Fajar di Seoul tidak pernah datang dengan tenang bagi mereka yang hidup di bawah sorot lampu. Pukul tujuh pagi, saat embun masih menempel di jendela-jendela kaca gedung tinggi, jagat maya sudah meledak. Tajuk berita utama di seluruh portal media hiburan seragam, seolah telah disiapkan dengan presisi yang mematikan:
[BREAKING] SM Entertainment Mengumumkan Seunghan Resmi Meninggalkan RIIZE secara Permanen: "Kami Menghormati Keputusan Artis."
Di bawah berita itu, medan perang pecah. Ribuan komentar membanjiri kolom opini. Ada yang bersorak puas seolah-olah baru saja memenangkan perang suci, namun lebih banyak lagi yang merasa sesak napas. Tagar #RIIZEis7 dan #JusticeForSeunghan mulai merangkak naik, bersaing dengan narasi-narasi kejam yang terus memojokkan pemuda yang baru saja kehilangan segalanya itu.
Di dalam asrama RIIZE, suasananya lebih mirip rumah duka daripada tempat tinggal idola nomor satu. Tidak ada aroma sarapan pagi; yang ada hanyalah bau kopi yang mendingin dan isak tangis yang tertahan.
Kardus-kardus besar sudah tertumpuk di ruang tamu. Seunghan berdiri di sana, mengenakan hoodie putih yang tampak terlalu besar untuk tubuhnya yang kian kurus. Ia mencoba tersenyum, namun bibirnya bergetar hebat.
"Terima kasih... karena sudah berjuang bersamaku sampai sini," bisiknya pelan.
Eunseok adalah orang pertama yang memeluknya. Pelukan itu bukan sekadar pelukan antar member, tapi pelukan dari dua jiwa yang telah menempuh perjalanan panjang bersama. Mereka pernah hampir debut di NCT, mereka melewati masa-masa ketidakpastian sebagai trainee yang terlupakan, hingga akhirnya mereka menemukan cahaya di RIIZE. Dan sekarang, cahaya itu dipadamkan secara paksa hanya untuk salah satu dari mereka.
"Ini tidak adil," Eunseok terisak, wajahnya disembunyikan di bahu Seunghan. Suaranya yang biasanya rendah dan stabil kini pecah menjadi serpihan keputusasaan. "Kita janji akan naik ke panggung besar bersama-sama. Bagaimana aku bisa berdiri di sana tanpa melihatmu di sampingku?"
"Kau harus kuat, Hyung," kata Seunghan sambil menepuk punggung Eunseok, meski air matanya sendiri sudah membasahi kain kaus rekannya itu.
"Kau harus melakukannya untukku juga."
Shotaro, Wonbin, Sohee, dan Anton berdiri melingkar, saling berpegangan tangan dalam duka yang kolektif. Namun, di tengah kepedihan itu, ada satu kekosongan yang membuat kecemasan mereka berlipat ganda.
"Di mana Sungchan-hyung?" tanya Anton dengan suara serak, matanya yang bengkak menatap ke arah kamar Sungchan yang terbuka dan kosong.
"Manager Hyung sedang mencarinya sejak semalam," jawab Wonbin dengan nada khawatir yang mendalam. "Ponselnya mati. Dia tidak pulang setelah rapat semalam. Aku takut... aku takut dia melakukan sesuatu yang nekat."
Manajer mereka masuk ke asrama dengan wajah yang sangat pucat, ponselnya terus menempel di telinga. "Belum ada tanda-tanda. CCTV di sekitar gedung menunjukkan dia berjalan ke arah Gangnam, tapi setelah itu dia menghilang. Jika media tahu pusat RIIZE hilang di hari pengumuman ini, kita benar-benar habis."
■
Di sisi lain kota, di dalam ruang kerja yang sempit dan berbau kayu manis, Nam Ryu baru saja terbangun setelah tidur ayam di sofa bar. Ia menguap, merenggangkan otot-otot lehernya yang kaku, lalu menatap pintu ruang kerjanya.
"Astaga, aku lupa ada 'masalah besar' di dalam sana," gumamnya teringat pada tamunya semalam.
Ryu masuk ke ruangannya untuk mengecek apakah Sungchan sudah bangun dan siap diusir. Namun, pemandangan yang ia dapati justru membuatnya menghela napas panjang.
Sungchan masih meringkuk di sofa, namun selimut tipis yang semalam diberikan Ryu sudah terjatuh ke lantai. Napas pria itu terdengar berat dan pendek-pendek.
Ryu mendekat, niat awalnya adalah untuk mengguncang bahunya agar bangun, namun saat tangannya menyentuh lengan Sungchan, ia tersentak. Kulit pria itu terasa seperti porselen yang baru keluar dari oven.
"Hei, Idol," Ryu menepuk pipi Sungchan pelan. "Bangun. Kau tidak bisa pingsan di sini."
Sungchan hanya melenguh kecil. Kelopak matanya bergetar, mencoba terbuka, namun matanya terlihat sangat sayu dan tidak fokus. Bibirnya yang pecah-pecah menggumamkan nama-nama yang tidak jelas; Seunghan... Maaf... Dingin...
Ryu menempelkan punggung tangannya ke dahi Sungchan. "Sialan. Kau demam tinggi."
Ryu mengumpat dalam hati. Baginya, pagi ini seharusnya diisi dengan kopi hitam dan menghitung stok minuman, bukan mengurus bintang pop yang sedang sekarat karena tekanan batin dan paparan hujan semalam. Namun, ia tidak bisa membiarkan pria ini mati di sofanya—itu akan jauh lebih merepotkan bagi bisnisnya.
Ia mengambil handuk kecil dan baskom berisi air dingin. Dengan cekatan—meski gerakannya kasar karena kesal—ia mulai mengompres dahi Sungchan.
"Kau ini merepotkan sekali," omel Ryu sambil memeras handuk. "Katanya pilar grup, tapi ternyata cuma bocah yang tidak bisa mengurus diri sendiri saat hatinya sakit."
Sungchan tiba-tiba mencengkeram pergelangan tangan Ryu. Tenaganya tidak kuat, namun genggamannya terasa putus asa. "Jangan... jangan biarkan mereka mengambilnya," gumamnya dalam igauan demam. "Aku bisa... aku bisa melakukan lebih baik... jangan buang dia..."
Ryu tertegun sejenak. Ia menatap wajah Sungchan yang penuh dengan penderitaan, bahkan dalam tidurnya. Sebagai seseorang yang terbiasa hidup realistis dan dingin, Ryu biasanya tidak punya ruang untuk simpati. Baginya, hidup adalah soal bertahan. Tapi melihat Sungchan yang hancur seperti ini, ia seolah melihat bayangan seseorang yang sedang tenggelam di tengah samudera dan tidak ada satu pun orang di kapal besar yang mau melemparkan pelampung.
"Tidak ada yang mengambil siapa pun di sini," suara Ryu melunak, meski masih terdengar kaku. "Tidur saja. Tidak ada kamera di sini. Tidak ada karangan bunga gila di sini."
Ryu duduk di kursi kerjanya, memperhatikan Sungchan sambil sesekali mengganti kompresnya. Ia mengambil ponselnya sendiri, melihat berita yang sedang menjadi trending topic. Ia melihat foto Seunghan, lalu beralih melihat wajah Sungchan yang ada di depannya.
Ia tidak bisa membayangkan bagaimana rasanya hidup di bawah mikroskop seperti itu. Di mana setiap kesalahan remaja dihukum dengan kematian karir, dan di mana kesedihan harus disembunyikan demi kepentingan saham.
"Dunia kalian benar-benar sakit," bisik Ryu pada keheningan ruangan itu.
Beberapa jam berlalu. Suara denting lonceng di depan bar menandakan Hamin telah datang untuk persiapan buka sore nanti. Ryu keluar menemui asistennya itu dengan wajah lelah.
"Hamin, belikan bubur dan obat penurun panas di apotek bawah. Jangan banyak tanya, dan jangan biarkan Yerim atau siapa pun tahu," perintah Ryu.
Hamin melihat wajah bosnya yang kusut dan mata yang merah. "Dia masih di dalam?"
"Ya. Dan dia sakit. Demamnya gila-gilaan," Ryu memijat pangkal hidungnya. "Kalau managernya menelepon bar ini, katakan kita tidak tahu apa-apa. Aku tidak mau pintu depanku dikepung wartawan."
"Tapi Noona, bukankah itu berisiko? Bagaimana kalau perusahaannya menuntutmu karena menyembunyikan dia?"
Ryu menatap Hamin dengan tatapan yang bisa membekukan air. "Aku tidak menyembunyikannya. Aku hanya memberinya tempat untuk bernapas. Jika mereka ingin dia kembali, biarkan mereka menemukannya sendiri di tumpukan sampah moral mereka. Di sini, dia hanya pelanggan yang sedang sakit."
Hamin mengangguk patuh dan segera pergi. Ryu kembali ke ruangannya, menutup pintu rapat-rapat. Di dalam sana, Jung Sungchan mulai bergerak gelisah, keringat dingin membasahi rambutnya.
Pagi itu, di saat seluruh dunia sedang berdebat tentang benar dan salah, tentang skandal dan citra, di sebuah sudut sempit bernama The Abyss, seorang gadis blasteran sedang bertaruh dengan kenyataan untuk melindungi sisa-sisa kemanusiaan dari seorang pemuda yang hampir kehilangan jiwanya.