Perdebatan cukup panjang dengan tidak ada yang mau mengalah, termasuk Regina memperjuangkan haknya untuk mengatur pengiriman pun membuat dua awak kapal dan dua pengawal pribadi kesulitan. Mereka tampak tidak percaya kegigihan wanita di hadapannya dalam bekerja.
“Bukankah sudah mengatakan bahwa Pimpinan Vald harus berada di sini untuk memastikan bahwa kalian benar-benar pengawal pribadinya dan bukan seseorang yang melakukan penyamaran,” ucap Regina mendesis tidak percaya sembari melipat dua tangannya di depan d**a. Menatap penuh tantangan pada empat lelaki bertubuh besar yang minim sekali otak. Hanya tubuh mereka yang besar layaknya hulk.
“Baiklah, aku akan meneleponnya!” putus salah satu pengawal pribadi tersebut membuat Regina yang berada di sampingnya langsung mengangkat alis tidak percaya.
“Saya tidak ingin melalui ponsel,” sinis Regina mendesis pelan. “Sekarang itu zaman canggih dengan suara yang mampu diubah sesuka hati. Saya tidak akan melepaskan pengiriman kedua ini kalau kalian masih bersikeras membawanya.”
“Astaga, keras kepala sekali!” sungut salah satu pengawal tersebut dengan mengigit bibir bawahnya geram.
“Saya tidak peduli. Pimpinan Vald harus berada di sini secara langsung dan berbicara. Ini bukan tentang sopan atau tidak sopan, melainkan sikap professional dalam pekerjaan,” ujar Regina mengangkat bahunya acuh tidak acuh.
“Mengapa kamu keras kepala sekali? Padahal hanya seorang karyawan yang sebentar lagi akan kehilangan pekerjaan,” balas salah satu awak kapal dengan nada sedikit mengejek.
“Saya hanya bersikap professional, tidak peduli seberapa lama saya bekerja ataupun tidak. Yang jelas, selagi posisi saya masih menjadi penanggungjawab pengiriman, maka mau tidak mau kalian juga harus mematuhi peraturan ini. Terlepas dari karyawan atau tidak. Jika masih menyangkut nama perusahaan Valder Logistic, maka akan ada saya yang mengawasinya dengan ketat,” papar Regina sekenanya.
Seketika empat lelaki bertubuh besar itu pun bungkam di hadapan Regina yang tidak ada apa-apanya dibandingkan mereka. Namun, sikap kerja keras dan cara berpikir rasional itu membuat keempatnya sedikit kesulitan, selain tidak mempunyai pilihan untuk menghubungi Theo.
Dengan memberanikan diri membuka nomor ponsel yang selama ini hanya menghubungi tanpa dihubungi. Tangan pengawal itu tampak berkeringat dingin diselingi tremor ringan.
Tentu saja perhatian itu tidak luput dari pandangan Regina yang berada di sampingnya. Sejenak wanita itu tampak tidak percaya, lalu memilih membiarkan mereka menyelesaikan urusannya sendiri.
Regina tidak menoleh ke arah mana pun, meski ia sudah tahu bahwa Lizian berada di dalam mobil mendengar semua perbincangannya. Bahkan sudut bibir lelaki itu tertarik sempurna membentuk lengkungan indah yang terlihat membahagiakan.
“Pimpinan Vald!” sapa dua pengawal itu cepat dengan membungkukkan tubuhnya penuh.
Sontak hal tersebut membut Regina menggeleng samar. Jelas saja tidak ada Untungnya bagi dua pengawal itu membungkuk. Nyatanya di tempat ini tidak ada kamera pengawas dalam bentuk apa pun. Sehingga rasanya agak seperti lelucon membungkuk hormat pada seseorang yang entah di mana keberadaannya.
“Ada apa?” tanya Theo dengan suara berat yang terdengar dalam.
Sejenak Regina yang mendengarnya langsung merinding. Ini kali pertama dirinya menghubungi bos besar, tetapi wanita itu berusaha agar tidak gentar dan tetap melaksanakan rencananya yang hampir tersusun rapi.
“Begini, Bos, pengiriman kedua mengalami masalah. Karena Bu Regina tidak mengizinkan kami menangani pengiriman secara pribadi,” ucap pengawal tersebut sesekali menatap ke arah seorang wanita yang masih mengangkat dagunya angkuh.
“Mengapa?” tanya Theo merubah suaranya menjadi jauh lebih ringan.
“Bu Regina meminta Pimpinan Vald untuk datang memastikan pengiriman kedua ini secara langsung. Sebab, ada beberapa hal yang mungkin harus dikatakan oleh Bu Regina sendiri.”
“Baiklah. Aku akan ke sana!”
“Hah?”
“Cepat siapkan mobil!” titah Theo memutuskan panggilannya sepihak.
Sedangkan pengawal yang baru saja menelepon itu pun langsung menatap ke arah Regina dengan pandangan penuh arti. Membuat wanita itu menaikkan alisnya bingung sekaligus penasaran.
“Jangan menatapku seperti itu,” sinis Regina mengalihkan pandangannya ke arah lain.
“Pimpinan Vald akan datang ke sini,” ucap pengawal tersebut mengundang keterkejutan dari tiga lelaki yang ada di sampingnya.
“Yang benar saja!?” balas salah satu awak kapal dengan melebarkan matanya terkejut.
“Aku juga tidak tahu, tetapi Pimpinan Vald benar-benar ke sini.” Pengawal tersebut menggeleng tidak percaya, lalu kembali mengetikkan sesuatu di ponsel untuk memberikan perintah pada seorang supir pribadi organisasi gelap LUCA.
Kini perasaan Regina benar-benar merasa sedikit tidak percaya dirinya menarik telah menarik seekor harimau dari sangkar. Sebab, Theo benar-benar datang atas permintaan dirinya.
Sementara itu, Lizian yang sejak tadi mendengarkan dari dalam mobil pun langsung merasa waspada. Cukup mengagumkan tindakan berani Regina dalam menarik perhatian Theo. Akan tetapi, dirinya merasa tidak percaya bahwa lelaki itu datang hanya akan sesederhana perkiraannya.
Berkecimbung di dunia penuh kejahatan membuat Lizian benar-benar merasa hidupnya penuh diwaspadai. Meski terkadang dirinya merasa ingin melepaskan semua yang telah terjadi di hidupnya.
“Pimpinan Vald benar-benar akan datang?” tanya Regina menatap satu per satu dari keempat lelaki yang ada di hadapannya.
“Iya, benar. Pimpinan Vald sedang dalam perjalanan menuju ke sini,” jawab pengawal yang baru saja selesai berteleponan tersebut.
“Baiklah, saya tahu. Kalau begitu, kabari saya jika Pimpinan Vald sudah datang. Karena rekan kerja saya sudah menunggu di sana,” pinta Regina dengan nada memerintah membuat dua pengawal yang awalnya meragu, kini mendadak kagum.
Kemudian, Regina pun melenggang pergi menjauhi empat lelaki yang sempat berdebat singkat. Akan tetapi, siapa sangka kalau ternyata wanita itu merasa ingin tenggelam pada saat yang bersamaan.
Tidak ada satu pun yang menduga bahwa Theo akan datang memenuhi permintaan konyol Regina dengan alasan sedikit masuk akal mengenai pengiriman. Nyatanya wanita itu memang benar-benar bertanggung jawab setiap keluar-masuk paket dengan memakai identitas Valder Logistic.
Sehingga Regina merasa tidak akan salah ketika dirinya menggunakan alasan seperti itu untuk membuat Theo datang berkunjung. Selain wanita itu merasa penasaran dengan pengiriman cukup mencurigakan ini, nyatanya Regina jauh lebih penasaran dengan tatapan yang akan dilayangkan oleh Theo saat melihat dirinya.
“Apa yang sudah kalian catat?” tanya Regina pada sepasang pekerja kantor yang berada di bawahnya.
Sebenarnya kedatangan Regina ke dermaga tidak ada apa pun yang dilakukannya, selain memperhatikan setiap kinerja karyawan perusahaan untuk laporan bulanan.
“Baru beberapa paket saja, Bu. Tapi, paket lainnya masih dalam pengangkatan dari lambung kapal,” jawab karyawan wanita berpakaian kemeja biru yang dipadukan dengan celana jeans hitam panjang sampai mata kaki. Wanita itu tampak mengenakan tanda pengenal layaknya di perusahaan dan papan jalan beserta pulpen yang akan digunakan untuk menulis pemantauan malam ini.
Mendengar hal tersebut, Regina mengangguk beberapa kali sembari terus memikirkan apa yang harus dikatakan pada bosnya sendiri. Sebab, ia datang tanpa melakukan persiapan apa pun.