Keesokan paginya, seorang lelaki tampan yang shirtles*s itu pun menggeliat pelan sembari meraih ponsel di atas nakas. Lelaki itu meraba-raba pada sesuatu yang ada di sana, sampai akhirnya mengembuskan napas panjang mendapati benda tersebut menyala dengan begitu terang.
Sejenak Rafif terduduk sembari memperjelas penglihatannya pada ponsel yang sudah menunjukkan pukul 06.00 am. Membuat lelaki itu mengembuskan napasnya panjang dan bangkit menuju kamar mandi yang berada di dalam kamar.
Sesaat Rafif membersihkan wajah sekaligus mengosok gigi sembari menatap pantulan cermin wastafel di depannya. Lelaki itu sesekali menyisir jambul yang mulai terlihat panjang menggunakan jemari tangan.
Namun, ingatan lelaki itu mengarah pada malam di mana Vesenia benar-benar di luar dugaan. Untung saja dirinya bisa menyiasati hal tersebut dengan membiarkan wanita itu tidur seorang diri di dalam kamarnya.
Sebab, pada malam itu Rafif memang menuruti permintaan Vesenia untuk melakukan sebuah hubungan. Hanya saja ia menginginkannya di dalam kamar wanita itu agar tidak ada satu orang pun yang menyadarinya.
Sampai tiba di sana, tanpa pikir panjang Rafif langsung memukul pundak wanita itu hingga terjatuh di lantai tidak sadarkan diri. Sedikit jahat sampai lelaki itu diam-diam tersenyum membayangkan kejadian semalam.
Tak lama kemudian, Rafif pun telah menyelesaikan aktivitas paginya dan siap turun ke bawah untuk melakukan sarapan bersama yang hanya dihadiri oleh Vesenia. Wanita yang duduk di kursi makan tengah itu pun memijat bahunya sembari meringis pelan membuat Rafif diam-diam menahan senyum.
“Selamat pagi, Tuan Rafif!” sapa beberapa pelayan menunduk bersamaan, lalu mulai menyiapkan piring beserta lauk pauk untuk sarapan.
Vesenia yang mendengar panggilan itu pun langsung menoleh, dan mengernyit tidak percaya Rafif melemparkan senyuman pada dua pelayan muda yang terlihat kegirangan.
“Aku harap kamu tidak akan lupa dengan jadwal pagi ini, Tuan Rafif,” celetuk Vesenia dengan nada sinis.
“Tenang saja, Nona Ovt. Aku sudah memberikan semua berkas rapat ke emailmu. Silakan dicek saja,” balas Rafif santai sembari menikmati sarapannya dengan sesekali memuji dua koki yang berdiri menatap penuh harap. Karena Theo memiliki sebuah kebiasaan yang akan mengganti koki ketika makanannya sudah tidak bisa lagi dimakan.
Tentu saja bagi sebagian orang yang mengandalkan uang bayaran dari koki mansion sangat membutuhkan pekerjaan. Hanya saja terkadang tidak bisa membedakan situasi di tempat kerja ataupun di rumah. Membuat kelalaian bisa saja terjadi. Padahal kalau memuaskan, Theo tidak akan segan untuk memberikan bonus yang luar biasa.
Selama beberapa saat menyantap sarapan, akhirnya Rafif pun meletakkan pelaratan makannya dan menatap ke arah salah satu pelayan yang berdiri di belakang Regina. Sebab, wania itu tidak ada henti-hentinya berkomentar.
“Tolong bawakan ini ke belakang, ya. Tinggalkan saja Nona Ovt ada aku di sini yang akan melayaninya,” titah Rafif halus membuat dua pelayan, dua koki, dan kepala pelayan itu pun mengangguk singkat. Kemudian, secara bersamaan pun mereka menghilang.
Pengusiran kali ini memang sedikit mengejutkan. Sebab, Rafif hanya tidak ingin kalau semua pelayan tersebut dijadikan sebagai bahan pelampiasan bagi Vesenia yang kesal terhadap dirinya.
“Makan secara perlahan, Nona Ovt. Kamu akan tersedak jika menggunakan emosi, sedangkan bibir mungil yang merah merona itu sudah tidak lagi tahan menampung semua kunyahan di dalam mulutmu,” ucap Rafif tersenyum tipis, lalu meraih salah satu buah jeruk yang ada di atas meja.
“Rafif, apa yang sudah kamu lakukan terhadap saya? Mengapa pagi ini saya bangun berada di kamar sendiri?” tanya Vesenia berpura-pura acuh sembari terus memakan sarapan tanpa henti, walaupun gerakan kunyah tersebut sangat santai.
“Bukankah aku sudah mengatakan padamu bahwa di kamarku sama saja mengantarkan maut?” Rafif terlihat santai memakan buah yang ada di tangannya.
“Iya, aku tahu. Tapi, aku tidak yakin kita sudah melakukannya semalam. Karena aku tidak bisa merasakan apa pun permainan yang kamu berikan, Rafif,” balas Vesenia mengernyitkan keningnya penasaran.
Sontak hal tersebut membuat Rafif ingin sekali tertawa lebih kencang. Ternyata Vesenia benar-benar polos sampai tidak mengingat bahwa wanita itu langsung terjatuh pingsan dan belum melakukan apa pun.
“Apa kamu menggunakan pelindung yang rekat? Aku tidak ingin mempunyai anak sebelum menikah. Walaupun aku senang bermain, tetapi masalah masa depan aku akan tetap memikirkannya sampai matang.”
“Tenang saja aku bermain dengan pelan dan berirama. Kamu tidak akan merasa kesakitan, yang ada terus meneriaki namaku.”
“Kamu yakin?”
“Untuk apa aku berbohong?”
Vesenia pun langsung menahan senyumnya sesaat, lalu menundukkan wajah sembari menikmati waffle kering buatan salah satu koki.
Sarapan pagi pun selesai lebih cepat daripada tidak sarapan sama sekali. Sebab, hari ini bertempur cukup banyak membuat sarapan adalah kunci terpenting bagi kita yang merasa kelalahan dengan berbagai aktivitas padat.
Akhirnya, Rafif dan Vesenia pun berangkat bersama menggunakan mobil pribadi LUCA. Tentu saja keduanya menuju pabrik makanan yang hari ini akan ada kedatangan audit. Membuat segala persiapan harus dilakukan agar tidak ada kesalahan apa pun. Kalau secuil saja terjadi kesalahan, maka harus mempersiapkan diri untuk menutup paksa pabrik tersebut.
Sesampainya di pabrik pun mereka berdua tidak mengatakan apa pun, selain bersikap dingin layaknya bawahan dan atasan. Karena mengingat di sini banyak sekali mata memandang yang akan melaporkan banyak hal pada Theo.
Akan tetapi, ketika sampai di ruangan Vesenia, wanita yang awalnya melangkah lebih dulu pun langsung berbalik dan memeluk leher Rafif sembari mencium bibir lelaki itu dengan memanggutnya sedikit gair*h. Bahkan tidak dapat dipungkiri bawah Rafif langsung menarik tubuh wanita itu agar melengket ketat pada tubuhnya.
Selama beberapa saat berciuman, akhirnya Rafif pun melepaskan panggutan tersebut dan menatap wajah cantik Vesenia yang terengah-engah akibat lamanya durasi ciuman penuh nafs* tersebut.
“Kamu benar-benar nakal, Rafif,” ucap Vesenia tersenyum lebar.
“Bukankah kamu juga melakukan hal yang sama?” balas Rafif tersenyum miring sembari meremas pelan lengan wanita tersebut.
Sejenak Vesenia memejamkan matanya merasakan setiap sentuhan yang diberikan oleh Rafif, lalu mencium kembali bibir yang semakin lama membuat ia candu. Entah kenapa Vesenia belum merasakan sesenang ini, walaupun sudah berkencan lama dengan Theo. Hanya dengan Rafif ia merasakan sesuatu yang berbeda.
“Rafif, sepertinya ... aku mencintaimu,” ungkap Vesenia sedikit gugup.
Sedangkan Rafif tampak terkejut sekaligus menghentikan remas*an pada lengan wanita itu. Ia menatap tanpa ekspresi tepat ketika mendengar pernyataan cukup sakral dan tidak semua orang bisa mengungkapkannya begitu saja.
“Mengapa kamu bisa mengatakan seperti itu? Kita baru saja saling mengenal, dan kamu juga tahu kalau aku menyukai Reni,” balas Rafif tanpa melepaskan rengkuhan yang ada di pinggang Vesenia.