Seperti biasa, Rafif akan melakukan kesibukannya di pabrik makanan untuk mengawasi setiap jalan produksi agar tidak terjadi kesalahan. Apalagi selama beberapa hari ini Theo memasukkan banyak sekali karyawan baru yang masih terlihat muda dan segar membuat karyawan lama sekaligus Rafif sendiri mengajarkan semua produksi tersebut dengan menggunakan tangannya sendiri.
Di tangan Rafif terdapat laporan hasil produksi selama beberapa hari yang meningkat pesat sekitar 26% membuat beberapa pekerja ditambahkan untuk menguatkan hasil produksi agar lebih meningkat dan tim pemasaran pun mulai mengepakkan sayapnya ke seluruh penjuru nusantara.
Namun, di sela-sela pemantauannya terhadap mutu, Rafif pun menyadari seseorang mendekat ke arahnya, ternyata Vesenia yang datang bersama satu pengawal andalannya. Wanita berpakaian minim itu pun mengerling nakal sembari memasuki ruangan pemantau untuk melihat jalannya produksi di bawah dengan berbagai mesin terpasang rapi dan besar-besar.
Setelah selesai melakukan pemantauan, Rafif pun mengikuti langkah Vesenia ke dalam ruangan. Ia melihat seorang wanita dengan sengaja menungging membuat rok tenis yang sengaja dipotong lebih pendek itu pun terangkat memperlihatkan celana bagian dalamnya terekspose jelas.
Ketika Rafif menatap seorang pengawal yang menjadi andalan Vesenia menghadap ke pintu membuat lelaki itu tidak melihat perbuatan majikannya sendiri. Benar-benar meresahkan, tetapi Rafif langsung menundukkan pandangannya dan menghampiri wanita tersebut.
“Nona Ovt, ini laporan yang kamu minta kemarin,” ucap Rafif berdiri di samping Vesenia sembari menyerahkan papan jalan tersebut membuat wanita itu menoleh.
Kemudian, Vesenia pun bangkit dari pemantauannya melalui jendela dan menatap Rafif dengan penuh sembari melangkah pelan mendekati lelaki tersebut. Namun, ia mengingat bahwa pengawalnya masih berada di dalam pun langsung mengembuskan napasnya panjang.
“Keluar! Aku ingin berbicara dengan Rafif,” titah Vesenia dengan sombong.
Mendengar hal tersebut, pengawal itu pun melenggang pergi dengan menundukkan pandangannya tanpa berani menatap Vesenia yang mungkin terlihat meresahkan pula. Karena hasrat lelaki mana pun akan terpancing ketika melihat betapa menggodanya tubuh Vesenia yang dipenuhi oleh daging pada area tertentu.
Sepeninggalnya pengawal Vesenia yang melenggang keluar, akhirnya wanita itu pun bisa bernapas lega. Tentu saja ia hanya tidak ingin jika ada seseorang yang memberi tahu tentang kecurangannya terhadap Rafif.
Walaupun tidak dapat dipungkiri bahwa wanita itu menyukai Rafif, tetapi tetap saja ia bertahan hidup melalui uang yang dihasilkan Theo. Membuat Vesenia tidak melakukan apa pun, selain mematuhi semua perintah lelaki tersebut.
“Rafif, apa kamu mempertimbangkan pernyataanku kemarin?” tanya Vesenia mengitari tubuh kekar nan menggoda dari lelaki yang ada di hadapannya, lalu terhenti menatap punggung lebar tampak perkasa. Benar-benar tipe idamannya.
Sejenak Vesenia menyentuh punggung kokoh tersebut menggunakan jemari lentik menyusuri setiap otot yang tercetak di sana membuat sang pemiliknya menahan napas. Tentu saja hal tersebut membuat Vesenia diam-diam merasa senang.
Kemudian, tanpa diduga sama sekali wanita itu memeluk tubuh Rafif dari belakang. Menempelkan dengan lengkap pada sepasang gunung kembar yang bersembunyi sempurna di balik kemeja ketat dengan kancing sedikit terbuka.
Namun, tangan Vesenia tidak diam saja, wanita itu mulai menggerayap ke sembarang arah, termasuk menyentuh bagian bawah selangk*ngan milik Rafif. Tindakan itu pun membuat Rafif pasrah dan mendes*h pelan.
Rafif tidak merespon apa pun tindakan dari Vesenia, karena percuma saja jika dirinya membalas maka wanita itu akan semakin brutal dan membuat yang lebih daripada ini. Sedangkan Rafif datang untuk melancarkan aksinya bukan melepaskan hasratnya.
Dengan gerakan sekali sentak, Vesenia pun berhasil membalikkan tubuh Rafif menatap dirinya penuh. Wajah lelaki itu terlihat tegang menatap Vesenia yang tersenyum miring, lalu diam-diam memencet sebuah remote control yang mengunci ruangan secara otomatis.
Suara bunyi kuncian itu pun membuat Rafif tersadar dan menoleh ke arah pintu, lalu menatap Vesenia secara bergantian. Di otaknya mulai berputar adegan-adegan er*tis yang mungkin akan merenggut sebagian kesadarannya sebagai bawahan.
Kedua tangan Vesenia terangkat menarik tekuk Rafif agar mendekat ke arahnya, lalu menyatukan bibir mereka satu sama lain. Di sela-sela ciuman yang cukup dalam itu pun Rafif mulai menerima setiap sentuhan dari Vesenia dan mulai merengkuh pinggang wanita tersebut untuk merapatkan pada tubuhnya.
Selama beberapa detik ciuman, akhirnya Vesenia pun melepaskan tautan bibir mereka satu sama lain dengan napas tersenggal-senggal dan da*da naik-turun mengikuti irama membuat pandangan lelaki itu langsung terjatuh pada kancing kemeja paling atas yang hampir saja terbuka.
Rafif diam-diam tersenyum miring dan melepaskan rengkuhan tangannya, lalu beralih pada kancing atas Vesenia membuat wanita itu menatap Rafif penuh dengan bibir yang terus bergerak menipis sekaligus menggigit dalam waktu bersamaan.
Namun, lelaki itu malah membenarkan letak kancing tersebut agar tidak mencuat keluar. Tindakan Rafif benar-benar di luar dugaan membuat Vesenia mengangkat alisnya tidak percaya.
“Aku tidak akan mengkhianati Theo yang sudah membawaku menjadi seperti ini, jadi jangan gunakan cara ini untuk menggodaku, Nona Ovt. Karena sekali kamu membangunkan macan tidur, maka tidak akan ada hari berbalik untumu,” bisik Rafif tepat di depan telinga Vesenia membuat tubuh wanita itu menegang.
Setelah selesai mengatakan hal tersebut, Rafif pun tersenyum dan mengacak rambut Vesenia lembut. Kemudian, melenggang pergi meninggalkan seorang wanita yang masih berdebar-debar akibat tindakan Rafif cukup mencegangkan.
Sejenak Vesenia menatap kepergian Rafif dengan perasaan yang sulit diartikan. Ia menyukai lelaki itu, tetapi dirinya sama sekali tidak menyadari bahwa rasa tertariknya menjadi perasaan menggebu-gebu melebihi ketika bersama Theo.
“Apa yang sudah kamu lakukan padaku, Rafif?” gumam Vesenia pada dirinya sendiri menatap kepergian punggung lebar nan kokoh itu menjauh.
Sedangkan Rafif terlihat berkeringat kepanasan sembari mengendurkan simpul dasinya yang terasa mencekik. Lelaki itu berbelok ke arah toilet lelaki yang berdampingan dengan perempuan.
Di dalam, Rafif menyanggah tubuhnya menatap cermin toilet yang menampilkan wajah sayu nan lembut dari seorang lelaki secara perlahan direnggut akan sikap kesopanannya terhadap wanita.
Nyatanya Rafif benar-benar tidak habis pikir melihat Vesenia yang begitu berani melakukan tindakan tadi tanpa mengetahui konsekuensi mungkin didapat oleh wanita itu. Meski tidak dapat dipungkiri Vesenia satu-satunya akses Rafif untuk menyelidik Theo dan orang-orang di belakangnya.
Tiba-tiba sebuah ide berlian melintas di otak lelaki itu. Mungkin Rafif tidak akan mudah mencintai seorang wanita, karena semasa hidupnya hanya berdampingan dengan lelaki. Membuat lelaki itu begitu kaku dan tidak mengerti caranya memperlakukan seorang wanita dengan baik.
Saat lelaki itu menatap ponselnya yang menampilkan pemberitahuan singkat, senyum miring nan menyeramkan itu pun terbit memperlihatkan aura perbedaan Rafif ketika menginginkan sesuatu.
“Baiklah. Aku akan mengikuti semua permainanmu,” gumam Rafif tersenyum miring menatap pantulan cermin di hadapannya yang terlihat lebih cerah.