“Aku pernah datang ke Rainbow Night Club, tapi kamu tidak ada di sana. Lalu, wanita yang menjadi pemandu itu mengatakan kalau kamu sedang mendapat masalah dengan bos pemilik tempat.”
Perkataan tersebut sukses membuat Reni mengangkat kepalanya dan menatap sisi rahang kokoh milik Rafif yang begitu menggoda. Akhirnya, wanita itu pun mendaratkan ciuman ringan di sana membuat sang pemiliknya terkejut.
Kemudian, Rafif pun mendekati wajah Reni dan nyaris bercium*an, tetapi sebuah suara mengejutkan mereka berdua membuat lelaki itu langsung melepaskan rangkulan dan berpura-pura tidak terjadi apa pun.
Sepasang kekasih tampak mendekati keduanya dengan senyuman geli yang terbit dari salah satu mereka. Tentu saja lainnya terlihat tidak suka sekaligus kesal melihat adegan tersebut nyaris diputar ulang.
“Reni, kamu datang benar-benar mengejutkanku. Apakah Rafif adalah lelaki yang kamu ceritakan dulu?” tanya Theo dengan senyuman geli terpatri di wajahnya.
Reni menatap malu-malu, lalu menjawab, “Iya, Kakak Ipar. Dia yang pernah aku ceritakan waktu itu.”
Mendengar hal tersebut membuat Vesenia yang mendengarnya langsung mengernyit tidak percaya, lalu mendudukkan diri tepat di hadapan keduanya. Kemudian, Vesenia menatap Rafif dan Reni secara bergantian.
“Kalian berdua benar-benar saling mengenal?” tanya Vesenia seakan tidak percaya.
“Iya, Kak. Aku dan Rafif memang saling mengenal,” jawab Reni tersenyum geli, tetapi sayang sekali wajah Vesenia justru terlihat kesal membuat Rafif yang mengembuskan napas panjang.
Nyatanya tidak ada yang menyadari perubahan ekspresi Vesenia, selain Rafif. Karena Theo dan Reni tampak sibuk menggoda satu sama lain.
Memang bisa dikatakan Reni cukup mengejutkan bisa menyukai seorang lelaki tanpa bermain-main kembali. Padahal wanita itu bisa dikatakan seorang playgirl yang setiap malam selalu bergonta-ganti pasangan.
Namun, pernyataan kali ini benar-benar mengejutkan. Apalagi ekspresi Renia memperlihatkan bahwa wanita itu menyiratkan sesuatu yang serius.
Setelah itu, Reni pun memutuskan untuk kembali. Karena wanita itu harus segera mengawasi Rainbow Night Club sekaligus melakukan penyamaran sebagai salah satu wanita bayaran.
Sebenarnya Reni ingin sekali berdekatan dengan Rafif. Hanya saja ketika dirinya mengingat ada pekerjaan yang tidak bisa dilewatkan, akhirnya ia pun memilih untuk mengalah. Kemudian, Reni pun memutuskan untuk bergerak ke tempat itu sendirian. Karena kedatangannya hanya untuk menyapa dua kakak yang sudah lama sekali tidak bertemu.
Sepeninggalnya Reni yang memutuskan untuk bekerja, Rafif pun tidak memiliki pilihan lain, selain membiarkan wanita itu untuk pergi seorang diri. Sebab, ia tidak akan bisa keluar dengan leluasa seperti dulu. Apalagi ia sempat mendengar polisi akan melakukan pengecekan terhadap seluruh bisnis milik Theo dan mengawasi setiap pergerakannya.
Di saat Rafif tengah membaca salah satu buku mengenai kepolisian, tiba-tiba pintu kamarnya diketuk membuat lelaki itu mengalihkan perhatiannya sesaat. Kemudian, mengembuskan napasnya panjang. Ia tahu siapa seseorang yang berdiri di balik pintu.
“Ada apa, Nona Ovt?” tanya Rafif mengeraskan suaranya dari dalam kamar. Ia tidak akan membuka pintu tersebut kalau tidak ingin menyesali perbuatannya sendiri.
“Rafif, kamu benar-benar mengejutkan. Tanpa membuka pintu pun sudah mengetahui bahwa ini aku,” jawab Vesenia terdengar antusias.
Membuat Rafif tertawa paksa dengan bernada mengejek, lalu bergumam, “Jelas aja gue tahu itu lo. Mana ada Pimpinan Vald yang biasa langsung menelepon jika ingin memanggilnya tanpa harus repot-repot datang.”
“Rafif, keluarlah! Aku ingin bicara sesuatu padamu,” ucap Vesenia ketika menyadari tidak ada respon apa pun dari dalam.
“Bicaralah dari sana saja, aku akan mendengarkan semua perkataanmu,” balas Rafif terdengar acuh tak acuh.
“Oh, ayolah dibuka, Rafif. Aku benar-benar ingin bicara serius padamu,” ujar Vesenia dengan nada memohon.
Sedangkan Rafif yang mulai merasa iba pun perlahan membuka handle kamar dari dalam membuat kunci tersebut sukses terbuka memperlihatkan seorang wanita berpakaian gaun tidur yang sangat tipis dan transparan.
Sontak hal tersebut membuat Rafif melebarkan matanya terkejut dan langsung menarik Vesenia masuk ke dalam. Ia takut jika ada salah satu pelayan melihat kedatangan wanita itu, lalu mengadukannya pada Theo. Akan berakibat sangat fatal.
Vesenia yang melihat kepanikan di wajah Rafif pun tertawa pelan, lalu memeluk punggung lelaki itu dengan sangat erat. Enggan untuk melepaskannya membuat Rafif mengembuskan napas panjang.
“Noan Ovt, apa yang ingin kamu lakukan? Tolong jangan seperti ini. Kita akan mendapat masalah jika ketahuan,” ucap Rafif berusaha melepaskan tangan yang melingkari tubuhnya dengan begitu lengket.
Sejenak Vesenia mengendurkan pelukan tersebut, lalu mengembuskan napasnya panjang melangkah menghampiri ranjang cukup besar yang masih terlihat rapi.
“Aapa kamu tahu kepergian Theo ke Slovenia?” tanya Vesenia mengerucutkan bibirnya kecewa.
Rafif mengangguk kaku. “Aku ... aku memang mengetahuinya. Bukankah dia sudah bilang ingin berpamitan?”
“Iya, berpamitan. Tapi, dia benar-benar mengejutkanku, Rafif. Dia sama sekali tidak mengatakan apa pun tentang kepergian kali ini. Membuat aku sadar bahwa Theo sangatlah sibuk dengan pekerjaannya sampai melupakan diriku,” keluh Vesenia merebahkan tubuhnya sembari menatap langit-langit kamar.
Sebagai seorang lelaki normal melihat ada seorang wanita bertubuh sint*l tertidur di ranjangnya jelas akan membangkitkan sedikit gairah. Apalagi gaun tidur tipis itu menerawang nakal pada area yang sengaja diperlihatkan dengan begitu kuat.
“Kenapa kamu menatapku seperti itu, Rafif? Apa kamu baru saja tergoda?” tanya Vesenia tersenyum nakal sembari memiringkan tubuhnya dengan sedikit menggoda.
“Tidak!” jawab Rafif cepat sembari menelan air liurnya susah payah melihat tubuh Vesenia benar-benar menggair*hkan.
Sejenak wanita itu tersenyum miring dan kembali mendudukkan diri. Akan tetapi, siapa sangka kalau ternyata Vesenia malah melucuti pakaian luarnya yang menutupi gaun dengan tali tipis menggantung lebih rendah.
Satu perhatian Rafif, yaitu pada sepasang benda bulat yang ternyata tidak memakai penutupnya. Membuat sebuah tonjolan kecil mencuat sempurna membuat Rafif mendadak terasa bergetar di seluruh tubuhnya.
Rafif tidak naif jika mengatakan sama sekali tidak tergoda oleh tubuh Vesenia. Lelaki mana pun dan sekuat apa pun pasti akan merasakan hal yang sama.
Kemudian, Vesenia pun bangkit menghampiri Rafif yang masih berdiri di ambang pintu. Tatapan wanita itu sama sekali tidak teralihkan ke mana pun, selain pada sepasang mata hitam pekat yang memperlihatkan keganasan sekaligus kegair*han di sana.
Sesampainya tepat di hadapan Rafif, wanita yang hanya mengenakan dalam gaun tidur itu pun melingkarkan kedua tangannya ke sepanjang leher Rafif dan menarik tekuk lelaki itu agar sedikit merendah.
Vesenia tersenyum miring dan langsung mendaratkan bibirnya tepat di atas bibir milik Rafif. Saling bertaut satu sama lain membuat suara decapan terdengar luar biasa. Membelah keheningan kamar yang biasa digunakan oleh Rafif mencari ketenangan.