Dua tahun berlalu, dan bagi Nam Ryu, waktu tidak pernah berhenti—ia hanya berganti ritme.
Jika dulu hidupnya berputar pada satu poros bernama The Abyss, kini poros itu bercabang. Bar kecil di Gangnam tetap berdiri, tetap gelap, tetap tenang, tetap menjadi ruang aman bagi orang-orang yang datang dengan luka masing-masing. Namun Ryu tidak lagi sepenuhnya tinggal di sana. Ia masih pemiliknya, masih otak di balik operasional, masih orang pertama yang turun tangan jika terjadi masalah—tetapi dunianya melebar, dipaksa melebar oleh keadaan, dan oleh satu orang yang terlalu keras kepala untuk menerima kata tidak sebagai jawaban.
Max.
“Suaramu itu disia-siakan,” kata pria itu suatu malam, dua tahun lalu, sambil duduk di ujung bar dengan ekspresi yang terlalu serius untuk ukuran dirinya. “Kau menghabiskan hidupmu melayani orang mabuk yang tidak peduli siapa kau. Itu kriminal.”
“Aku tidak ingin panggung,” jawab Ryu datar sambil mengelap gelas. “Aku tidak ingin industri. Aku tidak ingin drama.”
“Kau tidak perlu panggung,” Max menyeringai. “Kau hanya perlu satu ruang kecil dan murid yang benar.”
Ryu menertawakannya saat itu. Menganggapnya lelucon.
Namun Max tidak pernah berhenti.
Ia mengirimkan video lama—rekaman Ryu bernyanyi sebelum dunia mengajarinya untuk diam. Ia memperkenalkan Ryu pada satu orang, lalu orang lain. Hingga suatu hari, nama Jay Park muncul di layar ponsel Ryu, lengkap dengan pesan singkat yang terlalu santai untuk ukuran reputasinya.
> “Max bilang kau bisa membantu. Aku butuh orang jujur. Bukan idol trainer.”
Ryu menolak. Dua kali.
Ia menolak bukan karena takut—melainkan karena ia tahu persis betapa busuknya dunia itu jika dilihat terlalu dekat. Ia sudah mencium baunya. Sudah merasakan ancamannya. Sudah hampir menandatangani kontrak yang mengubah hidupnya menjadi ladang ranjau.
Namun Max—seperti biasa—menekan dari celah yang paling sulit ia abaikan.
"Ryu, dengarlah. Jay butuh seseorang yang bisa memberikan perspektif berbeda. Agensi ini masih menengah, mereka tidak bisa menyewa pelatih legendaris dengan harga selangit, tapi mereka butuh kualitas yang bisa menyaingi Big 4," bujuk Max. "Kau lulusan SOPA, kau mantan hidden trainee YG selama tiga tahun, dan bakat vokalku... sial, kita semua tahu suaramu itu pemberian Tuhan yang kau sia-siakan di belakang bar."
Ryu sempat bergeming. Ia teringat bagaimana ayahnya dulu melatihnya bernyanyi sejak kecil di Indonesia, tentang harmoni yang mereka ciptakan di ruang tamu yang hangat. Ia juga teringat bagaimana ibunya menghancurkan mimpinya karena trauma masa lalu.
"Ini rahasia. Tidak akan ada yang tahu kau pelatihnya. Kau hanya masuk ke studio lewat pintu belakang, melatih vokal mereka, lalu pulang ke barmu," Max menambahkan kartu as-nya.
Itu yang membuat Ryu terdiam.
Akhirnya, ia setuju—dengan satu syarat.
Ia tidak ingin gelar.
Tidak ingin sorotan.
Tidak ingin kontrak jangka panjang.
Ia hanya akan mengajar vokal. Teknik. Pernapasan. Kontrol emosi. Tidak lebih.
Dan begitulah ia masuk ke More Vision.
Bukan sebagai selebritas.
Bukan sebagai figur publik.
Sebagai guru.
---
Ryu mengajar dengan cara yang aneh—setidaknya menurut standar industri.
Ia tidak berteriak.
Tidak memaki.
Tidak menjanjikan debut, popularitas, atau masa depan cerah.
Ia duduk. Mendengarkan. Mengamati.
“Kau bernyanyi seperti orang yang minta izin untuk bernapas,” katanya suatu hari pada trainee yang suaranya bagus tapi rapuh. “Kalau kau sendiri takut dengan suaramu, kenapa orang lain harus percaya?”
Ia tidak memaksakan teknik pada hari pertama. Ia memaksa kejujuran.
Dan entah kenapa, itu bekerja.
Para trainee More Vision—terutama mereka yang akan membentuk grup baru—menemukan sesuatu yang jarang mereka dapatkan: ruang aman untuk gagal tanpa dihukum. Ryu tidak memuja mereka. Tidak pula merendahkan. Ia memperlakukan mereka seperti manusia yang kebetulan bisa bernyanyi, bukan produk yang harus sempurna.
Louis adalah yang pertama mendekat.
“Kalau kami gugup,” katanya suatu malam setelah latihan panjang, “boleh kami bicara dengan noona?”
Ryu mengangguk. “Selama kau tidak mengharapkan solusi instan.”
Mereka tertawa.
Sejak itu, kehadiran Ryu menjadi sesuatu yang stabil di tengah kekacauan persiapan debut. Ia tidak terlibat dalam konsep, tidak ikut campur urusan marketing. Tapi ia ada—di sudut ruang latihan, di backstage, di balik panggung—memastikan suara mereka tidak pecah karena panik sebelum pecah karena teknik.
Jay Park melihatnya.
Dan Jay Park tahu nilai orang seperti Ryu.
Itulah sebabnya, ketika undangan MMA datang—penampilan publik pertama LNGSHOT sebelum debut resmi—Jay tidak ragu.
“Kau ikut,” katanya singkat di telepon. “Bukan sebagai staf resmi. Tapi aku ingin mereka melihat satu wajah yang tidak menuntut apa-apa dari mereka.”
Ryu menghela napas panjang saat itu.
Ia membenci acara penghargaan. Terlalu ramai. Terlalu banyak mata. Terlalu banyak kepentingan.
Namun ia setuju.
Bukan karena Jay.
Melainkan karena empat anak yang gugup itu.
---
Di MMA, Ryu tidak berdiri di tengah. Ia tidak ingin.
Ia mengenakan pakaian sederhana—kemeja abu-abu, kaos putih, jeans yang nyaman. Rambutnya dikuncir seadanya. Tag staf tergantung di leher hanya sebagai formalitas.
Ia bergerak cepat, efisien. Mengecek jadwal. Memastikan jalur naik panggung aman. Mengingatkan Louis untuk bernapas sebelum cue. Menepuk bahu Woojin dengan isyarat kecil yang berarti kau tidak sendirian.
Ketika mereka selesai tampil dan turun dari panggung dengan mata berkilat—campuran lega dan adrenalin—Ryu ada di sana.
“Kerja bagus,” katanya singkat.
Pelukan itu bukan selebrasi berlebihan. Bukan juga pamer keakraban. Itu pelukan orang dewasa yang tahu betapa beratnya berdiri di panggung untuk pertama kali.
Ryu tidak menyadari siapa saja yang memperhatikan dari kejauhan.
Ia tahu RIIZE ada di gedung itu—mustahil tidak tahu. Banner mereka ada di mana-mana. Sorakan fans menggema bahkan dari balik panggung.
Dan ya, ia tahu Sungchan ada di sana.
Ia melihatnya.
Melihat tatapan itu sekilas—terlalu kaget untuk disembunyikan, terlalu cepat untuk dihindari.
Namun bagi Ryu, itu tidak berarti apa-apa.
Ia tidak berhenti.
Tidak menghindar.
Tidak mencari.
Bukan karena dingin—melainkan karena jelas.
Dua tahun lalu, Sungchan adalah pelanggan yang datang dalam keadaan hancur. Ia menolongnya karena itu hal yang benar untuk dilakukan. Titik.
Ia tidak menyimpan cerita itu sebagai kenangan manis. Tidak pula sebagai luka.
Itu hanya satu malam.
Dan malam itu sudah berakhir.
Kini, Ryu berdiri di tempat yang berbeda—bukan di balik bar, bukan pula di bawah bayang-bayang agensi besar. Ia berdiri di antara dunia yang ia benci dan dunia yang ia pahami, sebagai penyangga tipis yang mungkin tidak mengubah segalanya, tapi cukup untuk menahan beberapa orang agar tidak runtuh.
Jika Sungchan kini melihatnya sebagai sesuatu yang lain—itu urusannya sendiri.
Bagi Ryu, hidup terus berjalan.
Dan malam ini, tugasnya sederhana: memastikan empat anak yang gugup itu pulang dengan kepala tegak.
Tidak lebih. Tidak kurang.