Makan malam pun terjadi dengan begitu hening sampai rasanya Rafif ingin sekali mempercepat gerakan suapan, tetapi ketika melihat dua orang di depannya santai membuat lelaki itu mengurungkan niatnya dan kembali melahap secara perlahan sesekali mengambil lauk di hadapan untuk menutupi tingkahnya yang mulai tidak nyaman.
Sebab, tatapan Vesenia benar-benar membuat hati Rafif sedikit bergetar. Ia tidak mungkin mencintai wanita itu, karena di dalam lubuk hatinya terdapat seorang wanita yang mengisi hatinya secara penuh. Walaupun sampai hari ini dirinya tidak pernah mengetahui kabar wanita tersebut.
Saat ketiganya asyik makan malam dengan suara hening tiba-tiba terdengar suara seseorang masuk diikuti panggilan sedikit keras layaknya berada di hutan. Namun, tubuh Rafif mendadak menegang ketika menyadari suara seseorang itu mirip dengan suara yang ada di ingatannya.
Kemudian, Rafif pun menoleh dengan mulut yang menganga tidak percaya. Terlebih pada Vesenia yang langsung berlari menghampiri orang tersebut dan memeluk tubuh mungilnya dengan sedikit merendahkan diri, lalu tertawa pelan.
Setelah selesai melepaskan rindu dengan Vesenia, seseorang itu pun menatap ke arah meja makan besar yang berisikan Theo dan seseorang yang tanpa sadar tatapan mereka berdua bertabrakan satu sama lain.
“Reni,” panggil Rafif tanpa sadar bangkit dari tempat duduknya.
Nyatanya Reni benar-benar melebarkan matanya tidak percaya, tetapi wanita itu memilih untuk diam dan mengalihkan perhatiannya pada Theo yang langsung terpaku pada keduanya.
“Kakak Ipar!” sapa Reni tersenyum lebar dan berlari kecil memeluk lelaki tersebut.
Theo yang melihat hal tersebut langsung bangkit dari tempat duduknya dan menyambut pelukan hangat. Lelaki itu mengacak rambut Reni lembut sembari tertawa pelan.
“Ke mana saja baru datang ke sini?” tanya Theo melepaskan pelukan tersebut, tetapi masih tetap merangkul bahu Reni dengan memegang erat pada lengan wanita itu.
“Aku sibuk sekali di Rainbow Night Club, Kakak Ipar. Sekarang aku baru memiliki waktu untuk kembali dari tempat itu,” jawab Reni mengerucutkan bibirnya kesal, lalu menatap ke arah Rafif yang masih menatap tanpa berkedip.
Sedangkan Theo yang mengetahui tatapan itu pun langsung tersenyum tipis, dan melepaskan rangkulan bahu tersebut dengan mendorong pelan mengkode pada Reni untuk segera mendekati Rafif.
Wanita itu tersenyum paksa, lalu mengangguk pelan. Kemudian, Reni mengkode melalui pandangan mata agar Rafif mengikuti dirinya. Setelah itu, keduanya pun benar-benar melenggang pergi dari ruang makan meninggalkan Theo dan Vesenia yang menatap penasaran.
Langkah kaki Reni bergemeletuk pelan mengusir kekosongan mansion yang memimpin ke arah sayap kiri dengan kolam renang terlihat penuh nan bersih. Wanita itu menghentikan langkah kakinya tepat di tepi kolam, lalu membalikkan tubuh menatap seorang lelaki yang ternyata berdiri tepat di depannya. Nyaris saja dahi wanita itu terkena bibir yang tanpa sadar membangkitkan gejolak sesuatu di dalam dirinya.
Sejenak Reni berpindah menyamping menghindari posisi int*m dari Rafif yang terlihat menatap dirinya dengan begitu serius. Ia sudah mengerti apa yang dipikiran lelaki itu, tetapi memilih untuk diam. Sebab, dirinya ingin bertanya lebih serius.
“Apa yang kamu lakukan di sini?” tanya Reni membuka percakapan dengan tatapan tak gentar pada Rafif, walaupun jauh dari lubuk hatinya merasa bergetar.
“Bekerja,” jawab Rafif lugas.
Reni mengembuskan napasnya kasar. “Aku peringatkan padamu, Rafif. Jangan pernah mengusik Theo kalau tidak ingin tahu akibatnya. Apalagi sampai berkhianat di belakang lelaki itu, maka kamu tidak akan pernah bisa merasakan keindahan dunia.”
“Bukankah kamu sudah menonton media massa yang mengatakan seorang polisi menghilang sampai hari ini? Seharusnya kamu terkejut, Reni. Karena aku datang ke sini bukan kemauanku sendiri, melainkan Pimpinan Vald yang mengajakku. Jadi, apa salahku menuruti kemauannya?” balas Rafif memasukkan kedua tangannya ke dalam saku dengan santai.
“Kamu pikir aku bod*h sampai tidak menyadari niat aslimu datang?” sinis Reni tertawa pelan.
Melihat hal tersebut secara perlahan Rafif pun mendekati Reni dan meraih dagu mungil itu untuk membawanya mendongak menatap penuh. Rafif menatap tepat pada mata Reni. Menghunus kornea mata cokelat gelap akibat sinar lampu yang tidak terlalu gelap.
Sejenak keduanya saling bertatapan satu sama lain. Menganggap waktu akan berhenti begitu saja seiring detakan jantung dari keduanya terasa begitu cepat nan berirama.
“Reni, aku sangat merindukanmu. Tapi, mengapa sikapmu seakan aku mengusik Pimpinan Vald. Padahal kita baru saja bertemu,” bisik Rafif lembut dengan nada rendah yang begitu dalam.
Reni tidak mengatakan apa pun. Wanita itu melepaskan tangan Rafif dari dagunya dan beralih menatap genangan air yang bergerak akibat angin malam menyapu dengan sedikit kencang. Rasanya malam ini akan hujan seiring dengan hawa dingin merayap ke pori-pori kulit.
“Apa yang Theo inginkan?” tanya Reni menoleh sesaat pada lelaki yang masih menatap dirinya penuh.
Rafif tersenyum tipis, dan menarik lembut lengan Reni untuk berdiri di dekat kursi santai. Kemudian, mendorong pelan pundak wanita itu mendudukkan diri di sana.
“Aku memang tidak tahu apa yang Pimpinan Vald inginkan sampai menculik dan menyandera diriku seperti ini, tetapi yang jelas aku datang bukan karena niat tidak baik. Melainkan memang benar-benar atas perintah dari Pimpinan Vald,” jawab Rafif mengembuskan napasnya panjang dan mendudukkan diri tepat di samping Reni dengan sedikit berjauhan. Sebab, ia ingin memberi ruang bagi wanita cantik yang sudah lama mengisi hatinya untuk mengerti keadaan.
“Kenapa kamu melepaskan pekerjaan sebagai polisi?” tanya Reni penasaran sekaligus bingung. Karena siapa pun pasti tidak akan ada yang menyangka jika dulunya dua orang berbeda pekerjaan dan saling memusuhi, kini berubah total dengan mendukung satu sama lain.
“Menjadi polisi sangat melelahkan. Aku tidak akan hanya melindungi orang banyak, melainkan keluargaku pun ikut harus dilindungi agar sesuatu tidak terjadi. Karena semakin sering menanggapi orang-orang jahat, maka keluargamu akan semakin terancam, Reni. Jadi, lebih baik aku melepaskan pekerjaan sebagai polisi dan berhubungan langsung dengan Pimpinan Vald,” tutur Rafif panjang lebar sembari mendongakkan kepalanya lelah.
Reni tersenyum tipis dan mengangguk singkat, lalu wanita itu pun secara perlahan mendekati Rafif. Kemudian, meletakkan kepalanya di lengan kokoh milik lelaki tersebut.
“Aku merindukanmu, Rafif. Sudah lama sekali kita tidak bertemu,” bisik Reni mengembuskan napasnya berat.
Lelaki yang hilang akibat perasaan semu itu pun mendekap tubuh mungil Reni untuk merapat pada tubuhnya mencari kehangatan.
“Aku pernah datang ke Rainbow Night Club, tapi kamu tidak ada di sana. Lalu, wanita yang menjadi pemandu itu mengatakan kalau kamu sedang mendapat masalah dengan bos pemilik tempat.”
Perkataan tersebut sukses membuat Reni mengangkat kepalanya dan menatap sisi rahang kokoh milik Rafif yang begitu menggoda. Akhirnya, wanita itu pun mendaratkan ciuman ringan di sana membuat sang pemiliknya terkejut.