Waktu bergulir dengan cara yang kejam—cepat, tanpa menunggu siapa pun siap.
Dua tahun berlalu begitu saja.
Bagi dunia, Jung Sungchan adalah nama yang kini berdiri tegak di papan atas generasi baru. RIIZE tidak lagi disebut “rookie menjanjikan”, melainkan grup yang sudah pasti diperhitungkan. Mereka tumbuh sejajar dengan BoyNextDoor, ZeroBaseOne, dan NCT Wish—nama-nama yang selalu muncul dalam satu tarikan napas ketika media membicarakan masa depan K-pop.
Bagi Sungchan sendiri?
Dua tahun itu terasa seperti satu tarikan napas panjang yang tidak pernah benar-benar dilepaskan.
Ia sibuk—teramat sibuk.
Jadwal yang tak memberi celah untuk berpikir terlalu lama. Album, tur, variety show, endorsement, latihan tanpa henti. Kesedihan lama tentang Seunghan ia kunci rapat, bersanding dengan rasa bersalah yang ia kubur di balik profesionalisme.
Dan tentang satu bar kecil bernama The Abyss—tentang seorang pemilik bar bernama Nam Ryu—ia memutuskan untuk tidak membuka kotak itu lagi.
Tidak perlu.
Tidak aman.
Tidak ada gunanya.
---
Malam ini, MMA—Melon Music Awards.
Lampu-lampu terang memantul di karpet merah. Sorakan fans menggulung seperti ombak, nama RIIZE diteriakkan dari segala arah. Kamera bergerak cepat, lampu kilat menyala tanpa henti.
RIIZE melangkah keluar dari mobil dengan formasi rapi.
Sungchan berdiri di tengah, posturnya tegak, jas hitamnya jatuh sempurna di tubuhnya. Senyum profesional terpasang—bukan senyum lebar, bukan juga dingin. Senyum yang sudah ia latih ratusan kali.
Wawancara singkat.
Sapaan MC.
Lambaian tangan ke fans.
Semua berjalan sesuai skrip.
Namun entah sejak kapan, ada sesuatu yang mengganjal di dadanya.
Bukan panik.
Bukan takut.
Gelisah.
Perasaan tipis namun tajam, seperti ada sesuatu yang akan terjadi—sesuatu yang tidak tercantum di rundown acara.
Wonbin meliriknya sekilas saat mereka berjalan menuju ruang tunggu. “Kau kelihatan tegang.”
“Cuma capek,” jawab Sungchan otomatis.
Anton menimpali sambil tertawa kecil, “Hyung kelihatan seperti mau naik panggung sendirian.”
Sungchan hanya mengangkat bahu. Ia sendiri tidak tahu harus menjelaskan apa. Bagaimana menjelaskan rasa gelisah tanpa bentuk, tanpa sebab?
Di ruang ganti, mereka berganti kostum panggung. Stylist mondar-mandir, manager mengecek jadwal, suara dari monitor memperdengarkan jalannya acara di luar.
Shotaro mengikat ulang rambutnya, lalu menatap Sungchan lewat cermin. “Kau yakin tidak apa-apa?”
Sungchan mengangguk. “Iya. Aku cuma… kurang tidur.”
Tidak ada yang memaksa lagi. Mereka semua tahu—jika Sungchan bilang tidak apa-apa, maka untuk saat ini, itulah jawabannya.
---
Acara berjalan.
Penampilan demi penampilan.
Sorakan, tepuk tangan, transisi cepat.
Sungchan berdiri di sisi panggung bersama member lain, menunggu giliran RIIZE tampil. Monitor besar menampilkan panggung utama dari sudut lain.
Dan di sanalah—di pinggir panggung, nyaris luput dari sorotan kamera—ia melihatnya.
Awalnya, otaknya menolak.
Perempuan itu berdiri dengan headset melingkar di leher, ponsel di tangan, tag staf menggantung di d**a. Kemeja abu-abu lengan digulung, kaos putih sederhana di dalamnya, celana jeans cutbray abu yang tidak modis—hanya fungsional. Rambutnya dikuncir, beberapa helai lepas, tampak berantakan dengan cara yang sama sekali tidak dibuat-buat.
Tidak mungkin.
Banyak orang mirip di dunia ini.
Sungchan mengalihkan pandangan. Memaksa dirinya fokus pada monitor. Menghitung napas. Satu… dua…
Lalu ia menoleh lagi.
Masih di sana.
Cara berdirinya—tegak tapi santai.
Cara ia berbicara—ringkas, tegas, tanpa basa-basi.
Cara alisnya sedikit berkerut saat mendengarkan orang lain berbicara di headset.
Itu terlalu spesifik untuk disebut kebetulan.
“Hyung?” Anton memanggil pelan, menyadari Sungchan yang tiba-tiba membeku.
“Itu bukan siapa-siapa,” gumam Sungchan cepat, lebih kepada dirinya sendiri.
Namun keraguan itu runtuh seketika.
Seorang pria jangkung baru saja turun dari panggung—keringat masih menempel di pelipis, napasnya belum sepenuhnya stabil. Ia tersenyum lebar, langkahnya ringan, dan tanpa ragu menarik perempuan itu ke dalam pelukan singkat.
“Nam Ryu noona,” ucapnya jelas, suaranya tertangkap mikrofon backstage yang masih aktif. “Kerja bagus.”
Nama itu.
Nam. Ryu.
Sungchan merasa seperti dunia di sekitarnya mengecil menjadi satu titik.
Pria itu—Louis.
Ia mengenalnya. Semua orang mengenalnya malam ini.
Louis, salah satu member dari boygroup baru yang belum resmi debut, tapi sudah tampil di MMA bersama tiga member lain—Oh Yul, Ryul, dan Woojin. Grup di bawah agensi milik Jay Park. Penampilan mereka barusan menjadi bahan pembicaraan di mana-mana.
Dan sekarang, Louis tertawa kecil, menundukkan kepala sedikit saat Ryu menepuk lengannya dengan gestur profesional namun hangat.
Ryu tersenyum.
Bukan senyum sopan untuk kamera.
Bukan senyum basa-basi.
Senyum lega seseorang yang pekerjaannya berjalan dengan baik.
Sungchan tidak mendengar apa yang mereka bicarakan, tapi ia melihat bahasa tubuh yang terlalu akrab untuk sekadar “kenal nama”.
Ia memalingkan wajah, rahangnya mengeras.
Bagaimana bisa…
Bagaimana bisa gadis yang dua tahun lalu mengusir staf SM dengan tatapan dingin kini berdiri di panggung acara penghargaan musik terbesar, mengenakan tag staf, berbicara dengan idol dari agensi lain seolah itu hal paling normal di dunia?
“Hyung,” Shotaro berbisik pelan, mengikuti arah pandang Sungchan. “Kau kenal staf itu?”
Sungchan tidak langsung menjawab.
Ia melihat Ryu mencondongkan tubuh, berbicara cepat ke headset, lalu memberi isyarat tangan agar kru lain bersiap. Profesional. Fokus. Tidak ada sisa-sisa “pemilik bar kecil di Gangnam” yang dulu ia kenal—atau mungkin, justru itulah dia sebenarnya.
“Aku pernah bertemu dengannya,” jawab Sungchan akhirnya. Suaranya datar.
Anton mengerjap. “Yang di bandara dulu?”
Sungchan mengangguk.
Anton menelan ludah, lalu melirik ke arah Louis yang kini berjalan menjauh. “Dia… kelihatannya dekat dengan mereka.”
“Dia staf,” kata Sungchan singkat.
Namun pikirannya berisik.
Bagaimana bisa Ryu ada di sini?
Sejak kapan?
Sebagai apa?
Produser acara?
Koordinator panggung?
Manajer lapangan?
Dua tahun lalu, ia begitu yakin bahwa dunia mereka tidak akan pernah bersinggungan lagi.
Dan kini, dunia itu berdiri hanya beberapa meter darinya.
“RIIZE, bersiap,” panggil kru.
Sungchan menarik napas dalam-dalam. Menegakkan bahu. Mengenakan kembali topeng profesional yang sudah menjadi kulit keduanya.
Namun kali ini, ada retakan kecil.
Saat melangkah ke panggung, lampu menyilaukan matanya—tapi pikirannya tertinggal di belakang. Pada seorang perempuan bernama Nam Ryu, yang berdiri di pinggir panggung dengan headset dan tatapan fokus, seolah kehadirannya di sana adalah sesuatu yang sudah seharusnya.
Dan untuk pertama kalinya dalam dua tahun, Sungchan menyadari satu hal yang tidak bisa ia sangkal lagi—
Ia tidak pernah benar-benar melupakan hari itu.