Lantai tiga seketika terasa lebih sempit—bukan karena ukuran ruangannya, melainkan karena kehadiran tiga manusia dengan energi yang saling bertabrakan.
Hamin, dengan gaya santainya, langsung merebahkan tubuhnya ke sofa abu-abu milik Ryu seolah tempat itu adalah rumahnya sendiri. Sementara Sungchan berdiri agak menjauh, dekat rak buku, ragu untuk melangkah lebih jauh. Ia merasa seperti orang asing yang tak sengaja memasuki ruang paling pribadi seseorang.
“Duduk di situ.”
Ryu menunjuk sofa dengan dagunya. Sungchan mengangguk singkat, lalu duduk dengan sikap tegak dan hati-hati, seolah takut meninggalkan jejak keberadaannya terlalu jelas.
Belum sempat keheningan terbentuk, Hamin sudah membuka suara.
“Noona, aku lapar,” keluhnya tanpa rasa bersalah. “Masakin nasi goreng ala ayahmu, dong.”
Ryu, yang baru saja melepaskan jaket kulitnya dan menggantungkannya di sandaran kursi, menoleh dengan tatapan tajam.
“Kau punya kaki, Hamin. Pergi ke kedai depan kalau lapar.”
“Ah, kejam sekali,” Hamin mendengus. Lalu matanya beralih pada Sungchan, senyumnya berubah licik. “Tapi kita punya tamu di sini, lho. Sungchan-ssi, kau juga pasti lapar, kan?”
Sungchan terkejut diseret tiba-tiba ke dalam percakapan. Ia melirik Ryu sekilas, lalu kembali menatap Hamin.
“Aku… memang belum makan sejak kemarin,” ujarnya jujur. “Dan sejujurnya, perutku tidak terlalu baik untuk makanan luar.”
Ryu menyilangkan tangan di depan d**a. “Itu bukan urusanku.”
Hamin segera duduk tegak. “Noona, dia masih belum pulih. Kau sendiri yang bilang kondisinya tidak stabil. Makanan luar itu berminyak, pedas, dan jelas tidak ramah untuk orang yang baru saja muntah karena stres.”
Ryu menghela napas tajam. “Aku bukan dokter, dan aku juga bukan ibu kalian.”
Sungchan menunduk sedikit, suaranya tetap tenang.
“Aku tidak meminta yang rumit. Makanan rumahan apa pun tidak masalah. Sup sederhana pun cukup. Aku hanya… tidak ingin merepotkan.”
Kalimat terakhir itu tidak terdengar sebagai bujukan. Justru terdengar seperti permintaan yang terlalu sopan untuk situasi seperti ini.
Hamin segera memanfaatkan celah itu.
“Lihat? Dia bahkan tidak minta menu spesial,” katanya cepat. “Lagipula, kalau dia sampai sakit lagi di tempat kita, bukankah itu justru lebih merepotkan?”
Ryu memejamkan mata sejenak. Rahangnya mengeras. Ia membenci situasi ini—dibuat seolah tidak punya pilihan, padahal ia sangat ingin berkata tidak.
“Aku tidak suka memasak untuk orang lain,” katanya akhirnya, suaranya datar.
“Dan aku tidak suka dipaksa.”
“Kami tidak memaksa,” sanggah Hamin cepat. “Kami hanya… khawatir.”
Keheningan jatuh beberapa detik. Ryu menatap Sungchan, yang kini duduk diam dengan bahu sedikit menurun, wajahnya pucat dan jelas menahan lelah.
Ryu mengumpat pelan.
“Baik,” katanya singkat. “Satu kali. Setelah itu, jangan ulangi.”
Hamin langsung bersorak kecil. “Aku tahu kau baik hati, Noona!”
“Diam,” potong Ryu. “Kalian berdua membantu. Aku bukan pelayan.”
Dapur Ryu yang minimalis berubah menjadi pusat aktivitas.
Ryu berdiri di depan kompor, mengatur api dengan gerakan efisien. Sungchan diberi tugas memotong bawang putih, sementara Hamin—yang paling tidak bisa diandalkan—bertugas mencuci sayuran sambil terus berbicara tanpa henti.
“Hati-hati jarimu, Sungchan-ssi,” goda Hamin. “Kalau tangan emas itu terluka, kita bisa dihujani truk protes oleh penggemarmu.”
Sungchan tersenyum tipis, tangannya tetap bekerja dengan hati-hati.
“Aku terbiasa memasak di asrama,” jawabnya. “Biasanya untuk adik-adikku.”
Ryu hanya melirik sekilas dari balik kompor. Lalu kembali fokus pada aktivitasnya.
Saat Sungchan mencoba meraih botol minyak di rak atas, gerakannya bertepatan dengan Ryu yang hendak mengambil garam. Tangan Sungchan yang masih terasa hangat karena sisa demam tidak sengaja mendarat di atas tangan Ryu. Keduanya membeku. Aroma parfum maskulin yang samar dari tubuh Sungchan bercampur dengan aroma bawang putih yang sedang ditumis, menciptakan suasana yang mendadak sangat intim.
Sungchan menatap Ryu dari jarak yang sangat dekat. Ryu bisa melihat pantulan cahaya lampu dapur di iris mata Sungchan yang cokelat dalam. Untuk beberapa detik, dunia seolah berhenti berputar.
"Ekhem!" Hamin berdehem sangat keras hingga keduanya tersentak. "Minyaknya di sebelah kiri, Sungchan-ssi. Jangan salah fokus."
Ryu segera menarik tangannya dengan wajah yang mendadak memerah hingga ke telinga. Ia menyibukkan diri mengaduk nasi di penggorengan dengan tenaga yang sedikit berlebihan. "Cepat potong bawangnya, jangan banyak bicara!"
Sambil menunggu nasi matang, Hamin mulai membuka kotak pandora yang membuat Sungchan tertegun.
"Kau tahu, Sungchan-ssi? Ryu-noona ini sebenarnya 'senior' dalam hal penderitaan di industri hiburan," ujar Hamin sambil menyandarkan punggung di konter.
"Hamin, diam," potong Ryu dingin.
Hamin mengabaikan peringatan itu. "Dia dulu hidden trainee di YG Entertainment. Hampir tiga tahun dia mendekam di ruang bawah tanah yang dingin itu. Dia sangat berbakat, bahkan hampir masuk line-up debut. Tapi yah... ibunya yang keras kepala tiba-tiba menariknya keluar. Beliau bilang dunia hiburan sudah cukup menghancurkan pernikahannya dengan ayah Ryu, jadi dia tidak mau Ryu mengalami hal yang sama."
Sungchan menghentikan gerakan pisaunya. Ia menoleh ke arah Ryu yang kini membelakangi mereka, bahunya tampak tegang. "YG? Hidden trainee?"
"Ya. Itulah kenapa dia sangat mengerti perasaanmu," lanjut Hamin santai. "Dia tahu rasanya saat mimpi ditarik paksa dari tanganmu. Dia juga tahu betapa kotornya sistem di balik layar. Makanya dia jadi realistis—atau lebih tepatnya sinis—seperti sekarang."
"Sudah kukatakan, jangan bercerita banyak pada orang asing!" bentak Ryu, berbalik dengan spatula di tangan. Matanya berkilat marah, namun ada luka lama yang tersirat di sana.
"Sungchan-ssi bukan orang asing lagi, Noona. Dia sudah menginap di rumahmu, makan masakanmu, bahkan tadi..." Hamin sengaja menggantung kalimatnya sambil melirik tangan Ryu, membuat gadis itu hampir melempar spatulanya.
Sungchan menatap Ryu dengan pandangan yang benar-benar baru. Ia mulai paham sekarang. Kenapa Ryu tidak terkesan dengan status idol-nya, kenapa Ryu tahu persis kapan ia butuh bubur dan kapan ia butuh kejujuran pahit. Ryu bukan sekadar orang asing yang dingin; dia adalah seseorang yang pernah berdiri di posisi yang sama dengannya, namun dipaksa melepaskan segalanya sebelum sempat menggenggam mimpinya.
"Itu situasi yang berat,"gumam sungchan menatap Ryu.
Ryu mematikan kompor dengan kasar. "Itu masa lalu. Tidak perlu kau menatapku kasihan seperti itu. Sekarang duduk, makanannya sudah siap."
Mereka makan di meja kayu kecil yang biasanya hanya digunakan Ryu sendiri. Kehadiran Hamin benar-benar menjadi penyeimbang keheningan. Ia terus melontarkan lelucon yang membuat Sungchan tertawa kecil, sesuatu yang sangat langka dalam dua hari terakhir.
"Wah, Noona, nasi gorengmu hari ini rasanya lebih manis. Apa karena ada bumbu 'cinta' dari si Golden Boy?" Hamin menggoda lagi saat melihat Ryu mengambilkan porsi lebih banyak untuk Sungchan.
"Itu karena aku memasukkan lebih banyak kecap manis dari Indonesia, bodoh!" balas Ryu kesal, meski ia tidak bisa menyembunyikan wajahnya yang kembali memanas.
Di tengah sesi makan, sebuah butiran nasi menempel di sudut bibir Ryu. Sungchan, tanpa berpikir panjang dan didorong oleh insting pelindungnya yang biasa ia lakukan pada membernya, mengulurkan tangan. Ibu jarinya menyentuh sudut bibir Ryu dengan sangat lembut, menghapus butiran nasi itu.
Ryu terpaku. Sentuhan itu terasa sangat panas di kulitnya. Hamin yang melihat itu langsung tersedak minumannya.
"Uhukk! Uhukk! Waduh, pemandangan apa ini? Mataku tiba-tiba perih melihat kemesraan ini," seru Hamin sambil pura-pura mengucek mata. "Sungchan-ssi, kau ini benar-benar tidak tahu tempat ya? Ada orang ketiga di sini!"
Sungchan segera menarik tangannya, menyadari tindakannya yang terlalu berani. "Maaf, ada nasi tadi."
Ryu hanya menunduk dalam-dalam, pura-pura sangat tertarik pada nasi di piringnya. Jantungnya berdegup kencang, sebuah sensasi yang sudah lama sekali tidak ia rasakan.
Setelah makan selesai dan Hamin mulai membersihkan piring (setelah dipaksa Ryu), Sungchan memutuskan untuk mengecek ponselnya kembali. Layar itu menyala, dan seperti air bah, ratusan notifikasi menyerbu.
Namun, di antara semua pesan dari manajer yang panik dan member yang cemas, satu pesan di bagian teratas menyita seluruh perhatiannya.
Dari: Uri Seunghan
"Hyung... maafkan aku. Aku tahu saat ini kau pasti sedang berada di suatu tempat, berusaha melarikan diri dari kebisingan yang aku ciptakan.
Aku baru saja mendengar kabar bahwa kau pergi tanpa izin malam ini. Maafkan aku karena membuatmu harus memikul beban seberat ini.
Hyung, jangan hancurkan dirimu hanya untuk meratapi nasibku. RIIZE adalah impianmu juga. Tolong, kembalilah ke asrama. Jika kau tidak ada di sana, aku akan merasa jauh lebih berdosa karena telah merusak rumah tempat kita semua bernaung. Aku akan menerima apa pun konsekuensinya, asal aku tahu kau tetap berdiri tegak.
Terima kasih sudah menjadi kakak terbaik yang pernah kumiliki. Maafkan aku yang sudah mengecewakanmu. Aku menyayangimu, Hyung. Sangat menyayangimu."
Sungchan meletakkan ponselnya di meja, wajahnya kembali pucat. Air mata jatuh tanpa bisa dibendung, membasahi permukaan meja kayu. Pesan itu terasa seperti perpisahan akhir, meski manajer bilang mereka akan tetap di perusahaan yang sama. Kata-kata Seunghan yang begitu bijak dan menguatkan justru terasa seperti beban yang paling berat bagi Sungchan.
Ryu, yang sejak tadi memperhatikannya dari balik gelas tehnya, menghela napas. Ia bangkit, berjalan mendekat, dan duduk di samping Sungchan. Ia tidak memeluknya, namun ia meletakkan tangannya di atas meja, dekat dengan tangan Sungchan.
"Dia masih hidup, kan?" tanya Ryu dengan nada realistisnya yang khas.
Sungchan mengangguk pelan sambil menyeka air mata. "Ya. Dia bahkan masih di SM, tapi... dia tidak akan bersamaku lagi di panggung."
"Lalu kenapa kau menangis seolah dia sudah dikubur?" Ryu menatap tajam ke arah ponsel Sungchan. "Dengar, Tuan Idol. Di duniaku, perpisahan itu artinya orang itu hilang, tidak mengirim pesan, dan tidak bisa dihubungi lagi. Ayahku pergi dan aku tidak tahu dia masih ingat namaku atau tidak. Tapi adikmu? Dia baru saja mengirimimu surat cinta yang panjang."
Ryu mendorong ponsel itu ke arah Sungchan. "Hubungi dia."
"Sekarang?"
"Iya, sekarang. Sebelum kau mati karena sesak napas. Setidaknya katakan padanya kau masih hidup. Kau tidak tahu betapa beruntungnya kau masih punya kesempatan untuk bicara setelah sebuah perpisahan. Jangan buang itu karena harga dirimu yang terluka."
Ryu menatap Sungchan dengan tatapan yang kini lebih lunak. "Kalau kau memang merasa gagal melindunginya, setidaknya lakukan satu hal yang benar sekarang. Hubungi dia. Jangan biarkan dia merasa bahwa pesan terakhirnya hanya dibaca tanpa jawaban."
"Tapi aku..."
"Gunakan ponselku kalau kau takut manajermu melacakmu," Ryu menyodorkan ponselnya sendiri. "Bicaralah padanya. Katakan apa yang ingin kau katakan. Jangan jadi pengecut yang bersembunyi di balik rasa bersalah."
Hamin yang biasanya berisik, kini hanya diam di pojokan, menatap keduanya dengan senyum tipis. Ia tahu, di balik sikap kasar Ryu, bosnya itu sedang memberikan sepotong jiwanya untuk membantu Sungchan pulih.
"Telepon dia, Sungchan-ssi. Ryu-noona benar. Kadang suara jauh lebih menyembuhkan daripada teks," tambah Hamin dengan nada yang tidak lagi bercanda.
Sungchan menatap ponsel Ryu yang terulur, lalu menurunkan pandangannya ke ponsel miliknya sendiri yang tergeletak di meja. Dadanya naik turun, seolah ia sedang menimbang keberanian.
"Aku…" ia mengangkat ponselnya sendiri.
"Aku akan menggunakan punyaku."
Ia mendorong perlahan tangan Ryu kembali ke arah pemiliknya. Keputusan itu sederhana, tapi terasa berat—seolah ia memilih untuk berhenti lari.
Ryu tidak memaksa. Ia hanya menarik kembali ponselnya dan mengangguk singkat, membiarkan Sungchan mengambil waktunya sendiri.
Di ruangan itu, tidak ada yang bicara lagi.
Hanya ada Sungchan, ponselnya, dan keberanian kecil yang akhirnya mulai tumbuh.