Sebuah mobil mewah nan mahal itu pun terhenti di sebuah mansion besar yang dikelilingi oleh banyak pengawal berpakaian serba formal. Perhatian para pengawal itu tampak teralihkan dengan kehadiran mobil asing yang berhenti tepat di depan gerbang hitam menjulang tinggi.
Sejenak hal tersebut membuat beberapa pengawal tampak mendekat, lalu membungkuk penasaran menatap penuh selidik pada jendela hitam tak tembus pandang. Kemudian, salah satu dari dua pengawal organisasi LUCA itu pun mengetuk kaca jendela tersebut.
“Permisi!” ucap pengawal itu dengan wajah tidak bersahabat.
Seseorang yang berada di dalam mobil itu pun menurunkan kaca jendela mobil, lalu berkata, “Beri tahu Pimpinan Vald bahwa aku sudah datang.”
“Kamu siapa?” tanya pengawal lainnya dengan dahi mengernyit dalam.
“Rafif,” jawab lelaki tampan berambut rapi dengan pakaian serba hitam.
Sejenak keduanya tampak terkejut, lalu tak urung memberi tahu pengawal yang berada di dalam.
Saat Rafif dan dua pengawal tersebut menunggu pemberitahuan dari pengawal yang berada di dalam untuk segera memberi konfirmasi bahwa lelaki di dalam mobil untuk segera masuk ke dalam.
Tak lama kemudian, Rafif pun diperbolehkan masuk ke dalam mansion bergaya mewah dengan pengawal yang berjaga berada di setiap sudut. Hal tersebut membuat lelaki yang berada di dalam mobil untuk mengarah pada halaman mansion.
Rafif turun dengan santai menatap ke arah pintu utama mansion yang sudah terbuka lebar dengan beberapa penjaga tampak berada di sisinya.
Lelaki tampan mengenakan mantel hitam yang dipadukan dengan celana jeans dan kaus senada itu pun melenggang masuk sembari mengacak rambutnya sesaat.
“Di mana Pimpinan Vald?” tanya Rafif menatap lurus pada pengawal yang berada di sampingnya.
“Sedang ada di ruang billiard,” jawab pengawal tersebut lugas.
Tanpa pikir panjang, Rafif pun melenggang masuk ke dalam sembari sesekali menoleh ke arah dalam mansion yang terlihat dipenuhi oleh berbagai lukisan mahal. Meskipun ia tidak pernah tahu tentang seni, tetapi sedikit banyak lukisan yang sering dibawah oleh sang ayah ketika masih bisa bernapas.
Sesampainya di ruang permainan billiard, Rafif melenggang masuk ke dalam menatap seorang lelaki yang terlihat sibuk membidik. Ia tersenyum ringan, lalu mengambil salah satu tongkat tersebut dan berputar mengamati detail meja billiard.
Saat Theo melepaskan bidikan, sayang sekali bola incarannya malah menabrak sisi meja membuat benda tersebut memantul ke arah lain. Membuat Rafif mengangkat alis kanannya tertarik, lalu membungkuk penuh perhatian.
Dan benar saja, dalam satu tembakan Rafif memasukan empat bola sekaligus dalam dua lubang yang berbeda, termasuk bola incaran Theo yang sayangnya diambil alih. Theo tampak mengulas senyum menarik, lalu menaruh tongkat billiard tersebut di tempatnya kembali.
“Ada apa kamu datang ke sini?” tanya Theo melangkah mendekati meja yang berisikan botol whisky sekaligus gelas cantik berisikan bongkahan es cukup besar.
Selesai memainkan billiard yang ternayat tetap dimenangkan oleh Theo, akhirnya lelaki itu pun memutuskan untuk meneguk minumannya kembali. Lalu, menoleh ke arah seorang lelaki yang bersandar pada dinding sembari memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana.
“Tidak ada, aku datang ke sini hanya ingin mengunjungimu, Pimpinan Vald,” balas Rafif tersenyum singkat. “Bukankah kamu ingin merekrutku menjadi pengikutmu?”
“Apa kamu sedang melakukan lelucon? Setelah diberi tahu tentang hilangnya personil polisi akibat penangkapan resmi di Valder Logistic, kamu malah datang seakan tidak terjadi apa pun,” sinis Theo tersenyum miring.
“Bukankah hilangnya aku berkaitan dengan dirimu? Sangat menguntungkan aku bisa selamat dari kecelakaan maut yang menimpa waktu itu,” balas Rafif tidak mau kalah.
“Lantas, apa yang kamu lakukan di sini? Bukankah seharusnya kembali ke kantor untuk melanjutkan penangkapan?” Theo menatap lelaki yang ada di hadapannya dengan sedikit tertarik. Entah bagaimana caranya Rafif bersembunyi sampai datang ke sini seakan tidak terjadi apa pun.
“Iya, awalnya aku memang ingin ke kantor untuk segera memberi perhitungan pada seorang pemimpin organisasi gelap yang berani menculik polisi di perusahaannya sendiri. Tapi, aku sadar kalau ternyata perintahmu ini berpikiran panjang. Karena kamu hanya tidak ingin orang di luar sana memanfaatkanku,” tutur Rafif mengembuskan napasnya panjang.
“Jangan bermain-main denganku, Rafif!” ancam Theo penuh penekanan sembari menatap kedua bola mata hitam pekat itu dengan penuh.
Rafif tersenyum miring, lalu membenarkan letak kerah lelaki yang ada di hadapannya. “Aku tidak akan datang ke sini kalau hanya bermain-main, Pimpinan Vald. Lagi pula aku bisa saja langsung datang ke kantor dan mengatakan semua yang telah terjadi, termasuk peenculikanmu. Yang jelas kamu sudah tidak memiliki harapan lagi untuk keluar dari penjara, Pimpinan Vald.”
“Apa kamu baru saja mengancamku?” ucap Theo menatap sayu sekaligus mengejek.
“Tidak. Aku hanya berusaha bersikap realistis dengan apa yang telah terjadi sampai hari ini, termasuk mendengarmu sudah menjadi buronan polisi. Setiap gerak-gerikmu akan diketahui, Pimpinan Vald,” jawab Rafif menggeleng pelan, lalu menatap sekeliling ruangan serba mewah tersebut.
“Aku tidak akan takut dengan semua ancamanmu itu, Rafif. Melakukan kejahatan sudah menjadi makananku sehari-hari dan hanya untuk menghabisi seorang polisi kecil seperti dirimu bukanlah perkara yang sulit,” imbuh Theo tertawa mengejek, lalu hendak melenggang pergi.
Namun, belum sempat lelaki itu keluar dari ruangan, tiba-tiba perkataan dari Rafif membuat Theo mengurungkan niatnya dan kembali menatap lelaki tampan di hadapannya.
“Bagaimana kalau aku bekerja denganmu, Pimpinan Vald!” kata Rafif sedikit keras sembari menatap punggung lebar yang membelakanginya.
“Apa kamu yakin?” tanya Theo membalikkan tubuhnya, tetapi lelaki itu sama sekali tidak mendekat. Membuat jarak mereka berdua lumayan jauh.
“Bukankah aku sangat mirip dengamu? Begitu nekat datang ke kandang sendiri untuk melakukan sebuah perjanjian?” Fairel mengangkat alis kanannya sembari tersenyum miring.
“Baiklah, tawaran yang lalu memang masih terbuka, tetapi apa kamu sanggup melakukan berbagai tugas nanti? Karena tidak akan ada lagi jalan keluar ketika perjanjian kerja sama dilakukan. Aku tidak akan menganggapmu sebagai bawahan, melainkan kolega bisnis yang harus dihormati. Mengingat jabatanmu di kepolisian cukup bergengsi dan mengandung banyak nyawa di dalamnya,” balas Theo mengangguk setuju membuat Fairel diam-diam bersorak senang di dalam hati.
Entah apa yang direncanakan Rafif tidak ada satu orang pun mengetahuinya. Namun, tidak menutup kemungkinan bahwa semua rencana lelaki itu akan segera dilaksanakan.