Permintaan dari satpam paruh baya itu pun benar-benar dituruti oleh Rafif. Bahkan Grubby dengan setia menemani lelaki itu pun mulai merasa penasaran. Karena Rafif benar-benar mengejutkan sampai rela menunggu hingga lima jam penuh. Bahkan makan siang dan sampah cemilan berbagai merek pun mulai menghiasi mobil.
Akan tetapi, usaha tidak mengkhianati hasil. Rafif melihat satpam paruh baya itu pun keluar dari pos satpam sembari membawa tas punggung di tangannya. Lelaki paruh baya tersebut menghampiri mobil yang didiami oleh Grubby dan Rafif.
“Mas, saya sudah pulang. Nanti ikuti saya dari belakang, ya? Saya menggunakan motor untuk kembali ke rumah,” ucap satpam tersebut melalui jendela mobil yang diturunkan oleh Rafif.
“Baik, Pak. Kami akan mengikuti dari belakang secara perlahan,” balas Rafif mengangguk mantap.
Kemudian, lelaki itu pun mulai mengenakan sabuk pengaman, diikuti Grubby di sampingnya yang ikut mengencangkan sabuk pengaman. Lelaki berwajah menggemaskan itu tampak sangat kerepotan dengan berbagai macam alat berada di pangkuannya.
Tak lupa di belakang bagasi mobil terdapat seperangkat mesin server yang bergerak secara irama mengeluarkan lampu kerlip berwarna hijau terang. Seiring dengan banyak kabel berwarna biru dan abu-abu terpasang dengan RJ-45 sambung-menyambung ke mesin yang lain.
Dan benar saja, Rafif mengemudikan mobilnya tidak lebih dari 20 km/jam akibat laju motor yang dibawa oleh satpam paruh baya tersebut lumayan lambat. Membuat Grubby berkali-kali mengembuskan napasnya kasar, tetapi ia tidak bisa melakukan apa pun, selain membiarkan lelaki paruh baya itu mengendarai motor hingga selamat.
Sesampianya di sebuah bangunan rumah cukup tua, motor yang dikendarai oleh satpam paruh baya itu pun terhenti membuat Rafif menoleh ke arah sekitar mencari tempat untuk menaruh mobilnya tanpa mengganggu orang lain.
Satpam paruh baya itu lagi-lagi menghampiri Rafif membuat jendela mobil mewah tersebut kembali turun secara penuh memperlihatkan Grubby yang asyik bermain ponsel menutupi kegiatan peretasannya sejak tadi.
“Parkir mobilnya di sini saja, Mas,” titah satpam tersebut mengundang keterkejutan Rafif.
“Apa tidak mengganggu, Pak?” tanya Rafif.
“Tenang saja. Di sini jarang ada yang melintas. Mungkin hanya ada beberapa motor dan sepeda tua saja. Itu pun milik penduduk asli di sini,” jawab satpam paruh baya tersebut dengan senyuman kecil.
Akhirnya, Rafif pun mengangguk mantap. Menuruti perintah satpam paruh baya di seberangnya yang melenggang pergi melepaskan sepatu usang berwarna hitam khas seorang satpam.
Saat Grubby dan Rafif turun dari mobil, banyak sekali pandangan penasaran sekaligus julid mulai berdatangan dari tetangga sebelah yang kebetulan berada di luar. Mereka semua terlihat memandangi Grubby dan Rafif dengan mengejek.
Namun, sebisa mungkin Rafif mengabaikannya. Karena ini termasuk perkampungan sehingga wajar sekali mendapat banyak tatapan seperti itu. Lain halnya ketika berada di kota, mungkin melakukan apa pun tidak akan membuat siapa pun merasa terusik. Asalkan masih tahu aturan dan tempatnya.
Di dalam rumah tua itu terdapat seorang wanita paruh baya dan satu anak gadis cukup dewasa tengah menonton televisi bersama. Salah satu pemandangan yang nyatanya cukup Rafif rindukan. Ia kembali mengingat sang kakak dan ibunya yang selalu menghabiskan waktu bersama, sedangkan dirinya lebih memilih menyendiri di dalam kamar untuk menciptakan sesuatu hal baru. Salah satunya mempelajari illmu bela diri tanpa sepengetahuan siapa pun.
“Mari masuk, Mas!” ucap satpam paruh baya itu mempersilakan masuk membuat dua wanita berbeda usia itu mengalihkan perhatiannya, lalu menganga tidak percaya.
Wanita paruh baya yang awalnya terlihat asyik menonton itu pun langsung bangkit diikuti gadis di sampingnya mengernyit penasaran melihat rumahnya didatangi dua lelaki bertubuh tinggi dengan pakaian serba hitam.
“Terima kasih, Pak,” balas Grubby mewakili sembari mengangguk singkat.
“Mas, ingin dibuatkan minum apa?” tanya wanita paruh baya itu tersenyum ramah.
Rafif menggeleng pelan. “Tidak usah, Bu. Kami di sini hanya sebentar.”
“Tidak apa-apa, Mas. Diterima saja. Lagi pula perbincangan ini akan sangat panjang,” sela satpam paruh baya tadi memberikan tas punggungnya pada sang anak yang langsung disambut antusias dan membawanya masuk ke dalam kamar.
Setelah beberapa saat berbincang dengan keluarga satpam paruh baya itu ramah, kini Grubby, Rafif, dan satpam yang baru diketahui namanya Pak Jafra pun duduk di sebuah ruangan terpisah dari rumah tersebut.
Dapat ditebak nyatanya ruangan tersebut memang sudah ada sejak dulu dengan banyak sekali kaset kamera pengawas dari awal bekerja sampai hari ini. Membuat kotak kardus berisikan banyak disk itu pun mengalihkan perhatian Grubby.
“Dua puluh tahun lalu, memang sempat terjadi p*********n cukup mengerikan di salah satu rumah penghuni perumahan yang terkenal sangat baik dan tidak sombong. Keluarga baik itu bernama Keluarga Osm dengan banyak sekali bisnis dikembangnya menjadi sangat baik dan membawa pengaruh besar terhadap perumahan,” ucap Pak Jafra mengembuskan napasnya panjang.
“Lantas, bagaimana ceritanya keluarga itu bisa dibantai, Pak?” tanya Rafif menahan getaran pilu dari dalam tubuhnya membuat Grubby memandangi dengan sendu.
“Tidak ada yang tahu penyebabnya, tapi cukup menggemparkan hampir seluruh perumahan. Hanya saja saat dilaporkan pada polisi, mereka seakan menutup telinga membuat tidak ada yang bertanggung jawab atas p*********n tersebut,” jawab Pak Jafra mengembuskan napasnya panjang.
“Oh ya, Pak Jafra memiliki rekaman kamera pengawas dari rumah itu? Tidak mungkin Pak Jafra melaporkan tanpa adanya bukti,” celetuk Grubby sejak tadi menunggu giliran untuk berbicara.
Pak Jafra terdiam sesaat, lalu mengangguk pelan. “Bapak mempunyai rekaman khusus rumah itu. Tunggu sebentar akan Bapak ambilkan!”
Tak lama kemudian, Pak Jafra pun kembali membawa sebuah kotak kayu berisikan disk rekaman kamera pengawas dua puluh tahun lalu dari salah satu rumah yang terjadi p*********n cukup kejam.
“Semua yang ada di sini lengkap tentang p*********n dua puluh tahun lalu, Pak?” tanya Grubby membuka kotak berisikan hampir sepuluh kaset rekaman kamera pengawas.
“Iya, semuanya sudah ada di situ. Saya sengaja menyimpannya siapa tahu ada orang yang berusaha menyelidiki kasus tersebut sampai tuntas. Karena beberapa penghuni perumahan merasa sedikit tidak nyaman saat mengetahui keluarga yang selama ini baik pada mereka malah mendapat musibah cukup besar. Tapi, apa daya mereka tidak memiliki kekuatan besar untuk menarik banyak simpati. Sehingga tidak memiliki pilihan lain, selain menunggu seseorang yang mau menguak kebenaran sampai tuntas,” jawab Pak Jafra mengembuskan napasnya berat.
Memang bisa dikatakan kejadian malam itu benar-benar memberikan dampak cukup besar bagi perumahan dan penghuninya. Selain menarik banyak simpati, kelas kejadian tersebut membuat beberapa orang ketakutan saat melintasi rumahnya.
“Bagaimana dengan keadaan rumah itu sekarang, Pak?” tanya Rafif mendadak merindukan rumah yang sempat memberikan sedikit kenangan masih di memori masa kecilnya. Walaupun semua itu harus tergantikan dengan rasa ketakutan mendalam.