Di pusat pelatihan pengawal cukup bergengsi, terlihat seorang lelaki tengah menatap keadaan luar dengan wajah yang jauh lebih tenang daripada biasanya. Ethan benar-benar merasakan jiwanya hidup seperti dua puluh tahun lalu. Sejak dirinya melihat Rafif tumbuh menjadi seorang pemuda yang pintar dan berbakat.
“Permisi, Tuan Ethan, waktunya makan siang!” celetuk seseorang dari celah pintu yang berada di bawah membuat lelaki terduduk di dekat jendela berpagar begi itu pun menoleh.
“Tunggu!” sahut Ethan memberhentikan seorang pelayanan pelatihan tersebut yang hendak melenggang pergi, lalu menatap kembali pada seorang lelaki tampan yang berada di dalam.
“Apa Rafif akan datang lagi ke sini?” sambung Ethan dengan sebuah pertanyaan penuh harap.
Sejenak pelayan tersebut mengernyitkan keningnya, lalu mengembuskan napas panjang. “Maaf, Tuan. Sepertinya kamu salah informasi. Petugas polisi yang bernama Rafif sudah meninggal dalam penculikan organisasi gelap LUCA.”
Mendengar hal tersebut Ethan mendadak tidak percaya, tetapi ia segera menyadari bahwa pelayan di depannya ternyata tidak mengetahui apa pun tentang informasi rahasia yang ada di sini. Bisa jadi hanya bertugas memberikan makanan dan kembali pada tempatnya.
“Benarkah? Apa yang terjadi dengan dia?” tanya Ethan berpura-pura terkejut.
“Kami tidak tahu lengkapnya seperti apa, tetapi sampai hari ini pihak kepolisian sudah melakukan kasus secara terbuka. Jadi, laporan dan bukti apa pun yang dimiliki harap segera dikirimkan. Karena akan ada pengakuan khusus jika berhasil menaklukan kasus LUCA,” jawab pelayan tersebut mengangguk pelan.
“Baiklah, aku mengerti,” pungkas Ethan menurunkan bahunya lemas sembari melangkah dengan gontai menghampiri tempat tidurnya yang terlihat lebih rapi.
Tatapan lelaki itu tampak kosong dengan segala kemungkinan terjadi di otaknya membuat Ethan terdiam membisu layaknya patung bernapas. Ethan pikir, dirinya sudah bisa menemui sang keponakan dengan bebas. Nyatanya sama sekali tidak. Rafif bersembunyi dari kenyataan bahwa lelaki itu masih dalam pencarian, walaupun sudah berada tepat di depan matanya kemarin.
“Rafif, apa yang sedang kamu rencanakan?” gumam Ethan pelan sembari menatap dinding berlapisan semen tanpa cat yang sudah beberapa hari ini menemani kesendiriannya.
Sementara itu, di sisi lain Rafif tengah melakukan hal yang sama. Lelaki tampan yang berpakaian kaus hitam polos menatap dinding kamar berbahan besi. Pikirann Rafif mengarah pada kejadian di malam dirinya bermain dengan orang tua.
Tidak ada keanehan apa pun yang terjadi, selain malam di saat semua orang tertidur Rafif kecil mendengar suara gaduh sekaligus teriakan sang ibu memperingatkan dirinya untuk tidak melakukan apa pun.
Bod*hnya Rafif sama sekali tidak mengintip apa yang terjadi di sana membuat dirinya kehilangan bukti kuat kejadian dua puluh tahun lalu. Ia mempercayai sang paman, tetapi tidak dapat dipungkiri pula bahwa dirinya juga mencurigai Ethan.
Walau bagaimanapun juga, Ethan adalah satu-satunya orang dari masa lalu yang mengetahui kejadian sebenarnya p*********n tersebut. Hanya saja lelaki itu masih perlu dicurigai mengingat selama ini telah menorehkan banyak sekali kejahatan bersama LUCA.
Di sela lamunannya memikirkan kejadian dua puluh tahun lalu, Rafif tiba-tiba menyadari bahwa dirinya hendak mencari Xavier untuk meminta penjelasan tentang semua yang terjadi, termasuk penyelidikan polisi terhadap kasus tersebut. Karena sampai hari ini Rafif tidak bisa menemukannya di mana pun, seakan ada pihak teratas yang melakukan kecurangan.
Tanpa pikir panjang, lelaki tampan itu melenggang keluar dengan langkar lebar mendapati seorang gadis tengah berdiri di depan permainan basket sendirian. Zyrach memiliki kebiasaan menghabiskan waktu istirahatnya dengan berolahraga ringan maupun berat.
“Raf, mau ke mana?” tanya Zyrach mengikuti arah langkah lelaki yang baru saja keluar dari kamar itu menuju lorong laboratorium dan ruangan pimpinan eksekutif.
“Ke ruang Pimpinan Abd,” jawab Rafif jujur.
“Oh, Pimpinan Abd lagi kedatangan tamu di BIN. Jadi, sekarang dia lagi enggak ada di ruangannya.” Zyrach memeluk bola basket di pinggangnya. “Mungkin sekitar beberapa jam lagi baru datang.”
“Lama sekali!” ucap Rafif terkejut.
Zyrach mengangguk pelan, lalu melakukan dribbles pada bola basket mahal nan besar di tangannya, kemudian memantulkan benda bulat tersebut masuk ke dalam ring. Mencetak satu skor yang sulit sekali dirinya dapat.
“Di sana ada Bang Jarvis juga, bisa dibilang ada rapat mendadak yang perlu dibicarakan. Jadi, wajar kalau masih ada beberapa jam lagi. Karena yang menjadi pembahasan bukanlah situasi mudah,” balas Zyrach dengan sesekali melakukan shoot dengan gaya profesional.
“Apa ini berkaitan LUCA?” tanya Rafif mendudukkan diri di meja billiard yang berada di tengah ruangan.
“Iya, benar! Yang gue tahu ini berkaitan dengan LUCA. Karena beberapa hari ini Theo melakukan pergerakan di dermaga. Mungkin perkataan Lizian menganai pengiriman benar-benar terjadi hari ini,” jawab Zyrach mengembuskan napasnya panjang, dan melemparkan shoot terakhir dengan sekuat tenaga membuat mesin permainan tersebut hampir saja terguling ke belakang.
Sejenak Rafif memikirkan sang kakak yang mungkin akan berkecimbung langsung dengan pengiriman tersebut. Meski tidak dapat dipungkiri wanita itu akan tetap aman selama dirinya tidak memunculkan wujud di hadapan Theo. Demi menjaga perdamaian sekitar yang berlomba-lomba mengambil alih dirinya.
“Bagaimana dengan situasi dermaga?” tanya Rafif penasaran.
“Pagi ini Grubby tidak mengatakan apa pun. Dia hanya akan bilang ketika benar-benar diketahui pergerakannya,” jawab Zyrach mengembuskan napas panjang, lalu mengambil botol air minum yang berada tepat di samping Rafif. Kemudian, meneguknya hingga tandas.
“Kalau memang belum ada pergerakan apa pun, kita harus menyiasat rencana, Zy. Bukankah kita juga harus mempersiapkan diri untuk berperang?” Rafif terlihat tidak suka sekaligus kesal dengan semua rencana yang mungkin dipersiapkan oleh Xavier dari belakang.
“Awalnya gue memang menyarankan begitu, Raf. Tapi, Pimpinan Abd menyuruh kita tetap berada di tempat untuk mempersiapkan energi pada pertempuran yang sebenarnya,” ungkap Zyrach mengangguk pelan, lalu menatap penuh pada lelaki yang ada di sampingnya.
“Lantas, lo akan tetap berpangku tangan seperti ini?” sahut Rafif tersenyum sinis.
“Enggak ada yang berpangku tangan, Rafif. Semua berjalanan dengan sebagaimana mestinya,” balas seseorang dari belakang sembari menghampiri mereka berdua.
Sontak perkataan itu pun membuat keduanya menoleh menatap kedatangan Beryl membawa sekantung makanan bersama Grubby yang tersenyum lebar.
“Sekarang jangan terlalu memikirkan masalah LUCA. Lagi pula tugas kita hanya mencari masa lalu Rafif, walau mungkin akan saling berkaitan dengan benang merah. Jadi, kita harus tetap fokus,” timpal Grubby bernada ringan sembari meletakkan semua makanan di atas meja billiard.
“Bersenang-senanglah selagi bisa!” balas Prof Aleena ikut menimbrungkan diri pada Guardian yang terlihat hendak menyantap makanan. Sedangkan Professor Faza yang berada di belakangnya hanya menggeleng tidak percaya.
Nyatanya Guardian dan pengurus markas tidak berbeda jauh membuat Professor Faza dan Rafif kompak menggeleng menatap penuh lelah pada orang-orang di hadapannya.