Setelah perbincangan cukup serius dengan sang paman, perlahan fakta mulai terkuak secara tidak terduga. Pasalnya, Rafif pun sama sekali tidak mengerti apakah yang dikatakan sang paman benar atau malah sebaliknya, sebab pada hari di mana keluarganya dibantai Rafif memang tidak melihatnya secara langsung. Ia hanya mendengar suara jeritan sang ibu yang meminta untuk dihentikan.
Bahkan saat ingin membuka kamarnya begitu saja, Rafif mendengar dengan jelas perkataan sang paman. Membuat lelaki itu merasa percaya atau tidak percaya dengan semua perkataannya yang terasa mustahil.
Akan tetapi, Rafif tidak ingin putus asa begitu saja. Ia harus segera mengungkapkan kebenaran demi batinnya yang selalu terasa gelisah. Karena sepanjang hidupnya hampir dihabiskan dengan mengungkapkan masalah yang tidak terduga. Bahkan polisi pun merasa sanksi saat ingin memberikan keputusan yang berkaitan dengan LUCA.
Memang bisa dikatakan Rafif cukup muak berada di kepolisian, tetapi lelaki itu tidak memiliki pilihan lain, selain terus menjalankan rencananya. Semua dirinya lakukan demi ketenangan orang tua dan batinnya sendiri.
Sementara itu, Grubby yang berada di samping Rafif pun sesekali menoleh kaku. Tentu saja lelaki itu merasa sedikit tidak nyaman saat mengatakan banyak hal, terutama mengenai perbincangan tadi.
Apalagi lelaki itu sempat mendengar beberapa perbincangan yang cukup berat, terlepas dari pesan penuh makna dari Ethan. Bahkan lelaki tersebut sama sekali tidak berniat memberi tahu pada dirinya, sehingga Grubby semakin dibuat penasaran.
Namun, sebisa mungkin ia menutupinya dengan baik agar tidak terlihat oleh siapa pun, termasuk Rafif. Karena dirinya sudah berjanji untuk menjaga Rafif dari godaan mana pun. Bahkan Theo yang mulai mengincar lelaki itu.
“Raf, sehabis ini lo yakin mau ke perumahan tempat tinggal lo dulu?” tanya Grubby penasaran.
“Langsung, Grub. Gue enggak akan membuang waktu lagi,” jawab Rafif terdengar mendesak.
“Kalau begitu, lo enggak bisa memperlihatkan wajah begitu saja, Raf. Di luar sana pasti banyak yang kenal sama lo, dan mungkin akan menimbulkan permasalahan baru.”
“Tenang aja. Gue selalu siap sedia penutup wajah untuk melakukan operasi darurat. Jadi, lo enggak perlu khawatir.”
“Baiklah. Lo memang percaya diri, Raf.”
Setelah itu, perbincangan pun terhenti dengan masing-masing dari mereka tengah bergelut dengan pikirannya sendiri. hal tersebut membuat suasana mobil tampak sungguh canggung, tetapi tidak membuat keduanya merasa tidak dekat.
Terkadang Guardian memiliki hal-hal yang bisa dikatakan tidak terlalu terbuka. Mereka menyimpan rahasia yang tidak bisa dikatakan itu pada dirinya sendiri. Dan akan terbuka saat benar-benar merasa dekat sekaligus nyaman.
Sesampainya di sebuah perumahan yang lumayan jauh, Grubby dan Rafif pun memutuskan untuk menghentikan mobil tepat di depan pos satpam penjaga perumahan. Di dalam berisikan dua satpam paruh baya berpakaian putih yang dipadu dengan celana biru itu pun mengalihkan pandangannya dari papan catur setengah jalan tersebut.
“Ada apa, ya?” tanya lelaki paruh baya itu dengan penarasan, lalu mengernyit bingung saat menyadari dua lelaki yang berada di dalam mobil mengenakan pakaian begitu tertutup layaknya perampok.
“Maaf, Pak, saya ingin bertanya sebentar,” jawab Grubby dengan sopan.
“Oh, silakan!” titah satpam lainnya yang terlihat penasaran.
Grubby mengangguk singkat. “Begini, Pak, satpam yang bekerja di sini sejak dua puluh tahun lalu masih ada?”
Dua satpam paruh baya itu pun saling perpandangan dengan salah satu dari mereka mengangkat tangan kanannya sembari bertanya, “Kebetulan saya bekerja di sini hampir tiga puluh tahun. Apa yang sedang kalian cari, Anak muda?”
Mendengar hal tersebut, Rafif pun langsung bersemangat. Lelaki itu turun dari mobil untuk menghampiri seorang lelaki yang terlihat masih sangat sehat walaupun usianya hampir memasuki senja.
“Bolehkan kami berbicaranya di dalam, Pak?” tanya Rafif meminta izin terlebih dahulu.dengan gerakan kaku.
“Boleh saja,” jawab lelaki paruh baya itu dengan ragu.
“Jangan takut, Pak. Saya bukan penjahat,” ungkap Rafif mengembuskan napasnya panjang. Sepertinya ia sudah biasa dipandang sebagai orang jahat hanya dengan memperlihatkan penampilannya seperti ini.
“Bukannya takut, Mas. Saya hanya merasa sedikit waspada, karena beberapa hari belakangan ini ada banyak sekali penjahat yang berpakaian rapi,” balas satpam paruh baya itu dengan meringis pelan.
“Kalau begitu, kami benar-benar bukan pejahat. Hanya saja pakaian ini memang tidak akan kami lepaskan, tetapi Bapak bisa bebas membuat video ataupun merekam kami untuk berjaga-jaga,” usul Rafif membuat salah satu satpam tersebut mengangguk mengerti.
Akhirnya, berkat usulan tersebut, dua satpam baru baya itu pun mendudukkan diri di dalam ruangan kecil serba putih dengan bagian dalamnya terdapat banyak sekali monitor menampilkan berbagai sudut rumah, taman, kavling, dan cluster mewah.
Sedangkan Grubby yang baru saja kembali dari memarkirkan mobil di sisi pos satpam itu pun mendudukkan diri tepat di samping satpam paruh baya yang sayang sekali tidak berkaitan dengan masalah Rafif.
“Jadi, apa yang ingin ditanyakan, Mas?” celetuk satpam tersebut membuka pembicaraan dengan di hadapannya terdapat minuman kemasan dan beberapa toples cemilan yang tinggal setengah.
“Apakah Bapak mengingat kejadian pembunuhan berantai yang dua puluh tahun lalu pernah terjadi di sini?” tanya Rafif serius.
Sontak satpam paruh baya itu pun melebarkan matanya terkejut. Kemudian, lelaki itu mengalihkan perhatiannya pada rekan yang tampak menggeleng pelan.
“Mengapa kalian datang ke sini hanya untuk menyakan masa lalu seperti itu?”
“Tidak ada yang kami inginkan, Pak. Karena kami datang ke sini untuk memastikan bahwa semua saksi pada kasus dua puluh tahun lalu itu tetap terjaha dengan baik.”
“Memangnya kalian siapa? Polisi? Jangan mimpi! Saya sudah tidak percaya lagi dengan polisi.”
Perkataan itu pun sukses membuat Grubby dan Rafif melebarkan matanya terkejut. Dua lelaki tampan yang mencari kebenaran itu pun terlihat cukup terkejut akan ketidakpercayaan satpam tersebut dengan polisi. Padahal tugas mereka berdua sama-sama mengamankan lingkungan.
“Baiklah. Kami hormati jika Bapak tidak mempercayai polisi, tetapi bisakah Bapak mempercayai kami? Karena kami benar-benar membutuhkan seseorang yang mengetahui kejadian dua puluh tahun lalu itu,” balas Rafif mengangguk beberapa kali.
Satpam tersebut mengusap sebagian wajahnya, lalu kembali menatap Rafif penuh. “Baiklah. Saya akan katakan bahwa kejadian pembunuhan dua puluh tahun lalu di perumahan ini cukup menggemparkan.”
“Bagaimana bisa, Pak?” tanya Rafif penasaran.
“Kalau kalian berdua ingin tahu cerita lengkapnya, tunggu sampai jam tugas saya habis. Karena setelah ini saya ingin kembali pulang,” jawab satpam paruh baya itu melonggarkan kewaspadaannya.
“Baik, Pak. Kami akan menunggu waktu Bapak pulang!” putus Rafif mengangguk puas. Akhirnya, kasus yang selama ini terbengkalai mulai menemukan titik terang baru.