Menjadi pekerja keras mungkin satu-satunya pelampiasan Regina mengusir rasa kesepian ditinggal oleh sang adik. Meskipun ada waktu terkadang dirinya merasa jauh lebih baik, tetapi tidak dapat dipungkiri bahwa dirinya benar-benar merindukan lelaki itu.
Sejenak Regina memandangi ponsel yang menampilkan sederetan pesan singkat dari pengurus perusahaan mengingatkan dirinya untuk segera berangkat menuju dermaga mengawasi pengiriman barang yang datang melalui jalur laut.
Wanita berpakaian meja yang dipadukan dengan sweater mini terikat rapi di pundak, lalu celana bahan panjang agak kesebasaran itu menghiasi kaki jenjang milik Regina yang mematut dirinya sendiri pada cermin besar di hadapannya.
Regina mengembuskan napasnya panjang. Entah sudah berapa kali wanita itu mengembuskan napas. Walaupun tidak dapat dipungkiri bahwa dirinya sangat ingin lepas dari pekerjaan seperti ini, selain mengingatkan pada Rafif. Ia masih tidak rela bosnya sendiri melakukan sesuatu hal membahayakan sang adik.
Meskipun ini sudah menjadi risiko menjadi seorang polisi. Membuat Regina tidak bisa melakukan apa pun lagi, selain pasrah terhadap keadaan yang tidak bisa dirinya lakukan sesuai dengan keinginan hati.
Setelah menantapkan hati, Regina pun memutuskan untuk pergi menuju dermaga yang menjadi tempat pengiriman malam ini. Ia tidak akan sendirian, sebab Lizian sudah berpesan pada dirinya untuk segera menjemput untuk meminimalisir terjadinya sesuatu yang tidak diinginkan.
Tak lama kemudian, bel rumah berbunyi pelan membuat seorang wanita yang masih berada di dalam kamar pun mengalihkan pandangannya. Dengan cepat Regina melenggang keluar dengan sling bag merah yang jarang sekali dirinya gunakan.
Wanita itu membuka pintu yang bertepatan pada Lizian menghadap tepat di hadapannya membuat Regina sedikit tergugup akibat tubuh menjulang tinggi nan kokoh itu saling menatap satu sama lain.
Regina berdeham pelan, lalu berkata, “Ayo, kita harus segera berangkat!”
“Apa Pimpinan Vald sama sekali tidak mengetahui bahwa kedatanganmu akan diawasi oleh seorang polisi?” tanya Lizian merendahkan suaranya agar tidak didengar oleh orang lain. Sebab, mereka berdua berada di luar sehingga tidak menutup kemungkinan akan ada telinga nakal yang menguping pembicaraan.
“Tenang saja. Tidak ada satu orang pun yang mengetahui kedatanganmu ke dermaga,” jawab Regina mengembuskan napasnya panjang.
Setelah itu, keduanya pun melangkah menuju mobil yang masih berada di luar. Karena tidak sembarangan orang bisa membuka pintu gerbang super canggih buatan Rafif. Meski tidak dapat dipungkiri pejalan kaki lebih dipermudah untuk masuk ke dalam, karena akan sangat kasihan jika harus menunggu di luar. Apalagi saat musim penghujan.
Beberapa berkendara menuju dermaga, kini Regina pun menginjakkan kaki pada sebuah lantai bersemen dengan banyak sekali peti kemas kosong. Wanita itu melangkah menghampiri beberapa pekerja gudang yang sudah berada di sana memperhatikan muatan tersebut turun secara perlahan.
“Bagaimana dengan situasi pengiriman?” tanya Regina terlihat begitu professional.
“Selamat malam, Bu Regina,” sapa lelaki berpakaian petugas gudang itu menunduk singkat. “Untuk pengiriman sudah sampai, dan sekarang dalam melakukan tahap penurunan dari muatan kapal. Dan Pimpinan Vald sudah mengutus beberapa pengawal pribadinya untuk menangani pengiriman kali ini.”
Mendengar hal tersebut, jantung Regina berdetak dua kali lebih depat sembari menatap perekam suara yang berada di balik pakaiannya. Untung saja ia sudah membalikkan posisi lampu tersebut agar tidak terlihat dari luar.
“Apakah Pimpinan Vald akan datang kemari?” tanya Regina penasaran.
“Tidak. Pimpinan masih melakukan penyelidikan dan tidak boleh pergi ke mana pun, kecuali diawasi oleh seorang polisi,” jawab petugas gudang tersebut dengan helaan napas panjang, lalu menatap salah satu pekerja yang berada di bawahnya tengah membawa beberapa kwitansi pengiriman untuk diserahkan pada Regina.
“Selamat malam, Bu Regina,” sapa rekan petugas gudang tersebut dengan anggukan singkat, lalu memberikan kwitansi pada pemimpinnya. “Beberapa awak kapal mengatakan bahwa pengiriman masih satu kali lagi, tetapi untuk yang terakhir kita tidak perlu berada di sini. Karena akan diatasi oleh pengawal pribadi pimpinan.”
Regina yang mendengar hal tersebut tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya. “Apa yang sedang direncanakan oleh Pimpinan Vald? Mengapa pengirimannya begitu rahasia?”
“Saya juga tidak tahu, Bu Regina. Tapi, awak kapal memang mengatakan hal tersebut,” ucap pekerja gudang tersebut membuat satu-satunya wanita yang masih berada di sana menelan kekewaan pahit.
Namun, Regina sebagai pengawas segala pengiriman yang mengatasnamakan Valder Logistic itu pun merasa tidak percaya dan langsung menghampiri beberapa awak kapan berusaha menurunkan kotak besar berisikan banyak paket.
“Permisi, Bang!” panggil Regina mengalihkan perhatian dua awak kapal yang bertugas.
“Iya, Nona. Ada apa?” tanya salah satu awak kapal tersebut penasaran.
“Saya dengar ada pengiriman yang kedua. Apakah itu benar?” jawab Regina mengernyit dalam.
Sontak pertanyaan itu pun membuat dua awak kapal di hadapannya terdiam saling berpandangan, lalu meringis pelan seakan menjadi takut untuk membicarakan hal tersebut.
“Apakah benar? Saya pengawas pengiriman dari perusahaan, jadi perlu mengetahui bahwa pengiriman kedua dilakukan secara rahasia sampai tidak boleh ada petugas gudang yang membawanya,” sambung Regina dengan nada menuntut.
Salah satu awak kapal itu pun akhirnya menyerah, lalu mengangguk beberapa kali, “Iya, memang benar kalau pengiriman kedua dilakukan secara tertutup oleh Pimpinan Vald.”
“Apakah nama penerima bersangkutan dengan perusahaan?” tanya Regina.
“Iya, benar, Nona,” jawab awak kapal tersebut tidak mempunyai pilihan lain.
“Baiklah. Saya tidak akan mempersulit kalian berdua dengan menuntut penjelasan lebih lanjut, tetapi sesuai dengan prosedur perusahaan bahwa pengiriman dalam bentuk apa pun yang menyangkut nama perusahaan harus dalam pengawasan perusahaan juga. Jadi, tolong kerja samanya,” pungkas Regina mengakhiri perkataannya dengan senyuman tipis.
“Tapi, Nona ....”
“Saya tahu ini permintaan Pimpinan Vald. Karena Pimpinan Vald sedang dalam masa penyelidikan polisi, jadi pengiriman tersebut akan tetap berada di bawah kendali perusahaan Valder Logistic sampai Pimpinan Vald dibebaskan tanpa syarat,” potong Regina mengangguk meyakinkan.
Kebetulan yang pas, dua pengawal pribadi Theo mendekat dengan memandangi keberanian Regina dengan alis bertaut garang. Lelaki tersebut tampak tidak suka terhadap Regina yang berusaha memerdekakan dirinya dalam bekerja.
“Ada apa ini?” tanya salah satu pegawal pribadi Theo dengan melirik ke arah Regina sinis.
“Begini, Nona Regina menginginkan pengiriman kedua tetap berada di bawah kendali perusahaan,” jawab awak kapal yang sejak tadi berhadapan dengan seorang wanita penuh pesona seperti Regina.
“Tidak bisa!” tolak pengawal pribadi itu mentah-mentah.
Regina yang seakan tertantang pun langsung menyela, “Ini masalah pribadi perusahaan. Kalau memang Pimpinan Vald ingin pengiriman paket kedua ini berada dalam pengawasannya, maka Pimpinan Vald harus berada di sini pula. Untuk melakukan serah-terima pekerjaan agar semuanya menjadi lebih jelas. Karena saya tidak ingin disalahkan ketika terjadi sesuatu pada pengiriman yang kedua ini.”
Mendengar perkataan tersebut, dua awak kapal dan dua pengawal pribadi Theo pun terdiam membisu saling berpandangan satu sama lain.