“Apa yang lo mau lakukan sekarang, Raf?”
Dua lelaki tampan itu terlihat mendudukkan diri di sofa panjang yang masih terasa empuk sembari menatap layar televisi mati akibat antena di rumah itu mendadak rusak. Membuat mereka terjebak sepanjang malam di sini, karena cuaca di luar benar-benar tidak mendukung.
Berkendara saat hujan mengguyur, jelas bukan keputusan yang baik. Selain rawan terjadinya kecelakaan, hujan benar-benar menghambat jalanan. Sehingga Rafif memilih untuk menginap di rumah yang sudah dua puluh tahun lamanya ditinggali. Walaupun pada kenyataannya rumah itu tampan terawat dan dibersihkan secara berselang oleh seseorang tanpa nama.
“Kita terpaksa menginap di sini,” jawab Rafif sesekali melihat ke arah luar yang menampilkan guyuran hujan deras membasahi setiap sela-sela jalanan berbatu tanpa semen tersebut.
“Lo yakin?” Grubby tampak terlihat cemas memikirkan rekan kerjanya yang akan menginap di rumah pembawa luka sekaligus kebahagiaan.
“Mau bagaimana lagi? Ke Jakarta juga rasanya mustahil dengan cuaca seperti ini,” jawab Rafif mengembuskan napasnya panjang.
Akhirnya, mereka berdua pun memutuskan untuk naik ke lantai dua. Di mana ada dua kamar kosong yang salah satunya milik Rafif secara pribadi. Ia tidak ingin tidur di bawah, karena takut trauma menakutkan kembali menghantui dalam mimpinya.
Setelah beberapa saat membicarakan semua kejadian hari ini, tanpa sadar Rafif pun tertidur pulas bersamaan Grubby yang menyusul ke alam mimpi. Dua lelaki tampan itu tidur dalam satu ranjang yang sama, walau tidak menutup kemungkinan tempat tidur tersebut sangatlah besar membuat keduanya tidak akan bersentuhan.
Di saat Rafif tertidur pulas, tiba-tiba ia terbangun mendengar suara teriakan yang begitu keras. Lelaki dewasa itu mengucek matanya singkat, lalu menguap dengan malas mendengarkan teriakan malam-malam seperti ini.
Membuat lelaki itu memutuskan untuk turun ke bawah melihat situasi apa yang sedang terjadi, tetapi matanya langsung mendelik tidak percaya saat melihat ruang tamu tersebut dipenuhi oleh darah dan pecahan kaca berserakan.
Rafif jatuh terduduk melihat ibunya diseret oleh seseorang mendekati kamar yang sempat digunakan oleh dirinya. Lelaki yang menyeret ibunya itu pun tampan mendendang pintu dengan semakin kuat. Membuat suara dobrakan terdengar sangat jelas.
Keringat dingin mulai membanjiri kening Rafif yang memperhatikan setiap detail kejadian tersebut. Lelaki itu ketakutan. Meskipun kejadian ini mungkin hanyalah mimpi, tetapi perasaan kehilangannya benar-benar terasa sangat jelas.
Tanpa sadar Rafif menahan napas saat pintu yang sejak tadi menjadi target perhatian lelaki kejam itu pun terbuka. Namun, ia tidak bisa melihat apa pun, selain tangan lelaki itu perlahan mengeluarkan sebilah pisau bersimbah darah teracung sempurna.
Hal tersebut membuat Rafif melebarkan matanya tidak percaya. Mulutnya menganga melihat benda tajam tersebut terjun bebas ke arah tepat organ vital sang ibu, yaitu jantungnya.
Spontan Fairel pun berteriak, “Jangan!!!”
Teriakan memekakkan telinga itu pun membuat Grubby yang terlelap di sampingnya melebarkan mata terkejut, lalu menoleh ke arah Rafif yang terlihat memberontak dengan sangat kuat. Lelaki itu nyatanya bermimpi buruk membuat Grubby berusaha membangunkannya.
Namun, sekuat apa pun Grubby menahan tubuh lelaki itu sembari memanggil-manggil namanya, Rafif tetap tidak sadarkan diri. Akhirnya, Grubby yang tidak memiliki pilihan lain pun langsung menampar pipi Rafif dengan sedikit keras membuat lelaki itu membuka matanya dengan napas tersenggal-senggal, lalu menoleh ke arah Grubby yang mengembuskan napasnya lega.
“Lo kenapa, Raf? Tadi teriak-teriak kayak orang kesurupan,” tanya Grubby mengernyit khawatir.
Rafif menegakkan tubuhnya dengan terduduk lemas. Lelaki itu memejamkan matanya singkat, lalu menjawab, “Gue mimpi kejadian malam itu.”
“Bukannya kata lo sama sekali enggak ngelihat kejadian itu?”
“Gue memang enggak melihatnya secara langsung, tapi sewaktu gue mimpi. Kejadian itu benar-benar terasa nyata.”
“Kalau begitu, lebih baik kita melihat rekaman yang diberikan oleh Pak Jafra, Raf.”
Rafif mengangguk kaku. “Mungkin kita akan segera menemukan petunjuk di sana.”
Setelah itu, dua pemuda tampan yang sengaja datang untuk mencari sesuatu itu pun mulai mengambil pelaratannya masing-masing. Tentu saja Rafif telah menyediakan ruang rahasia yang tidak pernah diketahui oleh siapa pun, selain dirinya dan sang ayah.
Di dalam ruangan tersebut, terdapat banyak sekali komputer dan mesin server yang masih berfungsi dengan baik. Walaupun memerlukan pembaruan kabel secara singkat oleh Grubby. Namun, tetap saja semua barang di sini tampak sangat bermutu, seakan Keluarga Osm membelinya secara niat untuk melakukan sesuatu dikemudian hari.
“Raf, gue penasaran sama bisnis yang keluarga lo kembangkan dulu sampai mempunyai ruangan khusus seperti ini,” celetuk Grubby di sela kegiatannya memasang kabel yang menyalurkan pada server tersebut.
“Gue juga enggak tahu, Grub. Yang jelas, ayah gue sering banget ngajak ke sini dan memberikan beberapa pengawasan mengenai komputer,” balas Rafif mengembuskan napasnya singkat.
Kemudian, rekaman satu per satu kamera pengawas pada malam itu pun terputar dengan susunan rapi. Tentu saja rekaman dimulai dari Ethan yang berkunjung dan bermain bersama Rafif kecil dengan sangat manis.
Tidak ada yang mencurigakan dari rekaman tersebut, sampai tiba-tiba tatapan Rafif mengarah pada siluet hitam berdiri tepat di samping ruang tamu. Hal tersebut membuat mata lelaki itu melebar tidak percaya.
“Stop, Grub! Perbesar wilayah ini,” pinta Rafif menunjuk siluet hitam.
Semakin diperjelas semakin terlihat sisi rahang seorang lelaki berpakaian serba hitam, tetapi sayang sekali lelaki tersebut membelakangi kamera membuat Rafif mengembuskan napasnya kesal.
Akan tetapi, saat ingin memindahkan posisi, tiba-tiba Grubby menangkap sesuatu perbedaan di sana, yaitu pada ekspresi Ethan yang mendadak panik saat menoleh ke arah sudut keberadaan lelaki berpakaian serba hitam tersebut.
Namun, lelaki itu tidak mengatakan apa pun, selain membiarkan persepsinya dipendam seorang diri. Sebab, ia tidak akan berbicara kalau belum menemukan banyak bukti.
“Sepertinya ini rekaman terpisah yang memang dikumpulkan untuk dijadikan bukti, Raf. Coba lo hitung ada berapa kali lelaki serba hitam ini terus memperlihatkan diri pada kamera pengawas yang mungkin belum dia ketahui,” ucap Grubby menunjuk pada posisi yang sama.
“Iya, benar. Sewaktu gue tinggal di sini pun belum sadar kalau ternyata ada kamera pengawas,” balas Rafif mengangguk beberapa kali.
“Jadi, bisa disimpulkan bahwa dia juga enggak tahu kalau ternyata ada kamera pengawas. Hanya saja posisinya yang bagus membuat dia terlindungi dari kamera,” pungkas Grubby mengangguk beberapa kali.
Kemudian, kaset rekaman kedua pun menampilkan pergerakan cukup serius pada bagian rumah itu, tepatnya di belakang taman yang memang biasa dijadikan sebagai tempat istirahat Keluarga Osm. Nyatanya di sana beberapa kali Ethan menoleh ke arah sekitar dengan pandangan yang sedikit berbeda.
“Menurut lo, mengapa Ethan menatap seperti itu, Raf?” tanya Grubby menatap lelaki yang ada di sampingnya dengan alis terangkat menarik.