Musik bertempo cepat itu berhenti mendadak, menyisakan napas yang terengah dan detak jantung yang masih berlomba dengan adrenalin. Ruang latihan utama SM Entertainment kembali sunyi, hanya diisi bunyi pendingin ruangan dan gesekan sepatu di lantai kayu yang kini mengilap oleh keringat.
Enam member RIIZE terduduk lemas, punggung mereka bersandar pada cermin besar yang memantulkan bayangan tubuh-tubuh kelelahan—namun hidup.
Kecuali Sungchan.
Empat jam latihan intens seharusnya mengurasnya hingga kosong, tapi wajahnya justru tampak ringan. Ia tersenyum kecil saat menatap layar ponselnya, lalu menyodorkan botol minum ke Anton dengan nada ceria yang terasa… tidak wajar.
Wonbin memperhatikannya sejak tadi.
“Hyung,” panggilnya akhirnya, menyeka lehernya. “Kau… oke, kan? Maksudku—kau tidak sedang kehilangan akal sehat karena stres berlebihan, kan?”
Sungchan tertawa kecil. Tawa yang jujur.
“Aku baik-baik saja, Bin-ah. Kenapa?”
“Kau terus senyum,” Sohee menyela, alisnya berkerut. “Dua hari lalu kau menghilang tanpa kabar, dan sekarang kau kembali seperti habis liburan musim panas. Kau ke mana sebenarnya?”
Eunseok dan Shotaro ikut menoleh. Tidak satu pun dari mereka percaya ini sekadar mood swing.
Sungchan terdiam. Ia menoleh ke pintu ruang latihan, memastikan tertutup rapat. Tidak ada staf. Tidak ada manajer. Baru setelah itu ia duduk bersila, menghadap mereka.
“Malam itu sebenarnya aku tidak ke motel,” ucapnya pelan. “Aku ke sebuah bar di Gangnam. Namanya The Abyss.”
Sunyi.
Lima belas menit berikutnya berlalu dalam kejujuran yang nyaris ceroboh. Sungchan menceritakan semuanya—demam yang membuatnya hampir pingsan, bar kecil yang sunyi, pemiliknya bernama Ryu dengan ucapan setajam pisau dan tangan yang hangat, sofa lantai tiga tempat ia akhirnya tertidur karena tak sanggup kembali ke asrama.
Ia bercerita tentang Ryu—mantan hidden trainee YG yang mimpinya runtuh sebelum sempat lahir, perempuan yang tidak mengasihaninya, tapi juga tidak meninggalkannya.
“Dia… bahkan menyuapiku,” gumam Sungchan, telinganya memerah. “Karena aku menolak makan.”
Anton ternganga. Eunseok memijat pelipisnya.
Shotaro menghela napas panjang.
“Jadi… kau dirawat oleh seorang gadis asing?” tanya Shotaro hati-hati. “Sungchan, ini berbahaya. Bagaimana kalau dia memotretmu? Atau merekam sesuatu?”
“Dia tidak akan melakukannya,” potong Sungchan cepat, nadanya naik. “Dia bahkan tidak peduli aku idol. Dia membenciku sebagai idol—tapi dia menolongku sebagai manusia.”
“Tapi tetap saja—” Sohee bersuara, jelas menahan panik. “Kalau agensi tahu kau menginap di rumah seorang wanita, ini bukan cuma kariermu yang hancur. Kita semua bisa ikut jatuh.”
Kalimat itu belum sepenuhnya mendarat ketika Eunseok angkat bicara, suaranya lebih rendah dari biasanya.
“Kalian tahu kenapa Manager Hyung tidak benar-benar marah semalam?”
Sungchan menoleh. “Kenapa?”
“Karena dia sudah tahu ke mana kau pergi,” jawab Eunseok. “Dia melacak sinyal terakhir ponselmu sebelum mati. Ada juga laporan orang yang melihatmu di sekitar Gangnam. Dia menutupinya dari agensi pusat.”
Sungchan membeku.
“Kalau tidak,” lanjut Eunseok, “kau sudah diputus kontrak karena pelanggaran privasi berat.”
Dan sebelum Sungchan sempat mencerna sepenuhnya—
“Manager Hyung kemungkinan besar sedang menuju ke bar itu sekarang,” sambung Shotaro. “Untuk memastikan tidak ada jejak digital, saksi, atau potensi masalah di masa depan.”
Wajah Sungchan seketika pucat.
“Apa maksudmu…?” Suaranya meninggi. “Apa yang akan dia lakukan?”
“Pembersihan,” jawab Wonbin jujur. “Ancaman hukum. Uang tutup mulut. Kontrak non-disclosure. Itu prosedur standar.”
Sungchan berdiri dengan kasar. Bangku di belakangnya bergeser keras.
“Tidak,” katanya tajam. “Dia tidak pantas diperlakukan seperti itu.”
Ia mengacak rambutnya, napasnya memburu.
“Ryu membenci agensi. Dia hanya ingin hidup tenang. Kalau Manager datang dan memperlakukannya seperti kriminal—dia akan membenciku. Dia akan mengira aku menyeretnya ke neraka yang sama.”
“Hyung—” Anton bangkit lebih dulu dan menahan lengannya. “Tenang.”
“Bagaimana aku bisa tenang?” suara Sungchan pecah. “Dia menolongku saat aku bahkan tidak ingin hidup dengan benar, dan sekarang dia akan ditekan karena aku?”
Wonbin ikut berdiri, tangannya menepuk bahu Sungchan dengan kuat namun lembut.
“Sungchan-ah. Ini bukan soal benar atau salah. Ini soal bertahan.”
Eunseok menatapnya lurus.
“Agensi bukan datang untuk menyakiti dia. Mereka datang untuk melindungimu. Melindungi kita.”
“Sohee menambahkan pelan, “Kita baru saja kehilangan Seunghan. Grup ini masih goyah. Satu kesalahan lagi… kita bisa benar-benar runtuh.”
Sunyi kembali turun.
“Kami tahu kau tidak berniat jahat,” lanjut Shotaro. “Tapi sekarang, kau bukan cuma membawa hidupmu sendiri. Kau membawa nama grup. Nama perusahaan. Dan semua orang di dalamnya.”
Anton mengencangkan genggamannya.
“Tolong, Hyung. Jangan bertingkah lagi. Setidaknya… tidak sekarang.”
Sungchan menutup mata. Rahangnya mengeras.
Ia tahu mereka benar.
Dan itulah yang paling menyakitkan.