Hari setelah konfrontasi itu, Sungchan membuat satu keputusan sederhana:
ia akan melupakan semuanya.
Bukan karena ia benar-benar mampu, melainkan karena dunia idol tidak menyediakan ruang untuk berkabung terlalu lama. Tidak ada waktu untuk menata perasaan, tidak ada jeda untuk memproses rasa bersalah. Jadwal datang seperti ombak—tak peduli kau siap atau tenggelam.
Hari-hari berlalu cepat.
Latihan pagi, rapat siang, rekaman malam. Panggilan video, wawancara, fitting pakaian. Nama RIIZE terus disebut, terus disorot, seolah badai yang baru saja mereka lewati hanyalah catatan kaki yang boleh dilupakan publik.
Sungchan kembali ke dunianya.
Dunia yang penuh cahaya buatan, senyum terlatih, dan keharusan untuk “baik-baik saja”.
Dan hari ini—hari yang tak bisa dihindari—akhirnya tiba.
Hari pertama mereka tampil di hadapan publik setelah keluarnya Seunghan.
Manajer sudah berkata dengan nada setengah menyerah, “Tidak perlu memaksakan topeng. Publik bisa mencium kebohongan.”
Maka RIIZE memilih kejujuran paling sunyi.
Tidak ada senyum yang dibuat-buat.
Tidak ada usaha terlihat ceria.
Sebagian member menutupi diri mereka sepenuhnya—topi ditarik rendah, masker menutup separuh wajah, kacamata hitam menyembunyikan mata yang lelah. Mereka bukan ingin menghindar dari kamera, tapi dari pertanyaan yang tak akan pernah benar-benar berhenti.
Sungchan dan Wonbin berbeda.
Mereka tidak menutup wajah sama sekali.
Namun ekspresi mereka kosong. Datar. Tidak marah, tidak sedih secara eksplisit—hanya kelelahan yang telanjang. Tatapan yang mengatakan, kami masih di sini, tapi jangan minta lebih dari itu.
Mereka berjalan melewati bandara Incheon dengan langkah kompak, pengawalan ketat, suara teriakan fans bercampur sorakan dan isak tertahan. Beberapa memanggil nama Seunghan. Beberapa berpura-pura tidak terjadi apa-apa.
Sungchan mendengar semuanya.
Ia hanya memilih tidak bereaksi.
Tujuan mereka hari ini: Los Angeles.
Dan di tengah hiruk-pikuk itu—di antara koper yang diseret, pengumuman penerbangan, kilatan kamera—sesuatu menarik perhatian Sungchan tanpa ia sadari.
Langkahnya melambat.
Di kejauhan, di antara lautan manusia yang bergerak tak teratur, ada satu sosok yang terasa… terlalu familiar.
Rambut gelap yang dibiarkan tergerai. Postur santai tapi waspada. Cara ia sedikit mencondongkan kepala saat mendengarkan seseorang bicara.
Jantung Sungchan berdetak lebih cepat.
Nam Ryu.
Ia berdiri di sana, mengenakan mantel panjang berwarna gelap. Wajahnya terlihat lebih tenang daripada terakhir kali Sungchan mengingatnya. Tidak dingin. Tidak marah. Hanya… hidup di dunianya sendiri.
Namun ia tidak sendirian.
Seorang pria tinggi berdiri di sampingnya. Wajahnya tegas, tampan dengan cara yang dewasa. Lengannya melingkar ringan di bahu Ryu, seolah itu kebiasaan lama. Pria itu menunduk, mengatakan sesuatu yang membuat Ryu tertawa kecil—tawa yang tidak pernah Sungchan dengar darinya.
Lalu—tanpa ragu—pria itu mengecup pipinya.
Sekilas. Alami. Tidak dipamerkan.
Tak lama, kecupan lain mendarat di keningnya, diikuti pelukan hangat yang membuat Ryu menyandarkan dahinya ke d**a pria itu.
Sungchan berhenti bernapas.
Ada sesuatu di dadanya yang mengencang, perasaan asing yang tidak ia beri nama. Bukan marah. Bukan cemburu yang meledak-ledak. Lebih seperti… penolakan diam-diam. Ketidakrelaan yang tidak logis.
Padahal ia sendiri yang memilih menjauh.
Ia sendiri yang memutuskan untuk melupakan.
“Chan.”
Suara Anton menyadarkannya.
“Hyung,” tambah Shotaro dari depan. “Kita harus check-in sekarang.”
Sungchan berkedip, memutus pandangannya dari sosok itu. Ryu sudah bergerak pergi, menghilang bersama pria tersebut ke arus manusia lain. Seolah pertemuan itu tidak pernah terjadi.
Ia mengangguk singkat. “Ya.”
Langkahnya terasa lebih berat saat ia mengikuti member lain.
—
Di dalam pesawat, suasana tenang tapi canggung. Sebagian member langsung memasang earphone. Sebagian lain memejamkan mata, menyimpan tenaga untuk jadwal panjang di LA.
Anton duduk di sebelah Sungchan.
Ia melirik hyung-nya beberapa kali sebelum akhirnya berbicara. “Tadi… gadis yang kau lihat di bandara itu.”
Sungchan tidak menoleh. “Kenapa?”
“Dia,” Anton ragu sejenak, “yang punya bar itu, ya? Yang pernah menolongmu.”
Sungchan mengangguk. “Iya.”
Anton bersandar di kursinya. “Cantik,” katanya jujur. “Manis juga. Tapi… wajahnya tidak terlalu kelihatan seperti orang Korea.”
“Dia anak campuran,” jawab Sungchan singkat. “Ibunya Korea. Ayahnya bukan.”
“Oh,” Anton mengangguk pelan. Lalu, dengan nada setengah bercanda, ia menambahkan,
“Pria yang bersamanya tadi… kelihatan seperti pacarnya.”
Sungchan mengeratkan rahangnya.
Anton menoleh, menatapnya dengan senyum kecil yang niatnya ringan. “Kalau iya, ya… sepertinya kesempatanmu nol, Hyung.”
Itu hanya candaan. Anton tidak tahu apa-apa. Tidak tahu tentang malam itu, tentang The Abyss, tentang konfrontasi dan map perak.
Namun entah kenapa, Sungchan merasa tidak terima.
Bukan karena ia merasa memiliki Ryu.
Bukan karena ia berharap menjadi siapa-siapa baginya.
Tapi karena ada bagian dari dirinya yang belum siap melihat gadis itu—yang pernah menjadi tempat berlindungnya—melanjutkan hidup seolah ia tak pernah singgah.
“Itu bukan urusan kita,” jawab Sungchan dingin.
Anton terdiam, menangkap nada yang tidak biasa. “Aku cuma bercanda, Hyung.”
“Aku tahu,” kata Sungchan, lebih pelan kali ini. “Tapi tetap.”
Anton tidak melanjutkan. Ia hanya mengangguk, lalu menatap ke depan.
Sungchan menyandarkan kepalanya ke sandaran kursi, menutup mata.
Gambar itu kembali terulang di pikirannya—cara Ryu dipeluk, cara ia terlihat aman. Seharusnya ia merasa lega. Itu berarti ia benar-benar baik-baik saja. Itu berarti keputusannya untuk menjauh adalah hal yang benar.
Namun rasa itu tidak kunjung berubah.
Ia baru sadar satu hal pahit:
Melupakan bukan tentang waktu.
Kadang, itu tentang menerima bahwa kau tidak punya hak apa pun untuk merasa kehilangan—meski hatimu bersikeras mengatakan sebaliknya.
Pesawat mulai bergerak di landasan.
Sungchan membuka matanya, menatap ke luar jendela.
Kota Seoul perlahan menjauh.
Dan bersama jarak itu, ia mencoba—sekali lagi—meninggalkan hari itu di belakang.
Walau jauh di dalam dirinya, sesuatu telah berubah.