Gedung agensi yang megah itu kini terasa seperti penjara bawah tanah bagi Sungchan. Ia mondar-mandir di sudut koridor yang sepi, menatap layar ponselnya dengan ibu jari yang gemetar. Setelah konfrontasi pahit dengan manajernya, pikirannya hanya tertuju pada satu titik: The Abyss. Ia bisa membayangkan betapa murkanya Ryu saat staf perusahaan datang membawa map perak dan ancaman hukum ke wilayah pribadinya.
Karena pesannya tak kunjung dibalas, Sungchan memberanikan diri melakukan panggilan telepon kepada Hamin. Ia butuh tahu apa yang terjadi di sana, bahkan jika kebenarannya akan menyakitkan.
Setelah nada sambung kelima, panggilan itu diangkat.
"Hamin-ssi? Halo?" bisik Sungchan cepat, suaranya penuh kecemasan.
"Ya, Sungchan-ssi," suara Hamin terdengar berat di seberang sana, jauh dari nada ceria yang biasanya. "Kau beruntung aku sedang di gudang bawah, jadi Noona tidak melihatku mengangkat telepon darimu."
"Bagaimana keadaannya? Apa orang-orang agensiku benar-benar datang?"
Hamin menghela napas panjang, suara gesekan kardus terdengar di latar belakang. "Datang? Mereka datang seperti robot tanpa perasaan. Mereka melemparkan dokumen perjanjian kerahasiaan dan uang kompensasi di atas meja bar seolah-olah tempat ini adalah pasar. Kau tahu Ryu-noona, kan? Dia meledak. Dia melempar balik map itu ke wajah mereka dan mengusir mereka keluar. Aku belum pernah melihatnya semarah itu... matanya benar-benar dingin."
Hati Sungchan mencelos. "Aku benar-benar minta maaf, Hamin-ssi. Aku sudah mencoba mencegahnya, tapi mereka bergerak di belakang manajerku."
"Dengar, Sungchan-ssi," suara Hamin berubah serius. "Saran dariku: jangan bertingkah untuk saat ini. Jangan menelepon, jangan mengirim pesan, apalagi mencoba datang ke sini. Ryu-noona sudah memintaku menghapus semua jejakmu. Baginya, kau sekarang adalah pengingat akan dunia yang paling ia benci. Jika kau peduli padanya, biarkan dia tenang dulu."
Sungchan terdiam, rasa sesak menghimpit dadanya. "Tolong... tolong sampaikan permintaan maafku padanya. Katakan aku tidak bermaksud melibatkan dia dalam kekacauan ini. Aku hanya ingin dia tahu bahwa aku sangat menghargai semua yang dia lakukan."
"Akan kucoba cari waktu yang tepat, tapi aku tidak janji dia akan mendengarnya," jawab Hamin pelan. "Jaga dirimu, Sungchan-ssi. Jangan buat masalah lagi."
Panggilan berakhir. Sungchan menyandarkan kepalanya ke dinding semen yang dingin, memejamkan mata rapat-rapat.
"Kau terlihat seperti orang yang baru saja kehilangan duniamu," sebuah suara lembut memecah keheningan.
Sungchan menoleh dan mendapati Shotaro berdiri di sana, membawa dua botol air mineral. Member tertua itu berjalan mendekat dan memberikan satu botol pada Sungchan. Shotaro telah memperhatikannya sejak sesi latihan berakhir; ia melihat kegusaran yang tidak biasa pada diri adiknya itu.
"Apa yang terjadi di bar itu?" tanya Shotaro bijak.
Sungchan tidak langsung menjawab. Ia meneguk airnya, lalu menceritakan semuanya—kedatangan staf agensi, dokumen, ancaman tak langsung, dan rasa bersalah yang kini menempel di kulitnya.
Shotaro mendengarkan tanpa menyela.
"Kenapa kau begitu gusar, Sungchan-ah?" Shotaro menatapnya dalam. "Hanya karena merasa bersalah? Atau karena ada hal lain?"
Shotaro menatapnya lama. Bukan menilai—lebih seperti menimbang.
“Sungchan-ah,” katanya akhirnya, ragu tapi jujur,
“kau tidak… tertarik pada gadis itu, kan?”
Sungchan tersentak. “Apa?”
“Kalian hanya bertemu satu malam,” lanjut Shotaro hati-hati. “Dalam kondisi buruk. Jangan bilang kau percaya hal seperti cinta pandang pertama. Itu terlalu klise, bahkan untuk drama.”
Sungchan menggeleng cepat. “Bukan itu.”
“Lalu kenapa kau terlihat seperti kehilangan pegangan?”
Sungchan menunduk. Jarinya meremas botol plastik itu.
“Aku hanya merasa bersalah,” katanya akhirnya. “Aku menyeret orang yang tidak ada hubungannya dengan hidupku ke dalam kekacauan ini. Dia tidak pantas diperlakukan seperti itu.”
Shotaro mengangguk pelan. Seolah jawaban itu justru yang ia harapkan.
“Bagus,” katanya. “Karena apa pun perasaanmu—atau tidak adanya perasaan—kau tetap harus ingat satu hal.”
Ia menegakkan tubuhnya.
“Dalam posisi kita sekarang, bahkan rumor kencan saja sudah seperti menekan tombol penghancur sendiri. Grup ini masih rapuh setelah apa yang terjadi pada Seunghan. Perusahaan sedang waspada. Media sedang lapar. Dan orang di luar sana… menunggu kita tergelincir.”
Ia menatap Sungchan lurus-lurus.
“Bukan cuma karirmu yang akan terkena dampaknya. Tapi grup. Staf. Dan orang itu—si pemilik bar—akan ikut terseret, lagi.”
Sungchan menelan napas.
“Jadi apa yang harus kulakukan?” tanyanya pelan.
Shotaro meletakkan tangan di bahu Sungchan.
“Jika kau benar-benar peduli,” katanya lembut tapi tegas,
“Lupakanlah. Kadang itu satu-satunya cara melindungi.”
Ia tersenyum tipis.
“Biarkan dunia kita tetap di sini. Jangan bawa kebisingannya ke tempat yang seharusnya tenang.”
Sungchan menatap ke luar jendela, ke arah kota Seoul yang berkilau di kejauhan. Di salah satu sudutnya, ada sebuah bar kecil yang kini menjadi batas yang tak boleh ia lewati.
Dan untuk pertama kalinya, ia mengerti:
kadang menjaga seseorang berarti tidak hadir sama sekali.