Setelah selesai bekerja di bawah kepemimpinan Vesenia yang cukup menguji hati, akhirnya Rafif pun bisa bernapas lega. Meskipun tidak dapat dipungkiri berada di mansion akan membuat dirinya kembali bertemu, tetapi ia percaya tidak akan lebih berani dibandingkan ketika berada di pabrik.
Langkah kaki jenjang nan tegap berotot itu pun menaiki satu per satu anak tangga yang menuju pintu utama dengan penjagaan super ketat, sebab terdapat empat pengawal berdiri dengan sesekali melangkah mengawasi sekitar mansion pribadi milik Theo.
Rafif tersenyum singkat melihat sapaan yang terlontar pada dua pengawal sembari membukakan pintu untuknya. Kemudian, ia melenggang masuk dengan menggenggam tas tangan kerja dan melangkah cepat menuju lantai dua yang menjadi tempat keberadaan kamarnya.
“Tuan Rafif!”
Tiba-tiba langkah kaki itu terhenti, lalu menoleh ke arah bawah yang memperlihatkan seorang pelayan paruh baya tengah menatap dengan penuh harap.
“Ada apa?”
Pelayan tersebut menunduk hormat, lalu menjawab, “Pimpinan Theo meminta Tuan Rafif untuk segera ke ruangannya.”
Sejenak Rafif mengernyitkan keningnya bingung. Jarang sekali Theo meminta dirinya datang selain pada makan malam. Tentu saja hal tersebut membuat jantungnya mendadak berdetak dua kali lebih cepat, lalu mengangguk pelan.
“Aku akan segera ke sana setelah menaruh ini,” ucap Rafif tersenyum singkat.
Setelah itu, Rafif pun mempercepat langkahnya menuju kamar untuk menaruh sekaligus mengantongi sebuah benda yang mungkin akan berguna ketika terjadi sesuatu tidak terduga.
Kemudian, lelaki tampan yang masih mengenakan pakaian jas formal berwarna merah itu pun melenggang keluar dengan memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana bahan panjang sembari menaiki tangga menuju ruangan lain khusus bagi Theo dan kekasihnya.
Sejenak Rafif merasa ragu untuk kembali menaiki tangga tersebut, tetapi tekadnya lebih kuat membuat lelaki itu melanjutkan langkahnya sampai terhenti tepat di depan pintu ruangan berwarna hitam tertutup rapat.
Menarik napas panjang di balik keterdiaman itu pun membuat Rafif mengetuk pintu ruangan tersebut sampai terdengar suara seseorang dari dalam. Lelaki itu menatap teguh pada Theo yang terduduk sembari menikmati sebuah batang dengan bagian ujungnya terbakar.
“Pimpinan Vald, kamu mencariku?” tanya Rafif sembari meletakkan kedua tangannya di depan tubuh dengan sikap penuh hormat.
“Duduklah, Rafif! Aku ingin bicara beberapa hal padamu,” jawab Theo menunjuk sebuah kursi yang berada tepat di hadapannya.
Rafif mengangguk singkat dan mengikuti perintah lelaki yang ada di hadapannya untuk duduk di kursi tersebut. Ia menatap penuh pada lelaki dewasa yang terlihat gagah dengan berbagai pengalaman pekerjaan gelap.
“Bagaimana pekerjaan di pabrik? Tidak ada yang menyulitkanmu, bukan?” tanya Theo mengulangi pertanyaan yang sama seperti ketika Rafif baru saja bekerja.
“Tidak ada, Pimpinan Vald. Semua berjalan seperti biasa dengan banyak sekali pesanan mulai memadati daftar produksi selama enam bulan ke depan,” jawab Rafif mengangguk singkat.
“Ini jauh lebih besar pada saat kehadiranmu dibandingkan ketika aku masih menjalankan pabrik ini dulu,” ujar Theo tertawa pelan.
“Benarkah? Mungkin akibat polisi sudah melonggarkan perhatiannya padamu, Pimpinan Vald. Karena sampai hari ini tidak ada satu pun yang mengetahui keberadaanku,” balas Rafif tersenyum miring.
“Bukan, maksudku ketika kamu datang ke sini semua produksi di pabrik benar-benar meningkat. Akibat semua karyawan bersemangat akan keberadaanmu, Rafif.” Theo tersenyum miring, lalu meraih sesuatu dari dalam loker dan menyerahkannya pada Rafif.
“Apa ini, Pimpinan Vald?” tanya Rafif penasaran dan meraih berkas tersebut dengan kening yang berkerut.
“Ini berkas yang akan kamu gunakan untuk mengelola pabrik. Karena aku ada perjalanan bisnis menuju Slovenia, jadi kamu harus mengggantikan posisiku selama tidak ada di sini. Agar keadaan pabrik tetap terorganisir sekaligus menjaukan dari hal-hal yang merugikan pabrik,” jawab Theo mengembuskan napasnya panjang sembari memandangi Rafif serius.
“Dengan siapa kamu pergi, Pimpinan Vald? Apakah aku tidak ikut juga?”
“Tidak perlu. Aku hanya akan ke Slovenia seorang diri karena Vesenia akan tetap di sini untuk mendampingimu agar bisa melakukan rapat produksi dengannya.”
“Kamu terdengar ingin pergi lebih lama, Pimpinan Vald.”
Mendengar hal tersebut, Theo pun tertawa pelan dan mengangguk pelan. “Memang bisa dikatakan seperti itu, tetapi tenang saja aku akan terus memantau di sini. Karena ada beberapa hal mendesak di Slovenia yang mengharuskanku ke sana.”
“Kapan kamu berangkat, Pimpinan Vald?”
“Setelah Vesenia kembali dan aku akan berpamitan dengan dia lebih dulu. Karena dia akan marah ketika aku pergi secara diam-diam.”
“Baiklah, safe flight. Aku akan menjalankan semua tugasmu dengan baik,” pungkas Rafif tersenyum tipis.
Setelah itu, Rafif pun melenggang keluar sembari membawa berkas di tangannya menguju kamar. Awalnya ia pikir Theo sudah mengetahui kebenaran kedatangan dirinya, tetapi siapa sangka kalau ternyata lelaki itu malah benar-benar mempercayakan perusahaannya sendiri pada dirinya.
Namun, Rafif tidak akan merasa terharu akan tindakan lelaki itu. Nyatanya ia datang untuk membalaskan dendam keluarganya sendir, dan hal itu yang menjadi penguat Rafif agar tetap mengingat tujuan kedatangannya tanpa mengikuti kata hati lain.
Kebetulan jam makan malam masih lama membuat Rafif bisa mengistirahatkan tubuhnya lebih dulu dengan mendudukkan tubuhnya pada kursi santai yang berada di balkon sembari memandangi halaman samping mansion tersebut.
Bisa dikatakan pilihan Theo benar-benar strategis. Memang jauh dari tetangga dengan sekat pepohonan membentuk hutan kecil di sampingnya yang begitu rindang.
Ketika dibandingkan dengan kediaman Rafif sebelumnya, jelas tempat ini bukanlah apa-apa. Karena mansion yang hanya dihuni oleh 2 pemilik dengan puluhan pelayan dan ratusan pengawal itu pun benar-benar ramai. Tidak ada hari sepi, meskipun akhir pekan tiba.
Walaupun tidak dapat dipungkiri terkadang Rafif merasa resah ketika menyadari dirinya berada di kediaman orang lain untuk bekerja sekaligus menyamar menyelidiki kasus yang selama ini terbengkalai.
Terkadang Rafif merasa takut ketika Theo mengetahui semuanya dan membunuh secara diam-diam ketika dirinya sedang tidur. Bahkan Theo pun tidak takut untuk menc*lik ketika dirinya masih bertugas.
Hal tersebut menjadikan pembelajaran terbaru bagi Rafif untuk menyadari kondisi Theo yang kelewat berani sekaligus tidak takut akan hal apa pun mungkin terjadi. Sebab, lelaki itu bisa dikatakan telah melewati banyak kejadian, termasuk di ambang hidup dan mati.
Sehingga untuk tindakan seperti jelas bukanlah masalah besar bagi dirinya, selagi tidak ditangkap oleh siapa pun, Theo masih bisa mengelak.
“Benar-benar rumit,” gumam Rafif menggunakan tangan kanannya sebagai bantalan sembari menatap keindahan alam kecil yang jarang sekali bisa dinikmati seperti ini dalam keadaan santai tanpa melakukan sesuatu.