Pukul empat sore. Cahaya musim gugur menembus dinding kaca gedung SM Entertainment—terang, bersih, dan dingin. Seperti citra yang selalu mereka jual ke publik. Ruang rapat privat di lantai atas terasa hampa, terlalu sunyi untuk ukuran tempat yang menentukan nasib manusia.
Seunghan duduk di sana.
Tanpa panggung. Tanpa riasan. Tanpa senyum yang diwajibkan.
Hoodie hitam longgar membungkus tubuhnya, seolah ia berharap bisa menghilang di balik kain itu. Ia tidak terlihat seperti idol yang “melanggar aturan”. Ia terlihat seperti seseorang yang sudah terlalu lama diminta menjelaskan keberadaannya sendiri.
Saat pintu terbuka, Sungchan masuk. Langkahnya tertahan.
Tatapan mereka bertemu—dan di sana tidak ada kelegaan. Hanya kelelahan yang sama, luka yang berbeda bentuknya. Ribuan kata menggantung di udara, tapi tak satu pun cukup aman untuk diucapkan.
"Seunghan-ah," suara Sungchan tercekat di tenggorokan.
Seunghan berdiri. Ia mencoba menegakkan bahunya, menarik napas dalam-dalam seolah sedang bersiap naik ke atas panggung besar. Ia memaksakan sebuah senyuman—senyuman profesional yang selama ini ia pelajari di kelas image training, namun matanya tidak bisa berbohong. Matanya kosong.
"Hyung, kau datang?" suara Seunghan terdengar stabil, terlalu stabil untuk seseorang yang baru saja melewati badai. "Kau terlihat lelah. Harusnya kau istirahat di asrama, jadwal RIIZE sedang padat, bukan?"
Sungchan tidak menjawab. Ia berjalan mendekat, memangkas jarak di antara mereka. Ia menatap wajah adiknya lekat-lekat, mencari sisa-sisa binar nakal yang dulu selalu ada di sana.
"Maaf aku baru kembali, dan sudah membuat mu khawatir," bisik Sungchan.
"Terima kasih sudah kembali, Hyung," balas Seunghan pelan.
"Seunghan-ah... Gwenchana? (Kau baik-baik saja?)" tanya Sungchan, suaranya rendah dan penuh penekanan.
Seunghan mengangguk cepat, terlalu cepat. "Tentu. Aku baik-baik saja, Hyung. Aku sudah mulai masuk studio lagi. Divisi solois memperlakukanku dengan baik. Aku sedang menyiapkan progres untuk vokal dan dance-ku. Kalian tidak perlu mengkhawatirkanku lagi. Fokuslah pada grup. Masa depan RIIZE ada di tangan kalian sekarang."
Sungchan mendengus pelan, sebuah tawa getir yang dipaksakan. "Berhenti berakting, Seunghan. Kita sudah melewati masa trainee bertahun-tahun bersama. Aku tahu kapan kau sedang menggunakan 'topeng' itu. Katakan padaku, bagaimana mungkin kau baik-baik saja setelah semua yang mereka lakukan padamu?"
Seunghan masih mencoba bertahan. "Ini hanya konsekuensi, Hyung. Industri ini memang begini—"
"Konsekuensi?" potong Sungchan dengan nada yang mulai meninggi karena rasa sesak di dadanya. "Difitnah, dikhianati teman sendiri, foto-foto masa lalu yang disebarkan tanpa izin, hingga keputusan perusahaan yang membuatmu terombang-ambing selama setahun tanpa kejelasan? Lalu puncaknya... ribuan karangan bunga kematian itu? Kau menyebut itu konsekuensi? Itu adalah eksekusi mati secara mental, Seunghan-ah!"
Sungchan meraih bahu Seunghan, mencengkeramnya dengan lembut namun tegas. "Katakan padaku sejujurnya... bagaimana kondisi psikismu? Apakah kau masih bisa tidur? Apakah kau masih merasa aman saat berjalan di luar?"
Pertanyaan itu seperti jarum yang menusuk balon yang sudah terlalu lama digelembungkan dengan paksa. Pertahanan Seunghan runtuh seketika. Bahunya yang tadi tegak mendadak layu. Kepalanya menunduk, dan untuk pertama kalinya sejak skandal itu pecah, ia membiarkan air matanya jatuh di depan orang lain.
"Aku benci mereka, Hyung..." bisik Seunghan. Suaranya gemetar, pecah menjadi isakan yang menyayat hati. "Aku sangat benci bagaimana mereka memperlakukanku seperti sampah yang harus dibuang."
Sungchan langsung menarik Seunghan ke dalam pelukan yang sangat erat. Kali ini, Seunghan tidak menolak. Ia mencengkeram jaket Sungchan seolah itu adalah satu-satunya pelampung di tengah samudra yang ganas.
"Aku tidak habis pikir..." Seunghan bicara di sela isakannya, suaranya pilu. "Teman yang dulu makan bersama denganku, yang tertawa denganku... bagaimana dia bisa menyimpan foto-foto itu dan memberikannya kepada orang lain hanya untuk menghancurkanku? Apakah persahabatan di industri ini semurah itu?"
Ia mengambil napas panjang, tersengal. "Dan fans... tidak, mereka bukan fans. Mereka adalah monster yang bersembunyi di balik kata 'cinta'. Mereka bilang mereka mendukung grup, tapi mereka mengirimkan karangan bunga kematian ke depan gedung perusahaan. Kau tahu bagaimana rasanya, Hyung? Melihat namamu tertulis di atas pita hitam, seolah-olah aku sudah mati hanya karena aku pernah hidup sebagai manusia biasa sebelum menjadi idol?"
Sungchan hanya diam, membiarkan dadanya menjadi tempat penampungan air mata adiknya. Ia tahu betapa toxic-nya sebagian sisi industri K-pop, di mana seorang idol tidak boleh memiliki masa lalu, tidak boleh membuat kesalahan, dan harus menjadi boneka sempurna yang bisa mereka kendalikan.
"Mereka ingin aku mati secara sosial," lanjut Seunghan dengan nada penuh keputusasaan. "Setiap kali aku membuka ponsel, yang kulihat adalah cacian. Mereka membicarakan moralitasku seolah-olah mereka adalah orang paling suci di dunia. Mereka bertindak kejam, sangat kejam, hingga aku merasa mereka sudah kehilangan sisi kemanusiaannya. Bagaimana bisa melihat seseorang menderita memberikan mereka kepuasan?"
Seunghan melepaskan pelukan sedikit, menatap Sungchan dengan mata yang memerah dan sembab. "Ada saat di mana aku benar-benar ingin menyerah. Aku merasa tidak punya tempat lagi di dunia ini. Tapi kemudian aku ingat... aku punya kalian. Aku punya orang tua yang tetap memelukku saat aku pulang dengan keadaan hancur. Aku punya kalian, member RIIZE, yang diam-diam mengirimiku pesan penyemangat meski kalian dilarang melakukannya oleh manajemen."
"Itu karena kau adalah bagian dari kami, selamanya," kata Sungchan tegas.
"Aku tahu," Seunghan menyeka air matanya dengan kasar. "Itulah yang membuatku bertahan. Sekarang, aku sedang berusaha merapikan puing-puing mentalku. Aku akan memulai dari awal sebagai solois. Bukan karena aku ingin membuktikan apa pun pada mereka yang membenciku, tapi karena aku berutang pada diriku sendiri dan pada orang-orang yang masih mencintaiku."
Baru saja kalimat itu berakhir, pintu ruang rapat terbuka kembali. Bukan manajer yang masuk, melainkan lima orang pemuda yang selama ini selalu bersama mereka. Shotaro, Eunseok, Wonbin, Sohee, dan Anton masuk dengan langkah ragu namun penuh emosi.
Mereka telah berdiri di balik pintu sejak tadi, mendengar setiap isakan dan keluh kesah Seunghan.
Tanpa kata-kata, Shotaro maju paling depan dan merangkul Seunghan dari sisi lain. Tak lama, satu per satu member RIIZE mendekat. Mereka membentuk lingkaran pelukan yang sangat besar di tengah ruangan itu.
"Jangan menangis sendirian lagi," bisik Wonbin sambil menepuk kepala Seunghan.
"Kami ada di sini, meskipun panggung kita mungkin akan berbeda mulai sekarang," tambah Eunseok dengan suara tenangnya yang menenangkan.
"Jangan khawatirkan aku lagi," ujar Seunghan saat mereka harus berpisah di lobi. "Urus saja grup kita. Aku akan menyusul kalian dengan caraku sendiri."
Di dalam lingkaran itu, di bawah cahaya lampu ruang rapat SM yang dingin, kehangatan yang sebenarnya tercipta. Tidak ada sekat antara member yang aktif dan member yang telah 'dikeluarkan'. Di sana hanya ada tujuh orang pemuda yang sedang saling menguatkan dari kejamnya industri yang telah membesarkan sekaligus melukai mereka.
Seunghan memejamkan mata di dalam dekapan rekan-rekannya. Rasa sakit itu masih ada, luka itu belum sembuh sepenuhnya, namun setidaknya ia tahu bahwa ia tidak sedang berjalan sendirian di lembah yang gelap itu.
Beberapa jam kemudian, setelah pertemuan yang penuh air mata itu berakhir, Sungchan kembali ke asrama. Tubuhnya lelah, namun jiwanya merasa jauh lebih ringan setelah melihat Seunghan akhirnya mampu meluapkan emosinya.
Di kamarnya yang sepi, ia merebahkan diri. Saat itulah ia menerima pesan balasan dari Hamin. Pesan tentang foto dirinya dan Ryu yang tertidur di sofa bar.
Hamin: Syukurlah. Noona sejak tadi pura-pura tidak peduli, tapi dia terus-terusan melirik ke arahku. Oh, dan soal s**u jahe... kurasa kau akan kesulitan mendapatkannya karna itu merupakan produk asli indonesia dan biasanya di kirim langsung oleh adiknya dari Indonesia."
Oh ya aku ada kejutan untukmu, semoga kau suka.
Sebuah file gambar masuk. Sungchan membukanya dan seketika ia merasa jantungnya berhenti berdetak sesaat.
Hamin: Foto ini diambil oleh Yerim. Dia bilang, jika kau tidak segera kembali ke bar untuk membayar hutangmu, dia akan mengirimkan foto ini ke Dispatch. Bercanda! Tapi sungguh, Sungchan-ssi, kau terlihat seperti orang yang paling bahagia di dunia saat tidur sambil memeluk singa betina kami.
Sungchan menatap foto itu cukup lama. Foto itu adalah kontras yang luar biasa dari kejadian sore tadi. Di satu sisi ada luka mendalam dari industri hiburan, dan di sisi lain, ada kedamaian murni dalam pelukan seorang gadis yang bahkan tidak peduli apakah dia seorang idol atau bukan.
Ia menyentuh layar ponselnya, tepat pada gambar wajah Ryu.
"Terima kasih sudah memberiku tempat untuk sembunyi, Singa Betina," gumamnya pelan.
Sungchan tahu, esok hari ia harus kembali menghadapi kamera, kembali menjadi 'Sungchan RIIZE' yang sempurna di depan jutaan pasang mata. Namun sekarang, ia punya dua alasan untuk tetap kuat: Seunghan yang sedang berjuang untuk bangkit, dan aroma lavender di sofa abu-abu yang menantinya jika ia kembali merasa dunia terlalu berat untuk dipikul.
Ia mematikan lampu, menutup hari yang panjang itu dengan senyuman kecil. Perjalanan mereka masih jauh dari kata selesai, tapi malam ini, setidaknya semua orang sudah berada di tempat yang aman.