Pagi itu, Seoul sedang tidak bersahabat.
Kabut tipis menyelimuti gedung-gedung beton di Cheongdam-dong, membuat dunia terlihat buram dan jauh. Namun dingin yang paling menusuk justru datang dari dalam gedung SM Entertainment—tempat di mana mimpi-mimpi dibentuk, dan hari itu, satu mimpi sedang dipatahkan secara perlahan.
Sungchan berdiri di balik jendela kaca lantai sepuluh. Pandangannya jatuh ke trotoar di bawah sana, tempat puluhan karangan bunga berjejer rapi seperti parade kematian yang disengaja.
Jika biasanya bunga adalah simbol cinta dan perayaan, hari ini mereka berubah menjadi senjata.
“Tinggalkan grup.”
“Jangan merusak masa depan yang lain.”
“Kami tidak butuh cacat dalam kesempurnaan RIIZE.”
Pita hitam dengan tulisan-tulisan kejam itu melintang di atas mawar dan lili putih. Indah. Bersih. Kejam.
Sungchan mengepalkan tangannya hingga buku-buku jarinya memutih. Ada sesuatu yang menggelegak di dadanya—amarah, sedih, muak—bercampur menjadi satu rasa yang sulit ia namai.
Ia ingin turun.
Merobek pita-pita itu.
Bertanya pada setiap orang yang lewat:
Kapan kita berhenti menjadi manusia, dan mulai menjadi produk yang bisa dibuang saat sedikit lecet?
Namun ia hanya berdiri di sana. Diam. Seperti yang selalu ia lakukan.
Menyaksikan Masalah yang menimpa Seunghan—salah satu adik yang ia sayangi—telah merobek fondasi yang ia bangun dengan susah payah. Sungchan bukan tidak tahu aturan main industri ini. Ia tahu bahwa di K-Pop, masa lalu adalah dosa yang tak terampuni dan privasi adalah kemewahan yang tidak pernah terbeli. Namun, melihat bagaimana seorang pemuda berbakat hancur hanya karena beberapa foto masa lalu dan kebencian kolektif yang tak berdasar, membuat Sungchan merasa mual.
"Sungchan-ah, kau belum makan sejak pagi."
Suara itu datang dari manajernya, seorang pria paruh baya yang terlihat sama lelahnya. Pria itu meletakkan kotak makan di meja, namun Sungchan bahkan tidak menoleh.
"Hyung," suara Sungchan serak, "apakah kita benar-benar tidak bisa melakukan apa-apa? Apakah membiarkan dia pergi adalah satu-satunya cara agar 'bisnis' ini tetap berjalan?"
Manajernya menghela napas panjang, sebuah suara yang penuh dengan keputusasaan yang tertahan. "Ini bukan hanya soal agensi, Chan. Ini soal pasar. Kita tidak bisa melawan arus saat arus itu ingin menenggelamkan kita. Yang terpenting kita sudah berusaha, jika akhirnya harus seperti itu mungkin ini memang takdir kita."
■
Lantai 10 gedung SM Entertainment malam itu terasa seperti peti mati kaca; megah, dingin, dan menyesakkan. Di balik pintu kayu ek yang berat, sebuah eksekusi sedang berlangsung. Bukan eksekusi fisik, melainkan pembunuhan karakter dan masa depan seorang pemuda bernama Seunghan.
Sungchan duduk di kursi tengah, jemarinya terkunci rapat di bawah meja hingga kuku-kukunya memutih. Di hadapannya, tiga orang direktur eksekutif duduk dengan wajah tanpa ekspresi, seolah-olah mereka sedang mendiskusikan angka penjualan saham, bukan nasib seorang manusia.
"Analisis sentimen sudah mencapai titik merah," ujar Direktur Park, suaranya sedatar garis kematian pada monitor rumah sakit. Ia melemparkan sebuah tablet ke tengah meja, memperlihatkan foto-foto karangan bunga duka cita yang berbaris di depan gedung. "Fans internasional mungkin mendukung, tapi pasar domestik—sumber pendapatan utama kalian—menuntut pembersihan. Seunghan adalah variabel yang tidak stabil. Keputusannya: dia keluar secara permanen demi keselamatan enam member lainnya."
Duk!
Sungchan berdiri begitu cepat hingga kursinya terjungkal ke belakang, menimbulkan dentuman keras yang bergema di ruangan yang sunyi itu.
"Keselamatan siapa yang Anda maksud?" Suara Sungchan rendah, bergetar oleh amarah yang membara. "Kami adalah tujuh orang. Kami berlatih sampai muntah, kami menangis bersama saat debut, dan kami berjanji untuk saling menjaga. Sekarang Anda meminta kami berdiri di atas reruntuhan mimpi adik kami sendiri untuk disebut 'selamat'?"
"Duduk, Jung Sungchan," tegur manajer senior dengan nada memperingatkan. "Jangan biarkan emosi kekanakan merusak rasionalitasmu."
"Rasionalitas?" Eunseok menyela, suaranya yang biasanya tenang kini terdengar tajam dan penuh luka. Ia menatap para petinggi itu dengan mata berkaca-kaca. "Apakah rasional membuang seseorang hanya karena masa lalunya yang bocor secara ilegal? Jika hari ini kalian membuang Seunghan karena tekanan publik, siapa yang menjamin besok kalian tidak akan membuang kami saat salah satu dari kami membuat kesalahan kecil?"
"Ini bisnis, bukan panti asuhan!" Direktur Park membentak, kesabarannya habis. Ia menunjuk ke jendela, ke arah kegelapan Seoul. "Di luar sana, ribuan orang menunggu kalian jatuh. Lihat ke jendela. Karangan bunga di bawah sana itu bukan dekorasi. Itu adalah ancaman pasar. Jika satu orang membuat kapal ini tenggelam, kita harus membuang bebannya. Sesederhana itu."
"Beban?" Suara Eunseok meninggi, matanya berkilat tajam. "Dia manusia, Hyung. Dia adik kami. Sejak kapan privasi masa lalu menjadi alasan untuk membuang seseorang seperti barang cacat produksi?"
"Ini soal angka, Eunseok-ah!" bentak salah satu staf humas. "Kalian mau boikot meluas? Kalian mau semua kontrak iklan dibatalkan? Siapa yang akan menanggung kerugian miliaran won jika RIIZE hancur sebelum mencapai puncak?"
"Maka biarkan kami mencoba lebih keras!" seru Shotaro, suaranya bergetar meski ia berusaha tenang. "Kami bisa bekerja dua kali lipat untuk menutupi sentimen negatif itu. Beri kami waktu, jangan langsung memutus urat nadinya seperti ini."
"Waktu tidak akan mengubah kebencian kolektif," balas Direktur Park datar. "Kalian terlalu naif. Industri ini tidak butuh bakat yang bermasalah. Kita butuh kesempurnaan tanpa cela."
"Kesempurnaan itu omong kosong jika dibangun di atas pengkhianatan terhadap teman sendiri!" potong Sungchan lagi, suaranya pecah.
Di tengah perdebatan yang memanas, Direktur Park mengangkat tangannya, menghentikan semua argumen. Ia menatap para member satu per satu dengan senyum tipis yang menyakitkan.
"Kalian merasa kami jahat? Kalian merasa agensi adalah eksekutor tunggal?" Direktur Park menyandarkan punggungnya. "Ketahuilah satu fakta ini: Keputusan ini tidak diambil sepihak. Keputusan ini diambil setelah diskusi panjang dengan Seunghan... dan keluarganya. Mereka sudah menandatangani persetujuan pengunduran diri ini dua jam yang lalu."
Hening.
Dunia seolah berhenti berputar bagi Sungchan. Ia terduduk lemas, menatap Direktur Park dengan tatapan tidak percaya. "Tidak mungkin... Seunghan bilang dia ingin bertahan. Dia janji pada kami..."
"Dia melakukannya untuk kalian," tambah sang Manajer pelan. "Dia tidak ingin menjadi alasan kalian gagal."