Di sebuah rumah yang sudah ditinggalkan selama dua puluh tahun lebih, terlihat seorang wanita tengah mendudukkan diri di pagar pembatas balkon sembari menatap banyak sekali aktivitas sore di bawahnya.
Regina mengembuskan napasnya panjang sembari memeluk kedua kakinya, lalu menyandarkan kepalanya pada pilar balkon yang berwarna putih sembari memandangi sekitar dengan ekspresi datar.
“Nona Owl!!!” panggil seseorang dari kejauhan dengan suara cukup lantang.
Spontan seorang wanita yang terduduk itu pun menoleh, lalu melebarkan matanya tidak percaya. “Perwira Jarvis?”
Lelaki berpakaian loreng itu pun melambaikan tangannya sembari tersenyum lebar. “Turunlah aku ingin membicarakan sesuatu!!!”
“Tunggu sebentar!!!” balas Regina tidak kalah keras.
Kemudian, dengan cepat wanita itu melesat turun ke bawah menghampiri seorang lelaki dewasa yang entah datang dari mana. Karena Jarvis datang tanpa Regina memberi tahu.
Sesampainya di bawah, Regina melebarkan matanya tidak percaya dan berlari kecil ke arah luar gerbang dengan pengaitnya masih terpasang rapi.
“Perwira Jarvis, sedang apa kamu di sini?” tanya Regina sembari membuka pengait tersebut.
Jarvis tertawa pelan, dan menjawab, “Kebetulan aku ada pelatihan di sini, dan melihat ada mobil milikmu di luar. Kebetulan aku juga mengenal beberapa ibu rumah tangga di perumahan ini saat melakukan pelatihan kebakaran, jadi tanpa sengaja melihat kamu duduk di balkon.”
Wanita cantik bercelana pendek di atas lutut dengan hoodie crop berwarna hitam itu pun mengangguk beberapa kali, lalu mempersilakan Jarvis masuk dan Regina kembali mengunci pagar yang masih persis dua puluh tahun lalu.
“Pantas saja aku sedikit aneh orang-orang di sini memanggilku dengan sebutan marga, ternyata semua dalangnya adalah kamu sendiri,” gumam Regina menggeleng tidak percaya.
“Apakah kamu tinggal di sini juga?” tanya Perwira Jarvis mengalihkan pembicaraan menatap sekeliling rumah bergaya kuno tersebut dengan pandangan penuh takjub.
Sejenak Regina terdiam mendengar pertanyaan lelaki yang ada di sampingnya, lalu menjawab, “Iya. Kebetulan aku baru saja menyelesaikan pekerjaan dari Pimpinan Vald. Sehingga semua telah selesai dikerjakan, termasuk pengamanan yang masih berlangsung membuat beberapa pekerjaan terbengkalai. Untung saja Pimpinan Vald sudah memindahkan semua alih perusahaan utama menjadi work from home.”
“WFH?” beo Jarvis menoleh sesaat.
Regina mengangguk singkat, kemudian memutar pegangan pintu yang masih menggunakan kunci unik dan tidak mudah dibobol oleh seseorang dari luar. Wanita itu membuka lebar mempersilakan Jarvis masuk.
Sejenak lelaki berpakaian loreng itu pun menatap sekeliling rumah yang mungkin belum pernah direnovasi, selain langit-langit rumah. Sebab, benda tipis berwarna putih itu sudah tidak sanggup menahan banyak sekali kotoran yang berasal dari sela pengercoran untuk membuat lantai dua.
Jarvis meneliti setiap foto yang terpajang rapi pada dinding yang menampilkan seorang anak laki-laki begitu menggemaskan. Namun, ia merasa seperti mengenalnya membuat Jarvis mengernyit tidak percaya.
“Apa kamu mempunyai adik?” tanya Jarvis mengernyit penasaran.
“Bukankah itu tidak perlu dipertanyakan lagi?” Regina bertanya balik dengan senyuman geli terpatri di wajahnya.
“Oke, maksudku, jika ini adikmu. Lantas, di mana semua fotomu? Aku hanya melihat seorang anak kecil di sini yang seperti berlatar dari pembisnis,” ralat Jarvis meringis pelan.
“Aku tidak ada di sana karena aku jarang sekali mau ikut berfoto,” jelas Regina menutupi sesuatu.
“Tidak apa-apa. Foto Zyrach juga lebih banyak dibandingkan dengan diriku,” balas Perwira Jarvis tertawa pelan.
Sedangkan Regina hanya tertawa sumbang. Entah apa yang lucu, tetapi ia hanya menghormati Jarvis yang mengira bahwa pernyataannya lelucon. Meski pada kenyatannya menurut Regina benar-benar menyebalkan.
Meskipun ia tidak bisa menjelaskan bagaimana rumitnya keluarga. Karena Jarvis pun bukan siapa-siapa membuat Regina harus menahan diri. Lagi pula ia sudah menyimpan rahasia ini sangat lama. Mustahil rasanya ia membongkar saat dekat dengan seseorang yang begitu peduli pada adiknya, selain Lizian.
“Apa kamu lapar, Perwira Jarvis?” tanya Regina menoleh pada lelaki yang berada di belakangnya melihat-lihat suasana rumah.
“Kalau ada makanan aku sangat lapar. Kebetulan tadi latihan cukup keras akibat akan diadakan kompetisi tahunan para prajurit,” jawab Jarvis mengembuskan napasnya panjang sembari bersikap istirahat di tempat dengan kedua tangannya di belakang tubuh mencekal tangan kanan agar tidak terlalu lelah.
“Kebetulan aku akan tinggal di sini selama beberapa hari, jadi sudah membeli banyak makanan untuk dijadikan persiapan ketika sedang malas keluar rumah,” ucap Regina menuntun ke arah dapur yang masih sangat sederhana, meskipun sudah memilki wastafel.
“Aku benar-benar mengagumi setiap interior yang ada di sini, Nona Owl. Karena menurutku, Keluarga Owl benar-benar mengedepankan nilai budaya sampai semua yang ada di sini begitu antik. Sampai beberapa barang yang baru aku lihat lagi,” tutur Jarvis tersenyum tulus.
“Aku sengaja tidak mengganti semua yang ada di sini, karena untuk dijadikan sebagai kenangan. Karena setiap detail barang yang ada di sini memiliki arti tersendiri,” imbuh Regina tersenyum lega memikirkan bahwa perjuangan orang tuanya mempertahankan rumah ini tidak menjadi sia-sia. Nyatanya bisa bertahan sampai dua puluh tahun tanpa mengalami masalah.
“Percaya! Aku juga merasakan hal yang sama, tetapi keluargaku benar-benar merubah nilai kebudayaan menjadi modern. Walaupun tidak dapat dipungkiri bahwa aku terkadang merindukan semua pemandangan yang dulu menjadi teman masa kecil,” timpal Jarvis bersemangat, lalu mendudukkan diri di kursi tingkat mini bar sembari mengambil gelas bersih dan menuangkannya dengan air mineral yang tersedia.
“Kenapa kamu tidak mempertahankannya sendiri?” tanya Regina mengernyitkan keningnya tidak mengerti sembari sibuk memotong berbagai sayuran untuk dijadikan sebagai makan malam.
“Waktu itu, aku sedang melakukan pelatihan, jadi saat keluargaku berpindah tempat aku tidak mengetahuinya. Bahkan aku baru mengetahui ketika Zyrach melakukan ujian menjadi anggota BIN,” jawab Jarvis mengembuskan napasnya berat. Ia benar-benar menyesali semuanya dan berharap waktu dapat diputar kembali dengan mengulang di mana dirinya masih bisa bertahan untuk tetap menjadi seorang pekerja kantoran. Tidak menjadi apparat keamanan negara yang terus berjuang demi keselamatan banyak orang.
“Tidak apa-apa. Kalau kamu ingin melihatnya bisa datang ke sini, tapi kamu harus mengabari diriku lebih dulu. Agar ketika datang tidak sia-sia. Karena aku tidak menetap di sini, mengingat Valder Logistic lumayan jauh,” ungkap Regina tersenyum tipis sembari menuangkan tumisan sayur ke atas piring dan meletakkannya tepat di hadapan Jarvis.
“Apakah kamu masih tetap bekerja walaupun perusahaannya sudah ditutup seperti itu?” tanya Jarvis sedikit bingung akibat wanita cantik yang sibuk memasak itu sudah membicarakan masalah perusahaan kepada dirinya sebanyak dua kali. Dan hal terssebut cukup mencurigakan.
“Kamu akan mengetahuinya ketika sudah benar-benar mendapat pengiriman mendadak, meskipun larangan resmi dari polisi sudah turun,” jawab Regina tersenyum kecut.