Suasana di The Abyss malam itu jauh lebih hidup dari biasanya, sebuah kontras yang menyakitkan bagi Jung Sungchan. Denting gelas, tawa rendah para pekerja kantoran yang melepas penat, dan aroma campuran tembakau serta kayu ek memenuhi udara. Di balik konter bar, seorang pemuda bernama Hamin bergerak lincah. Ia adalah pelayan kepercayaan sang pemilik, tipe pria yang ramah dan pandai mencairkan suasana.
Sungchan duduk di kursi sudut bar, tempat yang paling tidak terjangkau cahaya lampu gantung. Ia mengenakan hoodie hitam yang seolah menelan tubuhnya yang tegap. Kepalanya tertunduk, tangannya yang gemetar menggenggam gelas wiski pertama yang baru saja dituangkan Hamin.
"Pelan-pelan, Kawan. Wiski ini punya cara sendiri untuk memukul kepalamu kalau kau terlalu terburu-buru," ujar Hamin dengan nada memperingatkan namun ramah.
Sungchan tidak menjawab. Ia hanya mengangguk samar, lalu menenggak cairan emas itu dalam sekali teguk. Sensasi terbakar di tenggorokannya adalah satu-satunya hal yang terasa nyata. Ia butuh rasa sakit fisik ini untuk mengalihkan rasa sakit di dadanya yang rasanya seperti dihantam godam besar.
Di meja tengah, tiga orang gadis muda mulai berbisik sambil melirik ponsel mereka.
"Hei, lihat pria di pojok itu. Tinggi, bahunya lebar... itu kan hoodie yang dipakai Sungchan RIIZE di airport beberapa hari lalu?" bisik salah satunya, suaranya mulai meninggi karena antusias.
"Jangan gila. Untuk apa dia di bar pinggiran begini? Tapi... lihat matanya. Ya Tuhan, itu benar-benar dia! Dia terlihat kacau sekali, apa ini karena berita Seunghan?"
Lampu kilat ponsel menyala sekilas, mencoba menangkap siluet Sungchan dari jarak jauh. Situasi mulai memanas. Beberapa pelanggan lain mulai ikut menoleh, mencari tahu siapa sosok "selebriti" yang sedang terpuruk di bar mereka.
Nam Ryu, yang baru saja kembali dari gudang, menangkap pergerakan itu dalam sekejap. Matanya yang tajam langsung mengenali gelagat predator dari para pelanggan yang mulai mengeluarkan ponsel. Baginya, pemandangan itu memuakkan. Ia benci bagaimana manusia bisa begitu haus akan penderitaan orang lain demi beberapa likes di media sosial.
Ryu meletakkan nampan kayunya dengan bunyi brak yang cukup keras di atas meja pelanggan yang sedang memotret tadi. "Di sini ada aturan dilarang memotret tanpa izin. Keluar sekarang atau hapus fotonya," desis Ryu dingin.
Gadis-gadis itu menciut di bawah tatapan Ryu yang sekeras baja, namun Ryu tidak berhenti di situ. Ia langsung berjalan menuju Hamin untuk memastikan.
Ryu meletakkan botol-botol itu di bawah konter dan mendekati Hamin. "Siapa pria di ujung itu?" tanyanya dengan suara rendah yang tajam.
Hamin mengangkat bahu. "Entahlah, Noona. Dia datang dalam kondisi kacau. Pesan wiski terkuat dan sepertinya ingin menenggelamkan diri di sana."
Ryu menyipitkan mata. Ia mendengar kata "Idol" dan "Skandal" meluncur dari meja pelanggan di depannya. Baginya, itu adalah sinyal bahaya. Jika ada keributan, jika paparazzi datang, atau jika bar ini mendadak viral karena seorang idol yang mabuk, kedamaian yang ia bangun dengan susah payah akan hancur dalam semalam. Ryu benci perhatian publik. Baginya, publisitas adalah polusi.
Tanpa membuang waktu, Ryu berjalan memutari konter. Ia tidak ragu. Dengan langkah tegas, ia menghampiri Sungchan tepat saat salah satu pelanggan mulai berdiri, mungkin berniat memastikan identitas pria itu atau sekadar mengambil foto dari jarak dekat.
Duk!
Ryu sengaja menabrak pelan pelanggan yang berdiri itu, memberinya tatapan "duduk atau keluar" yang dingin, lalu ia langsung mencengkeram lengan Sungchan.
"Ikut aku," bisik Ryu. Suaranya tidak mengandung permintaan, melainkan perintah.
Sungchan tersentak, mencoba menarik lengannya. "Apa-apaan kau? Lepaskan!"
"Kalau kau mau karirmu yang sudah di ujung tanduk itu benar-benar jatuh ke jurang malam ini, silakan tetap duduk di sini sampai mereka mengambil foto menyedihkanmu saat ini," desis Ryu tepat di telinga Sungchan.
Kata "karir" dan "foto" seolah menjadi alarm otomatis bagi insting Sungchan. Ia membeku.
Dalam sisa-sisa kesadarannya yang mulai kabur karena alkohol, ia melihat kilatan lampu kilat dari kejauhan. Dengan kasar, Ryu menariknya berdiri, memaksanya berjalan mengikuti langkah Ryu.
Sungchan yang masih belum sadar bahwa dirinya sedang menjadi pusat perhatian.
"Hamin, ambilkan kunci ruang kerjaku," perintah Ryu singkat tanpa menoleh.
Ryu mencengkeram lengan Sungchan. Tenaganya tidak main-main.
Sungchan menatap Ryu, matanya merah padam dan kabur oleh alkohol. "Mengapa kau melindungiku? Siapa kau sebenarnya..?"
"Seseorang yang tidak ingin barnya penuh dengan wartawan besok pagi. Ikuti aku atau aku akan menyeretmu keluar ke trotoar agar mereka bisa memotretmu dengan lebih jelas," ancam Ryu tepat di depan wajah Sungchan.
Ancaman itu seperti sengatan listrik. Dalam kondisi mabuknya, insting "melindungi citra" yang sudah ditanamkan agensi selama bertahun-tahun memaksa Sungchan untuk patuh. Ia berjalan dengan gontai, membiarkan Ryu menariknya melewati kerumunan dan membanting pintu ruang kerja pribadinya yang terletak di belakang bar.
■
Pintu tertutup rapat, meredam kebisingan bar di luar. Ruangan itu sempit, hanya ada sofa kulit tua, meja kayu yang penuh catatan, dan aroma kayu manis yang menenangkan. Ryu melepaskan cengkeramannya dan bersedekap, menatap Sungchan yang kini bersandar pada dinding dengan napas yang tak beraturan.
"Kau bodoh?" suara Ryu tenang, namun tajam seperti sembilu. "Kau punya jutaan mata yang mengawasimu, dan kau memilih untuk mabuk di tempat terbuka seperti ini? Kau ingin dikasihani dunia, atau kau memang ingin menghancurkan hidupmu sekalian?"
Sungchan tertawa, sebuah tawa getir yang terdengar seperti suara kaca pecah. "Dikasihani? Hidupku sudah hancur, Nona. Tidak ada lagi yang bisa dihancurkan."
"Oh, ya?" Ryu melangkah maju, mendekati zona pribadi Sungchan. "Kau merasa paling menderita karena satu temanmu dipaksa keluar? Kau merasa dunia tidak adil karena kau harus tersenyum? Lihat dirimu. Kau memakai pakaian yang harganya lebih mahal dari sewa barku selama sebulan, dan kau mengeluh seolah-olah kau adalah korban perang."
"KAU TIDAK TAHU APA-APA!"
Sungchan mulai kehilangan kendali. Ia berbalik dan menendang kursi kerja Ryu hingga terjungkal. Ia menjambak rambutnya sendiri, menariknya dengan kasar seolah ingin mencabut rasa sakit dari kepalanya. "Dia adikku! Kami berjanji akan sukses bersama! Tapi fans-fans sialan itu... mereka merasa memiliki nyawa kami! Mereka mengirim karangan bunga kematian seolah kami ini sampah! Dan agensi? Mereka hanya diam! Mereka membiarkan Seunghan membusuk dalam rasa bersalah sampai dia menyerah!.
Sungchan mulai memukul-mukul meja dengan tangannya, mengabaikan fakta bahwa ia adalah seorang idol yang tangannya adalah aset berharga. "Dunia ini gila! Aku benci semua ini! Aku ingin berhenti! Aku ingin menghancurkan semuanya!"
Ryu melihat kilat kegilaan di mata Sungchan. Ini bukan lagi sekadar kesedihan; ini adalah serangan panik dan kemarahan yang bisa membuat pria ini melakukan hal berbahaya.
"Jung Sungchan, hentikan!" bentak Ryu.
Namun Sungchan seolah tidak mendengar. Ia meraih tumpukan berkas di atas meja Ryu dan melemparkannya ke udara. Kertas-kertas itu berhamburan tak beraturan, disusul suara pecahan kaca.
Prang.
Toples berisi serbuk minuman favorit Ryu terjatuh dan hancur di lantai. Melihat itu, emosi Ryu akhirnya meledak. Benda itu bukan sekadar barang biasa—ia membutuhkannya waktu dan usaha yang tidak sedikit untuk mendapatkannya kembali.
"Kenapa hanya dia yang dihukum?! Kenapa?! Semua orang punya masa lalu! Kenapa dunia hanya kejam padanya?!"
PLAK!
Suara tamparan keras menggema, memotong teriakan histeris Sungchan. Kepala Sungchan tertoleh ke samping. Pipinya panas, namun kejutan dari tamparan itu berhasil menghentikan gerakannya.
Ryu berdiri tepat di depan Sungchan, napasnya memburu, matanya yang tajam menatap langsung ke dalam mata Sungchan yang bergetar.
"Sadar, Jung Sungchan!" bentak Ryu dengan suara yang menggelegar. "Kau pikir dengan menghancurkan kantorku dan melukai dirimu sendiri, Seunghan akan kembali? Kau pikir dunia akan merasa kasihan padamu?!"
Sungchan terpaku, bibirnya bergetar.
"Kau berisik! Kau egois!" bentak Ryu lagi, kali ini lebih tajam. "Kau bilang fansmu egois? Lihat dirimu sekarang! Kau datang ke sini, menyeret masalahmu ke tempatku, merusak barang-ku, dan bertingkah seolah kau adalah satu-satunya orang yang paling menderita di bumi! Seunghan menyerah agar kau bisa tetap berdiri! Jika kau menjadi gila seperti ini, kau justru mengkhianati keputusannya!"
Sungchan menatap Ryu dengan tatapan kosong. Perlahan, kekuatannya hilang. Lututnya lemas, dan ia ambruk di lantai, bersandar pada kaki meja yang baru saja ia pukul. Kali ini, isakannya terdengar lebih pilu, suara tangis yang sangat kecil namun penuh keputusasaan.
"Aku hanya... aku hanya ingin dia ada di sana..." bisik Sungchan parau. "Aku tidak bisa melihatnya hancur sendirian."
"Kenapa mereka begitu egois?" tangis Sungchan pecah lagi. "Mereka bilang mereka mencintai kami... mereka bilang mereka fans kami... tapi kenapa mereka ingin menghancurkan hidup seseorang hanya karena masa lalu yang bahkan tidak merugikan siapapun?"
Ryu bersandar di meja kerjanya, memperhatikan pemandangan tragis di depannya. Ia mengambil napas panjang, membiarkan Sungchan mengeluarkan racun dalam dirinya.
"Agensi... mereka hanya memikirkan angka," racun itu mulai keluar, kata demi kata yang menyakitkan. "Mereka bilang akan melindungi kami, tapi saat badai datang, mereka justru melempar salah satu dari kami keluar dari kapal agar kapalnya tidak tenggelam. Mereka lalai. Mereka pengecut!"
Sungchan mendongak, matanya merah meradang, mencari jawaban di wajah datar Ryu.
"Dan Seunghan... dia menyerah. Dia memilih mundur karena dia tidak ingin kami terbebani. Dia pikir dia adalah masalahnya, padahal dialah jantung dari grup ini. Bagaimana bisa orang baik sepertinya kalah oleh orang-orang jahat yang mengirim karangan bunga kematian itu?"
Ryu berjalan mendekat, lalu duduk di lantai di depan Sungchan. Ia tidak memeluknya kali ini, tapi ia memberikan kehadirannya.
"Kau ingin kejujuranku atau kau ingin aku berbohong untuk menghiburmu?" tanya Ryu dengan suara tenang.
Sungchan menyeka ingusnya dengan kasar menggunakan lengan hoodie-nya. "Jujurlah. Tolong, aku butuh sesuatu yang nyata."
Ryu mengangguk. "Dunia ini memang tempat yang menjijikkan, Sungchan. Manusia-manusia yang kau sebut fans egois itu sebenarnya bukan mencintaimu, mereka mencintai ide tentang kesempurnaan yang kau tawarkan. Saat kau—atau membermu—ternyata hanya manusia biasa yang cacat, mereka merasa tertipu. Dan agensimu? Mereka bukan orang tua kalian. Mereka adalah pedagang. Pedagang akan selalu membuang barang yang dianggap 'rusak' agar reputasi tokonya tetap terjaga."
Sungchan menatapnya dengan luka yang makin dalam. "Jadi tidak ada harapan? Apakah kami hanya komoditas?"
"Secara profesional? Ya," jawab Ryu tanpa ragu. "Tapi secara personal? Kau yang memutuskan. Kau bisa memilih untuk terus meratapi Seunghan yang sudah pergi, atau kau bisa memilih untuk tetap berdiri demi dia. Dia pergi agar kalian bisa bertahan, kan? Jika kau hancur sekarang, maka pengorbanannya menjadi sia-sia. Itu baru namanya benar-benar tragis."
Sungchan terdiam. Isakannya mulai mereda, menyisakan napas yang pendek-pendek. Kata-kata Ryu seperti siraman air es; dingin, mengejutkan, tapi mampu menghentikan histerianya.
"Kau benar-benar tidak punya filter, ya?" gumam Sungchan pahit.
"Filter hanya menghalangi oksigen," sahut Ryu. Ia berdiri dan mengambil kotak tisu yang sama dari pertemuan pertama mereka. "Hapus wajahmu. Kau terlihat seperti hantu yang gagal menakuti orang."
Sungchan terdiam. Keberadaan Ryu yang dingin dan jujur justru terasa seperti jangkar yang menahannya agar tidak hanyut lebih jauh. Ryu tidak menatapnya sebagai "Idol yang sedang skandal", tapi sebagai seorang manusia yang sedang terluka.
Ryu membuang napas panjang. Kemarahannya menguap melihat kerapuhan itu. Lalu tanpa kata, ia menarik kepala pria itu untuk bersandar di bahunya. Kali ini, Ryu tidak menolak. Ia membiarkan kaosnya basah oleh air mata dan keringat Sungchan.
"Dunia memang kotor, Sungchan. Dan kau tidak bisa membersihkannya sendirian," gumam Ryu pelan, tangannya ragu-ragu menepuk punggung Sungchan.