Bandara Incheon selalu terasa bising bagi Ryu.
Bukan karena suara pengumuman atau derap langkah manusia yang tak pernah berhenti, melainkan karena tempat itu selalu dipenuhi emosi orang lain—pertemuan, perpisahan, harapan yang terlalu besar. Ia tidak menyukai tempat seperti ini, tapi hari ini ia datang dengan satu tujuan yang jelas.
Menjemput adiknya.
Ryu berdiri sedikit menyamping dari arus utama penumpang, mantel panjangnya terbuka sedikit, koper kecil di kakinya. Matanya awas, menyapu wajah-wajah yang keluar dari pintu kedatangan internasional.
Lalu ia melihatnya.
Nam Ro Woon.
Dua tahun di Indonesia membuat adiknya itu berubah—kulitnya lebih gelap, bahunya lebih lebar, dan senyum lebarnya kini terasa lebih dewasa. Rambutnya dipotong rapi, posturnya tegak dengan aura atlet yang jelas. Tingginya kini hampir menyamai ayah mereka.
Ryu mendengus kecil.
Cepat sekali kau tumbuh.
“NOONA!”
Ro Woon melambaikan tangan tinggi-tinggi, tak peduli tatapan orang sekitar. Ia menerobos kerumunan dengan langkah panjang, lalu—tanpa peringatan—memeluk Ryu erat.
Ryu mengerang pelan. “Lepaskan. Kau bau pesawat.”
“Tapi Noona bau Korea,” balas Ro Woon sambil tertawa, sama sekali tidak terpengaruh. Ia menjauh sedikit, menatap wajah kakaknya dengan serius sesaat, lalu tersenyum lagi. “"Noona! Kau terlihat lebih tua dari terakhir kali aku melihatmu di layar ponsel," goda Ro Woon sambil merangkul kakaknya dengan gemas.
Ryu menyikut perut adiknya itu dengan kasar, tapi matanya berbinar senang. "Dan kau terlihat lebih seperti raksasa daripada manusia. Berhenti merangkulku, kau berat."
Ro Woon tertawa lebar. Pemuda berusia 20 tahun itu baru saja lulus seleksi sebagai pemain asing untuk klub voli Woori Card di Korea. Kemampuannya yang luar biasa sebagai outside hitter di Indonesia membawanya kembali ke tanah kelahiran sang ibu.
Ro Woon lalu mencondongkan tubuh, mengecup pipi Ryu singkat—kebiasaan lama yang tidak pernah mereka hilangkan—lalu menempelkan kecupan ringan di keningnya. “Aku lulus seleksi, Noona.”
“Aku tahu,” jawab Ryu. “Kalau tidak, aku tidak akan datang.”
Pelukan berikutnya lebih tenang. Bukan luapan rindu yang berisik, melainkan pelukan yang akrab dan aman. Ryu membiarkan dirinya diam di sana beberapa detik lebih lama dari biasanya.
Di saat itulah, tanpa sengaja, matanya menangkap sesuatu di kejauhan.
Kerumunan.
Bukan sembarang kerumunan—penggemar. Banner. Kamera. Nama grup yang ia kenal baik dari berita, bukan dari ketertarikan.
RIIZE.
Dan di tengah formasi itu, ada satu wajah yang ia kenali.
Jung Sungchan.
Tatapan mereka bertemu sekilas.
Ryu tidak terkejut. Bandara ini penuh idol, dan ia sudah menduga kemungkinan itu sejak melihat spanduk-spanduk tadi. Yang mengejutkan justru ekspresi Sungchan—diam, kosong, seperti seseorang yang baru menyadari sesuatu yang terlambat.
Dia melihatku, batin Ryu.
Namun bagi Ryu, momen itu tidak memiliki bobot apa pun.
Ia memalingkan wajah lebih dulu.
Bukan karena menghindar, bukan karena canggung—melainkan karena tidak ada alasan untuk memberi arti lebih.
Baginya, Sungchan hanyalah seorang pelanggan yang pernah duduk di barku satu malam, lalu pergi. Seperti ratusan orang lain sebelum dan sesudahnya.
Malam itu telah selesai.
Dan ia memastikan semuanya berakhir saat Sungchan kembali ke dunia miliknya.
“Hei,” suara Ro Woon menariknya kembali. “Noona, kau melamun.”
“Tidak,” jawab Ryu. “Ayo. Kita keluar sebelum kau menarik perhatian lebih banyak.”
“Padahal yang menarik perhatian itu kau,” Ro Woon menyeringai. Ia melingkarkan lengan di bahu Ryu dengan santai saat mereka berjalan. “Indonesia tidak seramai ini. Aku hampir lupa betapa sibuknya Korea.”
“Kau akan menyesal berkata begitu saat latihan dimulai,” kata Ryu.
Ro Woon mendengus. “Woori Card tidak main-main. Tapi aku siap.”
Mereka berjalan berdampingan, tertawa ringan. Ro Woon bercerita tentang seleksi yang melelahkan, tentang bahasa yang masih bercampur logat Indonesia, tentang ayah mereka yang terlihat bangga meski tak pernah mengatakannya langsung.
Ryu mendengarkan.
Dan tanpa ia sadari, pemandangan inilah yang sempat tertangkap oleh Sungchan:
kakak dan adik yang lama berpisah, kini bertemu kembali dalam bahasa tubuh yang terlalu akrab untuk disalahartikan.
■
Di dalam mobil, Ro Woon menyandarkan kepalanya ke kursi penumpang, menatap langit sore yang perlahan menggelap di balik kaca. Ia mengunyah permen karet dengan malas sebelum akhirnya menghela napas panjang, seolah baru saja menyelesaikan lomba lari.
“Noona,” katanya tiba-tiba, nada suaranya terlalu santai untuk topik yang ia angkat. “Kenapa kau tidak punya pacar?”
Ryu melirik sekilas tanpa menoleh sepenuhnya. Tangannya tetap mantap di kemudi. “Pertanyaan bodoh.”
“Aku serius,” Ro Woon bersikeras. “Kau cantik, kau punya bar sendiri, kau mandiri. Tapi kenapa wajahmu selalu terlihat seperti orang yang ingin menelan beling setiap bangun pagi?”
Ryu mendengus pelan, lalu menyesap minumannya. “Karena hidup ini memang sulit, Ro Woon. Tidak semua orang punya kemewahan untuk memikirkan cinta yang tidak berguna.”
“Ah,” Ro Woon menyeringai. “Atau jangan-jangan kau sedang naksir seseorang?”
Ia menoleh penuh minat. “Kemarin Max dan Hugo Hyung bilang kau menyembunyikan seorang pria. Jangan bilang itu alasan kau terlihat stres belakangan ini.”
Tawa Ro Woon terdengar ringan—terlalu ringan untuk seseorang yang hampir saja menyentuh kebenaran.
Ryu menginjak rem sedikit lebih keras dari perlu.
“Tutup mulutmu,” katanya dingin. “Kau mengganggu konsentrasiku menyetir.”
Ro Woon terkekeh, sama sekali tidak gentar. Ryu melanjutkan dengan nada lebih tegas, “Dan dengar baik-baik. Mulai besok kau sudah harus lapor ke asrama klub. Jangan keluyuran ke bar-ku kecuali ada urusan penting. Aku tidak mau atlet nasional sepertimu tertangkap kamera sedang minum-minum.”
“Arasseo, Noona galak,” Ro Woon menjulurkan lidahnya, lalu bersandar lagi dengan santai.
Beberapa menit berlalu dalam keheningan yang nyaman, hanya diisi suara mesin dan lampu jalan yang berkelebat.
“Oh ya,” Ro Woon bersuara lagi, kali ini lebih pelan. “Tumben sekali kau menjemputku sendiri. Tidak biasanya.”
“Aku punya waktu,” jawab Ryu singkat.
“Bohong,” Ro Woon menyeringai lebar. “Kau tidak pernah punya waktu kecuali untuk hal penting.”
Ryu menghela napas pelan, hampir tak terdengar. “Jangan mulai.”
Ro Woon mengangkat kedua tangan, tanda menyerah, namun senyumnya justru melembut. “Aku hanya… senang. Ayah juga pasti senang kalau tahu kau yang menjemput.”
Mobil terus melaju, meninggalkan bandara yang kini tak lagi terlihat di kaca spion. Hiruk-pikuk manusia, pengumuman keberangkatan, dan wajah-wajah asing perlahan tertelan jarak.
Ryu tidak tahu—dan tidak peduli—bahwa di salah satu pesawat yang baru saja lepas landas, seseorang masih memikirkan adegan yang baginya tak berarti apa-apa.
Bagi Ryu, dunia tetap sederhana.
Ia punya bar.
Ia punya adik yang akhirnya pulang.
Dan ia punya prinsip yang tidak berubah hanya karena satu malam yang kebetulan terasa berat.
Jika Sungchan mengira apa yang ia lihat adalah sesuatu yang layak disesali—itu sepenuhnya milik Sungchan.
Karena bagi Ryu,
hari itu sudah berakhir sejak lama.