Langkah kaki Sungchan menggema di lorong asrama yang sunyi. Setiap langkahnya terasa lebih mantap dibandingkan saat ia pergi dua hari lalu. Saat ia menempelkan kartu akses pada pintu, bunyi klik yang familiar menyambutnya.
Pintu baru saja terbuka setengah ketika sosok Anton dan Sohee langsung muncul di depan matanya.
"Hyung!" pekik Anton. Suaranya pecah, matanya yang besar seketika berkaca-kaca. Tanpa aba-aba, maknae itu langsung menerjang Sungchan dengan pelukan erat. "Kau dari mana saja? Kami semua sangat khawatir!"
Wonbin dan Shotaro menyusul dari ruang tengah. Kelegaan terpancar jelas di wajah mereka, namun di belakang mereka, berdiri Manager Hyung dengan tangan bersedekap dan wajah yang lebih gelap dari mendung di luar sana.
"Jung Sungchan," suara sang manajer rendah, namun mengandung ancaman yang nyata. "Masuk sekarang. Kita bicara."
Suasana di ruang tamu asrama seketika menjadi tegang. Sungchan duduk di sofa tunggal, sementara sang manajer berdiri di depannya seperti seorang jaket penuntut umum. Member yang lain duduk melingkar di lantai, tidak berani bersuara.
"satu hari, Sungchan. satu hari kau menghilang tanpa kabar. Ponsel mati, CCTV tidak terlacak, dan kau tahu apa yang harus aku katakan pada direksi? Aku harus berbohong sampai lidahku mati rasa!" sang manajer mulai meledak, suaranya naik beberapa oktav. "Kau pilar grup ini! Jika terjadi sesuatu padamu di tengah situasi Seunghan yang sedang panas, RIIZE akan tamat!"
Sungchan menunduk, membiarkan setiap kata-kata itu menghantamnya. "Maafkan aku, Hyung. Aku hanya butuh waktu untuk... bernapas."
"Bernapas? Kau pikir kami tidak butuh napas? Member lain menangis setiap malam memikirkanmu nekat melakukan hal buruk, dan kau bilang hanya butuh waktu?" Manajer itu melangkah maju, jarinya menunjuk tepat di depan wajah Sungchan. "Katakan padaku, di mana kau bersembunyi? Siapa yang membantumu?"
Sungchan terdiam. Ia teringat janji pada Ryu untuk tidak menyeret bar itu ke dalam masalah agensi. "Hanya di sebuah motel kecil. Aku tidak bertemu siapa-siapa."
"Bohong! Kau tidak punya uang tunai yang cukup, dan semua kartu kreditmu sudah terlacak. Kau pasti bersama seseorang—"
"Hyung, sudahlah," Shotaro tiba-tiba berdiri, melangkah maju dan meletakkan tangannya di bahu sang manajer. Suaranya tenang namun penuh otoritas sebagai member tertua.
"Sungchan sudah kembali. Itu yang paling penting. Lihat dia, dia tidak luka, dia juga sudah lebih tenang. Kalau Hyung terus menekannya sekarang, kita hanya akan kembali ke situasi sulit."
Shotaro menatap manajer dengan senyum tipis yang memenangkan. "Biarkan dia mandi dan istirahat dulu. Aku yang akan menjamin dia tidak akan pergi lagi dan aku juga akan bicara padanya soal ini. Bukankah kita punya jadwal rapat dengan perusahaan sore ini? Kita butuh energi untuk itu, bukan untuk bertengkar."
Suasana hening sejenak. Min-seok menatap Shotaro, lalu menatap member lainnya satu per satu. Ia melihat wajah-wajah yang biasanya penuh tawa itu kini tampak layu. Mata Wonbin yang kosong, Anton yang terus menunduk sambil meremas ujung bajunya, dan Eunseok yang biasanya tenang kini terlihat sangat tegang.
Min-seok mengembuskan napas panjang, kemarahannya mendadak menguap digantikan oleh rasa sesak yang sama. Ia bukan hanya manajer bagi mereka; ia adalah orang yang melihat perjuangan mereka dari nol.
"Duduklah," perintah Min-seok pelan, suaranya kini melunak. "Semuanya. Duduk melingkar."
Sungchan ikut duduk di antara Shotaro dan Wonbin. Lingkaran itu terasa sangat pincang. Ada satu ruang kosong yang biasanya diisi oleh Seunghan, dan ruang kosong itu terasa seperti lubang hitam yang siap menyedot semangat mereka semua.
"Aku tahu kalian hancur," buka Min-seok, ia ikut duduk bersila di depan mereka, melepaskan wibawa 'manajer galak'-nya. "Aku tahu kalian merasa agensi ini jahat. Aku tahu kalian merasa gagal melindungi teman kalian. Dan aku tahu, malam itu kalian semua pasti berpikir bahwa tidak ada gunanya lanjut jika kalian tidak lengkap."
Sohee mengusap matanya yang mulai basah lagi. Anton menggigit bibirnya, mencoba menahan isakan.
"Dengar," lanjut Min-seok dengan nada yang sangat dalam dan tulus. "Dunia luar memang kejam. Kadang-kadang, keputusan yang diambil perusahaan bukan karena mereka benci pada satu individu, tapi karena mereka ingin menyelamatkan yang lainnya. Seunghan... dia mengambil keputusan ini juga untuk kalian. Dia tidak ingin melihat kalian semua tenggelam bersamanya karena kebencian orang-orang yang tidak bertanggung jawab."
"Tapi ini tidak adil, Hyung," bisik Wonbin, suaranya serak. "Kami berlatih bersama, menangis bersama. Bagaimana kami bisa bangkit seolah-olah tidak ada yang terjadi?"
"Siapa yang memintamu berakting seolah tidak ada yang terjadi?" potong Min-seok. "Jangan lakukan itu. Jangan pura-pura kuat. Jika ingin menangis, menangislah sekarang di ruangan ini. Jika ingin marah, maki aku sekarang. Tapi setelah kalian keluar dari pintu ini, kalian punya tanggung jawab."
Min-seok menatap Sungchan secara khusus. "Sungchan, kau menghilang karena kau merasa duniamu runtuh. Tapi lihat adik-adikmu di sini. Mereka kehilangan Seunghan, dan mereka hampir kehilanganmu juga karena kau tidak bisa dihubungi. Kau adalah pilar grup ini bersama Shotaro. Jika pilarnya goyah, atapnya akan rubuh."
Sungchan merasakan hantaman di dadanya. Ia teringat ucapan Ryu: 'Jika kau hancur sekarang, maka pengorbanannya menjadi sia-sia.'
"Kalian masih punya fans yang benar-benar mencintai kalian," suara Min-seok kembali menguat, penuh motivasi. "Bukan mereka yang mengirim bunga kematian, tapi mereka yang sekarang sedang menangis di rumah mereka karena takut kalian akan menyerah. Apakah kalian akan meninggalkan mereka juga? Apakah kalian akan membiarkan orang-orang jahat itu menang dengan melihat RIIZE hancur?"
"Tidak," gumam Shotaro pelan.
"Apa?!" tanya Min-seok.
"Tidak akan," Shotaro mengulanginya dengan lebih tegas. Ia meraih tangan Sungchan dan tangan Eunseok di sampingnya. "Kami tidak akan membiarkan mereka menang."
Satu per satu, para member mulai saling berpegangan tangan. Sebuah lingkaran manusia yang mencoba menutup lubang yang ditinggalkan Seunghan dengan cara saling menguatkan.
"Seunghan menyerahkan mimpinya agar mimpi kalian tetap hidup," kata Min-seok, matanya berkaca-kaca. "Cara terbaik untuk menghormatinya adalah dengan menjadi grup paling sukses yang pernah ada. Biarkan dia melihat dari jauh dan merasa bangga bahwa dia pernah menjadi bagian dari sesuatu yang hebat ini. Bisakah kalian melakukannya?"
Sungchan menarik napas panjang. Bayangan Ryu yang sedang mengelap gelas di bar—gadis yang tidak punya filter tapi memberinya tempat untuk bernapas—muncul di benaknya. Ryu benar. Realita memang pahit, tapi meratapinya tidak akan mengubah rasa pahit itu menjadi manis.
"Kita akan bangkit," ujar Sungchan, suaranya kini stabil dan penuh wibawa. Ia menatap teman-temannya. "Kita akan bekerja dua kali lebih keras. Untuk fans yang mendukung kita, untuk diri kita sendiri, dan untuk Seunghan."
Hari itu, RIIZE bertekad tidak akan kalah, mereka akan bangkit dan membuktikan pada semua orang bahwa mereka tidak menyerah.
Mereka juga akan mewujudkan mimpi seunghan yang terhenti. Mereka tidak akan membiarkan pengorbanan Seunghan sia-sia.
Manajer menghela nafas lega melihat situasi member mulai membaik, "Mandilah. Pakai baju yang rapi. Dua jam lagi kita berangkat ke gedung SM. Dan kau, Jung Sungchan... jangan harap interogasi ini selesai sampai di sini."