Nam Ryu menutup pintu ruang kerjanya dengan perlahan, meninggalkan keheningan yang berat di dalam sana. Melalui celah pintu yang hampir rapat, ia masih bisa mendengar sisa-sisa isakan tertahan dari Sungchan—sebuah suara yang terdengar lebih seperti rintihan binatang terluka daripada seorang bintang besar. Ryu tidak memberikan kata-kata penghiburan terakhir; ia tahu pria itu hanya butuh ruang untuk hancur tanpa perlu merasa malu.
Ryu berbalik, wajahnya langsung mengeras saat matanya menyapu area bar. Aura "bos" yang dingin kembali menyelimuti dirinya. Ia melangkah tenang menuju meja di tengah, tempat di mana tiga gadis tadi masih duduk dengan gelisah, berbisik-bisik sambil terus melirik ke arah pintu ruang pribadinya.
"Ponsel kalian. Berikan," ujar Ryu tanpa basa-basi, berdiri menjulang di depan meja mereka.
"Apa? Tapi kenapa? Kami tidak melakukan apa-apa!" salah satu dari mereka mencoba membela diri, namun suaranya menciut saat Ryu mencondongkan tubuh ke depan.
"Jangan membuatku mengulangi kata-kataku. Aku melihat kilat lampu tadi. Di bar ini, privasi pelanggan adalah harga mati. Kalian punya dua pilihan: berikan ponsel kalian agar aku bisa mengeceknya, atau aku panggilkan keamanan untuk menyeret kalian keluar sekarang juga dan kalian tidak akan pernah diizinkan menginjakkan kaki di sini lagi."
Ketegangan di meja itu memuncak. Di bawah tekanan tatapan Ryu yang tidak berkedip, mereka akhirnya menyerahkan ponsel tersebut dengan tangan gemetar. Ryu dengan cekatan menggeser layar galeri, memeriksa folder foto terbaru dengan teliti. Ia menemukan satu foto buram—siluet Sungchan yang sedang menunduk di bar. Tanpa ragu, Ryu menekan tombol hapus, termasuk di folder recently deleted.
"Kalian di sini untuk minum, bukan untuk menjadi agen intelijen," kata Ryu sambil mengembalikan ponsel mereka. "Satu rumor saja keluar dari mulut kalian tentang siapa yang ada di dalam sana, aku akan tahu siapa yang harus kucari. Sekarang, bayar minuman kalian dan pergi."
Setelah memastikan gerombolan itu pergi dengan wajah cemberut, Ryu berjalan kembali menuju konter bar. Hamin sedang berdiri di sana, mengelap gelas dengan gerakan yang lebih lambat dari biasanya. Di sampingnya, Yerim—salah satu pelayan paruh waktu yang juga mahasiswa seni—tampak sedang menata botol sirup dengan wajah yang ditekuk sedih.
"Sudah aman, Noona?" tanya Hamin pelan saat Ryu sampai di depan mereka.
"Sudah. Aku menghapus foto buram yang mereka ambil," jawab Ryu datar. Ia menghela napas, menyandarkan punggungnya pada rak botol sambil memperhatikan suasana bar yang mulai sedikit mendingin setelah kepergian kelompok tadi.
Yerim mendongak, matanya yang besar terlihat berkaca-kaca. "Jadi ... pria di dalam itu, dia benar-benar Jung Sungchan, kan? Member RIIZE?"
Ryu tidak menjawab dengan kata-kata. Ia hanya mengangkat alisnya sedikit dan mengangguk samar, sebuah gestur yang sudah cukup bagi Hamin dan Yerim untuk memahami kebenarannya.
"Ya Tuhan," Yerim menghembuskan napas berat, bahunya merosot. "Pantas saja dia terlihat seperti orang yang dunianya baru saja kiamat. Pasti ini soal keputusan akhir dari member mereka Seunghan.Seunghan pasti diputus kontraknya Permanen."
Hamin mengernyitkan dahi. "Aku tidak terlalu mengikuti dunia idol, tapi aku melihat trennya di media sosial. Bukankah masalahnya hanya soal foto-foto lama saat dia masih sekolah atau trainee? Kenapa sampai harus dikeluarkan?"
"Itulah masalahnya, Hamin-ah!" Yerim menyahut dengan nada frustrasi yang tertahan. Sebagai seseorang yang tumbuh besar dengan budaya K-Pop, ia merasa muak dengan arah industri belakangan ini. "Itu terjadi sebelum dia debut. Secara teknis, dia belum menjadi 'milik publik' saat itu. Dia hanya remaja biasa yang sedang menjalani hidup. Tapi orang-orang bertingkah seolah dia telah melakukan kejahatan kriminal kelas berat."
Ryu mendengarkan dalam diam, tangannya sibuk menata koin di atas meja. Ia selalu melihat industri hiburan sebagai mesin penggiling manusia, tapi mendengar detail dari Yerim membuatnya merasa bahwa mesin itu semakin haus darah.
"Yang paling membuatku mual adalah karangan bunganya," lanjut Yerim, suaranya bergetar karena marah. "Kalian tahu? Ada ratusan karangan bunga duka cita dikirim ke depan gedung SM. Karangan bunga duka! Padahal dia masih hidup, dia masih muda. Mengirim simbol kematian kepada seseorang yang hanya mencoba mengejar mimpinya... itu benar-benar tidak bermoral. Di mana letak kemanusiaan mereka?"
Hamin menghentikan aktivitasnya, wajahnya berubah serius. "Ratusan? Hanya karena foto masa lalu? Itu terdengar seperti perundungan massal yang terorganisir."
"Memang!" Yerim memukul konter pelan. "Fans toxic itu bersembunyi di balik kata 'melindungi citra grup', padahal mereka hanya ingin memuaskan ego mereka sendiri untuk mengontrol hidup orang lain. Mereka memperlakukan idol seperti boneka yang tidak boleh punya masa lalu, tidak boleh punya cacat. Begitu ada sedikit noda, mereka menuntut pembuangan seolah-olah itu adalah sampah medis. Mereka tidak sadar bahwa di balik nama panggung itu, ada manusia yang punya perasaan."
Ryu akhirnya angkat bicara setelah terdiam cukup lama. "Masalahnya bukan hanya pada fans. Masalahnya ada pada perusahaan yang membiarkan diri mereka didikte oleh kerumunan orang yang marah."
Hamin dan Yerim menoleh ke arah bos mereka.
"Agensi itu punya kuasa untuk melindungi artisnya," lanjut Ryu dengan nada dingin dan analitis. "Tapi mereka lebih memilih untuk mengamankan saham daripada martabat manusia. Mereka mengkalkulasi kerugian materi, lalu memutuskan bahwa membuang satu orang lebih murah daripada melawan boikot. Bagi mereka, Sungchan dan teman-temannya di dalam sana hanyalah baris-baris angka di laporan akhir tahun. Jika angka itu mulai membebani, mereka akan menghapusnya tanpa kedip."
Yerim mengangguk sedih. "Itu benar. Dan sekarang semua member RIIZE yang harus menanggung bebannya. Terutama Sungchan, dia yang tertua, dia yang paling lama berlatih. Aku tidak bisa membayangkan betapa hancurnya dia harus berdiri di atas panggung nanti, tersenyum dan menyanyi, sementara dia tahu adiknya dipaksa pergi dengan cara yang sangat kejam."
"Dia hancur karena dia punya hati," sela Ryu pendek. "Di industri seperti itu, hati adalah kelemahan. Semakin kau peduli, semakin cepat kau patah."
Hamin melirik ke arah pintu ruang kerja Ryu yang tertutup. "Lalu, apa yang akan terjadi padanya sekarang? Dia tidak bisa terus bersembunyi di sana."
Ryu menatap pintu itu juga. Di kepalanya, ia masih melihat bayangan Sungchan yang bersimpuh di antara pecahan toples serbuk s**u Jahe. seorang pria yang memiliki segalanya di mata dunia, namun sebenarnya tidak memiliki apa-apa—bahkan hak untuk marah atas ketidakadilan yang menimpa temannya sendiri.
"Dia akan menangis sampai air matanya habis," kata Ryu pelan, hampir seperti bicara pada dirinya sendiri. "Lalu dia akan memakai maskernya lagi, keluar dari sini, dan kembali menjadi 'Golden Boy' yang diinginkan publik. Tapi setidaknya, untuk beberapa jam di dalam sana, dia tidak perlu berbohong pada dirinya sendiri."
Suasana bar berangsur sepi seiring jarum jam mendekati pukul tiga pagi. Pelanggan terakhir sudah pergi, meninggalkan Hamin dan Yerim yang mulai membersihkan meja-meja. Ryu sendiri tetap berada di balik konter, membuat segelas s**u jahe hangat dengan sedikit madu—sesuatu yang bisa menenangkan tenggorokan yang terbakar karena wiski dan tangisan.
Ia berjalan menuju pintu ruang kerjanya dan mengetuk pelan. Tidak ada jawaban.
Ryu membuka pintu dan mendapati ruangan itu sudah tenang. Sungchan tertidur di sofa kulit tua yang sempit, tubuhnya meringkuk seperti posisi janin. Wajahnya terlihat jauh lebih muda saat tidur, tanpa beban senyum palsu atau tatapan waspada. Bekas air mata masih membekas di pipinya, dan tangannya yang luka masih menggenggam kain pembersih yang diberikan Ryu tadi.
Ryu meletakkan gelas s**u jahe di atas meja, di samping puing-puing kaca toples yang belum sempat ia bersihkan. Ia berdiri di sana sejenak, menatap pemuda yang menjadi idaman jutaan orang itu.
Di dalam ruangan sempit yang berbau kayu manis ini, tidak ada lampu panggung, tidak ada sorakan fans, tidak ada karangan bunga kematian. Hanya ada seorang pria bernama Jung Sungchan yang sedang beristirahat dari dunia yang terlalu kejam untuknya.
Ryu menarik sebuah selimut tipis dari kursi kerjanya dan menyampirkannya ke bahu Sungchan.
"Dunia mungkin tidak memberimu izin untuk berhenti, tapi setidaknya di sini, kau boleh diam," bisik Ryu pelan.
Ia keluar dan menutup pintu, memberikan Sungchan waktu yang dicuri dari jadwalnya yang padat. Malam itu, The Abyss benar-benar menjadi dasar jurang—tempat di mana seseorang jatuh begitu dalam, hingga akhirnya ia bisa menyentuh dasar dan bersiap untuk merangkak naik kembali.