Cahaya matahari musim dingin yang pucat mulai menyelinap melalui celah tirai jendela besar di lantai tiga. Suasana rumah Ryu biasanya sunyi dan dingin di jam-jam seperti ini, namun pagi ini, ada kehangatan yang berbeda. Di ruang tengah, televisi masih menyala tanpa suara, menampilkan semut-semut statis karena siaran film semalam telah usai.
Di atas sofa abu-abu yang tidak terlalu luas itu, dua insan masih terlelap dalam posisi yang akan membuat siapa pun yang melihatnya menahan napas. Sungchan dan Ryu tertidur dengan posisi saling merangkul erat. Lengan panjang Sungchan melingkar protektif di pinggang Ryu, sementara kepala Ryu bersandar nyaman di d**a bidang pria itu. Keduanya tampak begitu terikat, seolah-olah dalam alam bawah sadar, mereka sedang berusaha menjaga satu sama lain agar tidak jatuh ke lantai atau kembali ke realita yang menyakitkan.
Pintu salah satu kamar di lorong terbuka pelan. Hamin keluar dengan rambut acak-acakan dan mata mengantuk, niatnya hanya ingin mengambil air minum di dapur. Namun, langkahnya terhenti total saat matanya menangkap pemandangan di sofa.
"Hah—" Hamin baru saja akan mengeluarkan pekikan kaget saat sebuah tangan tiba-tiba membungkam mulutnya dengan keras dari belakang.
"Sstt! Jangan berisik, Bodoh!" bisik sebuah suara perempuan yang tajam.
Hamin mengerjap, menoleh ke belakang dan mendapati Yerim sudah berdiri di sana dengan apron yang sudah terpasang. Yerim rupanya sudah datang lebih awal lewat pintu belakang untuk menyiapkan bahan makanan bar, namun ia memilih untuk tidak mengusik ketenangan di ruang tengah.
"Mereka... itu Sungchan RIIZE, kan?" bisik Hamin setelah tangan Yerim terlepas. Suaranya penuh nada tidak percaya. "Dan itu Ryu-noona? Bos kita yang anti-romansa itu?"
Yerim menarik kerah baju Hamin, menyeretnya menjauh menuju area dapur agar suara mereka tidak membangunkan dua orang yang sedang "berhibernasi" tersebut. "Diamlah. Kau lihat betapa nyenyaknya mereka? Noona tidak pernah tidur senyenyak itu sejak sebulan lalu. Dan pria itu... dia terlihat seperti baru saja menemukan rumahnya."
Hamin menyeringai nakal, ia mengeluarkan ponselnya diam-diam. "Ini harus diabadikan. Ini momen langka dalam sejarah The Abyss."
"Letakkan ponselmu atau aku akan memukul kepalamu dengan penggorengan," ancam Yerim sengit.
Sekitar empat puluh menit kemudian, sebuah erangan pelan terdengar dari sofa. Sungchan adalah yang pertama kali sadar. Ia merasakan beban di dadanya dan aroma lavender yang kini sangat akrab di indra penciumannya. Saat matanya terbuka sepenuhnya, jantungnya nyaris melompat keluar. Wajah Ryu hanya berjarak beberapa sentimeter dari wajahnya.
Ryu pun mulai terusik. Ia mengerjap, merasakan hangatnya dekapan seseorang. Saat kesadarannya terkumpul dan ia menyadari posisi mereka, Ryu langsung mendorong d**a Sungchan hingga pria itu hampir terjungkal ke lantai.
"A-apa yang kau lakukan?!" bentak Ryu, meski suaranya sedikit parau karena baru bangun tidur. Wajahnya yang biasanya pucat kini memerah padam.
"Kau yang memelukku duluan semalam!" balas Sungchan, berusaha menyeimbangkan diri sambil mengusap lehernya yang kaku.
"Ehem. Selamat pagi, Pasangan Tahun Baru," suara Hamin memecah ketegangan.
Ryu dan Sungchan serentak menoleh ke arah dapur. Di sana, Hamin dan Yerim sedang bersandar di konter sambil memegang cangkir kopi, menatap mereka dengan senyum yang sangat menyebalkan.
"Yerim? Sejak kapan kau di sini?" tanya Ryu, berusaha merapikan rambutnya yang berantakan dengan gerakan gugup.
"Sejak adegan 'jangan-biarkan-aku-jatuh-dari-sofa' dimulai, Ryu_ ya," jawab Yerim santai sambil meletakkan sepiring roti bakar di meja makan. "Sungchan-ssi, tidurmu nyenyak? Kau terlihat jauh lebih segar, mungkin karena 'bantal' pribadimu sangat nyaman?"
Sungchan berdehem berkali-kali, menarik poninya untuk menutupi wajahnya yang memerah. "Maaf... aku tidak bermaksud..."
"Sudahlah, jangan dijelaskan. Kami punya mata," goda Hamin lagi. Ia berjalan mendekati Sungchan dan menepuk bahunya. "Tapi serius, Bung. Kau punya nyali besar bisa tidur sambil memeluk singa betina ini tanpa kehilangan nyawamu."
Ryu menyambar sebuah bantal sofa dan melemparkannya tepat ke wajah Hamin. "Diam atau kau kupecat hari ini juga!"
Suasana canggung itu perlahan mencair saat mereka duduk bersama untuk makan siang. Yerim memasakkan sup pereda mabuk dan beberapa lauk pauk segar. Ini adalah momen pertama bagi Sungchan merasakan makan siang normal dengan orang-orang yang tidak membicarakan jadwal, angka penjualan, atau konsep panggung.
"Jadi, kau benar-benar akan kembali?" tanya Yerim lembut sambil menatap Sungchan.
Sungchan mengangguk, kali ini dengan tatapan yang lebih mantap. "Ya. Aku harus kembali. Ada lima orang yang menungguku, dan satu orang lagi yang berjanji akan terus mendukungku di sana."
Ryu diam saja, ia sibuk mengunyah makanannya, namun matanya sesekali melirik Sungchan. Ada rasa tak biasa yang mulai merayap di hatinya, namun ia menekannya dalam-dalam.
"Hamin akan mengantarmu," ujar Ryu tiba-tiba tanpa menoleh. "Bukan apa-apa hanya untuk menghindari paparazi, di banding taksi diantar mobil pribadi lebih aman. Dia punya mobil yang kaca filmnya sangat gelap. Tidak akan ada yang mengenalimu."
"Noona perhatian sekali," ledek Hamin, yang langsung dihadiahi tendangan di bawah meja oleh Ryu.
Setelah makan siang selesai, Sungchan bersiap-siap. Ia memakai kembali hoodie hitamnya, maskernya, dan topi yang ditarik rendah. Ia terlihat kembali menjadi "Sungchan RIIZE" yang misterius dan tak tersentuh. Namun, sebelum ia melangkah keluar pintu, ia berhenti di depan Ryu.
Yerim dan Hamin sengaja menjauh, memberi mereka ruang di lorong lift.
"Terima kasih, Ryu. Untuk semuanya," bisik Sungchan. "Untuk buburnya, untuk omelanmu yang menyakitkan, dan untuk... pelukan semalam."
Ryu bersedekap, mencoba mempertahankan topeng dinginnya. "Anggap saja itu bagian dari servis bar. Jangan dibesar-besarkan. Dan ingat, kau masih punya hutang setoples s**u jahe yang kau hancurkan kemarin padaku."
Sungchan tertawa kecil. Ia mencondongkan tubuhnya sedikit, membisikkan sesuatu di telinga Ryu. "Aku akan kembali. Bukan sebagai idol yang hancur, tapi sebagai pelanggan yang merindukan s**u Jahe buatanmu."
Ryu terpaku, napasnya tertahan saat Sungchan menjauhkan wajahnya dan memberikan sebuah kedipan kecil yang hanya bisa dilihat oleh Ryu.
"Ayo, Jagoan! Taksi pribadimu sudah siap," teriak Hamin dari dalam lift.
Sungchan melambaikan tangan pada Yerim dan Ryu, lalu masuk ke dalam lift bersama Hamin. Pintu lift tertutup, meninggalkan Ryu sendirian di lorong yang kini terasa sangat sepi.
Di dalam mobil Hamin yang beraroma kopi dan rokok, Sungchan menatap keluar jendela. Jalanan Seoul yang padat kembali menyambutnya.
"Kau tahu," ujar Hamin sambil menyetir, "Ryu-noona itu tidak pernah membawa pria ke atas. Kau yang pertama. Dan melihat cara dia menatapmu tadi... kurasa kau sudah merusak sistem pertahanannya."
Sungchan tersenyum di balik maskernya. "Dia yang merusak sistem pertahananku duluan, Hamin-ssi."
Hamin terkekeh. "Baguslah. Dia butuh seseorang yang sedikit gila untuk menghadapinya. Kabari aku kalau kau sudah sampai di dalam asrama dengan selamat. Aku tidak mau Noona memotong gajiku kalau kau hilang lagi."
Mobil berhenti di sebuah jalan sempit yang cukup tersembunyi, sekitar lima menit berjalan kaki dari asrama RIIZE. Sungchan turun dengan waspada. Sebelum mobil Hamin melaju pergi, Sungchan sempat mengetuk kaca jendela.
"Katakan pada Ryu, aku akan segera membayar hutang s**u Jahenya!" teriak Sungchan.
Hamin mengacungkan jempolnya dan segera melesat pergi.
Sungchan menarik napas panjang, menghirup udara musim dingin yang tajam. Ia menatap gedung asramanya di kejauhan. Langkahnya kini tidak lagi berat. Di dalam sakunya, ponselnya sudah menyala dengan pesan singkat dari Seunghan yang dikirim barusan: "Aku menunggumu di lobi perusahaan besok, Hyung."
Dan di dalam ingatannya, ada bayangan seorang gadis blasteran dengan cara bicara yang kasar namun tangan yang hangat. Sungchan mulai berjalan. Ia kembali ke dunianya, namun kali ini, ia membawa sebuah rahasia yang ia sebut sebagai "rumah" di sudut Gangnam.