Sementara itu, ribuan kilometer dari gedung SM, kehidupan di The Abyss juga kembali normal—atau setidaknya, berusaha normal. Nam Ryu sedang duduk di konter bar yang masih tutup, dikelilingi oleh dua orang terdekatnya sekaligus yang tak lain Max dan Hugo.
Di depan mereka bertebaran buku besar keuangan dan beberapa laporan stok minuman. Namun, alih-alih membahas keuntungan mingguan, suasana justru terasa seperti sidang interogasi.
"Jadi..." Max memulai sambil mengelap gelas dengan gerakan yang sengaja dibuat lambat. "Siapa 'pria misterius' berbaju hitam yang membuat Bos kita yang super perhitungan ini rela menutup bar lebih awal dua hari lalu?"
Ryu tidak mendongak dari kalkulatornya. "Masalah stok. Sudah kukatakan padamu."
"Masalah stok tidak butuh waktu tutup sehari, Ryu-ya," sahut Hugo sambil menyeringai nakal. Ia mencondongkan tubuh ke arah Ryu. "Aku dan Max melihat Hamin keluar dari bar dengan seorang pria jangkung dari pintu belakang. Ayo jujur, siapa dia? Atlet? Model?"
"dia tidak mungkin penjahat yang sedang kau sembunyikan kan?" tambah Max sambil tertawa.
Ryu menghela napas panjang, meletakkan pulpennya dengan denting keras. Ia menatap teman-temannya satu per satu dengan tatapan dinginnya yang biasa. "Dia hanya seseorang yang sedang tersesat. Dia sakit, pusing, dan aku tidak ingin dia mati di depan pintu barku karena itu buruk untuk bisnis. Hanya itu."
"Tapi kau tidak pernah membiarkan siapapun masuk ke area pribadimu, apalagi menginap,"
Hugo menimpali dengan nada tenang namun menyelidik. "Bahkan kau melarang keras Aku dan yang lain membawa teman kerumah."
"Karena mereka berisik," ketus Ryu. "Pria itu... dia tidak punya tempat tujuan malam itu. Sudah, berhenti bertanya. Kalau kalian punya waktu untuk bergosip, lebih baik bantu aku mengecek botol-botol wiski di gudang bawah."
"Wah, lihat reaksinya!" Max berseru girang. "Dia menghindar! Berarti pria itu benar-benar spesial. Apakah dia tampan? Pasti tampan, kan? Ryu tidak mungkin menyelamatkan orang yang wajahnya biasa saja."
Ryu merasakan telinganya sedikit panas. Bayangan Sungchan yang sedang memakan bubur buatannya dengan lahap, dan wajah pucat pria itu saat memohon untuk tidak ditinggalkan, mendadak terlintas. Ia teringat bagaimana jari-jari jangkung Sungchan meremas ujung kaosnya.
"Dia hanya seorang pemuda yang terlalu banyak memikul beban," gumam Ryu, suaranya melunak tanpa ia sadari. "Dunia luar sangat jahat padanya, jadi aku memberinya sedikit ruang untuk bernapas. Itu saja. Tidak lebih, tidak kurang."
Teman-temannya terdiam sejenak, terkejut melihat sisi lembut Ryu yang jarang muncul. Ryu yang mereka kenal adalah gadis realistis yang kasar dan sarkas. Melihatnya membela seseorang—meski dengan nada datar—adalah pemandangan langka.
"Wah... Ryu kita sudah mulai punya hati," goda Yerim, yang langsung dibalas dengan lemparan serbet kertas oleh Ryu.
"Kembali bekerja! Atau kupotong gaji kalian untuk membayar kerugian hari aku menutup bar!" bentak Ryu, yang disambut tawa serempak oleh keempat temannya.
Meskipun ia berhasil membungkam teman-temannya, Ryu sendiri tidak bisa membungkam pikirannya.
Sial sejak kapan aku terganggu dengan hal sepele seperti ini, batin Ryu sambil kembali fokus pada angka-angka di hadapannya.
■
Jantung Sungchan seakan berhenti berdetak.
Kata-kata Eunseok dan Shotaro masih bergema di kepalanya ketika ia meraih ponselnya. Jemarinya gemetar saat menekan nama yang paling ingin dan paling ia takuti untuk dihubungi.
Sambungan terjawab di dering kedua.
“Hyung,” suara Sungchan pecah sebelum ia sempat mengaturnya. “Kau di mana sekarang?”
“Di kantor,” jawab Manager Hyung singkat. Terlalu singkat. “Naik sekarang. Kita perlu bicara.”
Nada itu membuat perut Sungchan mual.
Ia berlari menyusuri lorong gedung SM, mengabaikan sapaan staf, mengabaikan nyeri di otot-ototnya. Pintu kantor manajer terbuka dengan hentakan keras. Di dalam, pria itu duduk di balik meja yang penuh map hitam, wajahnya tampak lebih tua dari biasanya—mata lelah, rahang mengeras seolah sedang menahan sesuatu yang ingin diucapkan tapi tidak boleh.
“Hyung,” Sungchan melangkah maju, napasnya terengah. “Katakan padaku kau tidak mengirim siapa pun ke bar itu.”
Keheningan jatuh berat.
“Aku yang salah,” lanjut Sungchan cepat, nyaris memohon. “Aku yang pergi. Pemilik bar itu tidak tahu apa-apa. Dia pikir aku cuma orang sakit yang tersesat. Dia—”
“Cukup.” Manager Hyung berdiri.
Suara kursinya bergeser terdengar terlalu keras di ruangan itu.
“Aku mencoba melindungimu,” katanya akhirnya, nada suaranya rendah dan terkendali. Ia melepas kacamatanya, memijat batang hidungnya sebentar—gerakan kecil yang menunjukkan betapa tipis kesabarannya. “Aku menutup lokasimu. Aku menyimpan laporan internal. Aku berharap ini berhenti sampai di aku.”
Sungchan menelan ludah. “Berharap?”
“Perusahaan tidak hidup dari harapan,” jawab sang manajer dingin. “Sistem pelacakan pusat membaca pergerakan ponselmu. Laporan saksi mata masuk dari Gangnam. Begitu ada anomali, departemen keamanan dan hukum bergerak. Tanpa izinku. Tanpa persetujuanku.”
Dunia Sungchan runtuh sedikit demi sedikit.
“Maksudmu…” suaranya hampir tak terdengar.
“Mereka berangkat sore ini,” lanjut sang manajer. “Dan jika perhitunganku benar—” ia melirik jam tangannya “—mereka sudah tiba di The Abyss sekitar sepuluh menit yang lalu.”
Lutut Sungchan melemas. Ia harus berpegangan pada tepi meja agar tidak jatuh.
“Tidak,” bisiknya. “Tidak… Ryu akan membenci ini. Dia benci perusahaan besar. Dia benci ditekan. Dia hanya ingin hidup tenang.”
Ia berbalik hendak keluar.
“Berhenti.” Suara manajer itu meledak untuk pertama kalinya. “Jangan berani-berani pergi ke sana, Jung Sungchan!”
Sungchan membeku.
“Jika kau muncul di sana sekarang,” lanjut sang manajer, berjalan mendekat dengan langkah berat, “kau tidak menyelamatkannya. Kau justru mengonfirmasi bahwa dia terlibat langsung denganmu. Itu akan memperpanjang interogasi. Memperberat kontrak. Memperburuk posisinya.”
Ia memegang bahu Sungchan kuat-kuat.
“Dengar aku baik-baik,” katanya, kali ini lebih pelan, lebih kejam karena kejujurannya. “Kau merasa dia penyelamatmu. Tapi di mata perusahaan, dia sekarang adalah risiko. Dan di mata gadis itu—kau adalah masalah yang mengetuk pintunya.”
Kata-kata itu menusuk lebih dalam dari makian mana pun.
“Kedatangan staf dengan dokumen hukum, klausul kerahasiaan, dan ancaman sanksi,” lanjutnya, “itu bukan karena siapa dia. Itu karena siapa kau.”
Air mata Sungchan jatuh tanpa suara.
“Ini konsekuensi,” ujar sang manajer, suaranya kembali terkendali namun tak kalah berat. “Industri ini tidak peduli niat baik. Jika kau tidak ingin orang-orang yang menolongmu ikut hancur, maka jangan pernah menyeret mereka ke dalam hidupmu sebagai idol.”
Ia melepaskan bahu Sungchan.
“Biarkan staf itu bekerja. Semakin kau menjauh, semakin cepat mereka pergi. Dan semakin besar kemungkinan gadis itu bisa kembali ke hidupnya… tanpa bayang-bayangmu.”
Sungchan menunduk, dadanya terasa kosong.
Untuk pertama kalinya, ia benar-benar mengerti:
menjadi idol bukan hanya tentang kehilangan kebebasan—
tapi tentang menjadikan siapa pun yang mendekat sebagai korban tak sengaja.