Setelah beberapa hari menyelidiki seseorang yang datang ke rumah lawas Keluarga Osm, akhirnya Regina pun dibuat putus asa. Wanita itu berkali-kali merutuki kebod*hanya sampai mempercayai bahwa akan ada orang yang kembali datang. Bahkan tidak menutup kemungkinan wanita itu memasang kamera pengawas lagi.
Namun, Regina tidak mendapatkan apa pun yang sesuai dengan keinginannya. Ia hanya mendapat kenyataan pahit yang akan mengira Rafif kembali menyelidiki kasus keluarganya sendiri.
Kini wanita berpakaian kemeja crop yang memperlihatkan sedikit perut mulusnya itu pun tampan menyeruput kopi di sebuah kedai tidak terlalu ramai. Regina mendudukkan diri di sudut ruangan sembari menatap jalan raya yang terlihat cukup padat sembari sesekali menatap ponselnya.
Hari ini ia akan bertemu dengan seseorang yang sudah beberapa hari menemani dirinya akibat tidak memiliki pekerjaan. Tentu saja perhatian wanita cantik itu mengarah pada sebuah mobil sedan mewah yang terhenti tepat di depan kedai.
Regina pun melabaikan tangannya sembari berseru, “Perwira Jarvis, di sini!”
“Baik. Tunggu aku!” balas Jarvis mengangguk singkat.
Setelah itu, Jarvis pun melenggang masuk dengan berjalan menuju kasir untuk memesan minuman sekaligus makanan ringan menemani obrolan singkat yang akan berlangsung beberapa saat nanti.
Kemudian, perhatian lelaki itu pun terpaku pada seorang wanita yang satu-satunya duduk sendirian sembari menikmati sebuah minuman di tangannya. Hampir tandas membuat Jarvis sadar dirinya terlalu lama di perjalanan.
“Maaf, tadi macet,” sesal Jarvis meringis pelan sembari mendudukkan diri di kursi kosong yang berada tepat di hadapan Regina.
“Tidak apa-apa. Aku memang pergi terlalu cepat karena terlalu suntuk di rumah seorang diri,” balas Regina tersenyum lebar.
“Bagaimana dengan perkembangan Rafif? Aku dengar, kepolisian akan menerima banyak laporan secara terbuka,” tanya Jarvis mengalihkan pembicaraan.
“Iya, aku memang setuju tindakan berani dari Lizian. Tapi, aku merasa ini bukan jalan yang terjadi. Karena mungkin ada beberapa atasan yang bekerja sama dengan LUCA dan mulai merencanakan sesuatu untuk penangkapan anggota kepolisian,” jawab Regina tersenyum kecut. Seakan wanita itu sudah mengetahui semua rencana terselubung yang akan segera dipermainkan oleh para polisi.
“Tenang saja. Pihak prajurit juga sudah melancarkan rencana dan akan bekerja sama dengan kepolisian menangkap LUCA. Karena masalah ini benar-benar serius sampai melibatkan banyak warga sipil yang tidak mempunyai masalah apa pun.”
“Benarkah? Aku sama sekali tidak menyangka masalah ini akan semakin besar seiring berjalannya waktu.”
“Tentu saja akan menjadi besar jika berkaitan dengan aparat keamanan sipil negara. Apalagi sampai menyinggungnya di tempat umum seperti apa yang mereka lakukan dengan pencul*kan.”
Di saat Jarvis dan Regina asyik berbincang, lain halnya dengan Rafif yang baru saja memyelesaikan tugas pembukaan. Lelaki tampan tampan mengenakan setelah formal itu pun menduduk diri dengan sengaja membuka dua kancing teratas kemaja putihnya.
Lelaki tampan itu tampak mengembuskan napasnya beberapa kali sembari merasakan seluruh tubuh hampir saja hancur tak tersisa. Sebab, bekerja sebagai pengikut LUCA jauh lebih melelahkan dibanding dengan menjadi seorang polisi.
“Bekerja di hari pertama sudah melahkan, ya?”
Sebuah perkataan terlontar ringan membuat Rafif seketika menegakkan tubuh dan menatap kehadiran Theo bersama kekasihnyam Vesenia. Tentu saja tatapan wanita itu terlihat sedikit aneh membuat Rafif bergidik tidak nyaman.
“Pimpinan Vald,” sapa Rafif bangkit dari tempat duduknya.
Theo tertawa pelan, lalu mengkode menggunakan tangan kanannya menunjuk ke arah sofa. “Duduk saja. Kamu tidak perlu bersikap kaku seperti itu. Lagi pula kita lebih dari sekedar rekan kerja, Rafif. Kamu harus mengetahuinya dan jangan salah mengira kalau aku orang yang kaku.”
“Tentu saja aku harus menghormatimu, Pimpinan Vald. Karena kita sudah bukan musuh lagi, melainkan rekan kerja yang akan melindungi satu sama lain,” balas Rafif tersenyum miring, lalu mendudukkan diri di sofa tanggal yang berdampingan dengan sofa panjang tempat duduk Theo dan Vesenia.
“Jangan terlalu sungkan, Rafif. Bukan hanya denganmu dia bersikap seperti itu. Bahkan ketika masih ada Ethan, dia sama sekali tidak mau dipanggil lebih hormat. Karena pribadi Ethan yang kaku, jadi dia sama sekali tidak pernah mau dipanggil dengan kaku,” sahut Vesenia tertawa pelan sembari menoleh sesaat pada kekasihnya yang merangkul gemas, lalu secara terang-terangan menautkan bibir.
Rafif yang melihat hal tersebut hanya menundukkan kepalanya canggung. Ia sama sekali tidak menduga situasi seperti ini akan menjadi pemandangan setiap harinya nanti. Apalagi selama bekerja dengan LUCA, ia akan berada di mansion dan mengikuti ke mana pun Theo pergi.
Selesai berciuman, Theo pun membisikkan sesuatu membuat Vesenia bangkit. Kemudian, tanpa rasa canggung sama sekali Theo memukul gemas pada bok*ng kekasihnya hingga menimbulkan suara cukup keras.
Namun, Vesenia hanya mengerling nakal dan melenggang pergi dengan lenggok tubuh menggoda. Sepasang benda bulat yang sempat ditepuk mes*m itu bergoyang mengikuti setiap langkah seorang wanita menuju lantai atas.
Keadaan menjadi sepi dengan Rafif merutuki kejadian yang ada di hadapannya tanpa merasa malu sama sekali. Bahkan Theo yang bisa dikatakan lebih tua daripada dirinya pun sama sekali tidak canggung menunjukkan keint*mannya dengan sang kekasih.
“Aku sudah bertunangan dengan Vesenia selama tiga tahun,” celetuk Theo tersenyum tipis membuka percakapan.
“Bertemu di mana?” tanya Rafif penasaran.
“Sebenarnya, aku menolong dia dan kami terlibat bumbu cinta.” Theo tertawa pelan mengingat kejadian di mana dirinya bertemu dengan Vesenia.
Rafif tersenyum senang, lalu menggeleng tidak percaya mendengar kisah sepasang kekasih yang ada di hadapannya penuh dramatis. Meskipun ia sama sekali tidak tertarik dengan kisah mereka berdua, sebab tujuan dirinya datang adalah menyelidiki kisah di balik pembant*ian Keluarga Osm.
“Bagaimana dengan pekerjaan tadi? Apakah merasa kesulitan?” tanya Theo mengalihkan perhatian Rafif yang termenung sesaat.
“Tidak terlalu sulit, hanya butuh penyesuaian saja. Karena terbiasa bekerja dengan penuh tantangan,” jawab Rafif mengembuskan napas panjang.
“Para pekerjanya tidak ada yang menindasmu, bukan?” Theo menatap penuh. Kali ini lelaki itu menyiratkan sesuatu yang berbeda.
“Tentu saja tidak! Kalau aku ditindas akan menimbulkan masalah baru. Karena aku mantan seorang polisi yang tidak dianggap remeh,” balas Rafif tersenyum miring.
Sontak perkataan itu membuat Theo tertawa lepas. “Benar. Aku juga merasa kalau kamu bukanlah orang sembarangan.”
“Tenang saja. Sampai hari ini aku tidak mendapatkan tindasan apa pun, selain itu tetap bekerja keras mengejar semua pekerjaan hari ini,” ucap Rafif tersenyum tipis. “Apakah malam ini akan ada pekerjaan lagi? Aku dengar beberapa pengawal ingin berangkat menuju dermaga mengambil paket yang baru tiba dari Skotlandia.”