Sebuah mobil sedan mewah berwarna hitam masuk ke dalam dengan iringan mobil jeep berwarna senada terhenti tepat di depan peti kemas yang berada tidak jauh dari posisi mobil Lizian. Membuat beberapa pengawal yang berada di mobil jeep tersebut keluar dan membentuk barisan dengan menunduk penuh.
Sontak beberapa pengawal dari kapal pun langsung berlari menyambut kedatangan Theo dengan membungkuk rendah, lalu berkata serempak, “Selamat datang, Pimpinan Vald!”
Regina yang terlihat sibuk mengarahkan beberapa karyawan perusahaan Vald Logistic langsung menoleh, lalu mengembuskan napasnya panjang. Ia harus mempersiapkan diri untuk mendekat ke arah bosnya sendiri yang jarang sekali bisa bertatap muka, selain di perusahaan.
Namun, Regina belum ingin mendekat membuat wanita itu kembali melakukan pekerjaannya membiarkan sang bos berbincang dengan para bawahan sembari menatap dirinya penuh.
Dan dugaan Regina pun menjadi benar, tepat ketika dirinya ditinggalkan oleh karyawan yang terlihat sibuk mencatat kedatangan barang. Seorang lelaki yang dapat ditebak sebagai pengawal berpakaian rapi itu pun melangkah mendekat.
“Permisi, Nona Owl, kau dipanggil oleh Pimpinan Vald!” ucap seorang lelaki bersuara serak basah dengan aksesn inggris yang kental. Bahkan lelaki itu melupakan identitasnya sebagai orang asing yang bekerja di Indonesia.
Regina mengangguk singkat, lalu melenggang lebih dulu meninggalkan seorang lelaki tampan berwajah datar yang menjadi pengawal baru Theo. Ia tidak mengatakan apa pun, selain menghadap pada seorang lelaki yang sangat dihormasti.
Akan tetapi, tidak untung Regina yang seakan kehilangan respect terhadap bosnya sendiri. Namun, sebisa mungkin ia menahan diri agar tidak lepas kendali begitu saja. Karena hatinya benar-benar kesal melihat wajah tanpa dosa menatap dirinya penuh.
“Nona Owl, kamu sangat bertanggung jawab sekali sampai pengiriman benar-benar memastikan bahwa saya yang mengirimnya,” ucap Theo tersenyum lebar.
“Tidak, Pimpinan Vald. Saya hanya berhati-hati dalam bertindak. Mengingat perusahaan masih dalam tahap penyelidikan, jadi segala gerak-gerik akan selalu dalam pemantauan polisi. Sehingga saya hanya menjalankan sesuai prosedur pemeriksaan,” sanggah Regina menggeleng pelan.
Theo tertawa pelan mendengar kerendahan hati Regina yang menjadikan wanita itu terlihat sangat mulia, lalu berkata, “Saya lebih suka dengan pekerja seperti kamu. Selalu professional dalam keadaan apa pun, tidak menutup kemungkinan kamu akan menyuruh bos untuk datang.”
“Terima kasih atas penghargaan dan pujian yang diberikan oleh Pimpinan Vald. Tapi, saya hanya menjalankan tugas sebagai karyawan. Memang sudah sewajarnya bertindak seperti ini, tidak menutup kemungkinan seorang bawahan akan menyuruh bos untuk datang seperti yang saya lakukan sekarang.” Regina tersenyum singkat membalas perkataan bosnya dengan lugas dan tidak bertele-tele. Apalagi wanita itu sampai dibuat malu, nyatanya tidak akan berhasil.
Semakin lama berkecimbung di dunia bisnis yang banyak sekali musuh layaknya teman baik sudah membuat Regina mempelajari setiap karakter seorang lawan bicaranya. Hanya saja wanita itu terkadang lebih memilih meyakinkan dirinya sendiri, dan melupakan hati yang mungkin akan berlainan.
Setelah melakukan serah-terima pekerjaan yang akan ditanggung sendiri oleh Theo, akhirnya Regina pun menyuruh semua karyawan perusahaan Valder Logistic untuk segera menyelesaikan pekerjaannya.
Hal tersebut membuat Lizian yang berada di dalam mobil terlihat memperhatikan setiap gerak-gerik Theo dari kejauhan. Meskipun lelaki pemilik organisasi gelap itu tampak mendudukkan diri di tumpukan ban bekas dengan empat pengawal membentengi dirinya.
“Astaga, Theo benar-benar waspada dalam menghadapi polisi,” gumam Lizian tidak percaya, lalu menoleh ke arah ponselnya yang berada di dashboard.
Sejenak lelaki itu tampak mengernyit dalam menatap nomor ponsel tanpa nama yang mampir di ponselnya. Tentu saja Lizian tampak ragu untuk mengangkat panggilan tersebut, karena ia sama sekali tidak pernah memberikan nomor pribadinya pada sembarangan orang.
Setelah berpikir keras, akhirnya Lizian pun memutuskan untuk mengangkat panggilan tersebut sembari mengenakan earphone yang tersedia agar bisa mendengarkan dengan leluasa sekaligus memperhatikan Theo dari kejauhan.
“Zian, lo lagi di mana?” tanya seorang lelaki yang terdengar tidak asing.
“Rafif, ini lo? Gue pikir orang lain,” jawab Lizian mengembuskan napasnya lega.
“Lo lagi sama Kak Regina?”
“Iya, tapi dia sekarang lagi kerja. Gue ada di dalam mobil.”
“Zian, gue minta tolong sama lo untuk selalu jagain Regina. Sekarang gue lagi menyandera Ethan. Besar kemungkinan Theo akan menarik sasaran pada satu-satunya orang yang bisa menarik perhatian gue.”
“Lo udah gil*, Raf!?” seru Lizian terkejut, lalu memijat pelipisnya tidak habis pikir. “Lo benar-benar nekat nyelidiki kasus sampai harus nyulik paman sendiri.”
“Ada sesuatu hal yang belum bisa gue ceritain sama lo, Zian. Jadi, gue minta tolong mulai dari sekarang jangan pernah lepasin perhatian dari Regina. Karena gue yakin Theo akan bergerak cepat demi mengadapatkan berliannya kembali,” ungkap Rafif menghela napas berat. Ia benar-benar dibuat tidak berdaya dengan segala kemungkinan yang terjadi.
“Oke, gue bakalan awasin Regina. Tapi, gue juga enggak bisa janji ketika kantor ada penyelidikan, Raf.”
“Kalau begitu, lo bisa kasih tahu gue untuk maslaah ini. Biar nanti gue yang memikirkannya,” balas Rafif tersenyum tipis.
Selesai melakukan perbincangan singkat yang terdengar serius, kini Lizian menatap kosong pada seorang wanita cantik tengah menyelipkan anak rambutnya ke belakang telinga. Dari kejauhan seperti ini saja sudah membuat jantung Lizian berdetak dua kali lebih cepat.
Entah kenapa lelaki itu benar-benar ingin mengakhiri hidupnya sendiri sampai menyukai seorang wanita yang menjadi kakak dari sahabatnya sendiri. Sedikit terdengar aneh, tetapi Lizian juga tidak bisa melakukan apa pun.
Suasana di dermaga benar-benar sibuk dengan banyak sekali paket dalam jumlah banyak. Bahkan tidak sedikit awak kapal kesusahan akibat pengungkit kapal mendadak keras karena terlalu keras digunakan sebagai angkutan paket tersebut.
“Pimpinan Vald, apakah Nona Owl tidak akan diberi Peringatan apa pun?” tanya pemimpin pengawal yang menemani Theo untuk menggantikan tugas Ethan sementara waktu sampai lelaki itu ditemukan kembali.
“Biarkan saja dia seperti itu. Aku suka profesionalisme yang tidak memandang bulu. Bahkan bosnya sendiri pun disuruh datang untuk melakukan serah-terima secara langsung. Agar meyakinkan bahwa aku benar-benar seorang Theo Vald Rasendriya dan bukan orang lain yang mengaku demi mendapatkan banyak keuntungan dalam bisnis seperti ini,” balas Theo tersenyum singkat sembari menatap laut lepas yang terlihat gelap tanpa penerangan sama sekali.
“Tapi, Nona Owl benar-benar tidak sopan, Pimpinan Vald,” timpal pengawal lainnya terlihat tidak terima.
Tentu saja perkataan itu sukses membuat Theo yang awalnya merasa baik-baik saja akan permintaan menuntut dari Regina langsung terlihat tidak suka. Kemudian, lelaki itu langsung mengkode pada pengawalnya untuk mendekat.
Namun, siapa sangka kalau ternyata Theo malah menarik kerah kemeja pengawalnya sendiri hingga tercekik membuat lelaki itu langsung memberontak meminta pengampunan.
“Sudah kubilang jangan mengatakan apa pun,” kecam Theo bernada rendah, lalu mendorong pengawalnya begitu saja hingga jatuh tersungkur tepat di kaki Regina yang baru saja mendekat. Membuat wanita cantik itu menaikkan alisnya tidak percaya sekaligus penasaran.