Regina sama sekali tidak menyangka Jarvis akan mengajaknya berlibur ke mal cukup ramai. Lelaki itu tampak begitu gagah mengenakan kemeja hitam yang tergulung hingga ke siku dengan di sampingnya terdapat seorang wanita cantik bergaun selutut dengan motif renda berwarna biru cerah.
Keduanya terlihat menyusuri mal yang sembari sesekali memasuki toko bermerek terkenal. Regina yang tidak memiliki kebiasaan seperti banyak wanita lain dengan membeli barang mewah pun hanya menatap tanpa minat.
Sebenarnya wanita itu juga memiliki kebiasaan untuk membeli barang mewah menjadi investasi, tetapi tidak selamanya Regina selalu membeli barang mewah hanya berinvestasi. Nyatanya Regina lebih memilih untuk memasukkan semua uangnya ke dalam deposito demi mendapatkan bunga cukup lebih.
“Nona Owl, apakah kamu tidak ingin membeli sesuatu?” tanya Jarvis melirik ke arah wanita yang membawa paper bag berisikan beberapa pakaian mewah dengan harga cukup mahal, tetapi memang tidak semahal belanjaan yang dibawa oleh Jarvis. Sebab, lelaki itu membeli banyak barang untuk mengisi barang lainnya yang sudah rusak dan usang.
“Tidak. Lebih baik aku memakan sesuatu untuk mengganjal perut,” jawab Regina menolak pertanyaan yang mengandung ajakan tersebut.
“Kalau begitu, kita makan ke restoran Italia atau sushi tei?” tanya Jarvis lagi. Kali ini kebetulan sekali keduanya berada tepat di depan dua tempat makanan yang cukup terkenal dan mahal.
“Skip keduanya. Aku mau makan Kentucky Friend Chicken. Kemarin kebetulan sekali aku menginginkan ayam renyah mengandung sedikit bumbu rempah yang khas,” tolak Regina menggeleng pelan.
Kemudian, wanita itu pun melenggang pergi lebih dulu menuju escalator yang beranjak naik membawa mereka berdua ke lantai khusus stand makanan. Di belakang Regina terdapat Jarvis yang memastikan tubuh wanita itu tidak menjadi santapan liar bagi bebetapa lelaki di bawah.
Sesampainya di ujung escalator, Regina pun membalikkan tubuhnya memastikan Jarvis masih berada di belakang. Lelaki tampan yang sejenak meninggalkan pakaian dinas itu pun terlihat sangat tampan.
“Kebetulan Imperial Kitchen buka, Perwira Jarvis. Apa kamu ingin membawa pulang makanan dulu?” celetuk Regina menunjuk ke arah restoran cukup mewah dengan pengunjung hitungan jemari.
“Tidak perlu. Kita bisa memesannya nanti saat menunggu di fast food asal Amerika Serikat,” tolak Jarvis menggeleng pelan sembari meraih pergelangan tangan wanita itu dan membawanya menuju restoran yang cukup digemari oleh banyak orang.
Pilihan Jarvis jatuh pada bangku yang tidak jauh dari taman bermain anak-anak di sudut ruangan. Sebuah permaianan cukup menyenangkan itu terdengar gelak tawa bahagia tanpa beban membuat Regina yang mendengarnya ikut tersenyum.
“Kamu tunggu di sini biar aku saja yang mengantri,” titah Jarvis tersenyum singkat dan meletakkan seluruh pakaiannya
Tak lama kemudian, Jarvis pun datang lengkap dengan nampan di tangannya. Lelaki tampan itu pun tersenyum lebar menatap Regina yang menyambut dengan hangat membantu menurunkan nampan berisikan banyak sekali menu.
Tentu saja Regina langsung melebarkan matanya saat melihat banyak sekali makanan tersedia di atas nampan. Hampir memenuhi sudut ruang benda tersebut. Membuat wanita itu diam-diam meringis pelan melihat betapa banyaknya makanan tersedia sampai rasanya ingin melahap semua yang ada di sana.
Akan tetapi, Regina sadar akan keberadaan dirinya sendiri yang bersama lelaki lain, dan bukan Rafif. Kalau saja ia bersama adiknya, mungkin tidak akan ragu untuk menghabiskan seluruh makanan yang ada di sana sampai perutnya kekenyangan.
“Kenapa ditatap seperti itu? Makanlah! Aku tidak tahu apa yang kamu inginkan, jadi aku membeli semua menu yang ada di sana,” ujar Jarvis meringis pelan sembari mengusap tekuknya tidak enak. Ia benar-benar merasa bod*h telah membelikan Regina makanan yang kelewat banyak.
“Tidak apa-apa, Perwira Jarvis. Aku menyukai semua makanan ini,” balas Regina tertawa pelan dan mulai mengambil satu per satu menu yang ada di nampan untuk segera beralih ke dalam perutnya.
Sementara itu, di sisi lain terlihat seorang lelaki bertubuh kekar tengah menyusuri dalam mal dengan pandangan yang sesekali mengarah pada restoran. Lelaki itu terlihat sedang mencari seseorang sampai pandangannya terhenti pada salah satu pengunjung restoran yang menarik perhatian.
Beryl menatap keberadaan Jarvis bersama seorang wanita yang terlihat tidak asing, tetapi sayang sekali ia tidak bisa melihatnya dengan jelas. Karena wanita tersebut membelakangi dirinya membuat Beryl hanya bisa melihat punggung mungil.
Tiba-tiba tatapan mereka bertemu membuat Jarvis mengangguk singkat dan langsung berbicara sesaat pada wanita tersebut, kemudian melenggang keluar dari restoran. Sedangkan Beryk yang mengetahuinya pun langsung mengikuti sembari sesekali menoleh ke arah lain.
Sesampainya di sebuah lorong sepi menuju basement yang menjadi tempat parkir mobil, Beryl dan Jarvis tampak ber-high five singkat. Setelah itu, keduanya bersandar pada dinding lorong yang terasa lebih sempit.
“Apa yang sudah dikerjakan oleh Rafif?” tanya Jarvis penasaran.
“Sudah beberapa bukti dikirimkan ke markas BIN, meskipun ada beberapa hal yang masih dalam penyelidikan. Karena Rafif di sana sebagai pekerja bukan anggota Guardian. Jadi, dia tidak bisa melihat dengan jelas, kecuali menjadi Theo yang menjalankan semua bisnis tersebut di bawah kaki-tangannya,” jawab Beryl mengembuskan napasnya panjang.
“Apa kamu tahu siapa wanita yang datang bersamaku tadi?” ucap Jarvis memancing penasaran Beryl yang awalnya tampak biasa saja.
Beryl menggeleng pelan. Lelaki itu terlihat acuh tak acuh, tetapi tidak dapat dipungkiri mulai penasaran.
“Dia Regina, kakak Rafif yang selama ini bekerja di bawah kepemimpinan Theo sekaligus melaporkan penemuannya sangat penting untuk mendongkrak kebenaran. Namun, sayang sekali Rafif malah terjebak dalam penculik*n yang belum ditemukan sampai hari ini,” sambung Jarvis mengembuskan napasnya panjang.
Sontak raut wajah keterkejutan Beryl pun terlihat dengan jelas. Lelaki itu hampir tidak percaya dengan apa yang telah dibicarakan oleh Jarvis, tetapi lelaki berprofesi sebagai prajurit itu pun tidak akan pernah berbohong. Walaupun dalam keadaan yang terhimpit.
“Kalau begitu, aku harus segera kembali agar tidak dicurigai oleh Regina,” pamit Jarvis melenggang pergi begitu saja meninggalkan Beryl yang menatap tanpa ekspresi.
Sebenarnya, lelaki itu datang untuk membicarakan masalah Rafif yang teguh pada pendiriannya sendiri masuk ke dalam kandang macam. Yang mungkin sewaktu-waktu bisa menghabisinya dengan mudah.
Namun, nyatanya hal tersebut tidak berlaku bagi Rafif yang justru malah menantang pada dirinya sendiri untuk tetap menjalankan rencana. Dengan risiko apa pun dihadapi oleh dirinya sendiri. Mengingat keluarganya dibantai habis oleh orang yang tidak bertanggung jawab sekaligus beralasan apa pun.
Rafif memang tidak memiliki petunjuk banyak, selain menyelidiki ulang pada orang-orang yang terlibat pada kejadian dua puluh tahun lalu. Tidak ada yang mengetahui lebih banyak dibandingkan bercerita pada orang lain. Membuat Rafif lebih mempercayai dirinya sendiri.