Setelah semalam melakukan penyisiran terhadap paket yang baru datang, termasuk mengangkutnya ke pabrik kosong nan terbengkalai. Namun, siapa sangka kalau ternyata tempat itu dipenuhi oleh banyak sekali pekerja berpakaian jubah kedokteran membuat pandangan Rafif langsung tertuju pada beberapa orang tersebut.
Semua berjalan lancar ketika Rafif benar-benar masuk ke dalam LUCA dan menjadi tangan kanan lelaki itu, termasuk mengontrol banyak sekali pabrik yang berkedok operasi makanan. Membuat jalan begitu terang bagi Rafif yang menyelidiki lelaki itu.
Memang tidak ada yang menyangka Rafif bisa mendapatkan banyak sekali operasi penting selama tiga hari menetap. Bahkan beberapa kali lelaki itu mengirimkan file bukti kepada rekan kerjanya untuk menyelidiki lebih lanjut.
Hanya saja terkadang Rafif sulit dihubungi ketika sedang bekerja membuat Zyrach yang sesekali mendapatkan kabar itu pun merasa cemas.
Namun, semua dikendala dengan sangat rapi, meski ada beberapa hal yang di luar dugaannya. Salah satu seperti pekerja LUCA yang terlihat tidak suka saat menyapa kehadiran Rafif.
Meskipun begitu, ia sama sekali tidak mempermasalahkannya. Karena memang ada hal yang terkadang orang membenci terhadap orang lain dengan sesuatu yang tidak bisa dijelaskan. Sebab, orang membenci tidak perlu memiliki alasan.
“Tuan Rafif, semua sudah siap untuk segera dikirimkan menuju tempat pengepul,” ucap salah satu pengawal yang tersenyum lebar menatap dirinya.
“Baik. Hati-hati di jalan!” balas Rafif mengangguk singkat, lalu menatap kotak besar yang berada di atas forklift.
Bisa dikatakan kotak tersebut cukup berat sampai memerlukan benda pengungkit untuk membawanya keluar. Hanya saja Rafif masih harus berhati-hati membuat lelaki itu memilih tidak mengatakan apa pun, kecuali mereka memberi tahu secara gamblang.
Sudah beberapa jam kehadiran Rafif di pabrik pembuatan makanan untuk penunjang bisnis LUCA yang hanya menjadikan kedok saja. Nyatanya lelaki itu tidak benar-benar bekerja, melainkan melangkah ke sana-kemari tanpa memiliki tujuan yang jelas.
Memang terlihat membosankan, tetapi Rafif tidak memiliki pilihan lain jika ingin tetap berada di sisi Theo. Karena ini merupakan satu-satunya langkah untuk ia bisa menyelidiki kasus di belakang kematian orang tuanya sekaligus keterlibatan sang paman yang ternyata menjadi bawahan seorang penghancur keluarganya sendiri.
Pikiran setiap manusia memang tidak bisa ditebak. Meskipun sudah berusaha keras untuk memahami orang tersebut nyatanya tidak benar-benar menjadikan orang itu memahami banyak hal. Ia hanya bisa melihat tanpa bisa merasakan perasaan yang sebenarnya terjadi.
Sama seperti halnya Rafif yang melihat banyak hal telah terjadi selama belakangan ini. Ia tidak mengerti mengapa semua orang diperlakukan berbeda, meski hanya melihat latar belakang yang telah terjadi.
Namun, sampai hari ini Rafif belum bisa menemukan alasan dibalik kenyataan orang tuanya dibunuh, termasuk Theo yang mengizinkan dirinya masuk dengan sangat mudah. Entah kenapa ia merasakan sesuatu lebih besar akan terjadi selama beberapa hari ke depan.
“Tuan Rafif, kamu diminta untuk segera ke ruangan kantor oleh Nona Ovt,” pinta salah satu pengawal dengan senyuman lebar terpatri di wajahnya membuat Rafif menaikkan alis tidak percaya.
Keterkejutannya itu membuat pengawal yang tersenyum lebar tadi langsung meringis pelan, lalu berkata, “Nona Ovt secara pribadi mengelola perusahaan ini, Tuan Rafif. Jadi, kamu akan sering bertemu dengan dirinya. Biasakanlah.”
“Bukan, aku hanya sedikit menyesuaikan diri dengan pekerjaan baru yang berbanding balik dari pekerjaan lama,” balas Rafif menggeleng pelan.
“Benarkah? Memangnya kamu bekerja apa dulu?” tanya pengawal yang terlihat lebih bersahabat dengan Rafif.
Namun, hal tersebut sama sekali tidak mengendurkan Rafif dalam pertahanannya. Ia tidak mengatakan apa pun yang tidak perlu dikaitkan dengan pekerjaan barunya. Agar sedikit orang mengetahui identitasnya sebagai seorang polisi.
“Dulu aku hanya bekerja kasar yang tidak pernah seringan ini, jadi agak mengejutkan,” jawab Rafif merendah.
Pengawal itu pun mengangguk beberapa kali. “Tidak apa-apa. Kamu hanya membutuhkan penyesuaian saja, jadi jangan terlalu dianggap berat. Lagi pula ada aku di sini, kamu bisa meminta apa pun yang dibutuhkan. Kita akan menjadi rekan kerja yang baik.”
“Terima kasih. Kamu benar-benar berbeda dari pengawal lainnya.” Rafif tersenyum hangat, lalu merangkul pundak seorang lelaki yang terlihat seusia dengan dirinya.
Setelah itu, keduanya pun melenggang santai menuju gedung atas yang dijadikan sebagai kantor. Memang bisa dikatakan pabrik tersebut benar-benar bergerak dalam produksi makanan. Hanya ada di dalamnya tidak hanya ada makanan, melainkan obat-obatan yang selama ini menjadi incaran polisi pun berada di sini.
Namun, Rafif tidak bisa bertindak gegabah. Ia perlu memahami situasi agar tidak menyesatkan orang-orang yang tidak bersalah di dalam. Karena kebanyakan dari mereka dipaksa untuk dijadikan pekerja akibat utang yang mulai menumpuk.
Tentu saja menjadi seorang yang tidak berdaya karena uang, mereka rela melakukan apa pun, termasuk menjadi pekerja tanpa digaji dan hanya mendapatkan makan sebanyak 2 kali sehari.
Rafif melenggang masuk sendirian dengan pengawal yang menjadi rekan kerjanya menunggu di luar. Sebab, kantor memiliki ketentuan untuk tidak keluar-masuk dengan mudah bagi yang tidak berkepentingan. Sehingga mau tidak mau semua yang ada di harus mematuhi peraturannya.
Sedangkan Rafif menatap seorang wanita cantik yang setiap hari dilihat memakai pakaian cukup minim membuat dirinya sebagai lelaki dewasa merasa sedikit terancam. Karena ia kurang terbiasa melihat wanita yang berpakaian mencolok sekaligus terkesan vulg*r, meskipun tidak dapat dipungkiri Regina sering melakukan hal tersebut. Namun, wanita masih mengetahui batasan.
“Nona Ovt, kamu mencariku?” celetuk Rafif dengan sikap tegak menatap bos wanita yang menatap ke arah luar jendela ruangan.
Wanita itu tampak menoleh, lalu tersenyum lebar menatap kedatangan seorang pekerja baru yang tampan ke dalam usahanya. Vesenia beranjak turun dari meja kerja dan melangkah mendekati Rafif dengan kedua tangannya berada di depan da*da.
“Iya, benar,” jawab Vesenia tersenyum menarik. “Apakah kamu menyukainya?”
Rafif mengernyit sesaat, lalu mengangguk singkat. “Tentu saja aku menyukainya.”
“Maksudku ... bukan bekerja di sini.”
“Lantas, apa maksudmu, Nona Ovt?”
“Aku.”
“Kamu?”
“Iya, apa kamu menyukaiku?” tanya Vesenia gamblang.
Sontak pertanyaan itu pun sukses membuat Rafif terdiam tak bersuara. Lidah lelaki itu terasa kelu untuk menjawab pertanyaan yang berada di luar dugaannya. Rafif sama sekali tidak menyangka Vesenia akan bertindak sejauh ini, setelah kemarin bersikap lebih terbuka.
Jujur saja, bekerja di ini lebih menyeramkan dibandingkan dengan ketika masih berada di kepolisian. Meskipun selalu menghadapi hidup dan mati, tetapi tidak menutup kemungkinan Rafif akan tetap berada di situasi menguntungkan.