Pintu ruangan terbuka perlahan. Seunghan berdiri di sana. Matanya sembab, wajahnya pucat, namun ada ketenangan yang menyayat hati di raut wajahnya.
"Seunghan-ah..." Anton berdiri, air matanya kini mengalir deras. "Katakan itu tidak benar. Katakan kau dipaksa."
Seunghan berjalan mendekat, ia membungkuk dalam di depan para membernya sebelum berbicara. "Maafkan aku. Aku tidak bisa melihat kalian dihujat setiap hari karena aku. Aku tidak bisa melihat karangan bunga kematian itu setiap kali kalian berangkat latihan."
"Tapi kita bisa melaluinya bersama!" teriak Eunseok, meraih kerah jaket Seunghan. "Kenapa kau menyerah sekarang? Kau membiarkan mereka menang!"
Seunghan memegang tangan Eunseok, melepaskannya dengan lembut. "Aku tidak menyerah, Hyung. Aku hanya sedang memilih cara lain untuk mencintai kalian. Jika aku bertahan, aku akan menjadi duri. Jika aku pergi, kalian bisa menjadi bintang yang bersinar tanpa bayang-bayangku."
"Kau gila," bisik Sungchan, suaranya serak. "RIIZE tidak lengkap tanpamu."
"Aku tetap di SM Hyung," Seunghan mencoba tersenyum, meski bibirnya bergetar. "Aku masih di gedung yang sama dengan kalian. Aku akan melihat kalian dari ruang latihan yang berbeda. Aku akan menjadi penggemar nomor satu kalian. Tolong... jangan buat keputusanku ini sia-sia. Tetaplah menjadi RIIZE yang hebat."
"Ini bukan solusi, Seunghan," Shotaro menggelengkan kepala, air mata jatuh di pipinya. "Ini hanya pelarian yang dipaksakan oleh keadaan."
"Mungkin," jawab Seunghan lirih. "Tapi ini adalah satu-satunya jalan agar kalian tetap bisa bernapas."
"Pengumuman akan dirilis besok pagi pukul delapan. Tidak ada negosiasi," Direktur Park berdiri, menutup map dengan suara plak yang final. "Kalian punya waktu 2 hari untuk mengucapkan selamat tinggal sebelum dia dipindahkan dari asrama. Pastikan tidak ada postingan media sosial yang aneh. Mengerti?"
Para petinggi itu keluar dari ruangan tanpa sekali pun menoleh ke belakang, meninggalkan Tujuh pemuda yang hancur di tengah ruangan yang terasa semakin menyempit.
■
Di balik sorot lampu panggung yang menyilaukan, Jung Sungchan adalah sebuah kontradiksi yang tenang. Berdiri setinggi 185 cm dengan bahu lebar yang kokoh, ia sering kali terlihat seperti patung Yunani yang tidak bisa hancur. Namun, di balik tatapan matanya yang jernih, tersimpan lapisan-lapisan pengalaman yang membuatnya jauh lebih dewasa daripada usianya.
Sungchan bukanlah orang baru di labirin SM Entertainment. Sebelum RIIZE, ia pernah mencicipi gemuruh sorakan di stadion besar sebagai anggota NCT. Namun, nasib industri adalah sesuatu yang tidak bisa ia tebak. Ketika ia harus meninggalkan unit lamanya untuk memulai kembali dari nol bersama RIIZE, Sungchan tidak mengeluh. Ia justru mengambil peran sebagai "kakak" yang memikul beban lebih berat. Baginya, kegagalan bukan pilihan, dan kesetiaan adalah harga mati.
Jika Shotaro adalah pusat kehangatan, maka Sungchan adalah fondasi betonnya. Ia adalah tipe orang yang: Menghafal perubahan sekecil apa pun pada raut wajah adik-adiknya.Tetap berada di ruang latihan hingga pukul 3 pagi hanya untuk memastikan koreografi grup benar-benar presisi.Menjadi orang pertama yang pasang badan saat staf atau manajemen memberikan tekanan berlebih pada member yang lebih muda.
Bagi Sungchan, RIIZE bukan sekadar grup idol; ini adalah kesempatan keduanya untuk membuktikan bahwa mimpinya valid. Itulah sebabnya, ketika Seunghan dipaksa pergi, Sungchan merasa separuh dari dirinya ikut tercabut. Ia merasa gagal sebagai pelindung. Kemarahannya di ruang rapat bukan sekadar emosi sesaat, melainkan luapan dari seorang pria yang sudah terlalu sering melihat orang-orang berbakat dikorbankan demi sistem yang kaku.
“Hyung,” bisik Seunghan. Suaranya rapuh, seperti kertas yang diremas—kering, nyaris hancur.
Sungchan berhenti tepat di hadapannya. Tatapannya melekat, seolah ingin menghafal wajah itu. Ia ingin memeluk Seunghan, ingin mengatakan bahwa semuanya akan baik-baik saja, bahwa ia akan melawan dunia demi adiknya.
Namun kenyataan menghantam tanpa ampun. Ia hanyalah seorang idol—pion di papan catur industri. Tak punya kuasa, tak punya pilihan.
“Maafkan aku, Seunghan-ah… maafkan aku…” Sungchan menutup wajahnya dengan kedua tangan. Tangisnya pecah, tanpa sisa.
Seunghan justru tersenyum. Senyum paling menyedihkan yang pernah Sungchan lihat.
“Jangan minta maaf,” ucapnya pelan. “Tolong… bawa RIIZE ke puncak, ya? Jangan biarkan pengorbananku sia-sia. Jadilah pilar yang kuat untuk yang lain. Seperti biasanya.”
Kata-kata itu menancap, lalu diputar perlahan di dalam d**a Sungchan.
Pilar yang kuat.
Bagaimana mungkin ia menjadi pilar, jika fondasinya sendiri runtuh—dihancurkan oleh sistem yang seharusnya melindungi mereka?
“Hyung, aku tidak apa-apa,” bisik Seunghan saat memeluknya.
Justru kalimat itulah yang menghancurkan Sungchan sepenuhnya.
Tidak apa-apa.
Detik berikutnya, ia melangkah pergi. Ia tidak sanggup berada di sana lebih lama.
Sungchan berlari keluar gedung, mengabaikan panggilan manajer. Ia terus berlari menyusuri jalanan Seoul yang dingin, melewati karangan bunga beraroma duka itu, hingga paru-parunya terasa terbakar.
Ia hanya ingin menghilang. Menjauh dari sorotan, dari tuntutan, dari semua hal yang memaksanya selalu terlihat baik-baik saja.
Dan saat itulah, di tengah keputusasaan yang mencekik, langkahnya terhenti di depan bangunan dengan papan kayu tua di gang sempit yang gelap: "The Abyss".