“Jelaskan! Siapa kamu sebenarnya? Kenapa membuka loker milik salah satu di antara kami?”
Suara menuntut penjelasan itu pun membuat Zyrach memutar otak untuk menjawab tanpa melibatkan sesuatu yang serius. Sebab, kedatangannya ke sini sudah menjadi rahasia akan menyebabkan pergeseran cukup besar dengan memperlihatkan jati diri aslinya.
Pada saat gadis itu berpikir keras tiba-tiba pintu ruangan loker pun terbuka menampilkan seorang wanita asing yang membuat Zyrach semakin dibuat panik dan hendak bunuh diri di tempat agar tidak diketahui oleh orang banyak.
“Ada apa ini ramai-ramai?” tanya wanita itu menatap Zyrach sesaat.
“Bu, ada penyusup di ruang loker kita,” jawab seorang gadis yang sempat menuntut penjelasan dari Zyrach.
“Apa yang kalian tuntut? Dia ini anak baru yang ditugaskan untuk bekerja di sini karena mal sebelah sedang dalam tahap renovasi, jadi jangan terlalu galak dengan anak baru. Karena dia juga sudah bekerja cukup lama,” sinis wanita itu kesal, lalu menghampiri Zyrach dengan senyuman lebar.
Sejenak Zyrach tampak tidak mengerti dengan situasi yang terjadi, tetapi cukup membantu dirinya untuk melepaskan dari cengkraman singa lapar. Hanya saja Zyrach masih belum mengerti apa yang sebenarnya terjadi sampai orang luar pun ikut membantu.
“Bu Linda!” protes salah satu pekerja dengan bersungut kesal.
“Ini sudah menjadi keputusan manajemen mal. Kalau kalian tidak suka dengan orang baru, maka silakan pergi dari sini,” balas wanita itu tidak kalah kesal. Kemudian, mengkode pada Zyrach untuk mengikutinya keluar.
Sedangkan Zyrach yang masih belum mengerti sekaligus cukup bersyukur itu pun mengembuskan napasnya panjang. Ia menatap sesaar pada orang-orang yang terlihat tidak suka. Untung saja dirinya menggunakan topi, sehingga wajahnya tidak terekspose dengan jelas.
Sesampainya di luar, wanita yang berpakaian kantoran itu pun mengembuskan napasnya panjang menatap Zyrach dengan pandangan menelisik, lalu mengernyit penasaran akan kedatangan gadis itu tidak terlihat oleh siapa pun.
“Sejak kapan kamu datang, Zyrach? Mengapa aku tidak tahu?” tanya wanita itu lembut.
“Kamu ....” Zyrach menatap penasaran.
“Tenang saja aku berada di pihakmu dan Rafif. Dia sempat berpesan bahwa temannya akan datang ke sini untuk mengambil sesuatu. Tapi, aku tidak menyangka kamu datang dengan sangat mulus sampai aku tidak mendapat kabar apa pun.”
“Lantas, bagaimana kamu mengetahuiku ada di dalam tadi?”
“Aku mendengar percakapan beberapa pekerja yang mengatakan ada orang asing masuk ke ruang loker dan berusaha mengambil sesuatu. Tentu saja aku langsung bergegas ketika menyadari itu adalah pesan yang disampaikan oleh Rafif.”
“Benarkah?”
“Tenang saja kamu aman bersamaku di sini. Karena aku benar-benar orang yang disuruh Rafif untuk melindungimu.”
Sejenak Zyrach tidak ingin menjawab apa pun, karena ia masih tidak percaya dengan perkataan wanita yang ada di hadapannya. Membuat gadis itu tidak mengatakan hal lebih lanjut, meskipun sudah meyakinkan diri untuk tidak menghadapi peperangan besar.
Keterdiaman itu pun membuat wanita yang ada di hadapan Zyrach tersenyum tipis, lalu mengeluatkan ponselnya dari dalam saku. Kemudian, memperlihatkan sebuah percakapan singkat antaranya dirinya dan nomor pekerjaan Rafif yang berbeda daripada yang dimiliki oleh Guardian.
“Ini ... ini benar-benar Rafif?”
“Tentu saja aku tidak membohongi dirimu. Lagi pula aku tidak akan memperlihatkan diri dengan sembarangan orang, karena aku juga agen rahasia 88 yang ikut menyelidiki sebuah transaksi besar-besaran organisasi gelap LUCA dari Skotlandia.”
“Agen 88?” beo Zyrach melebarkan matanya terkejut,
“Jangan berekspresi seperti itu. Hidup dan mati seseorang sudah ditentukan, tetapi aku hanya mendapatkan keberuntungan bisa bernapas hingga hari ini bertemu dengan gadis pemberani yang satu profesi denganku.”
“Ini merupakan pertemuan yang sangat mengesankan, Senior. Aku benar-benar mengagumimu.”
“Jangan sungkan. Aku hanya menolong orang-orang yang menyelidiki keterkaitan LUCA, jadi kamu harus bergegas karena sebentar lagi Theo dan anggotanya akan datang untuk bertransaksi. Rafif sudah mengatakan padaku untuk kamu segera pergi sebelum mobil Theo tiba. Sebab, Theo akan membawa banyak pasukan mengamankan mal agar tidak sembarangan orang masuk.”
Zyrach melebarkan matanya terkejut. Ia sama sekali tidak menyangka jika akan seserius itu kedatangan Theo. Akan tetapi, ia lebih tidak menyangka lagi bahwa Rafif akan datang ke sini. Hanya saja terlalu berisiko untuk menunggu kedatangan lelaki itu.
Walau bagaimanapun juga, Zyrach tidak boleh egois terhadap dirinya sendiri yang menginginkan Rafif segera menyudahi rencana dan kembali ke Guardian.
“Baiklah. Aku akan segera kembali. Terima kasih sudah menolongku di dalam tadi,” ucap Zyrach tersenyum tulus membuat wanita yang menjadi agen rahasia itu pun mengangguk singkat.
“Kamu bisa meminta bantuan apa pun padaku, tetapi kamu harus menyamar menjadi pekerja dulu agar aku bisa mengenalinya,” balas wanita itu tersenyum tulus.
Tidak ingin membuang waktu lagi, akhirnya Zyrach pun melenggang pergi meninggalkan seorang wanita yang menatap kepergian dirinya dengan senyuman tulus. Tentu saja langkah Zyrach menuju tangga yang langsung mengarah pada basement parkiran mobil tepat di bawah gedung mal.
Sepanjang perjalanan menuju mobil yang ditumpangi, Zyrach memikirkan semua perkataan dari wanita tersebut. Meskipun ada secuil tidak percaya terhadap wanita di hadapannya, tetapi tidak membuat Zyrach menganggap perkataan wanita itu hanya omong kosong. Nyatanya Zyrach memang tidak percaya, namun ia tetap menghargai wanita tersebut sebagai senior.
Sesampainya di mobil yang ternyata berisikan Grubby pun membuat Zyrach mengernyitkan keningnya penasaran, lalu bertanya, “Di mana, Ketua Tim?”
“Bukankah ikut bersamamu? Dia belum kembali sejak tadi,” balas Grubby memiringkan kepalanya bingung.
“Benarkah?” Zyrach melebarkan matanya tidak percaya.
“Mungkin sebentar lagi akan datang, gue juga enggak tahu, Zy. Karena kita dipantang untuk tidak menggerakkan kamera pengawas untuk menyorot ke arah anggota Guardian. Sebab, jejak digital sangat menyeramkan,” jawab Grubby tersenyum paksa membuat gadis yang duduk di depannya menyandarkan tubuh dengan lelah.
Sejenak keduanya saling terdiam satu sama lain dengan Grubby masih mengerjakan pekerjaannya mengontrol emosi yang dimiliki oleh Beryl masih terlihat normal tidak ada kendala apa pun. Namun, anehnya lelaki itu tidak mendengar percakapan mereka berdua membuat Grubby merasa ada yang aneh.
“Zy, lo benar-benar enggak ketemu Ketua Tim di dalam tadi?” tanya Grubby mengernyit penasaran.
Zyrach melirik ke arah spion tengah dan menggeleng pelan. “Gue sama Ketua Tim beda jalur, ‘kan? Kita jelas enggak akan ketemu, karena gue masuk dari pintu utama dan keluar pasti di pintu Selatan. Sedangkan Ketua Tim masuk di pintu Utara dan keluar akan berada di pintu Timur. Kemungkinan besar seperti itu, karena gue beberapa kali pernah ke sini dan berakhir dengan nyasar.”