Rafif merebahkan tubuhnya di sebuah kamar yang akan menjadi miliknya selama beberapa saat, karena terselip rencana besar untuk segera membalikkan seluruh kehidupannya. Tentu saja lelaki itu diam-diam merasa tidak sabar sekaligus bersemangat.
Dengan menatap langit yang berada di kamarnya, Rafif berdiam diri sembari memejamkan mata. Tepat lelaki itu hendak tertidur pulas, tiba-tiba terdengar ketukan dari pintu membuat Rafif kembali membuka matanya. Namun, lelaki itu terlihat kesal, akibatnya rasa kantuk tadi mendadak hilang.
Merasa canggung sekaligus tidak nyaman di kediaman orang lain, Rafif pun bangkit dari tempat tidurnya dan melenggang santai menuju ke arah pintu kamar yang terasa ada seseorang berdiri di sana.
Seorang wanita berpakaian se*ksi khas pelayan ala kelinci berwarna hitam dengan leher begitu rendah dan rok pendek yang mekar itu pun menunduk penuh. Sayang sekali tubuh wanita itu bukanlah apa-apa jika dibandingkan dengan seseorang yang sekarang masih mengisi relung hatinya.
“Maaf mengganggu, Tuan. Tapi, makan malam sudah siap dan Tuan Besar sudah menunggu di bawah,” ucap wanita bersuara menggemaskan itu membuat Rafif mendadak bersemangat, tetapi ia berusaha menutupinya dengan sebaik mungkin.
“Baiklah. Aku akan turun ke bawah,” balas Rafif mengangguk singkat.
Namun, saat Rafif hendak berbalik, tiba-tiba tangannya dicekal oleh pelayan berpakaian ala kelinci tersebut. Membuat lelaki tampan yang kini menyisakan kaus polos berwarna hitam dengan celana jeans berwarna senada itu pun mengernyit bingung.
“Uhm ... Tuan, tidak meminta bantuan?” tanya pelayan itu memberanikan diri menatap Rafif.
Sejenak lelaki itu terpaku pada bola mata cerah dengan wajah yang benar-benar imut. Seketika Rafif melupakan seseorang yang masih berada di hatinya. Ia menjadi paham bagaimana luasnya jajaran pergaulan sekaligus relasi bisnis Theo.
“Bantuan apa?” Alis tebal itu pun bertaut penasaran menjadikan wajah Rafif terlihat sangat menggemaskan sekaligus tampan.
Bukannya menjawab, pelayan itu malah membawa Rafif masuk ke dalam kamar. Tak lupa pelayan itu langsung mendorong tubuh Rafif hingga terjatuh di ranjangnya sendiri. Kemudian, secara perlahan wanita itu menaiki tubuh lelaki tampan di bawahnya yang melebarkan mata terkejut.
“Apa yang kamu lakukan?” tanya Rafif menatap horror.
Pelayan itu tampak menipiskan bibirnya, lalu menjawab, “Bukankah kamu datang ke sini untuk meminta jatah?”
Rafif mengernyit tidak percaya, dan membalikkan tubuhnya yang kini sudah berada di atas pelayan wanita tersebut. Kemudian, ia mencekal salah satu pergelangan tangan wanita itu sembari menatap penuh selidik.
“Jatah yang lo maksud itu se*ks?”
“Iya, setiap lelaki asing yang datang ke sini sudah pasti mencari kepuasan,” jawab pelayan itu lugas.
“Tapi, maaf sekali, Nona. Saya datang ke sini bukan untuk mencari kepuasan.”
“Lantas, apa?”
“Kamu salah orang.”
Setelah itu, Rafif pun hendak menarik tubuhnya kembali, tetapi dengan cepat pelayan wanita tersebut menarik tubuhnya membuat benturan tidak sengaja itu pun menyulitkan deru napas Rafidf yang sedikit memburu.
Lelaki tampan itu dapat merasakan benda kenyal berada tepat di da*danya melekat sempurna. Seakan menekan setiap titik sensitif milik Rafif yang hanya diketahui oleh lelaki tersebut.
“Apa kamu yakin?” tanya pelayan tersebut memeluk tekuk leher Rafif dengan erat.
“Jangan gi*la!” jawab Rafif menepis tangan pelayan tersebut kesal.
Setelah itu, Rafif pun melenggang pergi dari kamarnya sendiri. Meninggalkan pelayan aneh sekaligus gil* yang sama sekali tidak terduga. Entah kenapa ia sedikit tidak percaya dengan perlakuan pelayan berani di sini.
Langkah Rafif bergerak secara tidak beraturan dengan menuruni tangga dengan cepat, tetapi tanpa sengaja lelaki itu menabrak seseorang yang hendak naik ke atas. Membuat Rafif secara spontan merengkuh pinggang ramping tersebut saat dilihat hendak limbung ke belakang.
Seorang wanita cantik dengan make up mulus ala seorang wanita dewasa menghiasi wajah menggemaskan tersebut. Karena ia bisa melihat ekspresi terkejut dari wanita yang berada di pelukannya.
“Maaf, saya tidak sengaja,” sesal Rafif melepaskan pinggang yang terasa pas di tangannya, lalu hendak melenggang pergi.
“Tunggu!” Suara halus seorang wanita itu pun mengalun indah. Membuat Rafif membalikkan tubuhnya.
“Ada apa, Nona?” tanya Rafif penasaran.
“Kamu siapa? Sepertinya baru di sini?” Wanita itu malah berbalik tanya.
“Saya Rafif.”
“Pengikut Pimpinan Vald atau pengawalnya?”
“Bukan dua-duanya, melainkan rekan kerja Pimpinan Vald.”
“Rekan kerja?” beo wanita itu mengernyit bingung.
Belum sempat Rafif menjawab, tiba-tiba ada suara dari kejauhan disusul dengan langkah kaki yang membentur cukup keras memecahkan keheningan mansion. Hal tersebut membuat Rafif dan wanita cantik yang saling berhadapan itu langsung menoleh.
“Wah, ternyata kalian berdua sudah bertemu!” celetuk Theo tersenyum lebar, lalu merengkuh pinggang ramping yang sempat Rafif pegang itu dengan posesif.
Sedangkan wanita cantik bergaun cukup pendek itu pun mengernyit bingung menatap lelaki yang ada di sampingnya dengan seorang lelaki tampan lain tepat di hadapannya.
“Siapa dia?” tanya wanita cantik itu mendongak menatap wajah tunangannya penuh sekaligus memeluk manja.
“Dia Rafif. Apa kamu mengenalnya?” jawab Theo mengusap punggung tunangannya lembut.
“Oh, astaga! Polisi yang sempat membuat perusahaanmu ditutup, ‘kan?” Vesenia melebarkan mata tidak percaya, lalu menggeleng pelan.
“Bisa dikatakan aku yang menculik dia, tapi sayang sekali di jalan ada kecelakaan tidak terduga,” ralat Theo tersenyum lebar menatap Rafif senang. Ia sama sekali tidak menyangka dirinya akan bertemu dengan lelaki incarannya sejak dulu.
Sedangkan Rafif yang mendengar perbincangan itu pun tampak tidak minat. Kemudian, lelaki itu menoleh sesaat melihat ke arah belakang yang menampilkan pelayan gil*a tersebut.
“Pimpinan Vald, Nona Ovt,” sapa pelayan tersebut membungkuk hormat, lalu menoleh ke arah Rafif dengan canggung. “Tuan ....”
“Panggil aku Rafif saja,” sela lelaki tampan itu mengangguk singkat.
“Baik, Tuan Rafif!” imbuh pelayan itu tersenyum tipis.
Theo mengembuskan napasnya panjang, lalu berkata, “Rafif, bisakah kamu ke ruanganku sekarang? Ada yang harus kita bicarakan.”
“Baik, Pimpinan Vald!” balas Rafif mengangguk patuh.
Setelah itu, Theo pun menatap tunangannya yang terlihat memandangai Rafif dengan pandangan sedikit mencurigakan. Tentu saja hal tersebut membuat lelaki itu sedikit tidak suka, tetapi ia memilih membiarkan saja. Karena ia tahu bahwa Rafif tidak akan menyukai kekasih bosnya sendiri.
“Sayang, kamu kembalilah ke atas. Aku akan menyusul nanti,” ucap Theo lembut, lalu mencium bibir Vesenia dengan melumatnya sesaat.
Tentu saja ciuman tersebut disambut antusias dengan Vesenia yang langsung menarik tekuk kekasihnya untuk mendekat. Lalu, melepaskannya dengan napas tersenggal-senggal.
“Baiklah, aku akan menunggumu,” balas Vesenia tersenyum lebar.