Kini Theo dan Rafif duduk saling berhadapan dengan di dua pengawal yang biasa di dalam mendadak tidak ada. Sebab, mereka disuruh keluar tepat ketika Rafif masuk. Sehingga lelaki lelaki berusia muda itu tampak menatap Theo datar sekaligus serius.
“Apa kamu serius melakukan ini, Rafif? Karena aku tidak akan menerima jika kamu mendadak ingin membatalkan kontrak di masa depan,” tanya Theo menautkan jemarinya serius.
“Tidak akan main-main jika aku datang ke sini tanpa penculikan seperti yang kamu lakukan,” jawab Rafif tersenyum miring.
“Kalau begitu, kamu harus menandatangani kontrak terlebih dahulu,” titah Theo mendorong sebuah berkas yang tertutup lengkap dengan pulpen di depannya.
“Apa ini?” tanya Rafif penasaran.
“Kontrak seumur hidup,” jawab Theo lugas. “Bukankah kamu sudah mendengar banyak pembicaraan masalah kontrak ini?”
“Iya, beberapa kali aku menemukan fakta tentang kontrak seumur hidup yang membayarkan nyawa ketika membatalkan.”
“Jika kamu sudah tahu, maka tidak perlu lagi aku mengatakannya.”
Sejenak Rafif menatap kontrak yang ada di tangannya seperti milik sang paman. Entah kenapa ia menjadi bersemangat, walaupun jauh dari lubuk hatinya merasa sangat waspada. Tindakan nekatnya kali ini benar-benar dipantang oleh Guardian.
Sementara itu, di sisi lain terlihat tiga orang Guardian duduk saling berhadapan di ruang pelatihan. Ketiganya tampak saling berpandangan dengan embusan napas panjang.
Rafif baru saja pergi selama beberapa jam, tetapi Guardian sudah mencemaskan. Walaupun tindakan nekat lelaki itu memiliki banyak risiko. Sebab, Grubby telah mengatakan semuanya kalau di belakang kasus p*********n Keluarga Osm adalah Theo.
Entah apa yang terjadi pada kedua orang tua Rafif sampai memiliki hubungan perselisihan dengan LUCA. Atau mungkin ini berkaitan dengan pendirian LUCA yang masih menjadi rintisan di negara orang lain.
“Gue benar-benar khawatir sama Rafif,” celetuk Grubby yang sudah tidak tahan terus bungkam akan kepergian rekan kerjanya.
“Mau bagaimana lagi?” sahut Beryl mengembuskan napasnya panjang.
Sedangkan Zyrach terlihat lemas mengingat kepergian Rafif yang selama ini berada di bawah bayangan kepergian keluarganya. Memang tidak mudah menjadi lelaki itu berdiri di belakang bayangan yang mungkin sudah menyiksa setiap harinya.
“Gue pikir, dia terlalu nekat mengatasi semuanya seorang diri. Padahal dia bisa aja meminta bantuan sama kita. Karena kita adalah rekan kerja yang harus saling bergantung satu sama lain,” ungkap Grubby mengerucutkan bibirnya kesal.
“Kita harus menghormati keputusannya,” timpal Zyrach yang sejak tadi terdiam. “Lagi pula Rafif sudah berpesan untuk kita selalu memantau perkembangan tubuhnya agar tidak mengganggu penyelidikan kali ini.”
“Gue rasa, apa yang dibilang Zyrach benar. Karena dia sudah mengorbankan dirinya sendiri untuk penyelidikan ini. Sehingga kita sebagai sahabat sekaligus rekan kerjanya harus mendukung apa pun yang menjadi keputusan Rafif,” sahut Beryl mengangguk pelan.
Setelah itu, ketiganya pun saling terdiam menatap satu sama lain sembari memikirkan perkembangan Rafif. Sebab, mereka seharusnya tetap bersama, tetapi Rafif yang tidak ingin membuat semua orang merasa kerepotan akan masalahnya sendiri pun langsung mengorbankan dirinya sendiri.
Sedangkan seseorang yang tengah dipikirkan oleh Guardian itu tampak menyandarkan tubuhnya di pinggiran kolam renang mansion. Rafif mengenakan kaus polos berwarna hitam dengan celana jeans panjang tengah menyandarkan tubuh sembari meluruskan kedua kakinya menatap genangan air yang cukup dalam.
Di samping lelaki itu terlihat gelas cantik berisikan air jeruk dan cemilan yang baru saja dirinya ambil dari dapur. Sebab, ketika ia datang di dapur tidak ada siapa pun membuat Rafif memutuskan untuk mengambil secara mandiri.
Meskipun dalam hatinya benar-benar merasa bahagia. Karena dengan begitu, Rafif jelas tidak perlu menolak semua bantuan yang mengarah pada dirinya. Hal tersebut akan sangat merepotkan ketika berhadapan dengan pelayan keras kepala yang begitu sungkan dan bersikeras untuk mengambilkan cemilan sore tersebut.
Di saat lelaki itu asyik termenung tiba-tiba mendengar suara langkah kaki mendekat membuat Rafif menoleh, lalu mengernyitkan keningnya bingung. Kemudian, Rafif menegakkan tubuhnya sembari menatap datar pada seorang wanita yang datang mengenakan jubah mandi dengan bagian dalamnya sudah dipastikan memakai bikini.
“Hai, Rafif! Sedang apa kamu di sini?” tanya Vesenia tersenyum lebar, lalu menyikap belahan jubah mandi tersebut memperlihatkan paha mulusnya yang terekspose jelas. Sebab, wanita itu tepat duduk hanya berjarak satu meter saja dari Rafif.
Namun, lelaki menatap datar itu hanya menaikkan alisnya menarik. Diam-diam ia tersenyum dalam hati melihat godaan terbesar dari sekitarnya yang akan bermain cantik.
“Duduk saja. Lagi pula aku tidak memiliki pekerjaan yang sibuk,” jawab Rafif secara perlahan merebahkan tubuhnya kembali membuat Vesenia menoleh sesaat.
“Apa kamu ingin berenang?” tanya Vesenia dengan nada mengajak.
Rafif menggeleng pelan. “Tidak. Aku sedang melakukan pengamatan pada tempat ini.”
“Benarkah? Kamu sangat berniat ingin bekerja di sini ternyata,” ucap Vesenia tersenyum lebar, lalu perlahan melepaskan tali jubah mandinya secara perlahan. Kemudian, melepaskan benda tersebut dengan meletakkan jubah tersebut di sandaran kursi.
Tubuh mulus nan sek*si itu pun terpampang jelas di hadapan Rafif membuat lelaki tersebut meneguk air liurnya susah payah. Jakunnya terlihat naik-turun melihat sekujur tubuh Vesenia yang bisa dikatakan menjadi surga dunia bagi para lelaki.
Tidak munafik jika dirinya tidak tergoda pada wanita bertubuh sintal tersebut. Apalagi sepasang gunung kembar itu tampak hampir tumpah dengan br*a merah yang sangat mencolok dan hanya menutupi bagian pu*tingnya saja. Bahkan segitiga terbalik itu pun tampak sangat tipis dan mungkin terlihat transparan.
Tiba-tiba bagian bawah Rafif mendadak menegang. Ia benar-benar tidak bisa menahan diri melihat betapa sintal dan penuhnya tubuh Vesenia yang sangat menggoda.
“Rafif!” panggil Vesenia memiringkan tubuhnya membuat gunung kembar itu pun benar-benar tumpah,
Spontan Vesenia menarik br*a tersebut dengan santai di hadapan Rafif dan meletakkan dengan sedikit kesal. Tentu saja benda kenyal itu tampak bergoyang tidak seimbang membuat pemiliknya langsung mengembuskan napas panjang.
“Ada apa?” tanya Rafif berusaha menetralkan suaranya yang hampir bergetar samar.
“Kamu terlihat sangat aneh. Apa ada masalah?” jawab Vesenia menatap lembut nan perhatian.
“Tidak ada. Aku hanya sedang berpikir bagaimana bisa ada seorang wanita yang jelas-jelas memiliki kekasih malah bertingkah vulg*r di depan lelaki lain,” ujar Rafif sedikit menyindir.
Sayang sekali bukannya tersinggung Vesenia malah melebarkan senyumannya, lalu membalas, “Astaga, Rafif, kamu benar-benar polos. Sepertinya kamu perlu mengenal diriku lebih jauh. Karena Theo tidak akan cemburu pada lelaki mana pun. Karena dia tahu aku hanya menyukainya saja. Tidak kepada orang lain.”
“Benarkah?” Rafif menaikkan alisnya menarik.
Tanpa sadar ekspresi itu membuat jantung Vesenia berdetak dua kali lebih cepat. Ia tidak tahu pengikut baru Theo bisa setampan dan semenarik ini. Walaupun dirinya tidak bisa bertingkah lebih banyak, sebab ia masih perlu bertahan hidup di balik kekuasaan yang dimiliki oleh Theo.