Di sebuah bar mewah milik Max dan Huga, Ryu duduk dengan segelas s**u Jahe di tangannya. Ia tidak menyentuh alkohol atau pun minuman soda seperti rekannya. Pikirannya tidak fokus pada pembicaraan tentang pasokan wiski dari Eropa.
"Ryu, kau melamun?" Hugo, pria bertubuh tegap dengan tato di lengannya, menepuk meja. "Sejak tadi kau hanya diam. Ada masalah di The Abyss?"
"Hanya masalah kecil yang merepotkan," jawab Ryu pendek. Ia melirik jam tangannya. Sudah pukul lima sore. Ia bertanya-tanya apakah pria 'Golden Boy' itu sudah bangun atau apakah demamnya naik lagi.
"Kau terlihat lelah," timpal Max. "Apa ada pelanggan yang berulah lagi? Kau tahu kami selalu siap membantu jika kau butuh tenaga tambahan untuk 'mengurus' orang."
"Tidak perlu. Ini masalah yang harus kuselesaikan sendiri," Ryu berdiri, mengambil jaket kulitnya. "Aku harus balik. Hamin tidak akan kuat menghadapi masalah ini sendirian."
Ryu berjalan keluar dari bar milik rekannya dengan langkah terburu-buru. Di sepanjang jalan, ia melihat layar besar di persimpangan jalan menampilkan wajah Sungchan dan berita tentang RIIZE. Ia membuang muka. Kebenciannya pada industri hiburan yang telah merebut ayahnya kembali memuncak, namun di saat yang sama, ia teringat bagaimana Sungchan menggenggam tangannya dengan gemetar tadi siang.
"Sial," umpat Ryu pelan. "Kenapa aku jadi peduli pada orang yang seharusnya paling aku benci?"
■
Lonceng di atas pintu kayu The Abyss berdentang pelan saat Ryu melangkah masuk. Angin sore yang dingin ikut menyelinap, membawa aroma aspal basah ke dalam bar yang remang. Hal pertama yang Ryu lihat adalah Sungchan. Pria itu sudah keluar dari ruang kerja pribadinya, kini duduk di salah satu kursi tinggi di depan bar dengan bahu yang merosot.
Ryu berjalan mendekat, meletakkan kunci mobilnya di atas konter dengan bunyi klotak yang sengaja dikeraskan. Sungchan mendongak. Wajahnya masih pucat pasi, matanya sayu, dan ia terlihat seolah embusan angin sedikit saja bisa membuatnya jatuh dari kursi.
"Sudah bangun? Kalau sudah bisa duduk, artinya kau sudah bisa pulang," ujar Ryu datar, matanya menyapu sosok Sungchan dari kepala hingga kaki. "Sekarang pakai maskermu, hubungi manajermu, dan pulanglah. Aku sudah menyelesaikan tugasku sebagai warga negara yang baik."
Sungchan memegangi kepalanya, lalu kembali berbaring dengan gerakan dramatis. "Kepalaku... rasanya mau pecah. Aku tidak bisa bangun, Ryu."
"Jangan mencoba berakting di depanku, Jung Sungchan. Aku tidak akan memberimu piala Oscar," sindir Ryu sambil berdiri dan meregangkan otot-ototnya yang pegal.
"Aku serius," bisik Sungchan parau. Wajahnya memang masih pucat, dan matanya masih sayu. "Aku benar-benar tidak punya tenaga. Bahkan untuk sekadar berdiri."
Saat itulah ponsel Sungchan di atas meja bergetar hebat. Nama 'Manager Hyung' berkedip-kedip di layar. Sungchan menatap ponsel itu dengan rasa mual. Ia tahu apa yang akan dikerjakan dunia luar padanya hari ini: jadwal latihan, rapat darurat tentang hengkangnya Seunghan, dan instruksi untuk tetap terlihat "baik-baik saja" di depan kamera.
Sungchan menyambar ponsel itu dan mengangkatnya.
"Halo, Hyung," kata Sungchan, suaranya tiba-tiba berubah menjadi dingin dan tegas, sangat berbeda dengan suaranya saat bicara pada Ryu.
"Sungchan! Kau di mana?! Kami semua gila mencarimu sejak semalam! Kau tidak ada di dorm, ponselmu tidak aktif! Kau tahu situasinya sedang kacau, kan? Kembali sekarang!" suara manajer terdengar sangat panik dari seberang sana.
"Aku tidak akan kembali hari ini," jawab Sungchan datar. Ia melirik Ryu yang sedang memperhatikan dengan kening berkerut. "Aku butuh waktu untuk memproses semuanya. Aku tidak bisa bertemu siapa pun sekarang."
"Apa maksudmu?! Kau punya jadwal, Sungchan! Jangan membuat masalah lebih besar dari yang sudah ada! Di mana kau? Biar aku jemput sekarang. Bersama siapa kau?"
"Aku bersama teman. Aku tidak akan membuat masalah, Hyung. Aku tidak akan tertangkap kamera, aku tidak akan mengunggah apa pun. Aku hanya butuh waktu dua puluh empat jam untuk menjadi manusia, bukan properti SM. Jangan mencariku. Aku baik-baik saja."
Tanpa menunggu jawaban, Sungchan mematikan ponselnya dan langsung mencabut kartu SIM-nya. Ia melempar benda itu ke meja seolah itu adalah benda beracun.
Ryu menaikkan sebelah alisnya. "Wah. Kau baru saja mendeklarasikan perang pada agensimu?"
"Aku hanya mengambil cuti sakit," gumam Sungchan sambil menarik selimut tipis yang entah sejak kapan ada di tubuhnya (ia tahu Ryu yang menyelimutinya). "Dan aku akan menghabiskannya di sini."
"Apa?! Tidak bisa!" bentak Ryu. "Bar ini akan buka nanti sore. Kau tidak bisa sembunyi di sini seharian. Kau merepotkan, kau tahu itu?"
Sungchan menatap Ryu cukup lama sebelum akhirnya menggeleng pelan. "Beri aku waktu... satu hari lagi saja. Tolong."
Ryu mengerutkan kening, tangannya yang baru saja hendak mengambil gelas langsung terhenti. "Apa? Kau pikir ini hotel? Kau sudah bangun, demammu sudah turun sedikit. Pulang dan urus masalahmu di sana."
"Aku tidak bisa kembali ke asrama dengan wajah seperti ini," suara Sungchan serak, nyaris berbisik. "Jika member melihatku dalam kondisi sehancur ini, mereka akan semakin terguncang. Mereka sudah kehilangan Seunghan hari ini... mereka tidak boleh melihat pilar mereka patah juga. Aku hanya butuh satu malam untuk mengumpulkan sisa-sisa diriku agar aku bisa terlihat 'baik-baik saja' saat bertemu mereka besok."
Ryu terdiam. Ia ingin memaki, ingin mengatakan bahwa itu adalah alasan paling konyol yang pernah ia dengar. Namun, ia melihat tangan Sungchan yang meremas ujung kaos-nya sendiri—sebuah gestur ketakutan yang murni. Pria ini bukan takut pada agensinya; dia takut menjadi beban bagi orang-orang yang ia sayangi.
"Satu hari," desis Ryu akhirnya, mengangkat satu telunjuknya tepat di depan hidung Sungchan. "Hanya sampai besok pagi. Jika setelah matahari terbit kau belum pergi, aku sendiri yang akan menyeretmu ke gedung SM dan melemparkanmu di lobi."
Sungchan mengangguk lemah, secercah rasa lega melintas di matanya yang lelah. "Terima kasih, Ryu."
Ryu meninggalkan Sungchan yang kembali termenung dan berjalan menuju ujung bar, tempat Hamin sedang asyik dengan ponselnya, jemarinya bergerak lincah memainkan game online.
"Hamin," panggil Ryu.
"Ya, Noona? Oh, kau sudah kembali. Bagaimana urusan dengan Max?" Hamin bertanya tanpa mengalihkan pandangan dari layar.
"Lupakan Max. Malam ini kita tutup. Pasang papan 'Closed' di depan."
Hamin langsung menghentikan gamenya dan mendongak kaget. "Tutup? Noona, ini malam Sabtu. Ini waktu kita meraup untung besar. Kenapa?"
Ryu melirik sekilas ke arah Sungchan yang duduk beberapa meter dari mereka, sedang menatap botol-botol minuman kosong dengan tatapan kosong yang sama. "Lihat dia," bisik Ryu pada Hamin. "Kondisinya tidak stabil. Kalau kita buka, dan ada satu saja pelanggan yang mengenalinya, bar ini akan berubah jadi medan perang. Aku tidak mau mengambil risiko itu."
Hamin mengikuti arah pandang Ryu. Ia menghela napas panjang melihat Sungchan yang nampak seperti raga tanpa nyawa. "Dia benar-benar terguncang, ya? Maksudku, aku tahu idol itu berat, tapi dia terlihat seperti baru saja kehilangan separuh jiwanya."
"Itulah yang terjadi jika kau membangun hidupmu di atas ekspektasi orang lain," sahut Ryu realistis. "Begitu satu fondasi dicabut, seluruh bangunanmu runtuh. Dia terlalu banyak membawa beban yang bukan miliknya."
Hamin terdiam sejenak, lalu menyenggol lengan Ryu dengan sikunya, mencoba mencairkan suasana. "Noona, dia tidak butuh sekadar obat atau bubur hambar. Dia butuh pengalihan. Kau tahu... sesuatu agar dia tidak terlihat seperti akan ikut meleleh seperti lilin di sampingnya."
Ryu menatap Hamin dengan tatapan membunuh. "Jangan mulai, Hamin. Aku bukan psikiater."
"Ayolah! Kau yang memungutnya, kau yang bertanggung jawab. Kenapa kau tidak mencoba bicara padanya? Kau kan punya cara bicara yang... unik," Hamin terkekeh pelan. "Setidaknya buat dia berhenti menatap botol kosong itu seolah dia ingin masuk ke dalamnya."
"Aku bukan badut penghibur, Hamin," gerutu
Ryu. "Kalau kau merasa kasihan, kau saja yang bicara padanya."
Hamin langsung mengangkat tangan, tanda menyerah. "Oh, tidak. Kau tahu sendiri aku payah dalam hal ini. Terakhir kali aku mencoba menghibur Yerim, aku malah mendapat tamparan karena mulutku salah bicara. Aku tidak mau hal itu terjadi lagi."
Ryu terkekeh sinis. "Itu karena kau tidak tahu kapan harus diam. Sudahlah, biarkan saja. Si Tuan Idol itu butuh waktu sendiri untuk menjernihkan otaknya."
Ryu menghela napas panjang, seolah sedang membuang sisa-sisa kesabarannya. "Ajak dia naik ke atas. Bar ini akan terasa seperti makam saat menjelang malam"
Tanpa menunggu jawaban, Ryu berbalik dan berjalan menuju lorong lift di pojok ruangan.
"Hei, Sungchan-ssi," panggil Hamin pelan sambil menghampiri meja bar. Ia menepuk bahu pria itu dengan ragu. "Ayo pindah. Di sini terlalu dingin. Di atas jauh lebih manusiawi untuk orang yang sedang merasa mati—maksudku, sedang dalam masa sulit."
Sungchan hanya mengangguk lemah, mengikuti langkah Hamin dengan gerakan mekanis, meninggalkan bar yang kini benar-benar senyap.