Suara gubrakan keras itu tampak mengejutkan seorang lelaki yang terlihat duduk sembari menyibukkan diri dengan berbagai berkas di tangannya. Lizian mengembuskan napas kasar saat melihat Hafa menaruh banyak sekali map dan hampir memenuhi meja kerjanya.
“Astaga, kasus apa saja ini?” tanya Lizian mendelik tidak percaya.
“Ini barang bukti yang gue ambil saat melakukan penyisiran di perusahaan Valder Logistic,” jawab Hafa membanting tubuhnya lelah di kursi kantor, lalu menyandarkan tubuh sembari memejamkan mata.
Sedangkan Lizian terlihat menyibukkan diri dengan berkas yang baru saja dibawa oleh rekan kerjanya. Satu per satu berkas tersebut mulai lelaki itu buka sampai tiba-tiba ia menyadari sesuatu yang cukup mencurigakan.
“Fa, lo nemuin ini semua di mana?” tanya Lizian menatap penuh.
Hafa yang awalnya merebahkan diri di kursi pun secara perlahan menegakkan tubuh, lalu mengembuskan napasnya panjang melihat lelaki yang tanpa lelah terus menyelidiki kasus LUCA. Padahal departemen lain pun sedang menyelidiki hal tersebut, tetapi dengan lancang Lizian melakukannya dengan persetujuan Pak Andri.
“Ruang arsip perusahaan itu,” jawab Hafa malas. “Tapi, ada yang aneh di sana, Zian. Waktu gue berusaha ngambil semua ini, enggak ada satu pun pengawal LUCA yang menghalanginya.”
“Bagaimana bisa?”
“Gue juga kurang tahu, tapi yang jelas pasti ada sesuatu salah di sini. Karena beberapa hari belakangan gue selalu melihat Pimpinan Vald tanpa kaki-tangan di sampingnya.”
“Maksud lo, Ethan enggak ada di sana?”
“Iya. Entah sudah berapa hari dia tidak ada di perusahaan. Walaupun beberapa pasukan polisi dikerahkan untuk mengamankan lingkungan dan mansion besar milik lelaki itu.”
“Sepertinya memang ada yang salah di sini, Fa. Gue akan menyelidikinya nanti, jadi lo sekarang mau ke mana?”
“Penjemputan barang bukti ‘kan udah selesai, jadi gue mau menemani Nai di depan.”
Lizian mengembuskan napasnya panjang. “Gue minta lo untuk mengawasi Theo bisa, Fa? Entah kenapa gue curiga kalau dia merencanakan sesuatu di belakang kasus yang menjeratnya sekarang.”
“Apa maksud lo?” tanya Hafa mendadak bingung.
“Lo tahu ’kan kalau kasus LUCA ini enggak sembarangan? Ada banyak banget yang perlu dilakukan, termasuk penyelidikan lebih lanjut tentang siapa petinggi terbesar kepolisian yang bekerja sama selama ini. Mungkin ini hanya perasaan gue aja yang terlalu cemas memikirkan Rafif, tetapi kalau dipikirkan dari sisi kepolisian. Ini bukanlah masalah yang pendek, Fa. Sudah pasti ini akan berbuntut panjang menggaet siapa pun yang terjerat dalam organisasi gelap LUCA,” jawab Lizian masuk akal membuat gadis yang ada di hadapannya langsung menarik kursi tersebut mendekat.
“Maksud lo, LUCA memiliki banyak personil di sini yang berkedok sebagai polisi?” Hafa merendahkan suaranya.
Lizian mengangguk samar.
Sontak hal tersebut membuat Hafa mendelik tidak percaya. Gadis itu benar-benar merasa dipermainkan oleh sesuatu hal yang dikatakan sebagai apparat keamanan negara.
“Lo enggak membohongi gue, ‘kan?” tanya Hafa berusaha meyakinkan.
“Gue sama sekali enggak ada niat untuk membohongi lo, Fa. Ini benar-benar kasus serius yang selama ini Rafif selidiki seorang diri,” jawab Lizian mengangguk mantap.
Hafa menggeleng tidak percaya antara percaya. Entah kenapa dirinya merasa sesuatu hal telah terjadi selama beberapa tahun belakangan ini. Hanya saja dirinya tidak pernah mengatakan pada siapa pun, termasuk Nailaraa yang selama ini menjadi rekan kerjanya. Karena ia merasa tidak mempunyai siapa pun yang bisa dipercaya.
“Kalau begitu, apa yang harus gue lakukan?” tanya Hafa serius.
Di saat yang bersamaan pula tepatnya pada Rainbow Night Club terjadi sedikit perselisihan antara dua kubu berbeda. Berisikan wanita cantik dengan kaki jenjang yang begitu indah. Membuat salah satu dari mereka mengepalkan tangannya tidak terima.
“Reni, apa yang lo lakuin sama pelanggan waktu itu?” hardik seorang wanita berwajah garang dengan mata menghunus tajam.
“Lo emang enggak ada kapok-kapoknya, ya! Kalau niat ya kerja! Jangan membantah dengan berbagai alasan. Masih untung kamu ada yang menerima bekerja di sini,” bentak seorang wanita berwajah menor yang pernah melayani Rafif beberapa kali.
Reni menundukkan wajahnya ketakutan. Ia tidak menyangka akan berakhir seperti ini, tetapi dirinya tidak mempunyai pilihan lain, selain membiarkan semua menghardik tanpa mengetahui seseorang di balik tubuhnya.
Dan benar saja, sekelompok lelaki berpakaian formal tampan mendekat membentengi Reni yang secara perlahan mengangkat kepalanya dengan senyuman sinis. Wanita yang pernah melayani Rafif itu pun membongkar sosok asli di belakangnya.
“Kenapa kalian semua diam? Bukankah selama beberapa hari ini kalian terus mengomeli diriku,” sinis Reni tersenyum miring.
“Ka ... kamu?” Semua wanita yang menjadi rekan kerjanya itu pun mendelik tidak percaya.
“Iya, benar! Aku adik iparnya Pimpinan Vald sekaligus adik kandung Vesenia. Terkejut, bukan? Aku datang ke sini untuk melihat secara langsung tentang pekerjaan kalian yang ternyata menjijikkan,” ungkap Reni tertawa pelan yang terdengar sinis.
“Maafkan saya, Reni,” sesal wanita berwajah menor yang sempat membentak dirinya tadi.
“Tenang saja. Kalian tidak akan ada yang aku pecat ataupun membuat perhitungan, tetapi aku minta dari kalian untuk tidak pernah berhubungan dengan polisi. Kalau sampai aku mengetahuinya, maka dengan berat hati kalian akan kehilangan pekerjaan,” ancam Reni dengan ekspresi serius.
“Kami tidak akan seperti itu!” balas semua wanita bayaran di sana dengan cepat.
Setelah puas mengungkapkan identitas yang selama ini ditutupinya, Reni pun melenggang keluar bersama orang-orang bertubuh kekar yang sempat membentengi dirinya tadi.
Langkah wanita itu mengarah pada ruangan tersembunyi yang berisikan seorang wanita berkaki jenjang dengan pakaian super minim. Gaun pendek dengan satu jengkal dari pinggang itu tampak terangkat sedikit ketika wanita itu menumpukan kaki kanannya pada kaki kiri sembari memegang sloki berisikan whisky.
Mendengar suara langkah seseorang masuk ke dalam, Vesenia tersenyum singkat dan beranjak turun dari meja kerja yang selama ini menjadi teman bagi wanita itu di kala tunangannya terlalu sibuk.
“Reni, apa yang kamu lakukan di bawah? Mengapa banyak sekali pengawal yang mengikutimu?” tanya Vesenia terkejut, lalu menelisik tubuh adiknya yang sama sekali tidak ada tanda-tanda kekerasan fisik.
“Astaga, Kak, aku baik-baik saja. Jangan khawatir,” jawab Reni memegang bahu sang kakak, lalu mendorong secara perlahan untuk mendudukkan wanita itu di kursi kebesaran.
“Wajar saja kalau aku merasa khawatir, Reni. Kamu selalu berusaha menutupi hubungan kita berdua. Entah apa yang sedang kamu rencanakan,” keluh Vesenia mengembuskan napasnya panjang.
“Apa pun rencanaku nanti, tidak ada kaitannya denganmu, Kak. Jadi, terimalah persembahan yang akan aku lakukan,” pungkas Reni tersenyum penuh makna.