Suasana sore di The Abyss biasanya nyaris sunyi. Belum ada musik. Hanya bunyi botol kaca yang disusun ulang di rak dan dengungan mesin penyedot debu yang Max jalankan setengah malas. Cahaya matahari masuk dari jendela depan, memantul di lantai kayu yang belum lama dipel.
Pintu depan terbuka.
Dua pria masuk bersamaan—setelan jas hitam rapi, sepatu mengilap, langkah mereka terlalu terukur untuk tempat seperti ini. Mereka berhenti sejenak, mengamati ruangan, seolah mencatat detail satu per satu.
Max mematikan mesin dan mengangkat alis.
“Bar belum buka. Satu jam lagi,” katanya santai. “Kalau mau minum, silakan balik nanti. Kalau mau bantu ngepel, aku bisa carikan lap.”
Salah satu pria—yang lebih tua—melangkah ke depan. Tanpa senyum, tanpa basa-basi. Ia mengeluarkan kartu nama dan meletakkannya di konter.
Logo SM Entertainment tercetak jelas.
“Kami dari tim manajemen artis,” katanya. “Kami ingin membicarakan masalah privasi.”
Nada suaranya tidak mengancam. Justru itu yang membuatnya terasa berat.
Hugo, yang baru keluar dari gudang sambil membawa baki botol kosong, berhenti mendadak.
“SM… yang itu?” gumamnya refleks.
Pria itu mengangguk singkat.
“Kami menerima informasi bahwa salah satu artis kami berada di tempat ini beberapa hari lalu. Jung Sungchan.”
Nama itu membuat Max terdiam sepersekian detik lebih lama dari seharusnya.
“…RIIZE?” tanyanya, kali ini lebih pelan.
“Kami di sini untuk memastikan tidak ada dokumentasi visual, rekaman, atau informasi yang berpotensi bocor ke publik,” lanjut pria itu. “Termasuk CCTV internal.”
Max menyandarkan siku di konter. Nada bicaranya tetap terkendali, tapi tidak lagi bercanda.
“Kalau soal data dan rekaman, itu bukan keputusan saya. Dan kami tidak biasa membicarakan pelanggan—siapa pun—tanpa kehadiran pemilik.”
“Kami mengerti,” sahut pria kedua untuk pertama kalinya. Suaranya lebih muda, datar, seperti membaca laporan. “Kami hanya menjalankan prosedur.”
Beberapa staf lain mulai melirik dari arah dapur. Bisik-bisik kecil terdengar. Nama besar selalu membawa kegaduhan, bahkan sebelum masalah benar-benar dimulai.
Hamin muncul dari lorong VIP. Tatapannya langsung berubah saat melihat kartu nama di konter.
“Serahkan ke aku,” katanya singkat pada Max.
Ia menoleh ke dua pria itu. “Ikut saya.”
Tanpa banyak kata, mereka berjalan melewati koridor sempit menuju pintu kayu di ujung bar. Lampu temaram membuat bayangan mereka memanjang di dinding.
Hamin mengetuk pintu dua kali.
“Ryu noona,” katanya dari balik pintu. “Ada tamu. Dari SM Entertainment.”
Di dalam, Nam Ryu sedang duduk di balik meja kerjanya, berkas-berkas pajak terbuka di layar laptop. Ia tidak langsung berdiri saat pintu dibuka. Tatapannya hanya terangkat perlahan, menilai dua sosok asing di hadapannya.
“Silakan,” katanya datar.
Salah satu pria maju dan meletakkan kartu nama di meja.
“Kami dari SM Entertainment.”
Ryu meliriknya sekilas. Tidak menyentuh kartu itu.
“Ada urusan apa agensi sebesar itu datang ke bar kecil seperti ini?”
“Nam Ryu?” tanya pria tertua.
“Aku,” jawab Ryu datar. “Bar ini tutup.”
“Kami tahu,” katanya. “Itu sebabnya kami datang sekarang.”
Ia menyerahkan kartu nama.
Departemen Keamanan & Legal Affairs – SM Entertainment.
Ryu tidak mengambilnya.
“Langsung saja,” katanya akhirnya, melangkah mundur. “Kalau mau mengancam, lakukan dengan bicara to the point. Aku tidak suka membuang waktuku untuk hal bodoh seperti ini."
Tak satu pun dari mereka tersenyum.
Mereka duduk di meja paling sudut. pria itu langsung meletakkan tablet dan mulai merekam—indikator kecil di sudut layar menyala merah.
“Kami ingin memastikan tidak ada dokumentasi visual atau digital terkait artis kami yang berada di tempat ini dua malam lalu,” pria tua itu membuka percakapan. “Apakah Anda memiliki foto, video, atau rekaman CCTV internal?”
“Tidak,” jawab Ryu cepat. “Dan meski aku punya, itu urusan pribadiku.”
“Tidak lagi,” sahut pria kedua, suaranya lebih tajam. “Sejak properti Anda menjadi lokasi pelanggaran protokol keamanan artis.”
Ryu menyandarkan punggung, menyilangkan tangan. “Dia pingsan di depan pintuku. Aku tidak menanyakan nama. Tidak tahu siapa dia. Tidak peduli.”
“Kami peduli,” jawab wanita itu sambil mengetik. “Dan itulah perbedaannya.”
Map tebal itu dibuka. Berkas-berkas disusun rapi di atas meja, seperti pisau bedah.
“Ini bukan interogasi kriminal,” lanjut pria tua itu. “Ini prosedur pencegahan risiko.”
“Bahasa yang indah,” Ryu mencibir. “Biasanya dipakai orang-orang yang tidak ingin disebut pemeras.”
Tak ada reaksi.
“Kami akan langsung ke inti,” kata pria tua itu. “Anda akan menandatangani perjanjian kerahasiaan mutlak.”
Ia mendorong selembar dokumen ke arah Ryu.
“Isinya?” tanya Ryu tanpa menyentuhnya.
“Anda tidak akan pernah menyebutkan, mengisyaratkan, atau mengonfirmasi keberadaan Jung Sungchan—artis kami—di bar ini, dalam bentuk apa pun, kepada siapa pun, sekarang atau di masa depan.”
“Itu saja?” Ryu menyeringai miring. “Kalian jauh-jauh datang hanya untuk itu?”
Pria itu menghela napas, lalu menggeser beberapa lembar tambahan.
“Tidak.”
Ryu membaca judulnya.
Klausul Tanggung Jawab Bersama & Ganti Rugi Reputasi.
Senyumnya lenyap.
“Jika di masa depan,” pria tua itu melanjutkan dengan tenang, “terjadi skandal yang mengaitkan Jung Sungchan dengan bar ini—baik melalui kesaksian, kebocoran, rumor, atau jejak tidak langsung—dan skandal tersebut menimbulkan kerugian finansial, reputasi, atau kontraktual bagi artis maupun perusahaan…”
Ia berhenti sejenak.
“…maka pihak pemilik bar The Abyss bersedia ikut bertanggung jawab dalam bentuk ganti rugi.”
Ryu tertawa. Pendek. Kering. Tidak lucu.
“Kalian gila,” katanya. “Aku bahkan tidak tahu siapa dia sebelum malam itu. Dan sekarang kalian ingin aku menanggung masa depan hidup idol kalian?”
“Kami ingin Anda bertanggung jawab atas ruang yang Anda kelola,” jawab pria kedua dingin. “Tempat ini menjadi variabel risiko.”
“Risiko karena apa?” Ryu mencondongkan tubuh. “Karena aku memberinya air dan tempat tidur? Karena aku tidak membiarkan dia mati?”
“Karena Anda bukan entitas yang berada dalam kendali kami,” sahut wanita itu tanpa menoleh dari tabletnya.
Keheningan menggantung berat.
“Jadi begini cara kalian melindungi artis,” gumam Ryu. “Dengan menjadikan siapa pun yang menolong mereka sebagai sandera hukum.”
“Kami melindungi investasi,” jawab pria tua itu jujur. “Dan investasi kami bernilai miliaran.”
“Aku tidak akan menandatangani ini,” kata Ryu mantap. “Kalian tidak punya dasar.”
Pria tua itu mengangguk pelan, seolah sudah menduga.
“Tentu. Itu hak Anda.” Ia menutup map, lalu membuka map lain. “Maka kami akan melanjutkan dengan opsi kedua.”
Ia menggeser foto-foto cetakan ke meja.
Ryu mengenali gang itu. Pintu belakang. Siluet tubuh tinggi.
Sungchan.
“Ini bukan bukti publik,” lanjut pria itu. “Belum. Tapi cukup untuk memulai investigasi kebocoran internal, pelanggaran SOP, dan—jika perlu—menyebut nama tempat ini dalam laporan risiko industri.”
“Laporan yang bisa ‘bocor’ ke media?” tanya Ryu lirih.
“Media tidak perlu tahu detail,” jawab pria itu. “Cukup judul.”
Ryu mengepalkan tangan di bawah meja.
“Kalian menghancurkan orang kecil seperti ini setiap hari, ya?” tanyanya pelan. “Dan tidur nyenyak setelahnya?”
“Kami tidur setelah memastikan artis kami bisa terus bekerja,” jawab pria tua itu. “Empati tidak membayar penalti sponsor.”
Ryu menatap berkas itu lama. Huruf-huruf kecil. Bahasa hukum yang dirancang untuk tidak pernah berpihak pada yang lemah.
“Aku pernah di sana,” katanya tiba-tiba. “Di sistem kalian. Aku tahu caranya bekerja.”
Pria tua itu mengangkat alis tipis. “Itu sebabnya kami berharap Anda mengerti.”
Ryu tertawa pahit. “Oh, aku mengerti. Kalian tidak datang untuk bertanya. Kalian datang untuk memastikan aku diam—selamanya.”
Ryu merasakan rahangnya mengeras.
“Dengar baik-baik,” katanya tajam. “Aku tidak akan menandatangani surat yang menjadikan bisnis dan hidupku sandera atas sistem yang sudah rusak dari akarnya. Jika itu berarti kalian akan menyeret namaku ke lumpur—silakan. Aku lebih memilih itu daripada hidup dengan leher terjerat kontrak busuk.”
Keheningan pecah. Tegang. Berat.
Staf SM itu menatap Ryu lama, menilai. Bukan sebagai manusia—melainkan sebagai variabel.
Dan tepat ketika ketegangan itu hampir berubah menjadi ledakan terbuka—
Pintu kantor terbuka.
“Cukup.”
Suara Hugo memotong udara seperti pisau.
Ia melangkah masuk cepat, berdiri di antara Ryu dan meja, kedua tangannya terangkat sedikit—bukan menantang, tapi menenangkan.
“Ini tidak akan ke mana-mana kalau diteruskan seperti ini,” katanya tegas. “Ryu, tarik napas. Tuan-tuan, kalian juga.”
Ryu tidak menoleh, tapi bahunya naik turun perlahan.
Hugo menatap staf SM satu per satu. “Kalian ingin memastikan tidak ada skandal. Kami ingin memastikan bar ini tidak hancur oleh klausul tidak masuk akal. Jadi mari bicara seperti orang dewasa, bukan seperti algojo dan tersangka.”
Dan di situlah perdebatan beralih arah.
Hugo melirik Ryu, memberikan kode agar gadis itu menurunkan egonya sejenak demi keamanan bar. Ia kemudian menatap staf SM. "Kami tidak akan menandatangani klausul ganti rugi uang. Itu tidak masuk akal. Bar ini tidak akan sanggup membayar kerugian seorang bintang dunia."
"Lalu apa penawaran kalian?" tanya staf itu tidak sabar.
Ryu, setelah menarik napas panjang untuk meredam emosinya, berbicara dengan nada yang jauh lebih tajam. "Ubah syaratnya. Aku tidak akan membayar sepeser pun. Tapi, aku bersedia menandatangani perjanjian untuk memberikan keterangan resmi atau klarifikasi jika memang nantinya ada rumor buruk menyeret Sungchan yang berkaitan dengan bar ini. Aku akan menjamin bahwa dia di sini hanya sebagai pelanggan yang sedang tidak sehat. Hanya itu."
Staf SM itu saling berpandangan sejenak, menimbang-nimbang. Memberikan keterangan resmi sebenarnya lebih menguntungkan bagi mereka untuk meredam skandal daripada sekadar menuntut uang dari pemilik bar kecil.
"Baiklah. Kami akan mengubah klausulnya sekarang juga," ujar staf itu akhirnya.
Setelah dokumen diubah dan Ryu membubuhkan tanda tangannya dengan goresan pena yang kasar, suasana masih tetap terasa berat. Ryu melemparkan bolpoinnya ke meja, lalu menatap Hugo dan Max yang berdiri di dekat pintu.
"Hugo, Max," panggil Ryu tanpa mengalihkan pandangan dari staf SM. "Tolong antar kedua Tuan yang terhormat ini keluar. Pastikan mereka menemukan jalan keluar dengan benar, karena sepertinya mata mereka terlalu buta untuk melihat bahwa mereka baru saja mengancam orang yang sudah menyelamatkan nyawa investasi terbesar mereka."
Ryu berdiri, menatap staf SM itu lurus-lurus ke mata. "Lain kali, jika kalian kehilangan 'barang berharga' kalian lagi, jangan datang ke sini. Datanglah ke toko cermin, lalu tanyakan pada diri kalian sendiri kenapa artis kalian lebih memilih pingsan di jalanan daripada pulang ke gedung megah kalian yang tidak punya hati itu."
Kedua staf SM itu tertegun. Mereka terbiasa menghadapi orang-orang yang gemetar atau memohon saat berhadapan dengan agensi sebesar mereka, namun Ryu... gadis ini memperlakukan mereka tak lebih dari sekadar hama yang mengganggu waktu kerjanya.
"Kenapa masih berdiri di sini?" Ryu menaikkan alisnya. "Hugo, antar mereka. Dan jangan lupa semprotkan pengharum ruangan setelah mereka pergi. Bau arogansi perusahaan kalian membuatku mual."
"Dan_ jangan lupa katakan pada artis kalian... jangan pernah berani menginjakkan kaki di sini lagi jika dia tidak bisa membawa harga dirinya sendiri tanpa melibatkan anjing-anjing perusahaan."
Staf SM itu keluar dengan wajah kaku dan rahang mengeras, sementara Max dan Hugo mengawal mereka dengan senyum yang dipaksakan namun penuh kepuasan di dalam hati. Setelah pintu depan bar tertutup, suasana mendadak sunyi.
Ryu kembali duduk, menutup wajahnya dengan kedua tangan. Ia merasa lelah bukan main. Ia baru saja menandatangani ikatan dengan dunia yang paling ia benci, semua hanya karena seorang pria jangkung bernama Jung Sungchan yang datang membawa badai ke hidupnya yang tenang.
"Kau benar-benar mengusik ketenanganku, Jung Sungchan," batin Ryu penuh emosi, sambil menatap meja kosong tempat badai itu bermula.