Kini tepat di hadapan Rafif terdapat sebuah rumah yang dulunya sempat menjadi kenangan manis. Lelaki itu tampak berkali-kali mengembuskan napasnya panjang membuat Grubby yang berada di sampingnya menatap penuh iba.
Sebenarnya baru kali ini Rafif memperlihatkan kesedihannya selain dari Regina membuat lelaki itu tampak sangat mengenaskan. Bahkan Grubby yang baru mengenal sisi lain lelaki itu pun merasa bersedih.
“Rafif, apakah kamu tidak kuat?” tanya Grubby menatap lelaki yang ada di sampingnya iba.
“Aku baik-baik saja,” jawab Rafif tersenyum tipis.
“Kalau begitu, kita harus segera masuk. Tidak mungkin kita berdiri di depan pintu seperti ini dengan pakaian serba hitam yang akan disangka perampok,” ajak Grubby melangkah menghampiri double pintu yang dipagari besi berwarna hitam cukup berkarat.
Sejenak kedua lelaki itu tampak memandangi sekitar yang benar-benar bersih walaupun sama sekali tidak ditinggali. Entah siapa yang melakukannya, Rafif akan sangat berterima kasih pada orang baik tersebut.
Kemudian, dua lelaki itu pun melenggang masuk ke dalam dengan menatap seluruh furniture yang sama sekali tidak berubah. Bahkan posisi tersebut masih seperti dulu, termasuk beberapa kerusakan pintu akibat p*********n tersebut sama sekali tidak diganti.
Hal tersebut membuat Rafif termenung. Matanya mendadak memanas melihat seluruh interior yang saling berkaitan dengan orang tuanya. Bahkan pigura yang pernah dirinya letakkan di atas nakas dekat telepon kabel pun masih berada di sana dengan baik.
Sejenak Rafif meraih foto dirinya kecil bersama kedua orang tua yang tersenyum lebar. Saat itu, Keluarga Osm benar-benar masih merasakan kebahagiaan tidak terhingga. Namun, kini semua hanyalah kenangan membuat lelaki itu merasa sangat kehilangan, meskipun pada akhirnya ia tetap menerima kebahagiaan pada Keluarga Owl.
“Raf, gue melihat ini saat ke kamar anak,” ucap Grubby memberikan sebuah kotak bertuliskan nama lelaki yang ada di hadapannya.
Rafif termenung sesaat. Lelaki itu menerima benda yang sudah lama sekali menghilang kini berada tepat di tangannya.
“Apa ini punya lo pas kecil, Raf?” tanya Grubby menyadari perbedaan tatapan dari rekan kerjanya yang berbeda.
“Ini pemberian ayah gue waktu ulang tahun pertama kali,” jawab Rafif tersenyum getir dan kembali memasukkan benda tersebut di dalam kantung.
Grubby tersenyum tipis. “Gue rasa di sini belum ada petunjuk apa pun.”
“Di sini ada sebuah ruangan yang belum gue masuki,” usul Rafif melenggang pergi menuju ke arah tangga yang mengarah pada lantai atas.
Tentu saja Grubby tidak ingin tertinggal pun langsung mengikuti langkah rekan kerjanya yang secara perlahan menaiki anak tangga berbelok ke kanan menuju salah satu ruangan terkunci rapat.
Rafif memandangi sekitar dengan pergerakan mata yang tidak bisa ditebak, lalu pandangan lelaki itu terhenti pada sebuah telepon kabel. Membuat ia langsung melangkah mendekat dan mengangkat benda tersebut dengan melepaskan sesuatu.
Ternyata sebuah kunci tampak di tangan Rafif membuat Grubby yang melihatnya sedikit terkejut. Ia tidak tahu bahwa sejak kecil rekan kerjanya sudah menjadi sesosok yang pintar dalam banyak hal.
Sebuah ruangan penuh dengan buku itu pun menyambut pandangan Grubby. Tentu saja ini menjadi surga dunia dari siapa pun yang memiliki hobi dalam membaca.
“Raf, ini ruangan siapa!?” tanya Grubby antusias, lalu berlari mendekati salah satu rak dan mengambil dengan mata berbinar ceria. “Astaga, ini buku yang gue cari-cari selama ini!!!”
“Dulu, Ayah suka banget sama buku, jadi semua buku koleksinya ada di sini. Tapi, Ayah sengaja menyembunyikannya dari orang-orang, terkecuali gue,” jawab Rafif tersenyum senang, lalu menghampiri meja yang bisa digunakan oleh sang ayah. Ia benar-benar merindukan lelaki itu sampai tiba-tiba matanya menangkap sesuatu yang menyembul keluar.
Dengan rasa penasaran penuh, Rafif pun langsung mengambil benda tersebut yang nyatanya secarik surat tulisan tangan sang ayah. Tentu saja perhatian lelaki itu langsung terpusat membuat Grubby mengurungkan niatnya untuk mengagumi ruangan ini.
Kemudian, Grubby pun melangkah mendekat dengan kening yang mengernyit dalam, lalu melebarkan mata saat melihat secarik surat tulisan tangan orang tua Rafif. Membuat lelaki itu tersenyum pahit.
“Baca aja, Raf. Gue mau keliling perpustakaan ini,” titah Grubby tersenyum lembut, lalu menepuk bahu lelaki itu sedikit keas dan melenggang pergi. Membiarkan Rafif menyesuaikan dirinya dulu agar tidak terlalu tegang.
Akhirnya, Rafif pun memberanikan diri membuka secarik surat yang mungkin dikhususkan untuk dirinya. Entah kenapa Rafif merasa hatinya campur aduk dengan sedih, kecewa, senang bersatu padu membentuk perasaan tidak menentu.
Rafif, anakku ....
Bagaimana kabarmu, Nak? Papah harap kamu baik-baik saja di sana, ya. Maafkan Papah dan Mamah yang mungkin akan meninggalkan kamu lebih cepat, sayang. Papah tahu, mungkin kenyataan ini akan membuat kamu terpukul dan membenci kami, tetapi Papah tidak mempunyai pilihan lain.
Papah terlibat dalam permainan kotor Valder Logistic, Rafif. Papah benar-benar merasa bodoh telah memberikan project yang selama ini Papah kembangkan demi kamu malah dihancurkan oleh Theo. Ini bukan salah Ethan, Nak. Papah tahu kalau Pamanmu itu orang baik, hanya saja dia dimanfaatkan oleh orang-orang di dekatnya.
Rafif, saat kamu membaca surat ini mungkin kamu sudah besar, Nak. Sudah bisa membedakan mana yang baik dan mana yang buruk. Jadi, Papah harap kamu tetap menjadi anak yang berbakti, ya, Nak. Papah dan Mamah akan selalu menyayangimu.
Papah menuliskan surat ini hanya menginginkan kamu mengetahui kebenaran yang sesungguhnya. Karena apa pun yang terjadi dikemudian hari nanti, mungkin akan berkaitan dengan masalah ini. Jadi, Papah minta, di mana pun kamu berada ataupun bersama siapa kamu sekarang. Tetaplah menjadi Rafif Osm Arkhanza yang Papah kenal.
Salam sayang, Papah.
Tepat pada kalimat akhir, air mata Rafif perlahan terjun bebas membasahi tinta hitam yang ditorehkan pada kertas putih milik sang ayah. Entah apa yang dimaksudkan oleh sang ayah, Rafif mendadak tidak mengerti, tetapi ia percaya bahwa ayahnya memberikan petunjuk bahwa selama ini pamannya sama sekali tidak bersalah.
Hanya saja pendengarannya pada malam itu benar-benar terasa sang paman menyiksa orang tuanya dengan begitu kejam. Hal tersebut membuat Rafif dendam dan sakit hati ingin membalaskan semua penderitaan orang tuanya. Tanpa terkecuali.
Namun, dendamnya entah mengusap ke mana saat dirinya membaca secarik surat dari sang ayah. Tanpa sadar Rafif memeluk surat tersebut dengan hati yang benar-benar sakit. Ia tidak tahu apa yang harus dilakukannya sekarang, tetapi ia akan tetap melakukan sesuatu demi membalaskan semua p*********n yang ada di rumahnya malam itu. Tentu saja demi menenangkan hati dan jiwanya agar tidak berlarut-larut dalam dendam.