Tiga anggota Guardian yang masih tersisa di markas pun mulai melakukan perencanaan matang sesuai dengan perintah dari Xavier selaku pembimbing Guardian sekaligus ketua BIN. Tentu saja ketiganya hendak melakukan sesuatu yang berkaitan dengan penyelidikan Rafif selama ini.
Mereka semua berangkat menuju tempat yang telah disetujui. Sebab, mereka sengaja tidak berjanjian secara langsung agar tidak ada yang mengetahui keberadaan ketiganya. Karena hal tersebut perlu diperhatikan.
“Ketua Tim, apa yang akan kita lakukan?” tanya Zyrach mendudukkan diri di samping lelaki yang terlihat sibuk memposisikan diri di jok kemudi.
“Untuk sekarang kita akan pergi menuju tempat yang sudah dijanjikan,” jawab Beryl melirik ke arah kaca spion tengah yang menampilkan Grubby yang terlihat siap dengan semua pelaratannya.
“Jangan menatap gue seperti itu, Ketua Tim. Lo benar-benar menyeramkan,” sinis Grubby mendesis pelan, lalu memutar bola matanya malas.
Namun, sedetik kemudian tidak ada satu pun suara yang terdengar dari ketiganya membuat mobil pun bergerak pelan menuju jalan raya sepi. Memang tidak ada melenggang ke arah markas Guardian, sebab bisa dikatakan sebagai lahan kosong tak berpenghuni.
Tak lama kemudian, ketiganya pun terhenti tepat di depan mal besar yang lumayan ramai. Hal tersebut membuat Zyrach mengembuskan napasnya panjang. Ia sama sekali tidak menyangka bahwa Rafif akan datang ke tempat ramai seperti ini tanpa memikirkan apa yang terjadi jika ketahuan oleh publik.
Akan tetapi, sikap kehati-hatiannya memang cukup diacungi jempol. Karena tidak ingin rekan kerjanya diketahui oleh LUCA, lelaki itu mengambil resiko cukup besar dengan berada di tempat keramaian tanpa penutup wajah sama sekali.
Tentu saja Beryl yang memperhatikan Rafif secara diam-diam mengendarai mobil ke salah satu dermaga pada saat malam hari membuat perasaan lelaki itu semakin tidak tenang. Apalagi nalurinya sebagai ketua yang sulit sekali dihilangkan.
“Zyrach masuk pintu Utara, Grubby tetap berada di mobil, dan gue masuk melalui pintu darurat untuk memperhatikan seseorang yang memiliki kemungkinan besar mengenal kita,” titah Beryl sembari mengenakan mantel besar lengkap dengan topi hitam yang menutupi separuh wajahnya.
Mendengar hal tersebut, Zyrach pun mengangguk singkat. Kemungkinan kecil dirinya memang tidak akan dikenal oleh siapa pun. Sebab, sepanjang hidupnya dihabiskan dengan berada di markas kepolisian bersama sang kakak. Hanya saja Jarvis lebih memilih untuk menjadi seorang prajut dan dirinya menjadi anggota BIN yang bekerja di bawah penelitian forensik.
“Baik, kita akan bertemu di parkiran lagi!” balas Zyrach mengangguk penuh.
Kemudian, Beryl dan Zyrach pun langsung melenggang bersamaan meninggalkan Grubby yang mulai melancarkan aksinya untuk mengalihkan beberapa kamera pengawas. Mengecilkan kemungkinan ketahuan beraksi di tempat umum seperti ini.
Sejenak Zyrach melenggang dengan santai sembari membawa tas branded di tangannya, tetapi saat gadis itu hendak memasuki pintu utama mal, tiba-tiba mata gadis itu terpaku pada seseorang yang hendak masuk ke dalam.
Sontal hal tersebut membuat Zyrach mengurungkan niatnya. Ia kembali membalikkan tubuh bersandar pada dinding mal yang begitu tebal, lalu dengan berhati-hati menatap wanita cantik datang bersama seorang lelaki yang begitu Zyrach kenal.
“Ngapain Bang Jarvis ke sini sama Kak Regina?” tanya Zyrach pada dirinya sendiri sembari mengernyit penasaran, tetapi gadis itu langsung memasuki mal dengan pandangan yang begitu waspada menatap sekeliling.
Tanpa disangka pertanyaan itu pun didengar oleh Grubby yang sejak tadi sudah menyalakan earpiece hingga menyadari asal suara tersebut dari satu-satunya gadis dari Guardian.
“Kak Regina itu kakak angkat Rafif, bukan?” sahut Grubby penasaran sembari menghentikan ketikannya.
“Iya, benar. Gue hampir aja ketahuan kalau enggak cepat-cepat bersembunyi tadi,” balas Zyrach berbicara pada dirinya sendiri membuat beberapa pengunjung mal terlihat menatap gadis itu dengan pandangan aneh.
Sedangkan Zyrach yang mengetahuinya pun langsung mengembuskan napas panjang, lalu mengambil ponselnya yang berada di dalam saku dan mulai menempelkan benda tersebut seakan dirinya sedang menerima panggilan.
“Untuk apa mereka datang?” tanya Beryl yang tanpa sengaja mendengar perbincangan itu.
Zyrach baru menyadari bahwa earpiece ini tersambung satu sama lain membuatnya tidak aneh jika berbicara dengan satu, maka yang lainnya akan terdengar dengan jelas.
“Gue enggak tahu apa yang terjadi, tapi gue akan berusaha menarik perhatiannya agar mendekat. Karena gue enggak mungkin memakai ponsel di tengah keramaian,” jawab Zyrach mendengkus kesal. Ia merutuki pada keadaan mal yang terlihat benar-benar ramai.
“Kalau begitu, berhati-hatilah, Zyrach. Gue enggak akan membiarkan lo ketahuan oleh siapa pun,” ucap Grubby bernada rendah sekaligus bermakna dalam.
Setelah itu, percakapan pun terhenti dengan Zyrach yang mulai memasuki loker para pekerja mal. Tatapan penasaran sekaligus terkejut itu pun tidak dihindarkan. Banyak sekali pekerja mal yang menatap Zyrach.
“Kamu karyawan baru di sini?” tanya salah satu pekerja mendekati Zyrach dengan kening yang berkerut dalam.
Sejenak Zyrach berusaha mengusir kewaspadaannya, lalu menjawab, “Iya. Aku anak baru yang baru saja dipindahtugaskan dari mal baru di kawasan Kokas.”
“Oh, gue kira lo anak Jaksel. Penampilannya beda banget,” sahut salah satu temannya dengan pandangan menelisik dari atas sampai bawah.
“Kalau aku memang tinggal di Jaksel, tapi pekerjaannya di lain tempat,” balas Zyrach meringis pelan.
“Baiklah, selamat bekerja!” ucap keduanya dengan tulus dan memberikan senyuman singkat sebelum akhirnya benar-benar melenggang pergi.
Hal tersebut membuat Zyrach mengembuskan napasnya panjang, gadis itu merasa benar-benar lega setelah tadi senam jantung akibat keramahan salah satu pekerja. Memang tidak dapat dipungkiri orang-orang akan terlihat ramah saat dirinya berusaha menjauh. Sudah menjadi hukum alam yang tidak bisa dijelaskan melalui tulisan.
Dirasa cukup aman dengan pekerja lainnya ikut pergi, kini Zyrach benar-benar berada di dalam ruangan loker seorang diri. Entah bagaimana caranya Rafif bisa meletakkan benda tersebut di tempat seperti ini, tetapi cukup mengagumkan. Lelaki itu masih selamat tanpa gugatan apa pun.
Sejenak Zyrach mencari nomor loker yang telah disebutkan oleh Rafif, termasuk kata sandi untuk membuka benda tersebut. Karena semua serba canggih membuat tidak ada apa pun yang digunakan secara manual.
Sampai tatapan gadis itu terhenti pada loker yang ternyata diletakkan paling bawah dengan pintu sedikit berbeda membuat Zyrach mengangguk mengerti. Nyatanya Rafif sudah berusaha memberikan petunjuk walaupun masih harus mencari keberadaannya.
Akhirnya, Zyrach pun membuka loker tersebut dengan sangat berhati-hati sampai telinganya mendengar derap langkah mendekat ke arah pintu membuat gadis itu mengangkat kepalanya dengan melebarkan mata terkejut, lalu menganga tidak percaya menatap seseorang yang baru saja datang dengan wajah penuh kelicikan.