“Paman Ethan, apa kamu sudah mengenali siapa diriku?”
Rafif menatap sesosok lelaki yang tidak jauh daripada usia sang ayah. Bisa dikatakan mereka berdua kakak beradik hanya selisih satu tahun saja. Sehingga Rafif bisa melihat sisi dalam lelaki itu yang telihat seperti ayahnya sendiri.
Mendengar hal tersebut, Ethan langsung tersenyum miring dan berkata, “Lama tidak bertemu, Rafif. Aku tidak menyangka bisa melihat keponakanku lagi dengan usia yang sudah tidak lagi muda ini.”
“Iya, aku memang sudah dewasa, tapi aku tidak akan pernah lupa tentang apa yang kamu lakukan dengan kedua orang tuaku,” sinis Rafif mendesis pelan, lalu mengkode pada Grubby untuk memantau terus emosi sekaligus gerakan tanpa sadar dari Ethan.
“Mengapa kamu masih membahas itu, Rafif? Bukankah hidupmu jauh lebih baik dengan sekarang? Menjadi seorang polisi yang ditakuti para penjahat dan memiliki rumor kematian menggelikan,” ucap Ethan setengah menyindir.
“Bukankah jauh lebih baik dengan situasi seperti ini? kamu bisa melakukan apa pun tanpa takut akan menyakiti para polisi,” balas Rafif menaikkan alis kanannya pongah.
Ethan terdiam sesaat. Ia tiba-tiba terpikirkan semua yang ingin dilakukan oleh Rafif. Tidak mungkin lelaki itu menahan dirinya di tempat seperti ini tanpa memiliki tujuan.
“Apa yang kamu inginkan, Rafif?” tanya Ethan mengganti nada sinis tersebut menjadi sedikit cemas.
Walau bagaimanapun juga, Ethan pernah menyayangi Rafif lebih dari apa pun. Selain lelaki itu sangat pintar, Rafif benar-benar memperlakukan dirinya dengan baik. Meski terkadang sedikit menjengkelkan dengan sikap manjanya, tetapi justru hal tersebut malah terlihat menggemaskan.
Bahkan ketika malam di mana Ethan baru saja melakukan p*********n, ia langsung terduduk menatap penyesalan yang begitu mendalam. Ia tidak tahu apakah Rafif akan memaafkan dirinya atau tidak, tetapi ini sudah menjadi kesalahan terbesarnya dalam menjalankan kasus besar.
“Jangan pernah bertanya seolah-olah kamu mengkhawatirkanku, Paman. Karena percuma, belas kasihan dirimu tidak akan membuatku merasa iba. Melainkan rasa jijik saat kamu membantai orang tuaku tanpa merasa kasihan sama sekali. Oh ralat, hampir membantaiku juga,” jawab Rafif tersenyum mengejek.
“Aku akui, itu benar-benar kesalahan yang tidak bisa dimaafkan. Tapi, aku tetap menganggapmu sebagai keponakanku, Rafif. Terlepas dari kesalahanku di masa lalu.”
“Itu terserah dirimu, Paman. Semua pilihan bukan ada padaku.”
Di tengah Ethan dan Rafif melakukan perbincangan, Grubby benar-benar dibuat tercengang dengan emosi keduanya yang terlihat sangat netral. Seakan memang tidak ada satu pun dari mereka yang merasa emosi ataupun iba.
“Kalau begitu, cepat katakan tujuanmu. Aku sudah tidak ingin melakukan omong kosong lagi,” kata Ethan terdengar memerintah.
Akhirnya, Rafif pun mengembuskan napasnya panjang. Kemudian, lelaki itu menyandarkan tubuhnya agar lebih nyaman dan tersenyum ringan menatap sang paman yang terlihat sedikit lebih tegang.
Sesuai dengan perkiraan Rafif, nyatanya di layar laptop milik Grubby pun terlihat sedikit lonjakan emosi pada benak Ethan membuat lelaki itu berdetak jauh lebih cepat daripada tadi.
“Mengapa Paman membantai kedua orang tuaku yang jelas-jelas membantumu berdiri dulu?” tanya Rafif menggeram pelan. Membuka luka lama benar-benar membuat perasaan sakit tak tertahankan itu pun muncul begitu saja.
“Paman tidak pernah membantai orang tuamu, Rafif,” jawab Ethan tenang, tetapi batinnya sedikit gusar akibat ketakutannya muncul.
Rafif mendesis pelan. “Kalau bukan Paman yang mengunjungi orang tuaku, lantas siapa lagi? Aku jelas tidak akan percaya kalau orang lain yang melakukannya.”
“Sayangnya dugaanmu itu memang benar, Raf. Yang membunuh orang tuamu adalah Pimpinan Vald,” balas Ethan mendesis pelan.
Sontak hal tersebut membuat Rafif hampir saja melepaskan tawa lebarnya. Lelaki itu benar-benar merasa geli sekaligus konyol mendengar perkataan Ethan. Apalagi pamannya membawa nama bos yang selama ini melindunginya.
“Jangan bo*doh, Paman. Aku bukan Rafif yang kamu kenal dulu,” ucap Rafif tajam.
Ethan menegakkan tubuhnya dengan menatap sang keponakan serius. Lelaki itu nyatanya benar-benar tidak percaya pada dirinya.
“Paman mengatakan yang sebenarnya, Rafif. Memang benar Pimpinan Vald yang membunuh orang tuamu,” ucap Ethan lagi.
Kali ini Grubby yang sibuk memandangi layar laptop pun langsung mengirimkan pesan melalui secret room milik Guardian. Ia mengirimkan sebuah bukti bahwa apa yang dikatakan oleh Ethan benar-benar serius sama sekali tidak berbohong.
Sejenak Rafif merasa ragu akan mempercayai pendengaran atau perkataan sang paman. Memang benar jika dirinya sama sekali tidak melihat kejadian tersebut. Akan tetapi, bekas-bekas yang ditinggalkan jelas menimbulkan banyak persepsi bermunculan, mengatakan bahwa Ethan-lah dalang dari pembunuhan tersebut.
Namun, sayang sekali akibat lemahnya hukum dan tidak ada alasan mendasar tentang pembunuhan itu. Akhirnya, Ethan pun dibebaskan tanpa syarat. Sehingga lelaki itu bisa menjadi seperti sekarang, meskipun kelemahannya tidak menyadari keponakannya masih hidup dan sudah menjadi lelaki dewasa.
“Mengapa Pimpinan Vald membunuh orang tuaku? Bukankah mereka tidak saling mengenal?” tanya Rafif dengan nada sedikit mengejek.
“Relasi bisnis orang tuamu tidak pernah terduga, Rafif. Kamu tidak akan tahu di mana dan bersama siapa orang tuamu berbicara ataupun bertemu. Dan yang pasti, kamu juga tidak tahu seperti apa orang-orang yang bertemu orang tuamu,” jawab Ethan tersenyum lembut. Lelaki yang biasanya terlihat seram dan tidak bersahabat itu pun mendadak hangat, hanya karena bertemu dengan keponakannya lagi.
Sejujurnya, Ethan merasa senang bisa bertemu dengan seseorang di masa lalu begitu dekat dengan dirinya. Namun, ia lebih tidak menyangka ternyata selama ini Rafif telah salah paham terhadap dirinya.
“Rafif, kalau kamu tidak percaya apa yang aku katakan itu kebenaran. Kamu bisa mencari petugas kamera pengawas dulu. Kebetulan perumahan yang sempat kamu tinggali masih dengan orang yang sama,” ucap Ethan tersenyum getir.
“Baiklah. Aku akan menanyakan padanya tentang kebenaran di masa lalu,” balas Rafif bangkit dari tempat duduknya dan melenggang pergi.
Sedangkan Grubby yang melihat tindakan Rafif pun melebarkan matanya tidak percaya. Lelaki itu benar-benar menyebalkan sampai meninggalkan Grubby sendirian. Membuat lelaki itu tidak bisa melakukan apa pun, selain membereskan semua barangnya sendirian.
“Grubby, apa kamu mengenalku?” tanya Ethan tersenyum miring. Ia tidak percaya bisa bertemu dengan seseorang yang selama ini menjadi incaran LUCA.
Panggilan tersebut sukses membuat pergerakan Grubby terhenti, lalu menatap lelaki yang ada di belakangnya terkejut.
“Tidak perlu terkejut. Aku tidak akan memberi tahu siapa pun tentang keberadaanmu, tapi aku minta satu hal. Tolong jaga Rafif dan pastikan dia tidak pernah bertemu lagi dengan Pimpinan Vald,” sambung Ethan tersenyum tipis.
“Mengapa kalau sampai bertemu?” tanya Grubby penasaran.
Ethan tersenyum penuh makna. Lelaki itu memandangi wajah Grubby hingga cukup membuat lelaki itu merasa penasaran, tetapi tidak ada yang lebih membuat penasaran lagi, selain sesuatu hal besar di belakang Rafif dan keluarganya.
Terkadang hal-hal tidak terduga memang akan terjadi di belakang, tetapi siapa sangka kalau ternyata hal tidak terduga itu berada dekat pada dirinya. Membuat siapa pun tidak ada yang percaya.