Hamin, yang menyadari suasana telah berubah menjadi sangat personal, segera menyelesaikan tugasnya di dapur. Ia mengelap tangannya, mengambil ponsel, dan memberikan isyarat pada Ryu dengan jempolnya.
"Aku ke kamar duluan ya, Noona. Sepertinya stok oksigen di sini mulai menipis karena drama," candanya dengan suara rendah agar tidak mengganggu Sungchan yang sedang menatap ponsel di tangannya.
Ryu hanya mengangguk singkat, menatap Hamin yang masuk dan menguncu pintu kamarnya.
Setelah suara pintu kamar Hamin tertutup, keheningan menyergap lantai tiga. Hanya ada suara jarum jam dinding dan deru napas Sungchan yang masih belum beraturan.
Tangan Sungchan gemetar hebat saat menekan tombol panggil. Ruangan di lantai tiga rumah Ryu mendadak terasa hampa, hanya menyisakan suara detak jantung Sungchan yang berpacu dengan nada sambung yang panjang. Di sudut ruangan, Ryu berdiri mematung, menatap keluar jendela, sengaja memberikan ruang bagi Sungchan untuk menghadapi dunianya yang retak.
"Halo... Hyung?"
Suara di seberang sana sangat pelan, serak, dan penuh dengan beban rasa bersalah yang kentara. Sungchan memejamkan mata rapat-rapat, air mata yang sejak tadi menggenang akhirnya jatuh membasahi pipinya.
"Seunghan-ah..." suara Sungchan pecah. Hanya menyebut nama itu saja sudah membuatnya merasa seperti sedang menginjak pecahan kaca.
"Hyung, jangan menangis," bisik Seunghan. Suaranya terdengar seolah ia juga sedang berjuang untuk bernapas. "Aku dengar kau pergi dari asrama. Kenapa kau melakukan itu? Kau harus pulang, Hyung. Anak-anak... Anton, Sohee, semuanya... mereka tidak punya siapa-siapa jika kau juga menghilang. Mereka butuh sandaran mereka."
"Bagaimana aku bisa menjadi sandara bagi mereka saat aku sendiri gagal menjagamu?" Sungchan terisak, bahunya berguncang. "Kita berjanji akan naik ke puncak bersama-sama, Seunghan-ah. Dari masa-masa di NCT, perjuangan kita untuk memulai lagi di RIIZE... kenapa akhirnya selalu seperti ini? Kenapa kau harus berdiri sendirian lagi?"
Ada keheningan panjang di seberang telepon. Sungchan bisa mendengar isakan tertahan dari adiknya itu.
"Hyung, dengarkan aku baik-baik," Seunghan berusaha menguatkan suaranya. "Aku sudah bicara dengan manajemen. Aku tidak akan pergi sepenuhnya. Mereka punya rencana untuk debut soloku di masa depan. Kita tidak benar-benar berpisah, Hyung. Kita masih berada di bawah langit yang sama, di gedung yang sama. Kita masih bisa berdiri di panggung yang sama suatu saat nanti. Hanya saja... aku tidak akan berada di sampingmu dalam satu formasi."
Sungchan tertegun. Kalimat itu seperti pedang bermata dua di hatinya. Di satu sisi, ia merasa lega karena Seunghan tidak dibuang sepenuhnya. Namun di sisi lain, kenyataan itu terasa sangat miris. Mereka telah melewati badai bersama-sama hanya untuk berakhir di jalur yang sejajar namun tak lagi bersinggungan di satu garis tim.
"Solois?" gumam Sungchan pahit. "Kau harus memulainya sendirian dari nol? Setelah semua yang kita lalui bersama?"
"Itu lebih baik daripada aku menghilang dari hidup kalian, kan?" Seunghan mencoba tertawa kecil, meski terdengar sangat getir. "Hyung, aku mohon padamu. Pulanglah ke dorm. Peluk mereka untukku. Jadilah kuat bukan hanya untukmu, tapi untuk mimpiku yang sekarang kutitipkan pada kalian di RIIZE. Aku akan berjuang di jalanku sendiri, agar suatu saat aku layak berdiri lagi di samping kalian sebagai seorang kolega."
Sungchan menyandarkan kepalanya ke sandaran sofa, menatap langit-langit dengan tatapan kosong. Ia merasa dunia ini begitu kejam; memberikan harapan tepat setelah menghancurkan segalanya.
"Kau janji akan tetap berjuang?" tanya Sungchan lirih.
"Aku janji, Hyung. Jadi, kau juga harus berjanji untuk tidak menyerah pada RIIZE. Jangan biarkan tempatku kosong tanpa alasan yang kuat. Tunjukkan pada dunia bahwa kita tetap yang terbaik, meskipun formatnya berubah."
Sungchan menyeka air matanya dengan punggung tangan. "Baiklah. Aku akan pulang. Aku akan menjaga mereka... sampai kau siap menyapa kami lagi di atas panggung."
"Terima kasih, Hyung. Aku menyayangimu. Tolong... jaga dirimu baik-baik dan cepatlah pulang mereka menunggumu."
Sambungan telepon terputus. Sungchan menurunkan ponselnya perlahan, merasa separuh jiwanya baru saja dicabut namun separuhnya lagi diberi nafas buatan yang menyesakkan.
Ryu, yang sejak tadi mendengarkan setiap isakan itu, perlahan berbalik. Ia menatap Sungchan dengan tatapan yang jauh lebih lembut dari biasanya. Ia tahu rasanya dipisahkan dari tim, ia tahu rasanya mimpi yang diubah paksa oleh keadaan.
"Kau sudah dengar, kan?" ujar Ryu pelan. "Dia tidak memintamu untuk hancur. Dia memintamu untuk tetap bersinar agar dia punya cahaya untuk diikuti."
Sungchan menatap Ryu, menyadari bahwa meskipun masa depan akan sangat berbeda dan penuh tantangan, ia tidak punya pilihan selain terus berjalan. Kesedihan itu akan selalu ada, tersimpan di sudut hatinya sebagai pengingat akan perjuangan mereka yang luar biasa, namun ia harus kembali—demi RIIZE, dan demi Seunghan yang kini akan memulai langkahnya sendiri dalam kesunyian.
Cahaya lampu kota dari jendela besar membiaskan siluet di wajah mereka. Sungchan merasa dorongan kuat untuk lebih dekat. Ia merasa Ryu adalah satu-satunya orang yang melihatnya sebagai "Sungchan", bukan sebagai aset jutaan won.
Sungchan bergerak sedikit, memperpendek jarak di antara mereka. Ia bisa mencium aroma sisa masakan dan parfum lavender dari tubuh Ryu.
"Ryu..." bisiknya.
Ryu mengerutkan kening, insting pertahanannya langsung bangkit. "Apa?"
"Peluk aku."
Ryu tertegun. Ia segera bersedekap, menciptakan jarak defensif. "Jangan konyol. Aku sudah menyuapimu, memberimu tempat tidur, dan meminjamkan ponselku. Aku bukan bantal pemuas emosimu, Idol."
"Hanya sebentar, kumohon," suara Sungchan pecah. Ia tidak menunggu persetujuan lagi. Dengan satu langkah lebar, ia meraih bahu Ryu dan menarik gadis itu ke dalam dekapannya.
"Hei! Apa yang kau—" Kalimat Ryu terhenti saat ia merasakan tubuh Sungchan yang besar itu bergetar hebat. Pria itu menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Ryu, melingkarkan lengannya begitu erat seolah-olah Ryu adalah satu-satunya jangkar yang menahannya agar tidak hanyut ke dasar samudera.
Ryu mencoba mendorong d**a Sungchan, tangannya sempat memukul pelan bahu pria itu. "Lepaskan, Jung Sungchan. Ini memuakkan."
"Sebentar saja, Ryu... kumohon," bisik Sungchan parau.
Akhirnya, perlawanan Ryu meluruh. Ia bisa merasakan air mata panas mulai membasahi kaosnya. Sungchan kembali menangis—bukan lagi tangisan amarah seperti di bar bawah, tapi tangisan penuh kelelahan. Isakan yang dalam dan menyayat hati, suara seseorang yang sudah terlalu lama dipaksa untuk menjadi pilar tanpa pernah diizinkan untuk tumbang.
Ryu menghela napas panjang, matanya menatap langit-langit ruangan dengan tatapan pasrah. Perlahan, tangannya yang kaku mulai bergerak, menepuk punggung Sungchan dengan canggung—pola yang tidak beraturan, namun hangat.
"Menangislah sampai kepalamu kosong," gumam Ryu, suaranya tetap dingin namun tidak lagi menolak. "Tapi jangan harap aku akan mengusap air matamu dengan lembut seperti di drama."
Sungchan semakin menenggelamkan wajahnya, menghirup aroma lavender dan sisa bumbu dapur yang menempel pada baju Ryu. Baginya, pelukan ini tidak terasa seperti pelukan seorang asing; ini terasa seperti tempat berlindung yang paling jujur yang pernah ia miliki.
"Kau tahu apa masalahmu?" tanya Ryu di tengah isakan Sungchan. Ia tetap membiarkan pria itu memeluknya, namun mulutnya tetap tidak bisa berhenti menyuarakan realita. "Kau terlalu sibuk mencoba menjadi pahlawan untuk orang lain, sampai kau lupa kalau pahlawan juga butuh makan dan tidur."
Sungchan menggeleng di bahu Ryu, tidak mampu berkata-kata.
"Dunia tidak akan kiamat karena kau menangis di bahu seorang pemilik bar blasteran yang galak," lanjut Ryu, tangannya kini menetap di punggung Sungchan, memberi tekanan yang menenangkan. "Seunghan akan tetap menjalani jalannya, dan kau akan tetap kembali ke panggungmu. Rasa sakit ini? Ini tidak akan hilang dalam semalam. Kau hanya akan terbiasa membawanya, seperti aku membawa rasa benciku pada ayahku. Tapi bukan berarti kau tidak bisa berjalan lagi."
Sungchan perlahan merenggangkan pelukannya, namun tangannya masih bertumpu pada pinggang Ryu. Ia menatap wajah gadis itu dengan mata yang merah dan basah. "Bagaimana kau bisa tetap sekokoh ini setelah semua yang kau lalui?"
Ryu menepis sisa air mata di pipi Sungchan dengan jarinya yang kasar, sebuah gerakan yang sangat kaku namun terasa intim. "Aku tidak kokoh, Bodoh. Aku hanya tahu kalau dunia tidak peduli pada air mataku. Jadi, daripada menangis di depan orang, aku lebih memilih untuk memaki mereka."
Sungchan tertawa kecil di antara sisa isakannya. Wajahnya yang sangat dekat membuat napas mereka saling bersinggungan. Kecanggungan yang tadi sempat hilang kini kembali menyerang dengan lebih kuat. Sungchan menatap bibir Ryu, lalu beralih ke matanya yang tajam namun dalam.
"Terima kasih, Ryu. Kau benar-benar... nyata," bisik Sungchan.
Ryu segera menjauhkan dirinya, berdehem keras untuk menutupi detak jantungnya yang mendadak tidak beraturan. "Sudah cukup sesinya. Pergi cuci wajahmu. Kau terlihat seperti hantu yang habis dipukuli."
Sungchan tersenyum tulus, senyum pertama yang benar-benar mencapai matanya. Ia menyadari bahwa di balik kata-kata pedas dan sikap realistis Ryu, gadis itu baru saja memberinya kekuatan yang lebih besar daripada ribuan kata penyemangat dari agensinya. Malam itu, di bawah atap yang sama, Sungchan akhirnya mengerti bahwa terkadang, pelukan yang paling menguatkan datang dari seseorang yang paling tidak kita duga.