selesai membaca, kerumunan mulai bubar, dan Hu, perlahan, membiarkan tangannya turun dari senapan.
Mereka berjalan pulang dalam diam menyusuri jalan berlumpur. Di tepi kota, Hu berhenti dan menatap ke arah lereng Coyote yang jauh, tempat tanahnya — kini milik orang mati di atas kertas — masih berdiri dengan kuburan yang tak tahu telah berpindah tuan.
"Kalau kau tak bisa mengembalikannya," kata Hu pelan, tidak menatap Elias, "jangan beri aku harapan. Aku terlalu tua untuk harapan palsu. Sudah cukup penaksir di kota ini yang memberiku angka palsu."
Elias tidak menjawab dengan janji yang besar. Ia hanya berkata, "Aku akan mengembalikan kuburan istrimu, Hu. Bukan dengan tembakan. Dengan kebenaran yang tak bisa mereka palsukan." Dan dalam hati, di samping janjinya pada Tom dan Gantry yang mati di rel, ia menambahkan satu janji lagi, diam-diam, kepada tanah di lereng Coyote dan perempuan yang dikubur di sana yang tak pernah ia kenal.