Tepat saat suasana mencapai titik nadir, Manager Hyung masuk ke asrama dengan langkah terburu-buru. Ia menatap keenam pemuda itu dengan tatapan yang sulit diartikan—campuran antara simpati dan sedikit kelegaan.
"Seunghan-ah, mobil sudah siap di bawah," ujar sang manajer. Namun, sebelum tangis member kembali pecah, ia mengangkat tangannya.
"Tunggu. Ada sesuatu yang harus kalian ketahui sebelum kalian berpikir ini adalah akhir dari segalanya."
Semua member menahan napas.
"Perusahaan mengeluarkanmu dari RIIZE karena tekanan publik, itu benar," lanjut sang manajer sambil menatap Seunghan. "Tapi mereka tidak melepasmu dari SM. Direksi sudah memutuskan untuk memindahkanmu ke divisi solois. Mereka sedang menyiapkan progres untuk debut solomu di masa depan setelah suasana mereda. Kau akan tetap berada di gedung yang sama dengan mereka, berlatih di lantai yang sama."
Mata Eunseok membelalak. "Maksud Hyung... dia tidak benar-benar pergi?"
Manajer itu tersenyum tipis, sebuah senyum yang tulus. "Kalian mungkin tidak akan sepanggung lagi sebagai Riize, itu kenyataan pahitnya. Tapi kalian masih bisa bertemu di kantin, kalian masih bisa pergi makan bersama setelah latihan, dan kalian masih berada di bawah atap yang sama. Ini bukan perpisahan selamanya. Ini hanya... jalan yang bercabang, namun tujuannya tetap sama."
Tangis Anton yang tadinya penuh keputusasaan berubah menjadi isakan lega. Meski pahit karena formasi mereka harus pecah, setidaknya Seunghan tidak dibuang ke jalanan. Mereka masih bisa saling merangkul di balik layar.
"Pergilah," bisik Seunghan pada teman-temannya sambil tersenyum tulus. "Aku akan bekerja keras di jalanku, dan kalian di jalan kalian. Kita tetap bersama, hanya dalam bentuk yang berbeda."
■
Kembali ke suasana di dalam ruang kerja Ryu terasa pengap oleh aroma obat-obatan dan hawa panas yang menguar dari tubuh Sungchan. Di luar, hari sudah merangkak siang, namun di ruangan sempit itu, waktu seolah membeku dalam penderitaan.
Sungchan masih terbaring di sofa kulit, namun kondisinya jauh dari kata membaik. Rambutnya lepek oleh keringat dingin, dan matanya yang biasanya bersinar tajam kini hanya menatap kosong ke arah langit-langit kayu yang berdebu. Ia tidak lagi mengigau, namun diamnya justru terasa lebih menakutkan—seperti seseorang yang jiwanya telah pergi meninggalkan raga.
Ryu masuk membawa nampan berisi semangkuk bubur panas dan beberapa butir obat. Wajahnya masam, kelelahan mulai membayang di bawah matanya.
"Duduk," perintah Ryu singkat.
Sungchan tidak bergerak. Ia bahkan tidak berkedip.
"Jung Sungchan, aku tidak punya waktu seharian. Duduk dan makan ini sebelum maag-mu pecah setelah semalam minum wiski seperti orang gila," suara Ryu mulai meninggi.
Sungchan perlahan menoleh, menatap bubur itu dengan pandangan benci. "Aku tidak lapar. Bawa pergi saja."
"Aku tidak bertanya kau lapar atau tidak. Aku menyuruhmu makan agar kau bisa minum obat dan pergi dari barku. Kau tahu manajermu mungkin sudah mengerahkan seluruh polisi di Seoul untuk mencarimu?"
"Biarkan saja," bisik Sungchan parau. "Biarkan mereka tidak menemukanku. Aku tidak mau kembali. Aku tidak mau menjadi 'Sungchan' lagi."
Ryu meletakkan nampan itu dengan bantingan keras di atas meja. Prang! Sendok peraknya berdenting nyaring.
"Oh, jadi ini rencanamu? Mogok makan di ruanganku sampai kau mati kelaparan dan membuat barku ditutup polisi karena penemuan mayat idol?" Ryu bersedekap, dadanya naik turun menahan emosi yang sudah di ubun-ubun.
"Dengar, aku sudah cukup sabar mengurusmu semalaman. Aku tidak peduli seberapa hancur perasaanmu, tapi jangan berani-berani bersikap egois di depanku!"
Ryu nyaris saja melontarkan makian lebih jauh, namun kalimatnya tertahan di tenggorokan saat Sungchan tiba-tiba bangun dan duduk dengan sisa kekuatannya.
Sungchan menatap Ryu, dan untuk pertama kalinya, Ryu melihat kehancuran yang begitu murni. Air mata mengalir begitu saja tanpa suara dari mata Sungchan yang memerah. Bibirnya yang pucat gemetar, dan bahu lebarnya merosot seolah seluruh tulang di tubuhnya telah lenyap.
"Aku hanya ingin tahu kenapa..." suara Sungchan pecah. "Kenapa aku harus terus berjalan saat bagian dari diriku dipotong paksa? Mereka bilang ini untuk kebaikan grup, tapi kenapa rasanya seperti kematian? Aku harus makan agar bisa kembali tersenyum di depan kamera dan pura-pura tidak terjadi apa-apa? Aku tidak bisa,... aku tidak bisa."
Kemarahan Ryu yang tadinya berkobar, mendadak padam seperti disiram air es. Ia terdiam. Sebagai orang yang selalu mengedepankan realisme, ia ingin berkata bahwa "hidup memang tidak adil, jadi telan saja". Tapi melihat tampang Sungchan yang begitu menyedihkan—seperti anak kecil yang kehilangan arah di tengah hutan—Ryu tidak tega untuk meledak.
Ryu menghela napas panjang, mencoba membuang sisa kejengkelannya. Ia menarik kursi kayu dan duduk tepat di depan Sungchan. Ia mengambil mangkuk bubur itu, mengaduknya perlahan agar uap panasnya keluar.
"Dunia tidak akan berhenti berputar hanya karena kau berhenti makan," ujar Ryu, suaranya kini jauh lebih rendah, hampir melembut meski tetap ada nada kaku di sana. "Kau pikir dengan menyiksa dirimu sendiri, temanmu yang keluar itu akan merasa lebih baik? Tidak. Dia justru akan merasa lebih bersalah."
Sungchan menunduk, air matanya jatuh tepat di atas selimut.
"Buka mulutmu," Ryu menyodorkan sesendok bubur ke depan bibir Sungchan.
Sungchan menggeleng lemah, memalingkan wajah. "Pahit."
"Tentu saja pahit, lidahmu sedang terbakar demam," ketus Ryu, namun ia tidak menarik sendoknya. "Ayo. Satu suap saja. Kalau kau pingsan lagi, aku benar-benar akan membuangmu ke gang samping."
Setelah keheningan yang cukup lama, Sungchan perlahan menoleh kembali. Dengan ragu, ia membuka mulutnya dan menerima suapan itu. Ia mengunyah dengan susah payah, seolah setiap butir beras itu adalah kerikil yang harus ia telan.
Ryu terus menyuapinya dengan telaten. Tidak ada percakapan. Hanya suara denting sendok dan napas Sungchan yang masih berat. Ryu menyadari betapa kontrasnya situasi ini—dia, seorang pemilik bar yang sinis, sedang menyuapi idol paling populer di Korea di sebuah ruang kerja sempit yang berantakan.
"Minum ini," Ryu menyodorkan dua butir obat setelah buburnya habis setengah.
Sungchan menatap obat itu dengan ragu, namun akhirnya meminumnya di bawah pengawasan ketat Ryu. Setelah itu, Ryu membantunya berbaring kembali. Ia menarik selimut hingga ke d**a Sungchan.
Saat Ryu hendak berdiri untuk membereskan nampan, tangan Sungchan yang panas kembali menahan ujung kemeja Ryu.
"Kenapa kau membantuku?" tanya Sungchan lirih. "Kau bilang kau benci keributan. Kau bilang kau tidak peduli padaku."
Ryu terdiam sejenak, menatap tangan Sungchan yang terlihat rapuh di atas kain kemejanya. Ia membuang muka ke arah jendela yang tertutup rapat.
"Karena aku benci melihat sesuatu yang rusak dibiarkan begitu saja,terlebih itu terjadi di sekitarku" jawab Ryu datar. "Entah itu gelas yang pecah atau manusia yang hilang arah. Aku hanya tidak suka melihat kekacauan di tempatku."
Ryu melepaskan tangan Sungchan dengan lembut. "Tidurlah. Obatnya akan mulai bekerja. Dan satu hal lagi... manajermu belum tahu kau di sini, tapi kau tidak bisa bersembunyi selamanya. Setelah demammu turun, kau harus pulang. Bukan sebagai 'pilar' atau 'idol', tapi sebagai seseorang yang punya janji untuk tetap hidup."
Sungchan menutup matanya. Untuk pertama kalinya sejak badai skandal itu pecah, ia merasa perutnya tidak lagi mual karena kekosongan. Ada kehangatan dari bubur itu, dan ada kekuatan aneh dari kata-kata kasar Ryu yang justru terasa lebih nyata daripada ribuan komentar penyemangat di internet.
Ryu keluar dari ruangan itu dengan langkah berat. Di luar, Hamin sudah menunggunya dengan wajah cemas.
"Bagaimana, Noona?"
"Dia sudah makan sedikit," Ryu memijat pelipisnya. "Siapkan teh herbal. Dan Hamin... jika ada orang mencurigakan di depan bar, jangan buka pintunya dulu. Beri dia waktu beberapa jam lagi."
Ryu bersandar pada konter bar, menatap lurus ke depan. Ia baru saja menyadari bahwa dengan merawat Sungchan, ia telah melibatkan dirinya dalam pusaran masalah yang sangat besar. Tapi saat mengingat mata hancur Sungchan tadi, Ryu tahu ia tidak menyesal. Terkadang, realita yang pahit memang butuh sedikit sentuhan kemanusiaan agar tidak berubah menjadi tragedi.
■
Matahari sore mulai merendah, membiaskan cahaya jingga kemerahan yang menembus celah ventilasi di ruang kerja Ryu. Di dalam sana, Sungchan terbangun dengan keringat dingin yang membasahi bantalnya. Kepalanya masih terasa berdenyut, seolah ada palu yang menghantam pelipisnya secara berirama, namun suhu tubuhnya mulai sedikit turun berkat obat yang dipaksakan Ryu tadi siang.
Ia mengerang pelan, mencoba mendudukkan diri di sofa kulit yang sempit itu. Matanya menyapu ruangan. Tidak ada Ryu. Hanya ada aroma kayu manis yang tertinggal dan bekas nampan bubur yang sudah kosong di atas meja.
Pintu terbuka pelan. Bukan Ryu yang muncul, melainkan Hamin.
"Ah, kau sudah bangun," ujar Hamin sambil membawa segelas air putih hangat dan handuk bersih. "Bagaimana perasaanmu? Masih merasa seperti ditabrak truk?"
Sungchan menerima air itu dengan tangan yang sedikit gemetar. "Lebih baik. Di mana... wanita itu?"
"Maksudmu Ryu-noona?" Hamin menarik kursi, duduk dengan santai di depan Sungchan. "Dia ada urusan mendadak dengan rekannya, Max dan Hugo—pemilik bar di distrik sebelah—memintanya bertemu untuk membahas stok impor atau semacamnya. Dia menitipkanmu padaku."
Sungchan terdiam, menyesap airnya perlahan. Pikirannya melayang pada sosok Ryu. Gadis itu sangat aneh. Dia kasar, bicaranya menyakitkan, dan dia sama sekali tidak memperlakukannya seperti seorang bintang. Namun, di balik semua itu, dialah yang pertama kali menariknya dari kejaran kamera semalam.
“Ngomong-ngomong,” suara Hamin memecah lamunannya, “pakaianmu masih basah. Ryu noona bilang kau harus ganti. Ini… kau bisa pakai punyaku dulu.”
Hamin menyerahkan satu set pakaian sederhana. Sungchan menerimanya dengan gerakan lemah.
“Terima kasih,” ucapnya pelan.
“Perlu bantuan ke kamar mandi?” tawar Hamin lagi, nada suaranya tulus.
Sungchan menggeleng. “Tidak perlu. Aku masih cukup kuat untuk jalan sendiri.”
“Baiklah. Kalau butuh apa-apa, jangan sungkan panggil aku,” kata Hamin sebelum melangkah pergi.
Tak lama kemudian, Sungchan keluar dari ruang kerja Ryu dengan pakaian yang sudah berganti. Ia melangkah pelan ke arah bar, tempat Hamin kembali duduk sambil memainkan game di ponselnya.
“Kau tinggal di sini?” tanya Sungchan saat berdiri di dekatnya.
Hamin mendongak. “Iya. Gedung ini empat lantai. Dua lantai untuk bar, dua sisanya tempat tinggal. Aku tinggal di atas… bersama Ryu noona dan yang lain.”
“Yang lain?” Sungchan mengerutkan kening.
“Iya. Kami tinggal bersama—aku, Ryu, Yerim, Ro Woon, sama Hugo,” jelas Hamin santai.
Sungchan mengangguk pelan. Ada jeda singkat sebelum ia bertanya lagi, suaranya lebih lirih.
“Kalau boleh tahu… Ryu itu sebenarnya siapa? Maksudku… dia tidak terlihat seperti orang Korea asli.”
Hamin terkekeh kecil, menyandarkan punggungnya ke kursi.
“Kau tajam juga. Ryu noona itu blasteran. Ayahnya orang Indonesia, ibunya orang Korea. Itu sebabnya fitur wajahnya agak berbeda. Ada ketegasan yang jarang dimiliki gadis Korea kebanyakan.”
“Oh,” Sungchan mengangguk. “Pantas saja.”
Ekspresi Hamin berubah lebih serius. Ia menurunkan ponselnya.
“Ngomong-ngomong soal Ryu noona… aku mau minta maaf mewakilinya. Kalau ada kata-kata dia yang menyinggungmu semalam atau pagi ini.”
Sungchan hendak menyangkal, namun Hamin sudah lebih dulu melanjutkan.
“Dia jujur sampai ke tulang. Tidak suka menjilat, tidak suka berpura-pura. Dia melihat dunia hitam-putih mungkin karena sudah terlalu sering dikhianati oleh janji-janji manis yang berwarna.”
Hamin tersenyum tipis.
“Percayalah, meski kelihatannya galak dan kasar, kau ini sebenarnya beruntung. Ryu noona paling tidak suka direpotkan. Kalau orang lain, dia sudah memanggil taksi dan membuang mereka begitu saja. Tapi dia merawatmu, menyuapimu, bahkan memastikan pintu bar terkunci rapat supaya tak ada yang masuk.”
Ia melirik ke arah ruang kerja Ryu.
“Itu artinya, di suatu sudut hatinya yang beku, dia melihat sesuatu darimu… yang membuatnya tidak tega.”
Ada getaran aneh di d**a Sungchan.
Di dunia idol, kebaikan hampir selalu punya motif. Orang bersikap manis karena ketenaran, popularitas, atau keuntungan. Namun Ryu? Ia membantunya sambil memakinya. Tanpa senyum. Tanpa sanjungan.
Dan justru karena itu, kebaikan itu terasa jauh lebih jujur.
“Dia tidak menyukaimu sebagai ‘Sungchan dari RIIZE’,” tambah Hamin pelan.
“Dia hanya menolong seorang pria yang sedang hancur. Baginya, kau dan pengemis di jalanan itu sama saja—kalau sama-sama terluka.”
Sungchan menunduk, menggenggam botol air di tangannya.
Untuk pertama kalinya setelah sekian lama,
ia merasa dilihat—
bukan sebagai idol,
melainkan sebagai manusia.