Sebuah mobil mewah yang dikendarai seorang wanita cantik itu pun terhenti tepat di depan rumah bergaya lawas. Regina mengembuskan napasnya panjang, lalu menutup pintu mobilnya. Tak lupa wanita itu menyapa beberapa tetangga yang kebetulan berada di luar.
“Bu, lagi nunggu tukang sayur lewat, ya?” sapa Regina hendak melenggang masuk, tetapi diurungkan niatnya ketika melihat beberapa wanita berpakaian daster batik tengah berdiri di depan rumah masing-masing.
“Eh, Nona Regina!” sahut salah satu wanita berdaster biru dengan ekspresi senang. “Udah lama banget enggak kelihatan.”
Regina tertawa pelan sembari mengangguk geli.”Iya, Bu. Belakangan ini kantor banyak kerjaan, jadi lebih sibuk daripada biasanya.”
“Ibu kira, Nona semalam pulang. Soalnya Ibu enggak sengaja lihat ada mobil di depan sini,” celetuk salah satu wanita berdaster cokelat dengan rambut tercepol acak.
“Mobil siapa, ya, Bu? Sepertinya enggak ke sini,” balas Regina sedikit tidak percaya.
“Benar, Nona Regina. Ibu juga awalnya ngira itu perampok atau maling, tapi ternyata benar-benar orang. Karena Ibu sempat lihat dia buka jendela balkon yang ada di samping,” ucap wanita tersebut bersikeras.
Sejenak Regina menatap ke arah dalam rumah yang selama ini dirawat oleh Keluarga Owl. Biasanya wanita itu tidak pernah mendengar berita apa pun, tetapi kali ini cukup mengejutkan ada orang selain dirinya yang datang berkunjung.
Tidak ingin banyak berpikir, Regina pun memutuskan untuk masuk ke dalam. Ia menyempatkan diri untuk berpamitan pada ibu-ibu rumah tangga yang setiap pagi selalu menunggu kedatangan tukang sayur ataupun pedagang makanan lainnya untuk sarapan.
Regina melenggang masuk ke dalam rumah yang selama ini dirinya rawat untuk memberikan kejutan pada Rafif. Namun, kenyataan pahit harus wanita itu telan secara bulat-bulat. Belum sempat mengungkapkan sesuatu yang selama ini dirinya rahasiakan, Rafif telah menghilang tanpa kabar.
“Kira-kira siapa, ya? Enggak mungkin ada anggota LUCA yang datang, bukan? Mereka jelas sedang menyembunyikan diri dari polisi,” gumam Regina pada dirinya sendiri sembari sesekali menggeleng pelan.
Kemudian, wanita itu pun mendorong double pintu yang ada di depannya dan melenggang masuk ke dalam menatap semua interior tidak ada perubahan. Seakan tidak ada satu orang pun yang pernah masuk ke dalam.
Saat wanita itu semakin masuk ke dalam, ia baru menyadari beberapa perubahan yang terjadi pada ruang tengah. Tentu saja Regina langsung terkejut sekaligus tidak percaya bahwa beberapa pintu yang ada di sana awalnya rapi, kini terbuka kecil.
Tanpa pikir panjang, Regina pun melenggang masuk ke dalam menelisik penasaran pada ruagan yang sempat dirinya curigai. Walaupun bukan tempat penuh rahasia, tetapi tetap saja wanita itu penasaran dengan seseorang yang ‘katanya’ berada di dalam. Meskipun rumah ini dikunci rapat, tidak menutup kemungkinan pula ada seseorang yang mampu membobolnya dengan sengaja.
Akan tetapi, sayang sekali saat wanita itu melenggang masuk tidak ada apa pun yang menghilang dari sana. Hanya saja ada beberapa pergerakan yang terlihat di ruangan ini membuat Regina semakin penasaran.
Sungguh akan merasa aneh jika rampok masuk ke dalam rumah dua puluh tahun lalu yang menjadi korban p*********n. Sebab, tidak akan ada barang apa pun yang bisa dijual, selain menguji nyali kebenaranian akan tempat cukup menyeramkan tersebut.
Di saat Regina tengah sibuk menelisik rumah yang ditinggali oleh Keluarga Osm, lain halnya dengan Lizian yang terlihat rapi mengenakan seragam harian polisi tersebut. Lelaki itu tampak berbincang dengan para petinggi kepolisian, termasuk Pak Andri selaku ketua departemen yang menjadi atasan Lizian.
Sebuah meja panjang yang biasa dijadikan tempat untuk rapat itu pun tampak sedikit ramai dengan beberapa wartawan masuk ke dalam mengabadikan momen penting sekaligus bersejarah. Sebab, baru kali ini kepolisian bertindak akan semua perbuatan yang telah dilakukan oleh LUCA, dan masih berkaitan dengan hilangnya Rafif ketika melakukan tugas berpegang pada surat resmi.
“Selamat siang, teman wartawan semuanya! Terima kasih sudah memenuhi undangan untuk memenuhi acara pers hari ini. Saya Lizian Olf Aderlad selaku polisi dari Departemen Kriminal Kejahatan ingin mengumumkan sesuatu yang sangat penting,” kata Lizian memulai pembukaan acara pers resmi dan dihadiri oleh banyak petinggi kepolisian.
Sontak banyak sekali sorot kamera dan flash yang terlihat membidik foto Rafif dari berbagai sisi. Tak lupa banyak kamera berlensa cukup besar mengabadikan momen penting tersebut. semua wartawan yang ada di sana tampan berlomba-lomba mengabadikan momen itu.
“Saya berdiri di sini untuk mewakili para petinggi yang bisa kalian lihat di depan meja panjang tersebut. Suatu penghormatan terbesar bagi hidup saya berdiri di sini menyampaikan beberapa aspek yang perlu kalian semua ketahui, meskipun ini berkaitan dengan sahabat saya sendiri. Sebenarnya saya sedih sekaligus senang berdiri di tempat yang selama ini diidamkan oleh siapa pun,” lanjut Lizian mengembuskan napasnya panjang. Memperlihatkan kesedihannya, walaupun dibuat-buat.
Sontak semua wartawan dan reporter yang ada di sana pun saling berpandangan, lalu mendengarkan semua perkataan Lizian dengan seksama. Tentu saja mereka lakukan semua itu demi tercapainya berita ekslusif yang belum disampaikan oleh siapa pun.
“Sudah kalian tahu bahwa Kepolisian Metropolitan Jakarta sedang menangani kasus LUCA yang membuat resah banyak orang. Kalau dihitung mungkin sudah hampir ribuan kasus yang telah tercatat di kantor polisi. Membuat kami sebagai apparat keamanan negara memikirkan perlu adanya tindakan tegas untuk semua perbuatan yang telah dilakukan oleh LUCA,” sinis Lizian tersenyum miring menatap salah satu kamera yang mencurigakan, menyosot pada dirinya.
“Jadi, sudah kami putuskan dengan bulat bahwa pengerjaan kasus ini akan dibuka secara umum. Agar masyarakat sipil bisa membantu sekaligus menjadi penyelamat bagi banyak orang. Siapa pun yang bisa menyelidiki atau menjadi pemecahan kasus ini akan mendapatkan penghormatan terbesar kami-polisi,” ungkap Lizian tersenyum senang menatap satu per satu kamera yang menyorot pada dirinya.
Salah satu reporter berpakaian kemeja cokelat itu pun langsung menyela, “Pak Lizian, apakah semua yang berkaitan dengan LUCA untuk mendapatkan pengakuan khusus?”
“Untuk sekarang, kami hanya akan memberikan penghargaan bagi mereka yang mampu melaporkan tindak kejahatan LUCA, jadi bagian yang tidak berkaitan dengan kasus tersebut. Maka, dengan sangat terpaksa tidak akan mendapatkan pengakuan apa pun,” jawab Lizian tersenyum tipis.
Setelah itu, para wartawan pun langsung berebut meminta pertanyaan membuat Lizian yang melihatnya langsung mengembuskan napas panjang. Lelaki itu tidak bisa mengatakan apa pun, selain memberikan instruksi agar suasana kembali kondusif.
“Diharapkan tenang, para teman wartawan. Semua pertanyaan kalian akan saya jawab, tetapi untuk pers sekarang hanya itu yang disampaikan. Terima kasih,” pungkas Rafif menunduk singkat, lalu turun dari podium pembicara rapat.
Kemudian, satu per satu petinggi polisi yang berada di sana pun membubarkan diri meninggalkan ruang rapat berisikan wartawan. Tentu saja para awak media tampak kecewa, tetapi senyum mereka langsung terbit saat melihat seorang polisi mendekat untuk menerima banyak pertanyaan yang diajukan. Sedangkan Lizian yang melihat hal tersebut pun diam-diam tersenyum, ia akan memanfaatkan situasi seperti ini untuk menolong sahabatnya dari ketidakadilan yang dilakukan oleh LUCA terhadap sahabatnya.