“Bagaimana laporan perkembanganku, Prof Aleena?”
Rafif bangkit dari mesin CT scan, lalu mendudukkan diri dengan kedua kaki yang masih menggantung panjang. Lelaki tampan berpakaian kaus hitam polos dipadukan dengan jaket kulit berwarna senada itu pun menatap layar komputer yang menampilkan denyut jantung, nadi, dan pergerakan emosi dari dalam tubuhnya.
Wanita cantik berpakaian jubah kedokteran itu tampak sesekali menaikkan kacamata tipisnya yang terlihat sangat manis, lalu mencatat rekaman medis seorang pasien bernama Rafif. Tentu saja pasien tersebut memiliki perlakuan cukup istimewa dengan memantau terus perkembangan sekaligus kenaikan emosinya agar tetap terkontrol.
Sebab, Rafif sudah memiliki banyak sekali zat asing dan tertanam secara alami di dalam tubuhnya. Sehingga lelaki itu membutuhkan banyak pengawasan agar tetap terkendali. Untung saja tanda-tanda efek dari semua suntikan yang dialami lelaki itu ternyata tepat ketika berusia dua puluh tahun, jadi masa perkembangannya begitu lama akibat Rafif selalu hidup normal dan mendapat banyak kasih sayang dari orang-orang terdekatnya.
Namun, kali ini berada di situasi yang berbeda. Rafif bukanlah seorang remaja tanpa memiliki banyak tekanan. Lelaki itu jelas memiliki banyak permasalahan, baik itu secara pribadi maupun lingkungannya.
“Tidak ada yang perlu kamu khawatirkan, Rafif. Semua perkembangan di sini begitu pesat,” jawab Aleena tersenyum singkat, lalu menatap lelaki tampan di hadapannya yang terlihat seperti adiknya sendiri. “Apa kamu merasa ada yang kurang nyaman?”
Rafif mengembuskan napasnya panjang dan menggeleng pelan. “Setelah pergulangan kemarin yang sempat demam, mungkin sekarang akan lebih baik. Tapi, terkadang aku merasa tubuhnya gemetar hebat saat sedang merasa emosi, Prof. Apakah itu situasi serius? Karena sebelumnya aku tidak pernah merasakan hal seperti ini.”
Sejenak Aleena menatap semua catatan medis, lalu mengernyit sesaat. “Kalau dari catatan ini tidak ada yang perlu kamu khawatirkan, tapi jika merasa tidak nyaman dalam waktu lama. Kamu harus melakukan pemeriksaan lebih panjang. Aku akan mencoba bicara dengan Prof Faza untuk melanjutkan studi kasus terkait dengan eksperimen pada tubuhmu yang mulai memberikan banyak reaksi.”
“Baik. Terima kasih, Prof Leena. Kalau begitu, aku pamit pergi dulu,” ucap Rafif tersenyum tulus dan pergi menghampiri Grubby yang terlihat sibuk memainkan video game di ponselnya.
Mendengar suara langkah kaki mendekat membuat Grubby mengalihkan perhatian dan tersenyum lebar mendapati seorang lelaki tampan nan gagah mendekat dengan wajah lesu.
“Bagaimana pemeriksaan lo, Raf?” tanya Grubby memasukkan ponselnya ke dalam saku celana.
Rafif menyandarkan tubuhnya pada dinding, lalu meluruskan kedua kaki yang ternyata lebih panjang daripada milik Grubby. Membuat Rafif diam-diam tersenyum geli. Entah kenapa lelaki yang ada di sampingnya begitu mungil, walaupun masih tetap tinggi jika dibandingkan dengan Zyrach.
“Gue akan melakukan pemeriksaan lebih lanjut nanti bersama Professor Faza,” jawab Rafif melemahkan suaranya.
“Jadi, lo bakal pemeriksaan lagi nanti?”
“Gue juga enggak tahu. Mungkin nanti Prof Faza akan datang sendiri melakukan pemeriksaan. Karena tadi Prof Leena ingin membicarakan masalah ini dengan Pimpinan Abd. Kalau menurut gue, sepertinya ini bukanlah masalah ringan.”
Grubby menepuk bahu lelaki yang ada di sampingnya sedikit keras, lalu mengalihkan pembicaraan. “Oh ya, aku ingin membicarakan masalah Ethan.”
Sejenak Rafif menatap lelaki menggemaskan yang ada di sampingnya dengan embusan napas berat terdengar melelahkan.
“Kalau begitu, kita harus bergegas, Grub. Aku juga ingin mempertanyakan banyak hal pada pamaku sendiri,” ajak Rafif bangkit dari tempat duduknya, lalu melenggang santai keluar dari lorong laboratorium pemeriksaan Guardian.
Grubby yang melihat Rafif melenggang lebih dulu pun ikut berlari mengejar ketertinggalannya. Lelaki menggemaskan tersebut membawa sebuah kotak di tangannya dan ikut meringsek masuk mobil dengan mendudukkan diri di jok penumpang, sedangkan Rafif mulai mengenakan sabuk pengaman.
Kemudian, secara perlahan bergerak keluar meninggalkan gedung Guardian sekaligus dua rekannya yang terlihat sibuk bersantai di atap bersama Pimpinan Abd. Sebab, Beryl dan Zyrach memang sudah berpamitan untuk membicarakan masalah kelanjutan tentang kasus LUCA. Karena tangan kanan lelaki itu sudah berada di tangan Rafif, sehingga sedikit memudahkan mereka untuk meneruskan proyek kasus.
“Kita sudah mengurung Ethan selama beberapa hari, Pimpinan Abd. Aku tidak yakin kita terus menyembunyikan Ethan tanpa memedulikan Pimpinan Vald akan bergerak cepat di luar sana,” ucap Beryl menatap serius pada lelaki paruh baya di hadapannya.
“Menurutku, untuk sekarang mungkin lebih baik biarkan Rafif meluruskan permasalahan dengan pamannya sendiri. Aku yakin dia tidak akan bergerak gegabah, karena kejadian kemarin cukup membuatnya merasa terpelajari dengan baik,” sahut Zyrach menatap kepergian mobil yang dikendarai oleh Rafif dan Grubby menuju gedung terbengkalai dengan bagian dalamnya terdapat sebuah hunian mewah yang didiami oleh beberapa peserta pelatihan pengawal internasional.
Pimpinan Abd mengangguk beberapa kali. “Aku setuju dengan perkataan Zyrach. Memang ada baiknya sekarang menuju semua permintaan dari Rafif. Karena dia segera mungkin akan memberi tahu semuanya.”
Sementara itu, di sisi lain, Grubby dan Rafif baru saja sampai ke tempat tujuan pun langsung melenggang masuk dengan meninggalkan mobil mewah tersebut begitu saja. Karena tidak akan ada yang mencurigai tempat ini.
Ketika di bagian luar terlihat tidak terawat, lain halnya dengan bagian dalam begitu besar dan sangat bersih. Semua penghuni di sini sengaja membiarkan bagian luar tidak terekspose oleh siapa pun. Agar menjadikan latihan lebih serius dan terorganisir.
“Tuan Rafif, kamu kembali lagi?” sapa seorang peserta pelatihan pengawal yang terlihat masih muda.
“Iya, aku ingin melakukan beberapa urusan di sini,” jawab Rafif tersenyum ramah dan merangkul pundak peserta pelatihan tersebut, lalu mengkode pada Grubby untuk melalui jalur belakang. Sedangkan Rafif ingin menyapa semua penghuni di sini yang sudah mengetahui kedatangannya.
Sebenarnya, Rafif hanya tidak ingin kalau Grubby merasa tidak nyaman. Karena lelaki itu ternyata begitu tertutup, tetapi lain hal dengan dirinya yang langsung merasa nyaman. Membuat Rafif semakin tidak mengerti.
Grubby benar-benar melalui jalur belakang dengan jalan tegap dan berotot itu membelah gedung tinggi berdinding putih yang masih terlihat rapi. Walaupun dugaannya sebentar lagi akan dipenuhi oleh tumbuhan hijau yang merayap tanpa dosa.
Akan tetapi, siapa sangka kalau hal tersebut sangat disukai oleh Grubby. Dengan begitu, ia bisa melakukan berbagai eksperimen tanpa harus merepotkan diri menaiki gunung demi mencapai semua tumbuhan yang tidak bisa dirinya temukan ketika berada di dataran rendah.
Jelas saja untuk ukuran lelaki yang menyukai hal-hal berkaitan dengan kimia, Grubby harus banyak berkecimbung bersama tanaman dan beberapa tumbuhan langka lainnya.