Bulir keringat tampak berjatuhan seiring dengan napas tersenggal-senggal membuat seorang wanita berpakaian training biru-putih itu meluruskan kedua kakinya sembari mengipas-ngipas leher jenjang yang terlihat basah. Regina baru saja menyelesaikan jogging setiap pagi untuk menyehatkan tubuh. Sejak perusahaan Valder Logistic diliburkan akibat kasus organisasi gelap LUCA yang dikembangkan oleh Theo memang berdampak cukup besar.
Hanya saja semua itu tidak berlaku bagi Regina yang hanya mengurus keluar-masuknya barang membuat dirinya tidak merasakan dampak tersebut. Karena sesekali ia datang ke gudang untuk mengawasi seluruh pergerakan di sana, meskipun kantor lumpuh total.
Namun, hari ini Regina memutuskan untuk melakukan olahraga sehat di pagi hari, meskipun dirinya belum sarapan. Karena pukul 9.30 am wanita itu hendak melakukan pembersihkan di rumah Keluarga Osm.
Setelah dirasa tubuhnya cukup berenergi kembali, Regina pun bangkit menuju jalan perumahan yang menjadi tempat tinggal dirinya. Saat wanita itu tengah berjalan cepat, ponselnya yang berada di decker pah* bergetar pelan.
Terpampang sebuah nama yang sudah lama sekali tidak menghubungi dirinya, Lizian. Memang setelah kejadian di mana dirinya marah, lelaki itu sama sekali tidak mengatakan apa pun, selain mengumumkan pengakuan mengejutkan kemarin.
“Halo, Pak Polisi yang begitu berani sampai membuat konferensi pers mengumumkan kasus secara terbuka,” sapa Regina setengah menyindir pada lelaki di seberangnya.
Lizian yang baru saja menghubungi langsung mendapat sindiran seperti itu pun tertawa pelan. Memang tidak ada yang menyangka dirinya akan membuat pengakuan tersebut. Apalagi mengungkapkan secara gamblang di hadapan para petinggi polisi yang ada di sana.
Sebenarnya, Lizian tidak hanya semata-mata mengumumkan kasus LUCA secara gamblang. Nyatanya lelaki itu benar-benar menyinggung petingginya secara langsung.
“Bagaimana kabarmu, Kak?” tanya Lizian mengabaikan sapaan wanita tersebut.
Regina melanjutkan langkahnya sembari melakukan panggilan, meskipun sesekali menyapa para tetangga yang kebetulan bertemu dengan dirinya.
“Aku baik-baik saja. Kamu tidak perlu khawatir. Lagi pula aku tidak memiliki waktu untuk bersedih, sedangkan perusahaan tempatku bekerja hampir ditutup secara permanen,” jawab Regina.
“Baguslah. Sekarang pihak kepolisian sedang melakukan penyelidikan secara terbuka. Itu akan menjadi kabar yang baik untuk semua orang.” Lizian mengembuskan napasnya panjang. “Aku ingin memberi tahu bahwa sekarang pihak kepolisian telah melakukan kerja sama pada beberapa aparat keamanan lingkungan.”
“Astaga, sampai harus melakukan hal seperti itu?” tanya Regina sedikit terkejut.
“Benar, Kak. Semua harus melakukan banyak kerja sama, karena pihak kepolisian banyak campur tangan dari pengikut LUCA. Sehingga aku memerlukan banyak kerja sama,” jawab Lizian mengembuskan napasnya panjang.
“Baiklah. Aku akan berhati-hati dalam melakukan banyak hal, karena LUCA lambat laun pasti akan menargetkan diriku,” imbuh Regina mengembuskan napasnya panjang.
Wanita itu sama sekali tidak menyangka bahwa dirinya akan bekerja di bawah musuh terbesar adik sendiri. Bahkan Regina lebih tidak menduga lagi, ia akan bekerja di sana sangat lama. Membuat tidak ada satu orang pun yang tidak mengenal dirinya.
Sementara itu, di sisi lain terlihat sekumpulan lelaki berpakaian formal tampak berdiri dengan menumpu kedua tangannya di depan tubuh. Kemudian, salah satu dari mereka mendekat dengan membisikkan sesuatu pada seorang lelaki yang duduk di balik kursi kebesaran menghadap ke arah jendela.
Setelah selesai membisikkan sesuatu, lelaki berjas formal itu pun kembali berdiri di dekat sekumpulan pengawal yang berdiri sigap dengan kepala menunduk hormat. Tak lama kemudian, lelaki yang duduk di balik kursi tersebut bergerak perlahan menghadap lurus ke depan.
“Bagaimana dengan kalian yang sebanyak ini tidak bisa menemukan keberadaan Ethan!? Hah!!!” bentak Theo murka sembari menggebrak keras pada meja berkas beralaskan kaca membuat benda tersebut seketika retak. Menyisakan sayatan perih yang mulai berdarah.
Sontak hal tersebut membuat beberapa pengawal dengan spontan hendak mendekat ke arah lelaki itu, tetapi Theo langsung mengkode pada mereka untuk tetap diam di tempat.
“Maafkan kami, Pimpinan Vald!” balas mereka semua membungkuk penuh.
Suasana ruangan mendadak tegang dengan Theo masih menatap berapi-api. Lelaki yang memiliki jabatan paling tinggi sekaligus pendiri organisasi gelap LUCA sangat dihormati itu pun melangkah mendekati pengawal yang terlihat ketakutan tersebut.
“Apa yang kalian temukan selama pencarian Ethan?” tanya Theo merendahkan suaranya.
“Kami hanya menemukan lokasi titik terakhir Ethan di pinggiran kota, Pimpinan Vald. Tapi, pada saat kita semua melakukan penyisiran banyak sekali polisi yang berjaga. Membuat kita akhirnya memutuskan untuk kembali,” jawab salah satu pengawal yang berdiri tepat di hadapan Theo membuat lelaki itu langsung menoleh menandangai satu-satunya pengawal pemberani yang menjawab semua pertanyaannya.
“Lantas, kalian semua kabur?” tanya Theo bernada sedikit menyindir.
“Kami tidak kabur, Pimpinan Vald,” jawab pengawal tersebut menggeleng keras dengan kepala yang terus menunduk dalam.
“Kalau bukan kabur, apa yang kalian lakukan?” sinis Theo mendesis pelan.
“Kami hanya menghindari para polisi itu agar tidak mencari keributan, Pimpinan Vald. Karena situasi markas sedang dalam pengawasan besar membuat kita tidak bisa bergerak secara terang-terangan,” balas pengawal tersebut berani menjawab.
Sontak semua rekannya yang berada di belakang pun langsung menggeleng pelan. Mereka menatap kasihan pada pengawal polos yang dengan ringannya menjawab semua perkataan Theo. Bahkan bisa dikatakan pengawal tersebut benar-benar berani dan polos. Sampai tidak menyadari bahwa pertanyaan itu hanyalah pelampiasan dengan nada menyindir.
Suara tamparan keras itu pun mengejutkan beberapa pengawal yang menunduk ketakutan, sedangkan pengawal menjawab semua pertanyaan Theo tadi langsung terpelanting ke samping. Namun, lelaki itu kembali berdiri tegak menghadapi kemarahan sang bos.
“Kamu benar-benar bod*h!” umpat Theo kesal, lalu menendang tulang kering milik pengawal tersebut dengan begitu sadis.
Tentu saja semua yang melihatnya langsung merasa iba. Tidak dapat dipungkiri bahwa lelaki itu benar-benar baru dalam mengikuti semua pergerakan LUCA.
“Bawa dia ke ruangan!” titah Theo mengkode pada beberapa pengawal setia yang sudah mengikuti dirinya sejak lama.
Kemudian, dua pengawal yang berada di sisi pintu ruangan pun langsung menarik pengawal muda tersebut keluar. Membuat sekumpulan pengawal ditugaskan untuk mencari Ethan itu pun menatap penuh iba, mereka tidak bisa melakukan apa pun, selain terus menatap salah satu rekannya yang mungkin akan mendapatkan sesuatu mengejutkan.
Sebagai pemimpin organisasi gelap, Theo jelas mendapat banyak sekali tekanan, termasuk menjadi jahat dan kejam sudah makanan sehari-hari. Walaupun bisa dikatakan lelaki itu tidaklah kejam, melainkan layaknya psikopat tanpa hati.
Terkadang Theo diam-diam menyesali perbuatannya sendiri, tetapi lelaki juga merasa terhibur akan perbuatannya. Entah apa yang terjadi pada lelaki itu sebelumnya, cukup mengejutkan bahwa Theo memiliki tambatan hati sekaligus tunangan yang sebentar lagi akan melangsungkan sebuah pernikahan suci.